Teratai Yang Mekar

Teratai Yang Mekar
Intens


__ADS_3

Dalam kamar Wenie sedang memilih baju yang pantas untuk dikenakan. Bukan untuk tidur, tapi untuk menemui seseorang yang sedang menunggunya di ruang tamu bawah.


Setelah menyempatkan mandi kilat untuk menyegarkan badan dan beberapa kali memilah pakaian, akhirnya ia memutuskan memakai sebuah kaos motif loreng ala tentara dengan celana denim hitam sebetis yang melekat pas di tubuhnya.


Ia menggerai rambut sebahunya serta memoles wajah dengan sedikit bedak. Wenie tidak ingat bahwa Frans berencana mengajaknya pergi makan malam. Jadi, ia merasa ini sudah cukup.


Lantas Wenie turun ke lantai bawah dengan langkah lambat, ia sedang menilai situasi. Kira-kira apa yang akan dihadapinya nanti, ia agak sedikit deg-degan.


Hal yang pertama dilihatnya adalah Iin yang sedang menatap intens sang dokter muda, meski orang yang ditatap sedang berbincang dengan ibu kos. Wenie tetap melangkah dalam diam tak hendak mundur, Frans adalah tamunya pikir Wenie.


Menyadari kehadirannya, Frans otomatis menoleh ke arah munculnya Wenie dari tangga yang ada di sisi kanan Iin. Hampir saja Iin tersenyum senang mengira Frans memperhatikannya.


"Maaf, aku lama ya, Mas ..." seloroh Wenie, mengejutkan Iin.


"Tidak apa ..." jawab Frans tersenyum manis.


"Wen, duduk sini. Iin sudah buatin teh untukmu juga," ujar bu Rahma sembari menepuk sofa di sisinya.


"Oh, terimakasih ya, In," ucap Wenie yang dibalas senyum getir.


"Sama-sama. Kamu mau kemana, Wen? Rapi banget, tumben. Wangi lagi," goda Iin seraya mengendus udara.


Wenie melemparkan senyum kecil seraya menggeleng, padahal ia hanya menyemprotkan sedikit saja parfum beraroma rose mint seperti biasa. Lalu ia mendekat pada bu Rahma dan duduk di sisinya. Frans menatapnya lembut, Wenie hanya menunduk malu.


"Lho, kamu kenapa pakai baju santai begini, Wen? Bukannya dokter Frans mau ngajak kamu keluar ..." tegur bu Rahma berbisik.


Wenie agak terkejut mendengarnya. "Masa sih, Bu? Kayaknya tadi gak omong apa-apa deh ..." lantas ia menepuk jidat dan tersenyum malu karena bertingkah bodoh.


Frans hanya mengulum senyum memperhatikan perubahan mimik wajah gadis manis di sisi ibu kos.


"Ehm, kalau Wenie gak siap, aku mau kok gantiin buat nemenin dokter ganteng makan di luar," Iin memainkan alisnya menggoda Wenie.


"Huss, gak sopan kamu, In!" sergah bu Rahma cepat.


Iin terkekeh malu. "Maaf, cuma bercanda, Bu."


"Jangan sembarangan bicara, gak enak sama Dokter Frans," balas bu Rahma pelan, ia menekan suaranya serendah mungkin meski hatinya sedikit kesal.


"Iya, iya ... maaf," Iin masih cengar-cengir. "Ayo, diminum tehnya, Wen. Nanti keburu dingin," tawar Iin meredakan rasa malunya.


"Eh, iya. Makasih banget, In ..." Wenie menyeruput sedikit tehnya dengan salah tingkah.


Frans melirik jam tangannya sekilas. "Masih ada waktu. Kita keluar sebentar, Wen?"


"Eh, tapi aku ..."


"Sudah, seperti ini tidak masalah, kok," ucap Frans. "Kami pamit pergi sebentar ya, Bu."


"Iya, Dok. Hati-hati di jalan, ingat jangan pulang lewat waktu ya, Wen," pesan bu Rahma pada keduanya.


"Tentu ..." Frans tersenyum kecil.


"Ehm, tunggu sebentar, Mas. Aku ambil jaket dulu," ujar Wenie yang segera berlari kecil ke lantai atas.


