
Wenie kembali ke dalam rumah dengan hati berbunga, dilupakannya kejadian menyebalkan kemarin. Ia hanya ingin istirahat hari ini.
"Dokter Frans sudah pergi, Wen?" tanya bu Rahma.
"Baru saja, Bu ..." lalu ia duduk di sisi ibu kos seperti tadi, mengambil tas dan mengeluarkan ponselnya yang hancur.
Bu Rahma refleks mengikuti pandangannya juga. "Ibu punya ponsel menganggur satu, mau kamu pakai dulu sementara?" tawarnya.
Wenie nampak menimbang sebentar. "Gak usah, Bu. Aku masih ada ponsel yang lama, untung belum dijual, hehee ..." jawabnya sambil nyengir.
"Lagian kok, bisa hancur gitu, sih ... Kamu apain?"
"Bukan aku, Bu. Ini kerjaan mas Pras ..." Wenie mengedikkan bahu.
Bu Rahma berdecih kesal. "Pantesan. Kamu gak minta ganti rugi?"
Wenie menggeleng. "Biarkan saja, Bu. Toh, ini juga ponsel pemberian dia tempo hari. Masih syukur kartunya gak hilang," ujarnya kalem.
Ibu kos melotot kaget. "Pemberian dia gimana maksud kamu?"
"Yang tempo hari aku pulang tengah malam itu lho, Bu. Inget gak?" tanya Wenie sembari menyandarkan punggung di sofa. "Itu dia ngajak aku beli ponsel ini ..." ia menimang ponsel itu bolak-balik.
"Ya sudah, buang saja. Kesal Ibu lihatnya, lain kali jangan mau dibelikan apa-apa lagi. Awas kamu, ya!" sahut bu Rahma setengah sewot.
"Iya, iya, Bu ..." Wenie tersenyum kecil. "Tapi ku harap gak bakal ketemu lagi sama dia. Aku takut, Bu," pandangannya menerawang.
Bu Rahma menghela nafas, menyandarkan punggungnya juga. "Ibu harap juga begitu. Sudah, jangan banyak berfikir aneh-aneh. Setidaknya saat ini kamu sudah aman di rumah, sayang ..."
"Iya, Bu. Terimakasih," Wenie menyenderkan kepala di bahu ibu kos yang lantas mengelus kepalanya dengan sayang.
Sesaat keduanya terdiam dalam posisinya sekarang. Wenie masih menimang ponsel di tangan sambil memikirkan sesuatu tanpa menyadari ibu kos memperhatikan gerak-geriknya dari tadi.
"Oh ya, Wen. Apa kamu gak berencana pulang kampung dulu setelah ini?" tanya bu Rahma.
Wenie mengerutkan dahi. "Memangnya kenapa, Bu?"
"Gak apa-apa. Ya, barangkali saja kamu ingin menenangkan diri dulu, gitu ..."
"Entahlah, Bu. Mungkin nanti aku akan telpon mama dulu, ngasih kabar."
"Sebaiknya kamu pulang dulu ke rumah ibumu, setelah semuanya membaik baru kamu kembali lagi," ujar bu Rahma mencoba bicara dengan wajah sedatar mungkin.
Wenie merasa sedikit aneh seperti ada yang ditutupi. "Baiklah, akan Wenie pikirkan nanti, Bu."
Bu Rahma tersenyum cerah. "Bilang sama Ibu kalau kamu sudah mau pulkam, ya. Soalnya Ibu mau titip bingkisan buat mama kamu di sana," ucapnya sembari mengacak rambut Wenie.
"Iya, Bu ..."
__ADS_1
"Ya sudah, kamu istirahat dulu sana," titahnya. "Oh ya, kamu sudah makan belum? Tadi Ibu masak ayam teriyaki, tumis kentang, sama acar ..."
"Kedengarannya enak. Tapi nanti saja, aku belum lapar," jawab Wenie. "Aku ke kamar dulu ya, Bu," pamitnya sopan.
"Iya, sana. Bilang sama Ibu kalau ada apa-apa ya, sayang ..."
Ia sudah mau beranjak ketika menyadari meja yang masih berantakan. Lalu, Wenie segera merapikan gelas-gelas yang hampir saja dilupakannya. "Iya, Bu. Wenie cuci gelas dulu baru ke atas."
"Sudah, tinggal saja. Nanti Ibu yang bereskan," tangan bu Rahma mencegahnya menyentuh gelas.
"Biar Wenie saja, Bu."
