
Sinar mentari menerobos masuk dari sela tirai yang menjuntai hingga lantai. Wenie perlahan tersadar dari lelapnya, ia mengerjapkan mata sambil memindai sekeliling ruangan yang nampak tidak asing. Ia bangkit dan duduk dengan selimut masih menutupi sebagian badan.
Pakaiannya masih utuh melekat di tubuhnya dan ia bersyukur untuk itu. Kemudian terdengar pintu kamar mandi terbuka dan menutup kembali, seorang pria tampan keluar dari sana dengan senyum terkembang sempurna.
"Sudah bangun, Wen?"
Wenie sempat terpana sejenak melihat Frans yang sudah berpakaian rapi . "Eh, iya Mas. Baru banget ..."
"Sudah jam tujuh kurang, sebentar lagi sarapan datang. Kau mandilah dulu, setelah sarapan kita bersiap pulang," ujar Frans, ia berdiri di ujung ranjang.
Wenie mengangguk patuh. "Oh iya, apa pakaianku sudah datang?"
"Sudah. Ada dalam laci, biar ku ambilkan ..."
"Terimakasih, Mas," ucapnya seraya turun dari ranjang.
"Jangan sungkan ..." jawab Frans, ia menyerahkan satu paperbag bertuliskan nama hotel yang mereka inapi.
Wenie mendekat untuk menerimanya, namun Frans meraih tubuhnya cepat sehingga dadanya membentur perut pria itu karena ia lebih pendek. "Mas!"
Frans tersenyum simpul, ia senang sekali menggoda gadis itu. "Bangun tidurpun kau tetap cantik ..." ujarnya sambil mengelus sayang kepala Wenie, menyisipkan rambut ke belakang telinga.
Wenie menunduk tersipu menghindari tatapan Frans. "Sudah, Mas. Aku mau mandi, lepasin ..."
"Ehm, mandilah dan jangan lupa kenakan pakaian dalammu. Ini terasa kenyal sekali," bisiknya nakal.
"Iish, apa-apaan sih, Mas ..." gerutunya malu, ia memberontak kuat hingga Frans tidak menahannya lagi.
Ia menahan tawanya saat melihat Wenie melarikan diri cepat-cepat ke dalam kamar mandi lalu menguncinya. Di balik pintu Wenie pun tersenyum-senyum sendiri mengingat ulah pria itu barusan. Jantungnya berdegup cepat, belum apa-apa rasanya ia sudah seperti squat jam tiga puluh menit.
Lalu lima belas menit kemudian Wenie keluar dengan tubuh segar dan rambut lembab tergerai sehabis keramas, ia memakai dress yang sudah bersih dari laundryan semalam. Frans menatapnya dengan segaris senyum manis.
"Duduklah, sarapannya sudah datang," ujar Frans.
"Iya, Mas," ia mendudukkan bokong dengan hati-hati karena dressnya hanya sedikit di bawah lutut.
Frans menuang teh hangat dalam cangkir porselen untuk dirinya dan Wenie. "Kau suka teh hangat, kan ..." itu bukan pertanyaan.
Wenie hanya mengangguk, ia mulai sibuk menikmati setangkup roti isi tuna. "Terimakasih, Mas," ucapnya sambil mengiris makanannya.
"Hm ..." gumam Frans samar, tatapannya tak sedetikpun lepas darinya.
Wenie mulai agak salah tingkah sekarang, ia makan dengan wajah sedikit tertunduk.
"Tegakkan dudukmu, Wen. Lehermu akan sakit nanti," seloroh Frans menyadarkannya.
"Oh ... eh, iya Mas," ia mencoba menegakkan bahunya dan mencuri-curi pandang.
"Ada apa?" tanya Frans sambil menyeruput teh hangatnya.
Wenie menggeleng ragu, namun matanya tidak bisa berbohong. Jelas ada sesuatu mengganjal di benaknya.
"Katakan ..."
"Tidak ada," mencoba acuh.
"Yakin?"
Wenie hanya mengangguk kecil.
"Matamu berkata lain ..."
"Apa?"
"Entah. Coba kau yang jelaskan ..."
Wenie memutar matanya, ia menelan gigitan terakhirnya dan segera menyudahi makannya.
Frans melirik jam di tangannya. "Kita akan pulang sejam lagi."
"Apa kita perlu datang lagi ke kantor polisi itu, Mas?"
"Tidak, jika tidak ada permintaan hadir."
"Oh, begitu ..." Wenie mengangguk paham.
Setelah mengelap bibir dengan tisu dan menyesap teh hangatnya, Wenie bangkit dari duduk lalu menuju jendela untuk menyingkap tirainya. Cahaya mentari memenuhi ruangan dengan kehangatannya. Ia berdiri memandang keluar jendela yang menampakkan hiruk pikuk kegiatan di pagi hari masyarakat kota hujan.
