Teratai Yang Mekar

Teratai Yang Mekar
Istirahat


__ADS_3

Perjalanan di tengah malam dengan cuaca dingin khas daerah pegunungan semakin menguatkan rasa letih di tubuh Wenie, ia benar-benar tidak bisa menguasai kantuknya sejak mobil meninggalkan kantor polisi. Ia tertidur dengan kepala sedikit miring ke kiri bersandar pada bantalan jok mobil.


Mobil SUV abu gelap itu meluncur mulus menuruni jalur perbukitan yang nyaris sepenuhnya gelap jika tiada siraman cahaya lampu penerang di sepanjang jalan. Frans berusaha tetap menguasai kesadarannya dengan menyetir lambat sambil sesekali melirik gadis di sisinya. Kedamaian nampak terukir di wajah Wenie saat matanya terpejam, beberapa helai anak rambut jatuh di pipi menambah kesan manis dan natural sisi dirinya yang lain.


Frans menarik nafas berat menyaksikan pemandangan yang mengusik naluri kelelakiannya, ia benar-benar gelisah sekarang. Ia tidak bisa duduk dengan tenang di balik kemudinya dan mulai khawatir tidak bisa mengendalikan imajinasi liarnya.


Lalu ia mengalihkan perhatiannya dengan mengamati bangunan sepanjang jalan yang sudah memasuki wilayah kota, ada banyak gedung bertingkat dengan desain megah dan artistik. Akhirnya Frans memutuskan untuk memasuki salah satu hotel bintang empat yang ada di sana.


"Wen, bangunlah ... kita sudah sampai," ucap Frans lirih, tak ingin mengejutkan gadis itu. "Wen ..." Frans mengguncang lengannya pelan.


Perlahan ia membuka mata dan mengerjap lamban, mengumpulkan sedikit kesadaran yang tadi terhanyut. "Ehm ... kita apa, Dok?"


Frans mematung di kursinya dengan tatapan tak terbaca. "Sepertinya kau masih sangat mengantuk ..."


"Ya, sedikit," Wenie memijat ringan pelipisnya. "Dan rasanya agak pusing juga."


"Kita sudah sampai, nanti kau bisa minum paracetamol di dalam," suaranya terdengar agak kaku.


Wenie mengernyit bingung, kemudian tersadar melihat keadaan di luar jendela. "Oh, sekarang dimana kita, Mas?"


"Kita sudah sampai di hotel dan sudah hampir setengah jam aku menunggumu bangun," mimik wajahnya sedikit mengendur.


"Ah, maafkan aku. Kau pasti kesal melihatku tertidur," sesal Wenie lirih bercampur malu, ia menyisipkan anak rambut yang terurai ke belakang telinga.


"Tidak juga. Tapi sebaiknya kita segera masuk dan memesan kamar untuk beristirahat," ujar Frans, lalu ia turun dan membukakan pintu untuk Wenie. "Ayo ..."


"Iya, Mas ..."


Wenie mengikuti langkahnya dalam diam, Frans menuju resepsionis dan memesan sebuah kamar tipe suite. Seorang pelayan segera mengantarkan mereka menuju lift yang membawanya menuju lantai paling atas gedung ini.


Setelah bercakap-cakap sejenak terkait pelayanan kamar akhirnya pelayan itu pamit undur diri dan menutup pintu ketika kedua tamu sudah masuk ruangan.


"Mas ..." Wenie memandang ragu ke sekeliling kamar yang sangat luas dan mewah.


"Ya?" Frans nampak santai, ia masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower lalu mematikannya lagi. Wenie mengekorinya dan berdiri di ambang pintu.


"Kau hanya memesan satu kamar untuk kita tempati berdua?"


"Benar. Ada masalah?" tanya Frans dengan nada ambigu.


Wenie tak habis pikir, ia menatap Frans dengan raut wajah bingung. "Kau ... lalu aku tidur dimana, Mas?"


Frans tersenyum misterius. "Aku sudah lelah, Wen. Kita bisa berbagi satu ranjang yang sama untuk beristirahat, seharusnya itu tidak jadi masalah, kan?" ujarnya sambil memunggungi Wenie untuk membuka kancing kemejanya. "Lagipula ranjang itu terlalu besar untuk ku tempati sendirian, jadi jangan berpikir kau akan tidur di sofa ..."

__ADS_1


"Tapi, Mas ..."


"Kau atau aku duluan yang pakai kamar mandinya?" potong Frans cepat, ia berbalik menunjukkan dada bidangnya yang tak lagi tertutup kemeja.