Bu Rahma menghembuskan nafas. "Tinggal saja kata Ibu. Cepat ke kamarmu sana," usirnya pura-pura jutek, ia menyambut nampan di tangan Wenie.
"Beneran nih, Bu?"
"Iya. Sudah sana ..."
Gadis itu angkat bahu dan tersenyum manis. "Ya sudah, Wenie tinggal ya, Bu," ujarnya sembari mencium pipi ibu kos.
Ia bergegas naik ke lantai atas dan membuka pintu kamarnya setelah mendapatkan kunci dari dalam tas. Untung saja kunci itu masih utuh dalam tas kecilnya, selain ponsel yang sudah hancur dan sebuah dompet berisi kartu identitas serta beberapa lembar uang yang tidak seberapa.
Wenie merebahkan diri di ranjang single bed yang terasa sangat nyaman saat ini. Oh, kasurku ... hanya dirimu saja yang paling mengerti lelahnya tubuhku dan bisa menerima diriku apa adanya tanpa banyak protes. I love you full, muaah. Hahaa, gelay ... pikirnya sambil senyum-senyum sendiri.
Setelah istirahat beberapa saat ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian yang sudah dua hari belum diganti meskipun sempat di laundry semalam. Ia melempar dress pemberian Prasetyo ke dalam keranjang cucian kotor di sudut kamar. Wahai kenangan buruk, akan ku hibahkan kau pada orang lain yang mau menerimamu apa adanya jika nanti sudah dicuci, ujarnya dalam hati.
Saat ponsel mulai menyala dan data seluler diaktifkan beberapa pesan dan panggilan tidak terjawab berebut masuk memenuhi ruang notifikasi membuat ponselnya lemot.
Astaga, ribut sekali kalian. Sabar ... sabar sebentar, ponsel ini kewalahan. Nanti kalian ku perhatikan satu per satu, kok. Oh ya ampuun, jadi lemot banget kan, huuuft ... Oia, apa kabar Eri, ya? Kangen iih ...
🌷🌷🌷
Rafael bergegas meninggalkan kantor polisi setelah menemui Prasetyo dan sepakat memberikan sejumlah jaminan untuk kebebasannya. Baru menginap satu malam saja di sel sempit yang dingin itu dia sudah banyak mengeluh dan semakin galak. Dua orang pendahulunya di sana sempat pula diajak duel sehingga mereka harus dipisahkan dalam sel berbeda.
Menyadari hal itu Rafael hanya bisa menghela nafas kasar sambil coba menenangkan diri. Ia memutuskan untuk segera kembali ke hotel menemui istrinya, Beiby, yang sudah menunggu.
Rafael terpaksa menyanggupi untuk membebaskan Prasetyo meski sebenarnya ia sudah sangat gerah melihat kelakuan kakak sepupunya ini, namun keahlian dalam berbisnis dan pandai mengatur arus kas perusahaan menjadikan pria itu salah satu pilar penting dan membuatnya selalu berada di atas angin.
"Dasar brengsek! Kalau sudah kesandung masalah begini selalu saja aku yang sibuk membenahi kekacauan yang kau sebabkan ..." Rafael memukul kemudi dengan hati gondok.
Aku mendengarmu, Fael! Berhentilah memaki di belakangku atau ku hancurkan perusahaan bajamu itu sekejap mata ... seketika bulu kuduk Rafael meremang, ia merasa Pras berteriak di sisinya namun tiada siapa-siapa di sana. Mungkin sebenarnya ia hanya terlalu khawatir dan marah.
Lalu, ia menginjak gas semakin dalam ingin cepat kembali pada istrinya. Rafael bukan pria pengecut, hanya saja situasi dan kondisinya sekarang memaksa ia harus menundukkan kepala di hadapan Prasetyo.
Memasuki halaman hotel, benda pipih di saku jas berdering nyaring. Sebuah panggilan masuk dari kakak ipar. "Halo, Mas ..."
"Halo, Fael. Apa kau masih di hotel bersama istrimu?"
__ADS_1
Rafael segera mengendurkan wajah saat menerima telepon dari Frans, kakak iparnya. "Aku baru saja kembali dari polsek, Mas. Ada apa?"
"Jadi, kau sudah menemui kakakmu?"
"Sudah, Mas ..."
"Apa yang kalian bicarakan? Katakan semuanya, Fael."