__ADS_1
"Kau suka di sini?" Frans datang menghampiri.
"Tidak buruk ..."
Frans tersenyum. "Kau sulit untuk bersikap jujur."
Wenie mendongak memandang pria di sisinya. "Maksud Mas?"
"Tidak ada," gantian ia yang bersikap misterius.
"Balas dendam?"
"Bukan gayaku, manis ..."
Wenie menarik napas, ia menggigit bibirnya. "Bisa kita pulang lebih cepat?"
"Ada apa? Ku pikir kau merasa nyaman ..."
Gadis itu menggeleng. "Aku hanya merasa tidak enak ..."
"Soal apa?"
"Entah. Rasanya kemarahan Pras menghantuiku," keluhnya.
"Tapi kau tidak bermimpi buruk, bahkan semalam kau tidur nyenyak sekali," bantah Frans.
"Mungkin karena badanku terlalu lelah, Mas. Tapi sebenarnya hatiku selalu khawatir, hanya saja ..."
"Apa?"
Wenie tertunduk dan menjawab dengan suara lirih, "Kau mengalihkan perhatianku ..."
Frans memutar tubuh Wenie agar menghadapnya. "Jangan mengkhawatirkan sesuatu yang tidak perlu. Aku bersamamu, ingat?"
Wenie mencari-cari kejujuran dalam sorot teduh pria di hadapannya dan di sanalah ia menemukannya. Ia mencoba menyingkirkan beban dalam hatinya dengan seulas senyum.
"Terimakasih ..."
"Jangan sungkan, oke ..." pinta Frans serius, lagi-lagi Wenie hanya mengangguk kecil.
Frans melangkah kembali padanya tanpa suara. "Ini barang-barangmu, Wen."
Gadis itu nyaris terlonjak di tempat. "Astaga ... mengagetkan saja, Mas."
"Kau senang sekali melamun rupanya ..."
"Gak, kok ..." kilah Wenie cepat. "Eh, apa ini, Mas?" ia menerimanya dengan penasaran, melongok ke dalam bungkusan.
"Seseorang mengirimnya untukmu ..."
Wenie menerima paperbag yang berisi tas kecil yang biasa ia bawa kerja, mengeluarkan isinya dan mendapati semua utuh tak berkurang. Malah ada juga ponselnya yang sudah pecah dalam sebuah plastik klip di sana.
Wenie menatap nanar pada benda penyambung jarak itu, lalu cepat-cepat dimasukkan lagi ke dalam tas sebelum air matanya jatuh. Mata Frans tidak berkedip melihat detik-detik sentimentil gadis muda di hadapannya, meskipun yang ditatap tidak menyadarinya.
"Kita pulang sekarang?" tanya Frans hati-hati.
"Iya, Mas ..." jawabnya agak serak seolah ada gumpalan kapas di tenggorokannya.
Frans mengelus bahunya. "Tenangkan dirimu dulu," ujarnya sembari menuntun Wenie untuk duduk di tepi ranjang.
Frans meninggalkannya untuk menyiapkan diri dan mengambil kunci mobilnya, ia sempat berkaca sebentar memperhatikan memar di wajahnya yang nampak samar. Semenit berikutnya ia kembali membawa jaket parka yang baru dibuka dari plastik laundry untuk dipakaikan pada Wenie. Gadis itu menerimanya dengan tersenyum meskipun tidak mampu menutupi wajahnya yang murung.
"Ayo ... Kau sudah siap?"
Wenie mengangguk seraya bangkit. "Sudah, Mas ..."
"Aku akan langsung mengantarmu pulang ke kosan," ucap Frans, Wenie mendongak meminta penjelasan. "Aku perlu bicara dengan bu Rahma nanti ..."
"Ehm ... terimakasih banyak, Mas. Maaf sudah merepotkanmu," jawabnya lirih, Frans hanya meremas bahunya pelan.
Wenie memandang sekeliling ruangan sebelum mereka keluar. "Ada apa?" tanya Frans.
"Hanya memastikan ..." jawab Wenie.
"Tidak ada yang tertinggal, jika itu maksudmu," ujar Frans.
"Bagus kalau begitu, aku sudah tidak sabar ingin segera pulang ke rumah," kicau Wenie, ia mencoba melupakan rasa kesal dan sedih ketika melihat ponselnya tadi.
__ADS_1
"Tentu. Sabarlah sebentar lagi ..." imbuh pria itu menenangkan.
Mereka pun berjalan beriringan tanpa saling menyentuh, meskipun hati Frans menginginkannya. Ia suka sekali melihat gadis itu tersipu saat digoda olehnya. Namun saat ini mereka berada di loby hotel, maka Frans mencoba menahan diri untuk tidak jahil pada gadis di sisinya.
