
Dan di sinilah Wenie berada sekarang. Dua orang perawat memindahkannya ke kamar VIP atas rekomendasi dari dokter Ramdan, sebagaimana permintaan rekannya, dokter Frans.
Meskipun Wenie tak tahu nanti akan membayar dengan apa semua fasilitas perawatan dan biaya kamarnya, ia tetap mencoba tenang. Akan ia utarakan nanti pada Frans.
Frans terlihat sedang merapikan dan menata obat-obatan milik Wenie dan juga sedikit barang bawaan dari bu Rahma ke dalam almari kecil di sisi ranjang. Diaturnya juga ketinggian kepala ranjang agar Wenie dapat beristirahat dengan nyaman.
"Terimakasih banyak, Mas. Maaf sudah merepotkan ..." lirih Wenie tak enak hati.
"Tenanglah, ini bukan apa-apa," Frans tersenyum manis.
Wenie nampak sedikit termenung, wajahnya tenang namun tersirat beban di sana. Frans bukan tidak menyadari hal itu, ia memilih sedikit bersabar sampai Wenie mengungkapkannya sendiri.
"Mas .."
"Ya?"
"Apa besok aku sudah boleh pulang?"
"Tergantung kondisimu, Wen ..."
Gadis itu menghela nafas berat lalu terdiam, nampak sedang menimbang sesuatu.
"Ada apa?" Frans tak tahan lagi untuk tidak bertanya.
Wenie menggeleng lemah, menutup matanya sebentar.
"Hei, katakan saja ada apa?" desak Frans lembut. "Apa kau sedang mengkhawatirkan sesuatu ..."
"Gak ada, Mas. Aku cuma gak betah saja lama-lama di rumah sakit seperti ini."
"Seperti ini bagaimana? Apa kamar ini kurang nyaman buatmu? Biar kuminta dokter Ramdan memindahkan ke ruang VVIP kalau memang begitu .."
"Jangan, Mas!" Wenie mencegah Frans yang hendak menelepon rekannya. "Bukan begitu. Aku cuma ..."
"Cuma apa? Cepat katakan ..."
"Aku gak tahu gimana bayarnya nanti? Kamar ini pasti mahal sekali harganya ..." keluh Wenie lirih. "Ku rasa gajiku sebulan hanya cukup untuk membayar biaya malam ini saja."
Frans berjalan mendekat lalu menjentikkan jari di keningnya. "Kamu terlalu banyak berpikir ..."
"Aaw, sakit. Aku serius, Mas," seloroh Wenie sambil mengusap keningnya.
"Kalau ku bilang semua ini aku yang menanggung, apa kamu akan percaya?" tanya Frans.
Wenie menggeleng dengan wajah lugunya. "Kenapa bisa begitu?"
"Ya, karena memang aku ingin ..." ujar lelaki tampan itu tegas.
Wenie masih tak bisa percaya begitu saja, jelas terlihat air mukanya nampak cemas. Kemudian Frans mendudukkan diri di sisi ranjang, lalu tanpa ragu menggenggam jemari gadis di depannya.
__ADS_1
"Kamu tenang saja. Apa yang kamu khawatirkan sekarang? Yang terpenting kamu bisa istirahat dengan nyaman dan cepat pulih, itu saja," ucap Frans bijak, ia mengelus kepala Wenie sekilas.
"Tapi, Mas ..."
"Ssttt, gak ada tapi-tapi. Kamu menurut saja, oke?" sergah Frans cepat. "Aku tak menerima bantahan."
Wenie terpaksa mengangguk pelan meskipun dalam hati masih tak nyaman. "Terimakasih banyak."
"Jangan sungkan, Wen. Nah, sekarang istirahatlah. Aku akan tidur di sana," ujar Frans seraya menunjuk sofa krem yang tampak mahal di dekat jendela.
"Baiklah. Sekali lagi terimakasih banyak, Mas," Wenie meremas pelan jemari Frans yang dibalas anggukan darinya.
Lalu Frans beranjak mematikan lampu utama ruangan dan menyalakan lampu sudut yang lebih redup.