Rafael meremas setir, bimbang dan kalut harus memihak siapa? Yang satu adalah kakak sepupu sekaligus orang penting di perusahaan keluarga dan yang satu lagi adalah kakak ipar yang tidak bisa diabaikan jika rumah tangganya ingin tenang.
Fael, kau mendengarku, kan? Cepat katakan ..."
"Iya, Mas ... Aku dengar. Kak Pras minta segera dibebaskan dari sel," ujar Rafael lirih, ia takut membangunkan macan tidur.
Terdengar desis marah di ujung telepon, ini masih siang tapi rasanya sungguh mencekam seperti tengah malam berada di kuburan. "Beritahukan semua rencananya padaku, jangan terlewat satupun atau kau akan tahu akibatnya ..."
"Baik, Mas," jawab Rafael patuh. "Mas tahu kan, aku juga sebenarnya enggan melakukan itu semua kalau bukan karena dia saudaraku sekaligus orang penting dalam perusahaan kami ..." lanjut Rafael sedikit beralasan.
"Aku mengerti, maka dari itu lakukan saja apa yang dia minta asal kau tidak merahasiakannya dariku," ujar Frans. "Kurasa kau juga paham, jika ia benar-benar bisa bebas aku tidak akan melepaskannya dengan mudah. Akan ku temukan cara untuk menyeretnya kembali ke muka hukum," imbuh Frans galak.
"Baik Mas, baik ... Aku pasti akan mendukung Mas," jawab Rafael, biarlah ia plin-plan saat ini yang penting satu per satu bisa ditangani dulu.
Ia berpikir, jika sampai Prasetyo berulah lagi setelah kebebasannya maka ia bersiap angkat tangan. Sudah terlalu banyak hal yang harus ia tangani setiap kali kakak sepupunya itu membuat ulah karena sifat keras kepala dan arogannya yang tidak pandang bulu.
Dan sekarang harus pula ia menenangkan amarah sang kakak ipar jika tidak mau rumah tangganya yang baru seumur jagung jadi korban, karena sudah pasti Beiby akan membela kakak satu-satunya itu.
Dengan kepala penuh sesak dengan segudang pikiran dan perasaan campur aduk, Rafael memutuskan untuk turun dan segera masuk hotel. Ia menuju restoran yang berada di sisi kiri lobi hotel, di sana istri tercinta sedang menunggunya untuk menikmati afternoon tea.
"Sebelah sini, beibh ..." panggil Beiby sembari melambaikan tangan sedikit.
Rafael berjalan dengan gagah sambil mengulas senyum manis, meskipun pusing tetap harus tampil cool di depan istri tercinta, kan?
"Kamu sudah menunggu dari tadi, sayang?" Rafael mengecup dahi istrinya.
"Baru sepuluh menit kok, Mas," jawab Beiby lembut. "Gimana keadaan kakakmu, sayang?" tanyanya sambil menyodorkan teh.
"Dia baik-baik saja. Setidaknya dia masih mau makan meskipun mungkin tidak bisa tidur dengan baik ..." ujar sang suami sembari meraih cangkir tehnya.
Beiby menghela nafas lalu mengelus pundak suaminya. "Sabar ya, sayang. Kamu pasti pusing dengan masalah ini ..." ujarnya prihatin. "Aku pasti mendukungmu."
"Gak apa-apa kok, sayang. Asal kamu bisa ngertiin aku itu sudah cukup. Terimakasih ..." ia mengecup tangan istrinya.
Lalu, Rafael menyandarkan tubuh lelahnya di sofa diikuti oleh Beiby. Ia merasa sedikit nyaman sekarang, meskipun hatinya masih gelisah tapi setidaknya ia mendapat dukungan penuh dari sang istri. Ia harus menyelesaikan semua ini secepat mungkin dan berharap Prasetyo tidak berulah lagi ke depannya.
Besok ia harus kembali ke polsek untuk mengonfirmasikan sejumlah uang tebusan yang akan dikirim ke rekening kepolisian sekaligus menjemput sang kakak sepupu. Meskipun segan tapi toh ia harus berkorban juga bukan? Karena biar bagaimanapun dia adalah saudara terdekatnya sejak mereka kecil dan tumbuh besar bersama dalam ikatan persaudaraan yang erat.
Belum apa-apa jiwa dan raga Rafael sudah semakin lelah saja rasanya. Huuft ... Kak, kak ... ku harap ini terakhir kalinya aku bisa membantumu dan selanjutnya selamatkanlah dirimu dengan baik.
__ADS_1