Wenie kembali dengan jaket denim dan tas selempang, seulas lipgloss kini mewarnai bibir tipisnya, menambah kesan imut sekaligus dewasa. Frans menahan nafas demi melonggarkan debar jantungnya, lantas ia menghirup teh di hadapannya dalam satu tegukan besar.


"Wen, pulangnya tolong belikan aku dimsum, ya? Pakai uangmu dulu, nanti ku ganti," bisik Iin di telinga Wenie.

__ADS_1


"Oke," ujar Wenie seraya mencium tangan bu Rahma.


"Wenie pergi sebentar, Bu ..."


"Iya, sayang," jawab Bu Rahma.


"Jangan lupa soft drinknya sekalian. Stok di kulkas sudah habis," sela Iin lagi yang langsung diangguki Wenie.


Frans kembali berpamitan, tak lupa ia mengucapkan terimakasih pada Iin untuk teh buatannya. Dengan senyum lebar Iin mengangguk senang.


Semenit kemudian mobil segera meluncur pergi meninggalkan rumah besar di belakang mereka. Di dalam mobil, Wenie merasakan jantungnya tidak bisa memompa dengan benar. Selalu saja ia merasa deg-degan karena terlalu bahagia.


"Kamu baik-baik saja, Wen?" tanya Frans sambil meliriknya sekilas, matanya tetap fokus mengemudi.


"Aku? Ehm, ya aku baik-baik saja, Dok ..." Wenie agak tergagap.


"Yakin? Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu ..." goda Frans.


"Ah, tidak ada. Bisa saja kamu, Mas. Memang kelihatan ya, kalau aku lagi mikir?" tanya Wenie.


"Iya, tuh ada tulisannya di keningmu ..." ucap Frans terkekeh.


"Hah?!" Wenie otomatis meraba keningnya. "Iish, apaan sih ..." spontan ia memukul pelan lengan Frans, baru sadar sedang diledek.


Frans menahan tawa, bahunya sampai terguncang karena senang. Wenie jadi gemas melihatnya, makin terpana dengan ketampanan sang dokter.


"Katakan saja jika ada sesuatu yang mengganggumu. Jangan dipendam sendiri. Gak baik," ujar Frans setelah tawanya mereda.


"Gak ada kok, Mas. Aku lagi gak mikirin apa-apa ..." jawabnya lirih, padahal ia sedang menikmati getaran halus dalam hatinya.


Tapi kali ini benar-benar sesuatu yang berbeda. Pesona gadis ini tak bisa diabaikan begitu saja sejak mereka bertemu di pesta beberapa waktu lalu. Terlebih lagi saat mengingat siapa pesaingnya saat itu, belum apa-apa saja sudah mampu membuatnya kesal.


"Aku senang kalau kamu mau percaya dan bisa sharing sama aku ..." ujar Frans memecah kesunyian.


Tanpa disadari sebutan diantara keduanya sudah semakin akrab, aku-kamu.


"Iya, Mas. Tapi sekarang aku lagi gak mikirin apa-apa, kok. Cuma lagi agak senang saja," akhirnya Wenie tak bisa lama-lama menahan diri.


"Oh, ya? Soal apa ..." Frans penasaran.


"Soal ... kasih tahu gak ya?" goda Wenie.


"Kasih tahu dong ..." balasnya cepat.


Wenie terkekeh pelan. "Mau tahu saja iih, kepo ..."


"Ugh, awas kamu ya ..." Frans refleks menowel gemas hidung Wenie.


"Aaw, aduh ... sakit," pekiknya tertahan.


"Eh, kamu kenapa, Wen? Maaf, sakit ya?," tanya Frans terkejut, ia segera menepikan mobilnya.


"Gak apa-apa sih, Mas. Cuma pas kena jerawat saja tadi, jadi agak senut-senut ..." Wenie menunjuk jerawat kecil dekat lubang hidung sebelah kanan.


"Mana? Coba ku lihat," Frans mencondongkan tubuhnya ke arah Wenie.


"Jangan, malu ah ..." Wenie berkelit menghindar, tapi justru membuat Frans makin mendekat.

__ADS_1


"Biar ku lihat dulu sini. Takut nanti infeksi lho, Wen," Frans memulai perannya sebagai dokter.


