
Raisa minta turun dari gendongan Prasetyo, gadis itu langsung berlari tertatih-tatih menuju kolam besar yang ada di tengah taman. Mau tidak mau sang papa mengikuti dengan berjalan di belakangnya, ia nampak begitu sabar mengasuh putrinya sementara Isti mengekor sembari sibuk merekam video dengan ponselnya.
"Hati-hati, sayang ..." teriak Isti saat Raisa sudah sampai di tepi kolam.
"Ma, cepat, cepat!" seru Raisa bersemangat. Prasetyo memegangi lengan kecilnya agar tidak tercebur.
"Lihat apa sih, di situ?" tanya Isti, ponselnya masih merekam.
Raisa tertawa riang. "Ikan, ikan ... Banyak ikan, Ma," jemari kecilnya menunjuk-nunjuk.
"Ica suka lihat ikan? Bilang sama papa ... minta buatin kolam gitu ya, supaya Ica bisa pelihara ikan sendiri," ujar sang mama, lagi-lagi menghasut. Prasetyo diam tak bereaksi.
Putrinya menatap penuh harapan. "Boleh, Pa?"
"Apa, sayang?" papanya pura-pura bertanya.
"Beli kolam ..." jawab Raisa cepat tanpa berpikir apa pun.
Prasetyo tertawa kecil, Isti memperhatikan. "Nanti ya, kapan-kapan Papa pesankan akuarium yang besar untuk Ica."
Sontak Raisa sumringah. "Asyiik ..."
"Tapi gak sekarang ya, sayang. Papa masih banyak pekerjaan," ujar Prasetyo, senyum Raisa memudar seketika.
"Mas!" Isti menegur kesal, ia mengelus Raisa yang agak murung.
"Apa?" tanya Prasetyo malas.
Isti cemberut, suaminya tak peduli. "Jarang-jarang 'kan, Raisa minta sesuatu sama kamu?" rajuknya.
"Lantas?" jawab Prasetyo acuh.
"Kenapa kamu harus menjawab begitu? Jangan kecewakan dia," desaknya mencoba menahan suaranya agar tidak meninggi.
Prasetyo diam saja. "Kita duduk di sana, sayang. Papa lelah," ajaknya sembari menggendong Raisa.
Isti mengekor dengan kesal, rekamannya sudah berhenti sejak Prasetyo menjawab dengan nada menyebalkan tadi.
Mereka duduk di bangku taman yang tersisa, hampir semua bangku dan teduhan terisi pengunjung. Lalu Prasetyo menurunkan Raisa dari gendongan dan bertanya, "Kamu mau es krim, sayang?"
"Yeay, es kim. Mau, mau," bocah kecil itu mengangguk cepat, nampak teralih dari sedihnya.
Prasetyo refleks tersenyum cerah. "Ica mau rasa apa?"
Gadis kecil itu nampak berpikir sebentar. "Stobely ..."
"Kalau begitu Ica tunggu di sini sama mama ya," pinta sang papa lembut, Raisa mengangguk patuh.
Prasetyo segera beranjak dari sana tanpa bertanya istrinya mau minum apa. "Astaga, pria itu!" seketika saja Isti cemberut tanpa diminta, ingin sekali ia memakinya.
Namun saat memandang taman yang cukup ramai dan juga keriangan gadis kecilnya, akhirnya Isti memilih menahan diri daripada terus marah dan merajuk. Ia tahu cara itu tak akan mempan pada Prasetyo yang berwatak keras.
Pria menawan berbusana santai itu pergi menembus kerumunan stan kuliner yang berjejer di sepanjang luar taman, ia mencari kedai es krim. Setelah menemukan stan penjual camilan favorit semua kalangan itu ia memesan dua porsi es krim rasa cokelat-vanilla dan strawberry-vanilla.
Kemudian ia pergi mencari mesin penjual minuman otomatis untuk membeli minuman untuk dirinya sendiri. Setelah mendapatkan semua yang diinginkan ia segera kembali pada anak dan istrinya.
πππ
Di rumah sakit, Frans baru kembali saat sore sudah agak menua. Wenie yang sedang melonjorkan kaki di sepanjang sofa segera menurunkan kakinya karena terkejut pria itu masuk tanpa mengetuk pintu.
