Teratai Yang Mekar

Teratai Yang Mekar
Resepsi


__ADS_3

Hari pernikahan tiba, suasana pesta berlangsung meriah dengan musik romantis yang mengalun lembut memenuhi ruang aula resepsi. Sang raja dan ratu seharipun tak henti menebar senyum, menyambut setiap tamu yang datang dan memberi selamat padanya.


Wenie melangkah keluar setelah mobil terparkir di bagian selatan gedung, berjalan ragu di sisi bu Rahma. Ia belum pernah menghadiri resepsi pernikahan di gedung, makanya ia khawatir tersesat karena merasa kurang pengetahuan.


Cukup diam dan perhatikan, begitu pesan bu Rahma.


Maka ia selalu mengekori ke manapun bu Rahma melangkah. Ia takjub dengan dekorasi ruang besar yang penuh dengan rangkaian bunga-bunga nan harum dan hilir mudik para tamu undangan yang berpakaian indah.


Memandangi sekilas setiap meja bundar enam kursi yang dilaluinya dengan orang-orang yang tengah menikmati makanannya.


Bu Rahma selalu berbisik pelan menerangkan apa saja yang ditanyakan Wenie padanya. Ia nampak sabar dan keibuan.


Wenie merasa aman bersamanya, bahkan Bu Rahma tak segan mengenalkannya pada teman-teman sosialita yang ditemuinya. Menganggap Wenie seperti anaknya, bagian dari keluarganya.


Lalu mereka juga bertemu Frans yang turut serta menyambut tamu-tamu orangtuanya. Menyalami dengan sopan dan berbincang sejenak sebelum mempersilahkan para tamu untuk melanjutkan menemui sang pengantin.


"Bu Rahma, terimakasih sudah datang. Ibu ke sini dengan siapa?" sapa Frans ramah.


"Dokter Frans. Terimakasih juga sudah mengundang saya," jawab Bu Rahma sambil menjabat tangan Frans.


"Saya datang ditemani anak kos saya. Kenalkan, namanya Wenie," ujarnya sambil meraih tangan kanan Wenie, mengulurkannya pada Frans, "Dan ini dokter Frans Ricardo," lanjut Bu Rahma.


"Wenie ..." ucapnya pelan, menjabat tangan dengan gugup.


"Panggil saya Frans saja," jawab Frans sambil tersenyum kecil.


"Ah, kalian nampak serasi," bisik bu Rahma di telinga Wenie, membuatnya tersipu.


"Sepertinya saya pernah melihatmu, tapi di mana ya?," gumam Frans sambil menatap Wenie.


"Mungkin di rumah saya, dok. Waktu dokter menemani Jeng Eka arisan di rumah saya awal tahun ini, ingat?," sambut Bu Rahma cepat.


"Ah, iya benar. Di rumah Bu Rahma tentu saja," jawab Frans sambil tertawa renyah. Wenie agak terpana dibuatnya. Tampan, satu kata yang terlintas di pikirannya.


"Nah, bagus kalau dokter ingat," Bu Rahma mengerling sekilas.


"Sudah, Bu," bisik Wenie menyadarkan.


"Eh, iya. Maaf dok, saya menyalami Beby dan Rafael dulu ya. Nanti kita lanjutkan lagi," ujar Bu Rahma berpamitan pada Frans.


"Baik. Silahkan, Bu. Dan selamat menikmati hidangannya," jawab Frans, tersenyum dan mengangguk sopan. Bu Rahma balas tersenyum.


Bu Rahma sedikit bercerita apa saja yang ia ketahui tentang dokter Frans pada Wenie, hingga langkah mereka sampai di pusat perhatian dalam aula ini, yakni sepasang pengantin yang sangat anggun dan gagah berbalut pakaian yang berkilau indah.


Bu Rahma dengan Wenie di belakangnya berbaris bersama para tamu lain yang hendak menyalami keduanya, tepat saat mata Wenie menatap sesosok pria yang tak asing di sisi kiri panggung. Hampir saja ia membalikkan diri kalau tak dicegah Bu Rahma.