"Mas Frans!"
Sebuah seruan menghentikan langkah mereka. "Beiby ..." gumam Frans.
"Apa yang kau lakukan di sini, Mas?" tanya adiknya seraya memeluk Frans. "Dan siapa ini ..." pandangannya menilai Wenie.
Wenie tersenyum kikuk, hanya menyapa melalui tatapan mata karena tidak yakin gadis di depannya sudi menyalaminya.
Seketika saja Frans menarik Wenie rapat di sisinya. "Calon kakak iparmu, sayang. Cepat beri salam ..."
Kedua gadis di hadapannya terhenyak kaget, namun sang adik cepat menguasai diri. "Hallo, kenalkan saya Beiby, adik bungsu kesayangan Mas Frans," ujarnya ramah.
Wenie sejenak menatap ragu kemudian balas menjabat gadis itu. "Saya Wenie. Tapi maaf, jangan dengarkan ucapannya tadi. Mas Frans tidak serius," kata Wenie lirih, ia merasa malu hati.
Beiby hanya tersenyum simpul. "Santai saja, Kak. Mas ku memang suka jahil, tapi sebenarnya dia lebih sering serius, sih ..." bisiknya namun terdengar jelas oleh Frans.
"Hei, Mas dengar ya, By ..." protes kakaknya, Wenie menahan senyum malu.
"Memang benar, kan?" bantah adiknya meledek. "Aaa ... tunggu sebentar, Mas. Rafael meneleponku," ia mengacungkan jari telunjuk untuk menghentikan Frans.
"Kau!" pria itu memutar bola matanya kesal. "Sudah. Ayo, Wen ... kita harus check-out dulu dan mengambil ID ku," ajak Frans.
Wenie berusaha melepaskan rengkuhan Frans di pinggangnya. "Mas, jangan begini. Aku malu ..."
"Kenapa harus malu? Aku takut kau tertinggal jika tidak dipegangi ..." kilah Frans makin mengetatkan dekapannya.
"Ya, tapi gak gini juga, Mas ..." protes Wenie, namun diabaikan.
Frans membawanya menuju meja resepsionis untuk melakukan check-out dan mengambil kartu identitasnya. Setelah selesai mereka segera berjalan keluar loby hotel menuju parkiran.
"Tunggu di sini sebentar, aku akan mengambil mobil," titah Frans.
Maka Wenie berdiri menunggu di teras depan hotel tanpa menyadari seseorang menghampirinya. "Hei, Kak. Kenapa pergi begitu saja? Kemana Mas Frans ..."
Wenie terkejut tapi cepat bersikap normal. "Eh, iya maaf. Mas Frans lagi mengambil mobilnya, Mbak."
"Iih, kok panggil mbak, sih? Panggil aku Beiby. Kau kan, calon kakak iparku ..." ujar gadis semampai itu dengan wajah cemberut.
"Duh, tolong jangan diambil hati. Dia pasti hanya bercanda tadi," kilah Wenie malu.
"Dia serius, Kak. Mas ku gak pernah main-main sama perempuan sembarangan," Beiby agak tersinggung.
"Iya, maaf. Maksudku buk—"
"Jadi gimana semalam ... apa dia cukup liar? Aku yakin kau kewalahan menghadapi kakakku ..." bisiknya nakal.
Wenie mengerutkan dahi tak mengerti.
"Hentikan pikiran kotormu, By!" Frans menjewer telinga adiknya.
"Aaww, sakit Mas!"
"Cepat kembali pada suamimu, jangan mengganggunya ..." ujar Frans.
"Aduuh, iya iya. Galak banget sih, Mas ..." keluh Beiby sambil mengusap telinganya. "Memangnya kalian mau kemana?"
"Balik ke Jakarta ..."
"Aku mau pulang, By. Pamit duluan, ya ..." ucap Wenie.
Beiby sedang ber-O ria saat seorang pria tampan memanggilnya. "Sayang ... kok, kamu diluar? Eh, Mas. Kapan datang?" tanya Rafael seraya mengulurkan tangan.
"Aku sudah mau pulang ..." jawab Frans, ia balas menyalami adik iparnya.
"Ehm, ku kira baru datang? Kalau begitu hati-hati di jalan ..."
"Tentu. Jaga istrimu ini baik-baik, jangan biarkan ia berkeliaran sendirian ..."
"Apaan sih, Mas!" pekik Beiby sebal. Frans mengabaikan saja.
"Baik, Mas ..." Rafael mengangguk takzim.
Lalu Frans dan Wenie berlalu pergi, begitupun Beiby dan Rafael yang kembali masuk ke dalam hotel melanjutkan niat liburan mereka.
__ADS_1