Teratai Yang Mekar

Teratai Yang Mekar
Melarikan Diri


__ADS_3

Sementara di lain tempat, tim buru sergap berhasil melacak keberadaan para berandal sewaan yang berada sekitar satu kilometer di luar wilayah villa kosong yang mereka temukan pertama kali. Sebagian tim sudah sampai di lokasi intaian berikutnya, sementara yang lain menyusul bersama dokter Frans dan tentu saja pak kepala polisi.


Frans menahan rasa penasaran dan tidak sabarnya dalam diam, ia memperhatikan sekeliling area ini dengan gelisah dari balik kemudi. Ingin sekali ia segera keluar untuk turut serta dalam penyergapan yang kedua ini namun Doni menahannya agar bersabar sebentar lagi sambil menunggu komando dari ketua tim lapangan.


"Sabar sedikit lagi, Dok. Kita pasti akan menemukan gadis itu," ujar Doni menenangkan. "Biarkan mereka bekerja, kita akan turun segera setelah mereka memberi kode aman ..."


"Tapi berapa lama lagi, Pak?" Frans melontarkan pertanyaan klise tanpa ingin berpikir. "Saya sangat khawatir, bagaimana keadaannya sekarang ..."


"Kita akan tahu nanti, tapi sebaiknya anda tetap menunggu di sini ... saya akan turun menyusul mereka," cegah Doni menenangkan.


"Baiklah. Tapi saya tidak jamin bisa menahan diri jika mereka sudah berhasil digerebek nanti, Pak ..." ucap Frans berkeras.


Doni mengangguk setuju sebelum akhirnya turun dari mobil dan melangkah dengan siaga. Ia tetap menjaga jarak aman dengan anggota terdepan karena ia tidak mengenakan rompi anti-peluru sebagaimana perlengkapan wajib tugas mereka.


Setelah memastikan target mereka ada di dalam lokasi, dengan satu kode serbu dari ketua tim beberapa anggota langsung mendobrak masuk dan mengepung para bandit yang masih tertidur pulas dalam keadaan tak karuan sehabis berpesta minuman keras semalam dengan beberapa gadis bayaran. Tanpa perlawanan berarti mereka diringkus dengan mudah.


Frans segera turun dari mobil begitu mereka dibawa keluar villa oleh beberapa orang polisi, sebagian tim masih berada di dalam menggeledah untuk mencari barang bukti dan korban penculikan. Ada total tujuh orang yang tertangkap, tiga orang pria berwajah kuyu beserta empat orang wanita muda.


Satu orang penculik dilaporkan telah lolos dari penyergapan ini dan beberapa polisi segera melakukan pengejaran berbekal informasi dari seorang bandit dengan brewok tebal memenuhi dagunya.


Frans menatap benci bercampur iba dengan pemandangan yang terhampar di depannya. Ada empat orang gadis muda kira-kira seusia Wenie didudukkan berbaris dengan para penjahat dalam keadaan mengenaskan, pakaian yang tidak lengkap menutupi tubuh mulus mereka. Wajah-wajah pias mereka tertunduk malu dalam ketakutan.


Kali ini mereka terjaring oleh polisi karena tindak kejahatan penculikan, selain tersangkut pula tentunya masalah prostitusi. Belum lagi temuan adanya barang bukti sejumlah obat-obatan terlarang dan minuman keras di atas meja.


Setelah pendataan dan interogasi awal selesai datanglah satu mobil tahanan polisi menjemput mereka semua dalam tangan terikat borgol plastik. Lalu satu persatu naik ke mobil tanpa berani menoleh ke belakang lagi.


Frans menghela nafasnya kasar, niatnya ingin menghajar para bandit itu dibatalkannya sendiri ketika melihat langsung siapa-siapa saja yang tertangkap. Perasaannya seolah tersayat, terbayang sesuatu yang buruk akan terjadi pada Wenie, dan ia benci dengan isi kepalanya sendiri sekarang.


"Dokter ..." tepukan di bahunya membuyarkan lamunannya.


"Ya? Oh, Pak Doni ..." Frans tergugah.


"Jadi bagaimana, dok ... Apakah anda akan ikut pengejaran berikutnya atau ingin menginterogasi mereka di polsek terdekat?" tanya Doni.


Frans nampak berpikir sebentar. "Apakah sudah ada kabar di mana kira-kira Wenie berada, Pak?"


"Sepertinya seorang pelaku sedang melarikan diri ke suatu tempat, mungkin saja dia berada di sana dan tim kami masih terus melacak jejaknya," jawab Doni menerangkan.


"Lalu bagaimana dengan para bandit itu? Apakah ada informasi lain?" tanya Frans.