Wenie sempat memperhatikan sekelilingnya, ia kagum dengan desain ruang rawatnya yang memberi privasi penuh pada pasien. Dekorasi dinding yang simpel dengan wallpaper strip bermotif cerah, satu set sofa empuk, almari kecil, televisi layar datar, dan tak lupa ada kulkas mini yang akan menunjang kebutuhan pasien rawat inap dan keluarga yang menunggu.
Seumur hidupnya baru kali ini ia merasakan nyamannya dirawat dalam kamar VIP. Biasanya ia hanya pergi berobat sesekali ke klinik, itupun jika sudah sangat mendesak dan tanpa pernah merasakan yang namanya rawat inap seperti sekarang.
Dan akhirnya tanpa menunggu lama Wenie pun jatuh tertidur, mungkin karena pengaruh obat yang tadi diminumnya agar ia bisa cepat beristirahat.
Ia melupakan penyebab masalahnya hari ini, dirinya merasa begitu lemah sehingga tak dapat mengingat perihal Pras yang selalu mengawasinya dari kejauhan.
Menjelang tengah malam Frans merasakan ponsel Wenie bergetar di atas nakas, namun gadis itu tidak terbangun dari lelapnya.
Frans merasa agak sedikit terganggu, ia tidak bisa begitu saja menulikan pendengarannya yang sensitif. Nampaknya seseorang nekat menelepon berkali-kali meski tidak dijawab.
Akhirnya dengan langkah berat Frans melangkah turun dari sofa yang tak cukup menampung tinggi tubuhnya. Tanpa menyalakan lampu ia mendekati nakas, berniat melihat siapa yang menelepon Wenie tengah malam begini.
"Halo, sweetheart ..." sapa seseorang di seberang sana, Frans mengepalkan tinju. "Kenapa lama sekali mengangkat teleponku ... Sedang coba menghindariku lagi, hm?"
Frans masih tetap diam menyimak, ia mendengar nafas mendesah berat dari balik telepon.
"Sayang, bicaralah. Aku tahu kau tidak tidur," desak Pras tak sabar. "Sudah kuperingatkan agar jangan pernah mencoba menghindariku atau kau akan tahu akibatnya ..."
"Katakan apa akibatnya jika gadis ini memang sedang menghindarimu, Pras?!" jawab Frans dingin.
Lawan bicaranya agak tersentak dibalik telepon, siapa lagi kalau bukan Prasetyo.
"Oho ... rupanya kau yang menerima telepon dariku, Dokter Frans. Jelaskan padaku, bagaimana bisa ponselnya ada padamu?!" balas Pras tak menutupi geramnya.
"Karena aku sedang bersamanya. Puas?" ucap Frans pedas.
"Hahaa ... benarkah? Tapi sepertinya dengan siapapun dia saat ini, orang itu sudah kalah cepat dariku," ujar Pras santai.
"Brengsek! Apa maksudmu?!" ternyata Pras meladeni ucapan Frans.
"Kau pasti tahu maksudku, Dokter. Tidak usah berlagak suci di hadapanku. Dengan ponselnya yang saat ini kau kuasai saja orang pasti paham apa yang tengah kau perbuat dengannya!" cecar Pras sengit, hatinya panas karena cemburu.
"Jaga bicaramu, Pras! Kau benar-benar tidak tahu sopan santun," maki Frans jengkel. "Mengganggu orang di tengah malam dan mengatakan yang tidak-tidak. Aku bisa menuntutmu!"
__ADS_1
Pras tertawa mengejek mendengar makian pria pesaingnya. Sejujurnya ia belum tahu situasi apa yang sedang terjadi di sana, namun ia merasa mendapat kesempatan.
"Sudahlah, Frans. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kau bukanlah lelaki sejati," ujar Pras santai. "Tapi sekarang apa? Kau ingin membuktikan bahwa kau bisa mencuri gadis itu dariku, heh?!"
"Mencuri gadis itu katamu?" tawa Frans menggema di selasar yang sunyi. "Apa kau sedang bermimpi? Setahuku dia bukan milik siapa-siapa dan kau juga sudah beristri, ingat?!"