__ADS_1


"Hei mau ke mana, Wen?" bisik Bu Rahma tertahan.


"Mm ... Itu Bu," Wenie mengalihkan pandang dan segera menyalami pengantin di depannya. "Ada orang yang sangat gak ingin aku temui," bisiknya setelah bersalaman. Ia memepet bu Rahma seolah ingin berlindung.


"Siapa?"


"Di sana. Jangan tengok, Bu," Wenie menunjuk dengan lirikan mata dan segera menunduk.


"Ya sudah, kita lewat sini," Bu Rahma menggandeng Wenie ke arah lain. Seolah mengerti kegelisahan anak kos kesayangannya.


Wenie mengikuti langkah cepat Bu Rahma, tapi terlambat. Seseorang itu ternyata sudah menyadari kehadirannya sejak ia naik keatas panggung tadi.


Kini tatapan tajamnya mengikuti kemana Wenie melangkah. Mengintai dengan perasaan senang seolah sang elang akan segera mendapatkan mangsanya.


Bu Rahma mengambil meja agak di sudut ruang setelah mengambil sedikit hidangan prasmanan. Mendudukkan Wenie di balik sebuah vas besi tinggi yang penuh hiasan mawar putih yang menebar aroma harum, berharap dapat menyembunyikannya sementara.


"Maaf ya, Bu. Aku jadi merepotkan Ibu," sesal Wenie pelan, meneguk air mineralnya dengan gemetar.


"Gak apa-apa kalau itu untuk keselamatanmu, Wen," jawab Bu Rahma lembut. "Tenanglah. Sebenarnya siapa yang kamu hindari tadi?," tanyanya penasaran.


"Mm, itu Bu," terdiam beberapa detik.


"Nanti saja ceritanya kalau kamu risih," ucap Bu Rahma bijak. "Ayo cepat dihabiskan, setelah ini kita pulang."


"Ya, Bu. Terimakasih," ucap Wenie pelan.


Akhirnya terjadilah sebuah percakapan panjang yang harus dilalui Bu Rahma demi menghadapi teman arisannya yang cerewet, Wenie hanya mampu terdiam dan menatap tak mengerti.


Dengan agak kikuk ia berdiri, berpamitan pada Bu Rahma beralasan hendak pergi ke toilet sebentar. Sebuah keputusan yang kelak disesalinya.


"Hai!" sapa seorang pria berjas semi formal dengan senyum mengembang.


"K-kau?" pekik Wenie tertahan saat keluar toilet.


"Ya, ini aku. Long time no see, sweetheart," ujarnya dengan nada menggoda.


"Maaf, aku harus segera kembali pada ibuku," sahut Wenie sambil menghindar.


"Hei kenapa terburu-buru, sayang?" cegahnya. "Sekarang kamu mulai berani gak sopan ya sama aku," ia menarik Wenie mendekat nyaris memeluknya.


"Tolong hentikan, Mas!" ucapnya lirih. Ia berusaha melepaskan diri, saat ini tak ada orang lain di antara mereka membuat nyali Wenie sedikit gentar.


"Kenapa? Tenanglah, aku hanya mau ngobrol sebentar sama kamu," jawabnya sok lembut, mengunci pergerakan Wenie di dinding.


"Mau ngomongin apa, Mas? Ku rasa sudah gak ada apa-apa lagi di antara kita," tukas Wenie cepat. "Maaf, aku mau lewat."

__ADS_1


"Jangan coba menghindariku, Wenie!," sentaknya tertahan. Wenie sedikit terkejut dibuatnya, ia tak suka dikasari demikian oleh orang lain.


"Aku sudah lama mencarimu," sambung si pria mencoba melunak. "Kau masih saja cengeng seperti dulu," godanya sambil mengelus pipi Wenie yang segera memalingkan wajah.


Wenie sesak nafas dibuatnya. Dulu ia suka dengan sentuhan lembut ini. Tatapan mata teduh yang menenggelamkan kewarasannya. Dan juga rayuan mautnya, mulut manis berbisa yang kelak menghancurkan masa depannya.