"Maaf menunggu lama," ujar Frans tanpa menyinggung sikap gadis itu.
"Eh, tidak apa-apa, Mas ..." jawabnya malu-malu, ia jadi agak salah tingkah.
"Kau bosan?"
Wenie menegakkan tubuh, masih coba memperbaiki sikap duduknya. "Hm, tidak juga."
Frans hanya tersenyum sekilas, ia merapikan meja dan meletakkan jas dokternya di hanger lalu menggantungnya di rak penyimpanan. Setelah memeriksa beberapa berkas kemudian mengambil kunci mobil.
"Aku ganti baju sebentar," ujar Frans padanya. "Kau juga bersiaplah ..."
Wenie lantas menyimpan ponsel dalam tasnya. "Iya, Mas."
__ADS_1
Lalu Frans masuk toilet yang ada dalam ruang kerjanya dengan membawa satu set pakaian ganti. Wenie menunggu sepuluh menit berikutnya, kemudian Frans keluar dengan wajah yang lebih fresh.
"Ayo kita pergi ..."
Wenie bangkit dan merapikan sedikit gaunnya. "Memang Mas sudah selesai kerjanya?" tanyanya.
"Sudah. I'm free," jawabnya ceria, tidak nampak sedikit pun lelah di wajah Frans.
Senyum kecil mengulas bibir mungil Wenie. "Kalau begitu ayo!" balasnya bersemangat.
Namun sebelum menekan handle pintu, Frans berbalik. "Hm, apa kau perlu ke toilet? Biar ku tunggu, mumpung belum jalan ..."
Wenie menimbang sebentar. "Sebenarnya iya," jawabnya malu-malu.
Pria itu tersenyum kecil. "Pergilah. Kau lihat pintunya 'kan?" ia menunjuk dengan dagunya.
Wenie mengangguk cepat, ia kembali meletakkan tas yang tadi sudah disandangnya di atas meja dan masuk ke dalam toilet yang ada di sana.
Tanpa membuang waktu Frans segera mencari ponsel gadis itu dan melakukan sesuatu padanya dalam waktu kurang dari satu menit. Ia segera meletakkan kembali ponsel dalam tas saat selesai mengkloning sistem ponsel Wenie dan mengaktifkan GPS agar tertaut pada ponselnya sendiri, dengan begitu kelak ia bisa melacak dimana pun keberadaan Wenie selama ponsel tersebut aktif.
Beberapa menit berikutnya gadis itu keluar dengan wajah yang lebih baik karena sepertinya sejak tadi ia sudah menahan keinginan buang air kecil. Ia merasa agak sungkan untuk bergerak kesana kemari tanpa sang pemilik ruangan ada di sana.
Mereka berjalan beriringan keluar melalui pintu utama, beberapa perawat muda tampak memandang dengan tatap penuh gosip namun Wenie mencoba tidak peduli. Meski sesekali ia juga tersenyum sekilas pada beberapa orang yang tertangkap mata sedang menatapnya, selebihnya ia menundukkan wajah pura-pura melihat ponsel. Walau sebenarnya ia tidak tahu bahwa sistemnya sudah disadap Frans.
Sedangkan pria itu terus berjalan dengan nyaman di sisinya seolah tak terjadi apa pun. Wenie juga tidak ingin banyak berpikiran yang bukan-bukan jadi dia hanya mengikuti saja kemana Frans pergi.
Parkiran mobil yang terletak di belakang rumah sakit besar ini membuat keduanya harus berjalan cukup jauh dari lokasi Frans berdinas. Wenie yang tidak terbiasa mengenakan heels merasakan kakinya agak tidak nyaman melangkah.
Merasakan gadis manis di sisinya agak melambat Frans refleks menoleh. "Ada apa, Wen?"
Wenie hanya tersenyum kecil. "Tidak ada ..."
"Kau lelah berjalan?" tanya Frans lagi.
"Hm, sebenarnya kaki ku hanya sedikit tidak nyaman dengan heels ini," jawabnya malu-malu.
Frans menurunkan pandangan. "Duduk dulu di situ," ia menunjuk kursi tunggu terdekat.