Wenie refleks menunduk dan berpikir sebentar. "Baiklah. Kau duluan saja. Aku akan menunggu di luar," ujarnya lirih. Tepat saat ia berbalik lengan kekar Frans menahan pinggangnya, merapatkan tubuh di belakangnya.


"Keputusan bijak, manis. Aku yakin tidak akan bisa menahan diriku jika semenit lebih lama lagi dari ini," bisik Frans parau, suaranya terdengar berat di telinga Wenie. Jelas ada sesuatu yang ditahannya.


Bulu tengkuk Wenie meremang, ia sangat paham maksud dari perkataan pria tampan ini. Sedikit gerakan yang salah bisa saja akan memantik hasrat yang sedang mati-matian ditahan Frans.


"Mas ..." Wenie menyentuh lembut lengan yang menahannya, menyingkirkan perlahan lalu memutar tubuhnya. "Sudah larut malam, luka-lukamu juga belum dibersihkan dan kita harus segera istirahat," ia menatap sayu.


"Lalu?" pandangan Frans nampak mulai berkabut oleh gairah.


"Jangan buang waktu. Kau tidak mau memar ini semakin bengkak, kan?" ia mengelus sudut bibir dan sepanjang tulang pipi Frans yang memar bekas berkelahi.


Frans tersadar, mencium lembut jemari yang menyentuh wajahnya hati-hati. "Baiklah jika kau memaksa. Tunggu aku selesai, setelah itu kau juga harus cepat membersihkan dirimu."


"Ehm, tentu ..."


Wenie segera meninggalkan Frans yang masih berdiri di ambang pintu kamar mandi dengan perasaan berdebar. Lalu ia duduk di pinggir ranjang membelakangi pintu, menghadap jendela yang masih tertutup tirai warna gading sambil berharap tak ada hal buruk apapun terjadi malam ini.


Gadis itu melirik jam dinding di atas televisi layar datar yang menunjukkan sudah pukul satu dinihari, ia meremas tangannya gelisah. Sesekali ia membetulkan letak duduknya yang nampak tidak nyaman.


"Astaga! Kau mengagetkanku, Mas ..." Wenie terperanjak dari lamunannya.


"Kau melamun?" goda Frans.


"Ah, tidak. Kau sudah selesai, Mas? Aku sudah tidak tahan dari tadi mau ke toilet ..." jawab Wenie seraya bangkit melewati pria itu. Ia bergegas masuk dan mengunci pintu kamar mandi dengan cepat.


Ia menata nafasnya sejenak sebelum mulai bebersih merapikan diri, rasanya ia seperti habis lari tiga putaran penuh untuk sampai di sini. Apalagi saat ia teringat penampilan Frans yang terlihat segar sehabis mandi dengan tubuh hanya berbalut handuk sepinggang dan rambut basahnya. Oh, tuhan. Hentikan pemikiran tak senonoh itu, Wen! Sial, bagaimana ia bisa setampan itu? makinya dalam hati.


Wenie melihat ada satu kimono handuk bersih yang tergantung di rak penyimpanan sudut kamar mandi lengkap dengan peralatan mandi hotel sekali pakai, lalu memutuskan untuk mandi juga tanpa membasahi rambutnya. Ia menggelung rambutnya ke atas dan menjepitnya asal, lalu mulai membasuh diri di bawah guyuran shower.


Frans menyalakan televisi layar datar di hadapannya sambil menunggu Wenie keluar dari kamar mandi. Seorang pelayan mengantarkan dua potong besar lasagna dengan secangkir kopi dan segelas susu hangat yang kini sudah terhidang di meja rendah menguarkan aroma harum yang menggugah.


Lalu tatapannya teralih saat pintu kamar mandi terbuka dan seorang gadis cantik keluar dari sana. Ia terpaku sejenak dan senyumnya mengembang seketika. "Sudah selesai, Wen?"


"Aku, eh ... sudah, Mas," ia menunduk malu dan merapatkan kimononya agar dadanya tidak terekspos, ia merasa agak risih saat menyadari tatapan Frans padanya.


"Kalau kau tidak nyaman cepat ganti bajumu, di sana ada piyama yang bisa kau pakai untuk tidur," ujarnya lembut saat melihat ketidaknyamanan gadis itu. "Sebentar lagi petugas laundry akan datang untuk mencuci pakaian malam ini juga agar bisa kita gunakan esok hari."


