
Frans sengaja terus menggoda Wenie untuk mengalihkan kesedihannya. Ia tahu gadis itu tidak pandai berbohong, semua yang ada pada dirinya adalah sesuatu yang alami dan spontan. Sementara Wenie merasakan sikap Frans itu benar-benar membuatnya tersipu dan moodnya sedikit membaik.
Lift tiba di lantai lima belas dan pintu terbuka tepat di living room apartemennya. Wenie terpukau seketika saat melihat pemandangan di depannya dan setengah tidak percaya. Apartemen ini terlihat mewah, bahkan liftnya berhenti di dalam rumah!
Apakah Mas Frans memang sekaya ini? Padahal selama ini tidak ada yang mencolok dari penampilannya dan mobil pun seperti milik kebanyakan orang. Astaga, ku rasa dia terlalu low profile, batin Wenie gamang.
"Ayo masuk!" Frans membimbing dirinya keluar dari eskalator.
Wenie merasa agak bimbang. "Liftnya berhenti di dalam apartemenmu, Mas?" akhirnya pertanyaan itu lolos juga dari bibir tipisnya.
Frans mengulum senyum. "Iya, hampir semua apartemen di sini memiliki lift privat selain lift umum," jelasnya kalem.
Tidak ada sedikitpun kesombongan dalam nada bicara dan sikapnya, Wenie merasa agak sedikit tenang. Baguslah, ia masih seperti Frans yang ku kenal, gumam Wenie dalam hati.
Pria itu mengganti sepatunya dengan sandal rumah dan memberikan sepasang untuk Wenie, maka gadis itu pun menirunya dan meletakkan alas kaki dalam rak dinding.
"Duduklah, ku ambilkan air minum untukmu," ujar Frans sembari melepas jaket dan menggantungnya di tiang penyimpanan. "Santai saja, hanya ada kita di sini."
Dahi Wenie sedikit mengerut tak nyaman. Hanya ada kita, bukankah itu agak berbahaya?
Lalu Frans kembali dalam dua menit sembari membawakan dua gelas jus jeruk dingin dalam nampan. "Minum dulu, setelah itu kau ikut aku ke dapur," ucapnya bersemangat.
Kembali gadis itu menatap penuh tanya. "Ke dapur?"
"Hm, aku akan masak sesuatu untuk makan malam kita."
Wenie menegakkan telinga. "Hah, Mas mau masak? Serius?"
"Iya. Coba bilang, kau mau makan apa sekarang?" tanya Frans.
Gadis itu terkekeh kecil. "Entah? Aku bisa memakan apa saja asalkan itu dari sumber yang jelas ..."
"Bagus kalau begitu," sahut Frans senang.
"Hm, kalau boleh biar aku saja yang masak. Yah, meski pun tidak terlalu pandai juga 'sih," usul Wenie sambil malu-malu.
Frans menggeleng dan berkata, "Aku cuma ingin kau menemani saja, lagi pula kau tamu istimewaku malam ini."
Seketika wajah Wenie memerah dan pipinya sedikit menegang. "Kelihatannya menggombal itu jadi hobi barumu ya, Mas ..."
"No. Aku serius, Wen," jawab Frans dengan tatapan dalam. "Selama ini tidak banyak teman yang ku izinkan datang ke apartemenku, apalagi perempuan," gelengnya pasti.
__ADS_1
Sekali lagi Wenie merasakan segenap kembang api berpendar dalam dadanya. Seistimewa itukah? Refleks ia menundukkan pandangan dan menyibukkan diri dengan jus jeruk di tangannya.
Sementara Frans merasa gemas melihat reaksi gadis ini, ia benar-benar menyukainya. Ia berbeda tak seperti kebanyakan gadis yang pernah ditemuinya, yang seringkali terlalu terang-terangan mengungkapkan perasaan kemudian banyak menuntut.
Tiba-tiba ponsel Wenie bergetar lembut dalam tas kecilnya, panggilan dari bu Rahma.
"Bu Rahma menelepon," ucapnya memberi tahu Frans. "Ku angkat dulu, Mas."
Frans mengangguk kecil. "Kalau begitu ku tinggal sebentar," ujarnya sambil beranjak pergi.
Setelah selesai Wenie segera memasukkan ponsel dalam tasnya lagi, tidak berniat menaruhnya di atas meja seperti yang ia lakukan saat di ruang kerja Frans siang tadi. Di ruangan sebagus ini ia merasa ponselnya seakan terlalu lusuh.
"Bu Rahma bilang apa, Wen?" tanya Frans ketika kembali sepuluh menit kemudian.
Wenie membatu sejenak saat melihatnya yang nampak segar sehabis mandi, lagi-lagi ia dibuat insecure karena teringat dirinya belum mandi sore dan berganti pakaian. Astaga, dia kelewat keren, apalah diriku yang cuma tetesan minyak jelantah, batin Wenie merana.
Kemudian gadis itu tersadar dan menjawab, "Eh, biasa Mas, ibu cuma tanya jam berapa aku pulang."
Frans mengangguk paham. "Baiklah, sekarang ikuti aku," ajaknya.
"Eh, jadi bagaimana, Mas. Perlu ku bantu memasak?" tanya Wenie, tatapannya penuh harap.
Pria itu menggeleng. "Sudah ku bilang, kau cukup menemaniku saja," jawabnya.
