
Frans segera injak gas begitu jeep yg dikendarai Prasetyo melintas di hadapan mereka dengan kecepatan tinggi.
Sementara Doni Permana sibuk menginstruksi seluruh petugas polisi, baik yang berada di lapangan maupun yang masih dalam pos polisi terdekat agar bersiap mencegat dan meringkus dalang penculikan yang berusaha kabur membawa korbannya.
"Sial! Siapa yang berani mengejarku!?" maki Pras sambil terus fokus. Wenie memegang erat seatbelt kala mobil berguncang dan seringkali menyalip banyak kendaraan.
"Pelankan sedikit, Mas. Aku takut ...."
"Diamlah, sayang. Kita harus lolos dari polisi-polisi sialan itu."
Trauma gadis itu belum lagi hilang, sekarang kembali harus menghadapi situasi yang lebih menegangkan. Sesekali ia memejamkan mata karena tak berani melihat ke depan, bahkan untuk sekedar menarik nafas pun ia takut.
"Mas, hati-hati! Aku belum mau mati ...." suaranya gemetar.
"Tenanglah, sayang. Kita akan segera sampai di tol, setelah itu kita bebas dari mereka," ucap Pras yakin.
"Siapa yang mengejar kita, Mas?"
"Entahlah. Pejamkan saja matamu. Aku perlu berkonsentrasi untuk menghindari kejaran mobil-mobil itu."
Tiga mobil patroli polisi dan sebuah SUV warna abu gelap saling mendahului untuk mengejarnya yang kini mendekati pusat keramaian masyarakat. Sirine mobil patroli membuyarkan antrian kendaraan yang memadati jalanan di depan pasar tumpah, memudahkan jeep hitam itu untuk terus melaju.
"Komandan, apa pintu tol sudah diblokir?" tanya Frans pada polisi di sampingnya tanpa menoleh.
"Semua sudah standby, Dokter. Barikade beton juga sudah dipasang."
"Syukurlah. Kalau begitu kita hanya perlu menghentikan jeep sialan itu saja ...."
"Benar. Saya harap dia tidak membawa senjata tajam ataupun senjata api ...."
"Ku harap juga tidak," desah Pras khawatir.
Waktu terus berpacu sementara mereka masih saling berkejaran, lalu-lalang kendaraan di jalan raya siang hari ini sedikit menyulitkan mobil mereka untuk mengejar buruan yang berada radius lima puluh meter di depan.
"Sial! Seharusnya ini mudah," ucap Frans geram.
"Tenang, Dok. Kita pasti segera mendapatkan buruan kita."
"Aku tidak kan mengampuni si brengsek itu jika gadisku sampai terluka ...."
"Tentu, Dok!"
"Kencangkan sabukmu, Komandan!" seru Frans. Mobil yang mereka tumpangi berhasil mendekati jeep hitam itu lantas menghantamkan moncong depan SUV ke bodi belakang jeep.
Benturan keras mengguncangkan kedua mobil hingga nyaris oleng, Wenie menjerit ketakutan. Seketika saja air matanya luruh mengaburkan pandangan namun Pras belum mau menyerah.
Ia terus memacu mobilnya tanpa memedulikan beberapa motor terjatuh akibat diserempetnya. Lalu dalam hitungan sekian detik mobilnya berbelok ke jalur setapak memasuki perkampungan penduduk dengan area perkebunan yang masih cukup luas di kiri kanannya.
Frans kehilangan jejak dalam sekejap, padahal baru saja mereka begitu dekat bahkan sempat pula ia menghantam jeep itu dua kali.
"Sial!"
"Kita terlewat, Dok!"
"Saya tahu, Komandan ... apakah anak buahmu yang di belakang bisa mengejar?"
"Sepertinya mobil terakhir bisa mengikuti ... Ayo putar balik!"
__ADS_1
"Tentu ..."
Tanpa bicara lagi Frans segera putar balik beserta dua mobil polisi lain, sedangkan mobil patroli yang ke tiga sudah lebih dulu menyusul Pras memasuki perkampungan.
"Tenang, Dok ... mereka tidak akan lolos lagi kali ini."
"Ku harap begitu, Pak .."