"Ah, iya ... baik," jawabnya gugup, ia segera mengambil gaun tidur dengan kimono satin yang sudah disediakan di atas ranjang.

__ADS_1


"Jika sudah selesai cepatlah kembali, kita makan dulu. Aku sudah lapar ..." ujar Frans sambil menyeruput kopi panasnya.


"Ya, Mas. Tunggu sebentar ..."


Semenit kemudian gadis itu kembali dengan penampilan yang nampak lebih nyaman, ia juga sudah menyisir dan mengikat rapi rambutnya. Frans selalu saja terpukau dengan kesederhanaan gadis di hadapannya.


"Ehm, ada yang salah, Mas?" tanya Wenie agak kikuk, ia merapikan kimono satinnya agar gaun tipis di baliknya tertutup dengan baik.


Lalu pria itu tersenyum simpul. "Kau benar-benar cantik, Wen. Pantas saja si brengsek itu mati-matian mengejarmu ..."


Wenie tertunduk antara malu dan kesal, "Jangan bilang begitu, Mas. Aku jadi gak nyaman ..."


"Ah, maaf. Aku tidak bermaksud begitu," jawab Frans getir. "Ayo, makanlah dulu. Ini sudah agak dingin," ujarnya lagi untuk mencairkan suasana.


Wenie menatap tak berkedip pada makanan di hadapannya, lalu ia duduk di sisi lelaki itu dengan sedikit jarak. Ia benar-benar sudah lapar sekaligus mengantuk, namun tentu saja makanan hangat ini tidak boleh dilewatkan begitu saja.


"Hmm, ini enak, Mas ..." ucap Wenie memuji makanan yang sudah setengah tandas.


"Habiskanlah. Setelah itu minum susu hangatnya supaya kau tidak masuk angin ..."


"Lho, Mas minum kopi ... nanti tidak bisa tidur?" tanya Wenie heran.


"Aku sudah sangat lelah, ini tidak akan berpengaruh apapun padaku. Tidur tinggal tidur," jawab Frans sambil tersenyum, lalu ia sedikit meringis merasakan sesuatu di wajahnya.


"Aduh, aku lupa. Wajahmu harus dikompres air hangat supaya tidak bengkak, Mas," ujar Wenie yang bergegas bangkit.


Frans menahannya. "Tidak usah. Kau jangan terlalu khawatir, ini tidak apa-apa. Duduklah ..."


"Tapi, Mas ..." Wenie memandang ngilu pada bekas pukulan di wajah pria tampan ini, memar yang mulai agak membiru. "Itu pasti sakit ..."


"Sedikit. Bagi laki-laki ini hal biasa, semacam variasi dalam hidup," ungkap Frans lugas agar Wenie tak mengkhawatirkannya.


Bibir Wenie menipis mendengar jawaban konyolnya. "Sembarangan kamu, Mas. Variasi dalam hidup kok, memar di sana-sini ..."


"Lalu variasi seperti apa yang kira-kira menarik?" pancing Frans jahil, ia mengerlingkan matanya.


Wenie hanya tersenyum salah tingkah, ia merasa pembicaraan pria ini mulai menjurus. "Aku mau tidur sekarang, Mas. Sudah ngantuk sekali rasanya," lalu ia bangkit dan beranjak meninggalkan Frans.


Gadis itu berbaring menyamping di sisi kiri ranjang dan mulai memejamkan mata meskipun sebenarnya jantungnya berdebar keras tanpa bisa ditenangkan. Lalu ia merasakan seseorang naik di sisi kanan ranjang menciptakan gelombang halus pada permukaan kasur yang empuk.


"Jangan khawatir, aku hanya ingin tidur," bisik Frans di telinga Wenie. Ia merapatkan dadanya dengan punggung gadis itu, menghirup aroma harum di sela rambutnya yang terurai. "Izinkan aku memelukmu sampai pagi, Wen. Aku hanya takut kau menghilang dari sisiku saat aku tertidur nanti."


"Ehm ... tidurlah, Mas," Wenie mengelus lengan kekar yang melingkari perutnya. "Aku tidak akan kemana-mana."

__ADS_1


Sejujurnya ia merasa merinding sekarang, namun tidak bisa menghindar demi menjaga perasaan pria di sampingnya. Meskipun Wenie juga tidak ingin dicap wanita gampangan tapi ia tahu Frans bisa menahan diri dalam batasannya. Maka ia kembali mencoba memejamkan matanya yang sudah semakin berat.


__ADS_2