Frans menaikkan alis dan berbisik penuh rahasia. "Aku hanya akan minta satu hal," ujarnya sok serius.
"Apa?" tanya Wenie penasaran.
"Ku minta jaga mata dan hatimu untukku," jawabnya dengan mata mengerling jenaka.
Langsung saja Wenie tersedak jus yang tengah diminumnya. "Uhuk! Haaish, gombal mulu deh ..." ia terbatuk kecil.
Frans refleks mendekat dan menepuk-nepuk punggungnya pelan. "Pelan-pelan minumnya."
"Mas sih, bikin kaget saja," gerutunya masih terbatuk, matanya sampai berair.
"Tapi aku serius, Wen," ujar Frans kekeuh.
"Ehm, baik, baik ..." kata gadis itu sambil berdeham untuk membersihkan sisa air di tenggorokan . Aduh tolong, jangan suka gombalin jomblowati kenapa sih, Mas. *Aku j*adi keselek 'kan ...
Melihat Wenie perlahan sudah bisa bernafas dengan normal ia berhenti menepuk namun matanya terus menatap sosok manis di depannya, membuat Wenie salah tingkah lagi.
__ADS_1
Wenie menyisipkan anak rambut yang terjatuh untuk mengaburkan rasa gugupnya tapi gagal. "Jangan melihatku begitu ..." ia menunduk menghindari pandangan.
"Apa?" tanya Frans masih belum ingin beralih, ia malah duduk menyandarkan punggung. "Kau tahu, aku sedang memikirkan sesuatu ..."
Gadis itu mau tidak mau menoleh penasaran. "Memikirkan apa?"
Frans mengulum senyum tak menjawab, lalu bangkit dan berkata, "Sudah makin malam, aku lapar ..."
Gerakannya seringan kapas, ia melenggang ke lorong pendek yang menghubungkan ruang tamu dengan dapur.
"Eh, tunggu aku," ia meletakkan jus dan tasnya di atas meja lalu menyusul Frans sengaja berjalan lambat.
Apartemen ini sangat besar jika hanya ditinggali oleh dirinya seorang dan perabotan di sini benar-benar estetik ditata dengan gaya minimalis yang elegan. Warna dinding putih gading dengan sentuhan abu-abu yang menampilkan kesan mewah yang sederhana. Beberapa lukisan abstrak terpatri di dinding yang terasa teduh mengisi kekosongan, nampak sesuai dengan karakter pemiliknya.
Kemudian mereka tiba di dapur bersih yang cukup luas, sebuah kitchen set menyambut di depan pintu. Terdapat satu set meja makan enam kursi yang nampak elegan dengan lampu chandelier menggantung di atasnya. Sederet jendela kaca yang full dari lantai hingga menyentuh plafon menjadi pembatas dengan balkon yang cantik menyajikan pemandangan malam kota yang gemerlap di luar sana.
Frans menarik sebuah stool agar Wenie duduk di meja bar yang berhadapan langsung dengan pantry. Kemudian Frans memakai apron sebelum mencari bahan masakan dari lemari pendingin dan mulai memasak, tidak lupa ia juga mengecek persediaan nasi.
Selama beberapa waktu tidak ada yang bisa dilakukan Wenie selain hanya menonton dan mengomentari Frans yang sibuk membuat sesuatu. Dan setengah jam kemudian masakan sudah siap disajikan, sepiring ayam goreng mentega plus salad sayur ala resto jepang dan beberapa sosis goreng.
Wenie menatap penuh selera pada hidangan yang menebarkan aroma lezat ke indera penciumannya. Hatinya benar-benar kagum dengan pria ini, sudah tampan, keren, sukses, low profile, pintar memasak pula.
"Hanya ini yang bisa ku buat dalam waktu singkat," ujarnya sembari melepas apron dan mencuci tangan di wastafel.
"Kau benar-benar seperti chef," puji Wenie tulus. "Jujur aku gak bisa memasak secepat itu dengan hasil yang sebagus ini," ucapnya sedikit malu.
Frans hanya tersenyum, ia menata makanan di meja makan diikuti Wenie. "Jangan tertipu penampilan. Dicoba dulu, apakah rasanya benar-benar enak?" ujarnya setengah bertanya.
"Dari tampilannya 'sih cukup meyakinkan," sahut Wenie antusias lagi. "Apakah anda ingin beralih profesi jadi chef resto terkenal suatu saat nanti?" selorohnya dengan nada jahil.
"Ah, kamu ini.." Frans tertawa renyah mendengarnya. "Aku sudah cukup kehabisan waktu dengan satu profesiku sekarang. Jadi anggap ini malam spesialmu juga, oke?"
Wenie menahan senyum di bibirnya sembari memainkan alis tanda setuju, baiklah. Kau benar, ini memang malam spesialku, batinnya senang.
Frans menata dua piring beserta alat makan di atas meja seperti di restoran, kemudian menarik sebuah kursi untuk Wenie.
"Kemarilah," pintanya lembut.
Gadis itu menurut saja dan duduk dengan anggun. "Terimakasih."
"Dengan senang hati."
__ADS_1
Pria tampan yang nampak makin keren itu duduk di seberangnya, Wenie dengan sigap mengambil alih sendok saji untuk mengisi piring Frans terlebih dulu sebelum miliknya. Frans me'ngulum senyum melihat gadis itu melayaninya dengan cekatan, sedangkan Wenie tak menyadari tatapan mesra pria itu padanya.