"Menurut tim tiga, di depan sana tidak ada jalan keluar karena jembatan penghubung kampung ini dengan kampung sebelah masih dalam perbaikan."
"Benarkah? Saya harap kita bisa segera menghentikan mereka ..."
"Pasti. Kita hanya perlu lebih cepat."
Maka Frans kembali menyetir SUV nya dengan semangat untuk menyusul tim yang sudah lebih dulu mengejar Pras. Mereka terus menerus menginfokan situasi terkini sehingga Doni bisa meraba seperti apa keadaan di sana.
Benar saja setelah bersusah payah melintasi perkampungan dan perkebunan penduduk mobil jeep yang dibawa Pras terpaksa harus berhenti karena terhadang proyek perbaikan jembatan. Di depan mereka ada sungai berarus deras yang tidak mungkin diseberangi tanpa melalui jembatan itu.
"Kita tidak bisa lewat, Mas ...."
"Brengsek!" maki Pras sambil memukul kemudi.
"Bagaimana ini?"
"Diamlah sebentar! Pokoknya kita harus lolos dari sini ....'"
Akhirnya dengan terpaksa Pras harus putar balik bertepatan saat mobil patroli datang dan menghadang kendaraan mereka. Dua orang polisi segera turun dan mengacungkan senjata api untuk memaksanya keluar.
Tanpa pikir panjang lagi Pras langsung menginjak gas mundur secara membabi buta hingga menabrak mobil patroli. Para polisi segera menyingkir dari hantaman mobil itu dengan senjata masih terarah.
"Saudara Prasetyo, saya perintahkan saudara untuk berhenti!" teriak seorang polisi.
"Tembak saja bannya, Pak!" teriak polisi yang satu menyarankan.
"Bersiaplah! Kita harus tetap waspada ...."
"Tak akan ku beri kesempatan!" geram Pras di balik kemudi.
Mobil Frans dan dua mobil patroli lainnya baru tiba saat terjadi kekisruhan di lokasi penyergapan. Raungan keras mobil jeep yang memekakkan telinga dan gerakan liarnya yang mendesak mundur mobil patroli di belakangnya membuat Wenie makin ketakutan.
Sayangnya aksi ugal-ugalan itu tidak berlangsung lama karena akhirnya bemper belakang mobil jeep itu tersangkut di bemper depan mobil patroli yang segera saja jadi tontonan warga. Polisi pun sigap menggedor pintu mobil, memaksa Pras dan Wenie untuk keluar.
Pras masih mencoba melawan saat petugas meringkusnya. Ia mendapat satu pukulan senjata api di kepala yang membuat pelipisnya terluka.
Sedangkan Wenie langsung turun dengan air mata masih terurai di pipi, ia begitu takut. Apalagi dengan banyak polisi mengepung mereka.
Namun rupanya Pras benar-benar keras kepala, ia kembali melawan petugas saat digiring menuju mobil patroli. Ia melumpuhkan satu petugas dengan tangan kosong, merebut pistolnya, dan menarik Wenie dalam dekapannya untuk dijadikan sandera.
"Mundur atau ku tembak gadis ini!" ancam Pras.
"Apa-apaan kamu, Mas!" jerit Wenie ketakutan.
"Diam sayang, kita harus bersandiwara sedikit agar bisa lolos ...." bisiknya di telinga Wenie.
Sebenarnya Pras melakukan itu karena ia melihat Frans ada di sana. Ia tidak mau dianggap pecundang yang mudah menyerah, sampai mati pun dia harus tetap bertahan. Ego lelaki.
"Ini gak lucu, Mas!"
__ADS_1
"Diam! Aku tak segan menarik pelatuknya jika kau tidak menurutiku ..." bisiknya mengancam.
Wenie menggigit bibirnya untuk menahan tangis yang berbalut ngeri, ia benar-benar tidak bisa berpikir sekarang. Namun harapannya segera berkembang saat ia menyadari ada sosok yang dikenalinya di antara petugas berseragam cokelat itu.
"Apa yang kau lihat, brengsek!" teriak Pras marah pada Frans yang menatap gadis dalam dekapannya.
"Hentikan Pras! Tidak ada gunanya kau melawan. Kau sudah dikepung ..." jawab Frans tenang.
"Huh! Memangnya kenapa ... kau pikir aku takut?" Pras mendecih pongah.