"Masih kami dalami informasinya, karena jawaban mereka berbeda-beda. Kita tidak bisa gegabah mengambil tindakan," jawab Doni lagi. "Saya hanya tak ingin target kita lepas begitu saja, kita harus hati-hati. Termasuk pada kemungkinan si pelaku yang kabur ini membocorkan informasi pada tersangka utama ..."


"Benar juga," ujar Frans manggut-manggut setuju.


"Sebaiknya kita ke kantor polisi terdekat tempat mereka ditahan sekarang untuk melihat sejauh mana informasinya sudah didapat, sambil anda beristirahat sejenak. Tampaknya anda lelah sekali, kelihatan kurang tidur ..."


"Ah, baiklah. Saya memang belum tidur dari semalam, mungkin saat ini saya hanya butuh secangkir kopi," jawab Frans.


"Kalau begitu mari kita berangkat, Dok. Saya tahu tempat ngopi yang nyaman di dekat sini sambil kita memantau perkembangan kasusnya ..." ucap Doni bersemangat. Frans mengangguk setuju.


Tak lama merekapun sampai di sebuah kafe pinggir jalan yang menjorok ke tebing curam di bawahnya, memiliki nuansa alam pegunungan yang lokasinya tidak begitu jauh dari villa yang barusan mereka gerebek.


Dan menjelang siang rupanya semakin ramai orang berkunjung ke sana yang memang merupakan daerah wisata.


.


.


.


.


🌺🌺🌺


.


.


.

__ADS_1


.


Wenie menghabiskan sarapannya di bawah ancaman Pras. Ia merasa kesal sekali pada pria itu, yang sudah menggodanya pagi-pagi, mengintimidasi, lalu sekarang dengan seenaknya memerintah agar ia segera bersiap dalam waktu sepuluh menit.


Wenie merasakan perubahan drastis dan hal itu terjadi setelah Pras menerima sebuah panggilan telepon dari seseorang. Atmosfer di sekitarnya mendadak mencekam kala lelaki itu berada dalam mode waspada.


"Cepat ganti pakaianmu, sayang. Kita harus pergi sekarang," titahnya tanpa memandang gadis itu, ia terfokus pada ponsel di tangannya.


"Pergi ke mana, Mas? Apa kau akan mengantarku pulang ..."


Seketika ia mengalihkan tatapannya dari ponsel. "Apa kau berpikir begitu? Jangan harap, sayang ..."


"Tapi, Mas ..."


"Cepat kenakan pakaian yang tadi kuberi padamu, jangan banyak bertanya. Kita tidak punya banyak waktu lagi."


"Tapi kenapa? Ada apa ..." pertanyaannya kembali menggantung saat memergoki tatapan Pras mengeras. "Baiklah ..."


Karena tak ingin berdebat lebih lanjut maka gadis itu memilih untuk menuruti perintahnya saja. Ia meraih paper bag yang sebelumnya diantarkan oleh pelayan. Ia segera masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dengan satu set pakaian dalam berkualitas dan dress selutut motif floral berbahan lembut yang nampak manis membalut tubuhnya.


Pras terpana sejenak sebelum akhirnya tersadar karena panggilan gadis itu, "Sudah, Mas. Kita mau ke mana ..."


"Kita ke bandara. Kita akan berangkat ke Pontianak sekarang juga," ujar Pras tanpa berpaling.


"Bandara? Apa maksudmu ..." tanya Wenie bingung.


"Kau akan mengerti nanti," ucap Pras sembari mengambil jas dari dalam lemari. "Ayo, sayang ..."


"Tidak. Tunggu, Mas. Jelasin dulu untuk apa kita ke sana?" Wenie menahan langkahnya yang sudah setengah diseret Pras. Benaknya mulai cemas.


"Aku tidak bisa jelaskan sekarang, tapi sebaiknya kita segera pergi dari sini ..."


"Aku tidak mau ..."


"Apa maksudmu?" Pras mulai gusar.


Pras membuang nafasnya kesal, "Dengar, sayang. Sebaiknya kau ikuti aku selagi aku memintamu baik-baik ..."


Namun kalimat Pras terhenti saat ponsel di saku celananya berdering lembut dengan suara deringan khas seperti ponsel milik Wenie, seketika Wenie baru teringat sejak semalam ia kehilangan benda itu.


"Brengsek!" maki Pras sambil mematikan panggilan masuk yang mengalihkan perhatian mereka.


"Ponselku ... Kembalikan padaku, Mas," ujar Wenie seraya hendak merebutnya. Secara spontan Pras mengangkat ponselnya tinggi-tinggi yang mana membuat gadis mungil itu kesulitan menggapainya.


"Tolong berikan ponselku ..." pintanya sambil terus berusaha meraih dari genggaman pria itu.


"Tidak akan."


"Mas ..."


"Tidak. Ini bukan lagi milikmu!"


"Kau tidak bisa begitu ..."


