TERBUKA NYA MATA BATIN

TERBUKA NYA MATA BATIN
10. Anak ku tidak gila


__ADS_3

Setelah beberapa hari tinggal di rumah sakit, membuat kondisi Rara menjadi tambah drop, dia seperti orang gila yang berteriak sendiri nya dan meringkuk ketakutan, bahkan ia tanpa sadar nya ingin mencekik leher orang-orang yang ia anggap sebagai makhluk gaib yang menggangu nya.


Entah sudah berapa banyak, suntik penenang yang ia guna kan selama tinggal di rumah sakit, untuk menenangkan diri nya yang seketika mendadak seperti orang kesetanan.


"bapak, sebaiknya dek Rara di bawa ke Psikiater saja, mungkin mereka bisa menyembuhkan dek Rara, dia seperti nya sedang menggelami depresi berat pak..." ujar seorang lelaki yang mengenakan almamater berwarna putih.


"tapi dokter,anak saya tidak gila..."ujar bapak Rara, sambil menatap tajam kearah dokter tersebut, ia tak terima anak nya di anggap gila seperti itu.


Bapak Rara baru sampai ke kota setelah istri nya menghubungi dan menceritakan kondisi Rara yang kian memburuk.


"bapak, saya tidak mengatakan anak bapak gila, tapi anak anda pasti nya sedang menggelami sesuatu yang membuat emosional nya sering kali berubah-ubah, bapak lihat saja kan, dia terkadang berteriak ketakutan, kadang bernyanyi tidak jelas, kadang ingin melukai diri nya sendiri, bahkan melukai orang lain, saya takut nya jika lengah sedikit dari pengawasan, anak bapak bisa berbuat hal yang tak di inginkan nanti nya." ujar dokter menjelaskan.


"lebih baik anak bapak di bawa ke Psikiater saja, mereka sangat ahli dalam bidang seperti itu, dan inti nya mereka pasti bisa menyembuhkan dia." tambah dokter lagi.


Pak Ahmadi, hanya terdiam mencerna ucapan dokter tersebut, kondisi kejiwaan Rara memang semakin parah saat ini, bahkan ia kiat kali berteriak ketakutan dengan menyebut macam-macam nama makhluk gaib yang kata nya selalu menggangu nya.


Pak Ahmadi pun mengangguk kearah dokter, mungkin ucapan dokter ada benarnya, sebaiknya Rara di bawa ke psikiater saja.

__ADS_1


"ibu, dia di belakang ibu, buk... dia ingin mencekik ibu, cepat pergi ibu, pergi...." teriak seorang wanita, pak Ahmadi pun berlari setelah mendengar suara anak nya yang berteriak histeris lagi.


"Rara, tidak ada apapun nak..." tenang ibu nya.


"ibu pergi ibu, pergi.... dia sangat menakutkan buk, dia ingin mencekik leher ibu..." teriak nya lagi sambil menutup kedua matanya dengan tangan sebelah nya sedang kan yang sebelah mengibar-ngibarkan meminta ibu nya pergi, Rara menangis tersedu-sedu, sambil menunjuk kearah ibu nya.


"tidak ada apa-apa nak, jangan seperti itu nak.. istighfar nak, istighfar..." ucap buk Inah menenangkan.


"Rara tenang nak, tenang..."ucap pak Ahmadi sambil berlari kearah putri yang sedang meringkuk tubuh di tepi ranjang, ia sangat ketakutan, peluh dingin membasahi tubuh nya, hingga darah segar juga ikut mengalir di sela infus nya yang sudah tercabut paksa dari tangan.


"bapak, tolong ibu pak, tolong ibu, ibu mau di cekik makhluk menakutkan itu pak..." ucap Rara kepada bapak nya sambil menarik kerah baju ayah nya meminta pergi untuk menolong ibu nya.


Rara melihat seorang wanita berpakaian merah dengan pita merah di rambut nya,


itu adalah mahluk yang dia lihat di kampus nya, wajah wanita itu sangat gosong, dengan mata dan hidung yang mengeluarkan darah yang berbau amis, kuku-kuku nya sangat panjang dan hitam, dia tersenyum lirih hingga membuat terkesan tambah menakutkan, Rara berusaha menghindari nya, hingga makhluk itu menghampiri ibu nya dan siap menerkam leher ibu nya dengan kuku hitam panjang nya.


"jangan sakiti ibu ku, plisss..." teriak Rara sambil memohon, kepada makhluk itu.

__ADS_1


"baik, aku akan membantu mu, tapi jangan membunuh ibu ku..." ujar nya lagi dengan air mata mengalir deras.


"Rara, ada apa dengan mu nak..."tanya pak Ahmadi sambil menenangkan anak nya.


"Rara ada apa nak...?" ujar buk Inah tak kalah khawatir.


"pergi, pergi...aku akan menolong mu, tapi pergi dari sini, jangan ganggu aku, pergi..." teriak nya lagi, hingga seorang dokter datang untuk memberikan suntikan penenang untuk nya, hingga membuat Rara terkapar tak berdaya di atas ranjang nya lagi.


"pak, apa yang harus kita lakukan, kasihan Rara pak ?"ujar buk Inah dengan menangis iba melihat kondisi anak nya yang sangat menyedihkan.


"pak, kasihan Rara pak..." tangis buk Inah tak bisa di bendung lagi, ia selalu berdoa untuk keselamatan anak nya, bahkan setiap magrib Rara kembali seperti orang gila yang kesetanan.


"buk, bagaimana kalau Rara kita bawa ke psikiater saja, seperti nya mereka bisa membantu Rara buk..." tawar pak Ahmadi.


"tidak pak, anak ku tidak gila..." ujar buk Inah menggeleng kepala nya.


"buk, psikiater bukan hanya untuk orang gila saja, tapi untuk menstabilkan emosional Rara yang terkadang tidak bisa di kontrol seperti tadi." ujar pak Ahmadi lagi.

__ADS_1


"tapi pak..." buk Inah sangat keberatan jika anak nya harus di bawa ke psikiater, sebab ia merasa anak nya memang tidak gila.


"buk, percaya lah sama bapak..." tambah pak Ahmadi meyakinkan, hingga buk Inah luluh atas panutan suami nya.


__ADS_2