"Saudara Prasetyo ... sebaiknya Anda menyerah. Jangan paksa kami melakukan kekerasan pada Anda!" ujar Doni Permana lantang.
"Lakukan saja jika kalian memang sehebat itu!" tantang Pras tak mau kalah.
"Ciih ... kau benar-benar keras kepala, Pras!" ujar Frans mulai emosi.
"Kenapa, Dokter? Apa kau pikir bisa mendapatkan Wenie-ku dengan mudah? Langkahi dulu mayatku ..."
"Kau berekspektasi terlalu tinggi, Pras! Dia tidak semenarik itu buatku ..."
Apa! Kau bilang apa?! Disaat genting begini kau malah dengan kejamnya menghancurkan harapanku, Mas! batin Wenie terguncang.
"Haha ... jangan bicara omong kosong, Frans! Jika gadis ini tidak menarik hatimu, lalu buat apa kau jauh-jauh melacaknya hingga kemari?"
"Itu karena kau sudah melakukan tindak kriminal dengan menculik anak gadis orang!" debat Frans marah.
"Menculik katamu? Kau bahkan tidak tahu bahwa dialah yang dengan suka rela mengikuti anak buahku ...." ujar Pras sambil mengendus telinga Wenie, sengaja memprovokasi Frans.
Wenie merinding ngeri dibuatnya, sementara tangan Frans mengepal kuat di sisi tubuh. "Benarkah? Tapi sepertinya rekaman cctv yang kumiliki mengatakan sebaliknya ... Kau tidak bisa mengelak!"
"Rekaman cctv ya? Aku bahkan memiliki rekaman cctv yang lebih menarik bersamanya di kamarku ..." ujar Pras sambil tertawa licik.
"Bicara apa kamu, Mas!" protes Wenie.
"Diam!" bentaknya sambil mengetatkan kuncian di leher. "Diam jika kau ingin hidup karena aku tidak segan menembakmu ..."
"Aaakh ... sakit, Mas!" ia megap-megap susah bernafas.
Frans merasa terganggu dengan adegan konyol di hadapannya namun ia tetap bersabar. Ia sengaja mengulur waktu agar anak buah Doni bisa menyusun strategi melumpuhkan Prasetyo tanpa melukai tawanannya.
"Sebenarnya apa masalahmu, Pras?" tanya Frans.
"Seharusnya kau tanyakan itu pada dirimu sendiri, Frans!" jawab Pras kesal. "Kau terlalu banyak mencampuri urusanku ..."
"Kau salah! Keselamatannya jelas adalah urusanku dan sekarang kau membahayakan dirinya."
"Tidak jika kau tidak mendesakku. Sekarang biarkan kami pergi atau aku akan melukainya ...." ancam Pras.
Seketika saja semua moncong senjata api para polisi mengarah pada mereka, Wenie memejamkan matanya takut. Doni memberi gestur untuk menahan. "Saudara Prasetyo ... turunkan senjatamu. Itu tindakan ilegal dan kau sudah melawan petugas, jangan paksa kami bertindak lebih jauh lagi...."
"Cuiih ... kalian bahkan tidak memiliki keberanian untuk mengambilnya dariku!" ujar Pras meremehkan.
Saat semua mata sedang tertuju pada target dan sanderanya tiba-tiba terdengar keributan beberapa warga dari kejauhan. "Tolong! Kerbau saya lepas. Awas dia lagi ngamuk ..."
Sekonyong-konyong seekor kerbau berlari panik mendekat ke arah mereka, para polisi tetap siaga di tempat sementara Prasetyo sedikit terkecoh dan kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Frans.
Ia menerjang Prasetyo setelah Wenie berhasil melepaskan diri dengan mengigit lengannya. Maka terjadilah perkelahian sengit diantara keduanya.
__ADS_1
Prasetyo benar-benar tidak ingin menyerah, ia terus melakukan perlawanan hingga akhirnya seorang polisi melepaskan satu timah panas ke kaki kirinya untuk mengakhiri semua ini.
Sementara si kerbau yang tadi mengalihkan perhatian mereka juga sudah berhasil ditaklukan oleh warga sekitar yang membantu pemiliknya mengejar ternak itu.