"Apanya yang tidak bisa?!." sentak Pras.


"Ponsel itu ... kau kan sudah memberikannya padaku, Mas. Sekarang kembalikan padaku," ujarnya setengah merengek.


"Ada apa dengan ponsel ini hingga kau begitu ingin mengambilnya, sayang?" pancing Pras mengulur waktu. Wenie masih saja melompat-lompat berusaha meraih ponsel dari tangan pria itu.


"Ibu kos pasti sangat khawatir padaku sekarang, biarkan aku menerima teleponnya dulu ..." pintanya lagi.


"Lalu?"


"Mas ..."


"Tidak, sayang. Bukan ibu kos yang meneleponmu barusan ..."


"Lalu siapa, Mas? Cepat kembalikan ponselnya ..."

__ADS_1


Tanpa basa-basi lagi Pras langsung membanting ponsel tipis itu ke lantai sekuat tenaga. Praaang ... seketika saja ponselnya pecah berantakan. Wenie menjerit dan menatap tak percaya.


"Mas!! Apa yang kau lakukan?!"


"Ambillah!" ujar Pras dengan wajah tersulut amarah.


Wenie berlutut di lantai memunguti ponselnya yang hancur, ia menangis. Habis sudah hidupnya, begitu pikirnya.


Pras semakin kesal, ia tidak ingin melihat drama picisan itu lebih lama lagi.


Lalu ditariknya lengan Wenie dengan kasar agar segera bangkit. Namun tidak disangka gadis itu malah melawan, ia menepis tangan Pras dengan penuh emosi. Hampir saja ia terdorong jatuh tapi Wenie tidak peduli.


"Cukup, Mas! Kau sudah sangat keterlaluan!" teriak Wenie frustasi.


"Masa bodoh! Cepat kau ikut aku ..."


" Tidak. Aku sudah bilang tidak akan ikut denganmu ke manapun!" Wenie bersikeras, air matanya berlinang di pipi mulusnya. "Kau benar-benar jahat, Mas. Aku benci kamu!"


"Aku tidak peduli kau membenciku atau apapun, yang penting sekarang kita harus pergi!" Pras kembali menyeret gadis itu agar segera keluar dari kamar.


Wenie meronta sekuat tenaga, ia berusaha melepaskan diri dari cengkraman kuat Pras. Ia mencoba bertahan hingga terjadi tarik menarik yang mana tentu saja Wenie kalah kuat. Pras menyeretnya menuruni tangga tanpa ampun, beberapa kali ia nyaris terjatuh sampai akhirnya pria itu memanggul sang gadis di bahu bidangnya.


"Aaah ... hentikan, Mas. Turunkan aku, turunkan aku ...." jeritnya sambil memukul-mukul punggung Pras sekuat tenaga.


Pras tak peduli, ia terus berjalan cepat seolah tidak membawa apapun di bahunya. Sampai di garasi ia segera membuka pintu mobil sisi penumpang bagian depan lalu menghempaskan Wenie di sana. Wenie hendak bangkit dan keluar sesaat sebelum akhirnya Pras membanting pintu hingga nyaris kakinya terjepit. Wenie benar-benar takut sekarang, ia terus berontak ingin keluar dari mobil namun lelaki itu menguncinya.


Pras melangkah setengah berlari menuju kursi kemudi lalu dengan cepat menstarter mobil dan segera meluncur keluar. Pintu gerbang yang jauh di depan sana sudah terbuka sejak kegaduhan terjadi, para bodyguard dengan sigap sudah bersiap mengawal bos besar mereka untuk melarikan diri.


Rupanya seorang bandit yang tadi lolos dari penyergapan polisi di villa bawah sudah membocorkan informasi tentang pencarian mereka. Maka tanpa pikir panjang lagi Pras segera mengambil langkah kedua, melarikan Wenie ke luar pulau.


.


.


.


.


.


.


🌺🌺🌺


.


.


.


.


.


.


Assalamualaikum, readers tersayang. Apa kabar semuanya?


Maafkeun diriku baru aktif kembali setelah sekian lama vakum.


Semoga up satu episode ini bisa sedikit mengobati kerinduan kalian sama dokter Frans dan Wenie, yaa ... sambil pelan-pelan aku revisi lagi bab per bab nya.


Akan aku usahakan untuk up setiap minggu sambil mengumpulkan semangat dulu.


*Oia, mengenai kenapa belum ganti kover sampai sekarang, mungkin karena novel ini belum lolos kontrak. Semoga aja ke depannya akan ada kepastian.


Terimakasih banyak atas dukungan kalian selama ini dalam bentuk like ataupun komentar.


Aurora harap akan selalu seperti itu, terimakasih juga sudah menjadikan novel ini favorit kalian. Aku sayang kalian* 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2