"Eh, gak apa-apa, kok ..."


"Coba lihat dulu ..." bujuknya.


"Gak mau, ah. Malu, lagian perih tau, Mas ..."


"Nah, kan? Apalagi tadi sudah tersentuh tanganmu, mana tahu ada kumannya ..." ujar Frans mengingatkan.


Wenie nampak berpikir sejenak, ia sudah tersudut. Lagipula ia tidak bisa menghindar kemanapun dengan tubuh Frans yang begitu dekat, posisi mereka agak intim sekarang. Jantung Wenie makin deg-degan tak karuan jadinya.


"Oke. Baik, baik ... Tolong mundur sedikit, Mas," ucap Wenie menyerah.


Ia menegakkan sedikit tubuhnya agar Frans mau meregangkan sedikit posisi mereka, namun rupanya tak semudah itu. Frans tetap membeku di tempatnya membuat wajah mereka semakin dekat. Ia menatap intens pada gadis di hadapannya, Wenie makin salah tingkah.


"Mas ..." Wenie mendorong pelan dada Frans.


Sang dokter tampan tersenyum kecil. "Makin dilihat kamu makin menggemaskan saja, Wen ..."


"Hm, mulai berani godain aku, nih?" seloroh Wenie sambil terkekeh.


"Eh, aku gak lagi godain kamu, kok. Itu fakta," Frans mengendurkan posisinya. Ia menyingkirkan jemari Wenie dari jerawat yang hendak dilihatnya tadi.


Ia lantas tertawa geli. "Wow, ini kayaknya jerawat kangen, deh ..."


"Hah?! Masa sih ... ngarang saja kamu, Mas. Kangen sama siapa coba?" bantah Wenie tersipu malu.


"Ya mana aku tahu?" Frans angkat bahu. "Apa jangan-jangan kamu kangen sama aku, ya ..."


"Iish ... apaan sih, Mas? Ge'er banget deh," tiba-tiba saja wajahnya menegang menahan malu.


"Ya gak apa-apa juga sih, kalau kamu memang kangen sama aku," Frans mengerling jahil.


Wenie hanya terkekeh geli mendengar gurauan si dokter tampan. Sejujurnya jantung Wenie terasa mau meledak karena bahagia, tapi ia tidak berani berharap banyak. Jadi, ia hanya ingin semua mengalir saja.


Sedetik kemudian Frans mengambil kotak P3K yang selalu tersedia dalam laci dashboard mobilnya. Wenie memejamkan mata saat jemari Frans menyentuh ujung hidungnya untuk mengoleskan krim antinyeri yang rasanya sejuk sampai ke hati. Nyeri karena jerawat yang memerah sudah tak dirasakannya lagi.


Saat gadis itu menutup mata, Frans jadi lebih leluasa mengamati setiap detil wajahnya. Kulit wajah yang bersih, lembut, hidung mancung dalam versi mungil, juga bulu mata yang lentik. Nyaris saja Frans tidak bisa menahan dirinya untuk ******* bibir tipis di hadapannya.


"Sudah selesai, Mas?" tiba-tiba Wenie membuka matanya.


Frans terkejut lalu tersenyum lebar. "Ehm, sudah. Gimana rasanya sekarang?"


"Adem, dingin ..."


"Gak sakit lagi?"


Wenie menggeleng pelan, Frans masih dalam posisi yang sama seperti tadi kemudian melonggarkan sedikit jaraknya. Setelahnya baru Wenie bisa bernafas lega, ia sungguh merasa kacau dalam dadanya.


Frans mengulum senyum, iapun merasakan kekacauan yang sama. Hampir saja aku menerkammu, Wen ... desah Frans.


"Baiklah ... kalau gitu kita lanjut jalan, ya," ujar Frans mencairkan ketegangan.


"Iya, Mas ..." sahut Wenie lirih.


Frans menyalakan mesin mobil dan berlalu dari sana. Kini hatinya dipenuhi gegap gempita akan momen-momen menghanyutkan yang baru saja terjadi, seandainya bisa lebih lama lagi dari itu. Namun iapun tak ingin berpikir jauh, ia sedang ingin menikmati kelopak-kelopak cinta yang mulai bermekaran.

__ADS_1


__ADS_2