"Aku bisa melakukan apapun yang ku mau, Dokter. Dan masalah istriku bukanlah urusanmu kecuali dulu kau pernah merawat sakitnya," ejek Pras sarkas.
Wajah Frans memerah menahan amarah begitupun Pras di seberang sana. Rasanya mereka ingin saling baku hantam sekarang juga.
"Bicaralah sesukamu, Pras! Tapi ku ingatkan kau agar tidak lagi mengganggunya mulai saat ini," ucap Frans tegas, ia mencoba tetap tenang. Ia tak suka melawan angin.
"Ya, ya, ya ... Sekarang kau mulai merasa memiliki Wenie-ku rupanya? Asal kau tahu saja, aku tak akan pernah melepaskannya untuk siapapun!" jawab Pras ketus.
"Kerahkan saja kemampuanmu, jangan bicara omong kosong ..."
"Kau akan tahu nanti, brengsek! Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku," sengit Pras.
Frans terkekeh pelan. "Sudahlah, aku lelah. Tak ada gunanya mendengar bualanmu," tanpa basa-basi lagi Frans memutuskan sambungan.
"Hei! Halo, Frans! Sialan, kau benar-benar menantangku," maki Pras gusar, ia melempar ponselnya ke atas meja.
Frans mulai menebak-nebak apa yang terjadi pada Wenie sebelum ini. Mungkinkah ia kurang istirahat dan tidak makan seharian tadi akibat teror mantan kekasihnya itu? Frans memutuskan akan bertanya besok, mengingat ia tak bisa membuka kunci sandi ponselnya.
Namun ia beranjak tidur dengan hati yang tidak tentram. Pikirannya mulai bergerak liar. Apa maksud Pras bahwa dirinya sudah lebih cepat dari siapapun yang bersama Wenie saat ini? Mungkinkah ia sudah ...
.
.
.
🌷🌷🌷
.
.
.
Sore ini Wenie bersiap meninggalkan rumah sakit, bu Rahma juga sudah datang untuk menjemputnya. Ia benar-benar merasa khawatir akan kondisi kesehatan anak kos yang satu ini.
Tadi pagi pun sebenarnya ia mau sudah datang, namun dokter Ramdan belum memberi izin pulang untuk Wenie. Alhasil Frans masih tetap setia menemaninya sembari sesekali seorang perawat mengantarkan berkas pasien lain untuk dicek.
Kini Wenie sudah merasa jauh lebih baik, ia merasa sehat dan bugar. Tak lupa sejumlah vitamin dan obat-obatan menjadi buah tangannya pulang ke rumah.
Bu Rahma menyetir sendiri mobilnya, ia senang Wenie sudah kembali sehat. Dan lagi ia tak perlu mengeluarkan biaya rawat sepeserpun karena Frans yang sudah menanggung penuh semuanya.
Sesampainya di rumah, Wenie segera naik ke kamarnya di lantai atas. Ia berniat merebahkan diri sebentar sebelum membuka notifikasi ponselnya. Sejak pagi tadi ia tidak diperkenankan menyentuh ponsel agar bisa beristirahat dengan tenang, yang sebenarnya adalah sebaliknya.
__ADS_1
Ada banyak chat dan panggilan terlewat dari rekan kerjanya yaitu Eri, si bos, dan beberapa teman lain, termasuk juga Anton. Pria yang beberapa bulan terakhir ini dekat dengan Eri, namun masih ada sedikit rasa simpati dalam setiap chatnya dengan Wenie. Ia mendesah antara sedih dan senang mendapati semua itu.
Lalu ia membuka history panggilan telepon selulernya. Ada enam panggilan tak terjawab dan satu panggilan masuk dari Prasetyo pukul 23.35 tadi malam. Panggilan masuk? Bukannya saat itu ia sedang tertidur lelap? Lalu siapa yang menjawab teleponnya? Mungkinkah dokter Frans berani mengambil alih sementara tadi ia tak berkata apapun soal ini?