Wenie mengangguk setuju, lalu ia berjalan sedikit lagi dan duduk di sana dengan wajah lega.
Tak menyahut, Frans malah meraih kaki kanan gadis itu dan melepaskan tali heelsnya. "Kakimu lecet ..."
"Oh, pantas saja agak perih sedikit," lirihnya. "Sudah, tolong berdiri, Mas. Jangan seperti itu," lanjut Wenie tak enak hati.
Frans menatapnya khawatir dan berkata dengan gemas," Seharusnya kau tidak perlu memaksakan diri memakai sepatu ini. Lihat kakimu sekarang, jadi terluka begini ..."
Jantung Wenie berdesir antara senang dan malu mendengar pria tampan itu cemas. "Hanya lecet sedikit, Mas, jangan dibesar-besarkan."
Frans menatap tidak suka, lalu ia melepaskan kedua heels dari kakinya.
"Eh, Mas, kenapa dilepas? Masa aku harus nyeker ..."
"Bangunlah, mobilku masih agak jauh dari sini," ujar Frans tidak menghiraukan pertanyaannya.
Wenie menatap bingung tapi akhirnya ia bangkit juga dan diluar dugaan Frans segera membopongnya. Ia merasa amat kecil dalam dekapan hangat pria itu.
"Astaga, turunkan aku, Mas!" pekiknya tertahan. "Biarkan aku jalan sendiri."
Frans menggeleng dalam senyum kecil. "Diamlah ..."
Beberapa pengunjung dan perawat yang melintas auto memperhatikan mereka dengan wajah penasaran.
"Aduh, plis turunkan aku, Mas. Malu dilihat orang," bisik Wenie malu, ia menyembunyikan wajah dekat leher Frans yang kokoh.
Tapi Frans tidak peduli, ia terus berjalan menuju mobilnya dengan Wenie dalam gendongan dan juga sepasang sepatu di sebelah tangannya. Kemudian gadis itu baru diturunkan saat sudah sampai di mobilnya.
"Masuklah," ujarnya sembari membukakan pintu penumpang depan.
Tanpa banyak membantah gadis itu langsung masuk ke dalam dan menutup wajahnya yang memerah karena malu, jangan lupakan jantungnya yang berdebar luar biasa.
Berikutnya Frans segera menyetir mobilnya keluar dari sana. Perjalanan berlangsung tenang tanpa seorang pun yang bicara, hanya suara musik melantun lembut dari audio mobil.
"Kita mau ke mana, Mas?" akhirnya Wenie tak bisa menahan lagi rasa penasarannya, ini bukan arah jalan pulang ke kosannya.
__ADS_1
Frans tersenyum penuh rahasia. "Kau akan tahu nanti."
Bibir Wenie mengerucut menggemaskan. "Tinggal jawab saja susah banget ..." gerutunya pelan.
"Cuma kejutan kecil. Gak seru 'kan, kalau aku bilang sekarang," jawab Frans masih penuh senyum.
Mata Wenie berputar mencari kata dengan bibir menipis. "Semacam kencan lanjutan?"
Frans memiringkan kepala sambil tetap fokus menyetir. "Boleh juga dibilang begitu," ujarnya setuju.
Lidah Wenie mendecak. "Apa Mas tidak capek? Gak pengen cepat pulang biar bisa istirahat di rumah, gitu?"
"Kau mau mampir ke rumahku?" sambut Frans cepat, matanya berbinar senang.
Wenie spontan kaget sendiri melihat reaksinya. "Eh, bukan begitu ..." sepertinya ia salah bicara atau pria itu yang salah tanggap?
Frans mengulum senyumnya melihat Wenie salah tingkah, ia tetap fokus menyetir hingga sampai di parkiran taman kota yang ramai.
Wenie segera memindai sekelilingnya saat mobil telah berhenti penuh dan Frans melepas sabuk pengaman. "Kita cari angin sebentar di sini sebelum pulang," ujarnya.
Mata gadis itu berbinar seketika. "Eden Light Park?"
Senyum lebar mengembang di bibir seksi dokter tampan itu. "Benar. Kau senang?"
Wenie mengangguk penuh semangat.