"Excuse me. Tolong jaga sikap kalian di tempat ini!" tegur sebuah suara bariton, itu suara dokter Frans.


"****!" sang pria menoleh geram. "Bisakah kau enyah dari sini dokter?! Urusanku belum selesai dengannya!" serunya keras.


"Pelankan suaramu, kau tidak ingin mengundang perhatian orang bukan? Mereka akan menganggapmu berbuat mesum di sini!" tukas Frans tak kalah geram. "Kau sebaiknya segera pergi nona," memicingkan mata pada Wenie.


"Mas," ucap Wenie lirih, ia bisa merasakan hawa mencekam di sudut sini. "Tolong biarin aku pergi ..."


" Tidak. Kau harus ikut denganku!" kemudian si pria menariknya menjauh dari Frans. Ia mencengkram lengan kanan atas Wenie dengan kuat seolah takut buruannya lepas.


"Aaaw ... Sakit Mas, berhenti!," ujar Wenie panik. Ia tak kuasa melawan tarikan tangan kekarnya yang nampak marah.


Frans mengikuti mereka dalam diam sampai ke pelataran parkir di bagian selatan dekat mobil bu Rahma.


"Kali ini aku gak akan melepaskanmu, Wen! Kau milikku!" ia menggeram. "Kau dengar itu!"


"Gak, Mas. Tolong lepasin aku," bantahnya berusaha menghentikan langkah si pria yang terus menyeretnya. "Prasetyo El Farishi! Ku bilang berhenti! Lepasin aku," ia benar-benar hampir menangis sekarang.


Sang pria menegang seketika, ia berbalik. "Kau bahkan masih mengingat nama lengkapku dengan jelas, bukankah itu sesuatu yang sangat romantis?" desisnya.


Ia menghempaskan tubuh Wenie ke sebuah mobil Pajero hitam yang tingginya menyembunyikan mereka dari pandangan siapapun.


"Lepasin aku, Mas. Aku janji gak akan ganggu hidup kalian lagi sampai kapan pun," Wenie memohon pelan. "Biarin aku pergi, please ..."


"Gak semudah itu, sweetheart!" ujar Prasetyo memegang kendali. "Kamu tahu tidak ada gunanya menghindariku. Bahkan setelah sekian tahun akhirnya kita bertemu lagi. See, sepertinya kamu memang jodohku," ujarnya lagi seraya menahan dagu Wenie hendak mencium bibirnya.


"Jangan, Mas," Wenie berkelit, ia mendorong dada Prasetyo dengan kedua lengan kecilnya. "Jangan mulai lagi. Kamu tahu aku gak akan pernah bisa menolak kamu. Tapi demi aku, Mas. Tolong lupain aku dan biarin aku pergi," Wenie terus memohon.


Prasetyo tak peduli, ia terus memaksakan dirinya yang ingin mencium mantan kekasihnya.


'BUUGH!!'


Sebuah tinju mendarat keras di rahang Prasetyo. Ia terjungkal di lantai paving blok dengan sudut bibir pecah.


"Mas!" jerit Wenie, ia hendak meraih Prasetyo namun ditarik balik Frans. "Apa yang kau lakukan, dokter?"


"Jauhkan tangan kotormu darinya, Pras!" tuding Frans marah pada Prasetyo yang meringis. "Ingat istrimu, Istianti Maheswari menunggumu di rumah!"


"Haha ..." tak diduga Prasetyo terbahak. "Tahu apa kau soal istriku, dokter brengs*k!" makinya seraya bangkit hendak menyerang balik.

__ADS_1


"Tidak! Hentikan, dokter!" cegah Wenie panik mencoba menarik lengan kekar Frans yang ingin menyambut lawannya. "Kau juga, Mas! Aku akan pergi dari sini," tunjuknya marah pada Prasetyo.


Wenie tak tahan lagi, ia menatap nanar kedua pria di hadapannya dan segera berlari menjauh. Menyusut air bening yang akan jatuh di sudut matanya.


__ADS_2