"Ayo turun, hari semakin sore," ajak Frans.
Tanpa membuang waktu lagi Wenie melepas sabuk pengaman dan turun. Ia nampak senang, rasanya sejak tadi menunggu Frans di rumah sakit ia sudah bosan setengah mati.
Pria itu membimbingnya melewati keramaian taman, berkali-kali ia harus melindungi gadis mungil ini dari senggolan orang atau pun beberapa anak kecil yang berlarian.
Frans berniat membawanya menuju restoran seafood yang pernah mereka kunjungi beberapa waktu silam, mengetahui itu wajah Wenie nampak semakin sumringah.
Namun sial, seorang gadis batita yang sedang berjalan lambat terjatuh di hadapan mereka akibat terserempet seorang bocah yang lebih besar yang tengah berlari dari arah berlawanan.
Refleks Wenie menjerit kaget dan gadis kecil itu menangis keras. Tanpa dikomando lagi Wenie segera menghampiri dan membantunya bangkit.
"Cup, cup ... diam ya, sayang," hibur Wenie lembut, ia membersihkan gaun gadis cilik itu dari pasir yang menempel.
Sementara Frans dengan cepat menangkap bocah lelaki yang hendak kabur itu. "Mau kemana, hm?"
"Aduh, maaf, Om. Aku gak sengaja ..." wajahnya memelas takut.
Wenie menatap sedikit cemberut pada bocah itu. "Jangan berlarian begitu lagi, ya? Lihat adik ini jadi terjatuh," tegurnya sabar.
Bocah itu mengangguk dengan senyum kikuk, antara malu dan takut. "Iya, tante."
"Dimana orang tua anak ini, Mas?" tanya Wenie sembari mendongakkan wajah.
Belum lagi pertanyaannya terjawab tiba-tiba sebuah suara wanita terdengar panik memanggil anaknya. "Raisa!"
Anak itu masih menangis tersedu. "Mama ..."
Wenie dan Frans secara alami menoleh pada sumber suara yang menyibak kerumunan, lalu terkesiap melihat siapa yang datang. Wenie nyaris tidak bisa bernafas, sementara wanita itu langsung terfokus pada anaknya yang terlihat mengenaskan.
"Raisa, kamu gak apa-apa, sayang?" tanya sang mama khawatir, ia berjongkok memeluk anaknya lalu menoleh sekeliling. "Sebenarnya apa yang terβ" pertanyaannya menggantung saat menatap Wenie, wajahnya tiba-tiba mengeras.
Wenie tak dapat berkata-kata, ia lantas melepaskan gadis cilik itu dan segera bangkit dari sana. Ia tidak menduga akan bertemu rivalnya di sini, bahkan batita itu ternyata adalah anaknya yang berarti juga anak dari Prasetyo.
Ya Tuhan, ada apa ini ...
Beruntung Frans pandai membaca situasi, ia langsung maju menyapa wanita itu untuk mengalihkan perhatiannya. "Bu Isti, lama tidak berjumpa ..."
Wanita itu refleks menoleh, ia mengerutkan dahi dengan heran. "Dokter Frans?"
"Rupanya gadis cilik ini adalah anakmu?" tanya Frans dengan senyum menawannya yang biasa.
"Benar," sahutnya cepat. "Sebenarnya anak saya kenapa bisa menangis, Dok? Dan perempuan ini ..." ia menatap sinis pada Wenie.
"Sabar sebentar, Bu," jawab Frans tenang. "Pelakunya ada di sini," ia meremas pelan bahu bocah lelaki di hadapannya. "Jangan takut," bisiknya.
Namun anak itu tidak bisa menurutinya, ibu bayi itu tampak galak di matanya maka ia semakin menunduk dalam.
__ADS_1
"Anak ini hanya tidak sengaja menyenggol putrimu, Bu," ujar Frans. "Dan Wenie bersamaku, kami hanya kebetulan melintas saat anakmu terjatuh," lanjutnya menerangkan.
Sayang tatapan sinis Isti tidak berubah sedikitpun, lalu ia beralih pada bocah di hadapan Frans. "Heh, bocah! Apa kau tidak berniat minta maaf pada putriku?"