TERBUKA NYA MATA BATIN

TERBUKA NYA MATA BATIN
22. Berbahaya


__ADS_3

"Rara, Lo merasa nggak ?, semenjak jurik malam tadi, seperti nya ada yang aneh di kontrakan kita..." tutur Sovia, berbicara dengan Rara yang sedang berdiri melirik kearah bawah tangga.


"Ra, gue ngomong Loh ! kok Lo diam aja sih ?" ujar Sovia sebal soal nya Rara hanya diam tanpa bergeming.


"hallo..." lanjut Sovia sambil menatap wajah Rara yang pucat pasih sambil fokus dengan tatapan nya di arah tangga.


"rese lo ra...kok lo juga ikutan aneh sih..."


karena sebal tak di gubris oleh Rara, Sovia pun turun meninggalkan Rara yang masih mematung di atas tangga.


"woi, lama amat sih..." teriak Adrian, namun seketika Sovia tersentak dengan wajah yang seketika pucat pasih saat melihat Rara sudah bergabung bersama teman-teman nya di depan kontrakan.


"kenapa Lo, lihatin gue seperti itu?" tanya Rara bingung, sedang kan Sovia masih terdiam tanpa beranjak dari tempat nya.


"Ra, Lo di sini ? " tanya Sovia gemetar.


"iya, gue sama teman-teman nungguin Lo di sini, kenapa emang ?" tanya Rara bingung melihat ekspresi Sovia yang seketika berubah.


"terus yang di dalam..." tanya Sovia gemetar.


"maksud nya..." Rara bingung, terhadap Sovia bicara nya nggak jelas.


"terus tadi yang ngobrol dengan gue siapa ?" tanya Sovia lagi.

__ADS_1


"maksud nya apa? gue dari tadi ada di sini..." tutur Rara.


"hah..Lo..."


"udah, ayo nanti telat loh... mungkin itu hanya perasaan Lo aja, ayo..." sela Robi, sebab ia mengetahui apa yang Sovia lihat itu.


Di sepanjang jalan Sovia hanya terdiam, ia masih mencerna apa yang ia lihat itu, itu benar-benar Rara, dia tidak berhalusinasi atau pun salah lihat.


Di tempat lain terlihat seorang pria tua yang menggenggam sapu berjalan kearah belakang kampus, ia seketika melirik kearah sungai dan terbelalak kaget seketika.


"gawat..." lirih nya sambil berjalan pergi meninggalkan sungai itu, namun saat ia pergi ia tak sengaja melihat Dicky, chelsy dan Rafi yang sedang mengambil kamera tersembunyi di dekat sungai, lelaki itu pun berjalan kearah mereka namun Dicky melihat penjaga itu memargoki mereka yang sedang mengambil kamera.


"hai hai sini kalian..." panggil lelaki itu.


"ayo kita lari.." Dicky, chelsy dan Rafi pun berlari kencang meninggalkan lelaki tua itu, namun lelaki itu tetap saja mengikuti mereka hingga mereka bersembunyi di ruangan rektorat.


"apa yang kalian lakukan di belakang kampus ? atau jangan-jangan kalian melakukan sesuatu di sana yah ?" selidik lelaki tua itu, sambil menatap tajam kearah mereka bertiga.


"aah, bapak jangan asal nuduh yah pak, kita tidak ke belakang kampus kok pak..." jawab Dicky lagi.


"iya pak, jangan asal nuduh, buat apa juga kita kesana..." sambung Rafi.


"terus apa yang kalian lakukan di sana ?"

__ADS_1


"aah pak, kita hanya lewat saja pak, tidak ada apapun..." ujar Dicky beralasan.


"iya pak, kita hanya lewat..." sambung Rafi lagi.


"kalian tidak boleh semenah-menah di sini, sebab akan berbahaya untuk kalian dan juga semua mahasiswa di sini..." tutur lelaki itu.


"aah bapak asal nuduh, buat apa juga kita kesana..." ucap Dicky.


"udah yah pak, dosen udah masuk, nanti kita malah di hukum lagi... DAAAA"


Dicky dan dua sahabat nya pun berlari meninggalkan lelaki tua itu mematung di ruangan rektorat.


"gawat, kenapa wanita itu bisa terlepas..." lirih pak penjaga.


Di dalam kelas chelsy duduk di antara Rafi dan juga Dicky, chelsy pun melirik kearah Dicky hingga Dicky menatap kearah nya.


"ada apa ?" tanya Dicky sambil berbisik, sebab yang mengajar mereka pagi ini adalah dosen killer yang terkenal galak nya.


"gue rasa, apa yang di ucapin oleh pak penjaga itu benar deh, sebab gue semalaman menggelami hal yang aneh..." bisik chelsy sehingga Rafi dan Dicky yang mendengar nya terbelalak kaget.


"aah, masa sih..." ujar Dicky dan chelsy pun hanya mengangguk mengiyakan.


"gue juga sama, gue juga mengalami hal yang aneh..." sambung dicy lagi.

__ADS_1


"kalau kamu, juga mengalami nya Rafi ?" tanya chelsy melirik kekasih nya.


"iya, aku juga, aku rasa itu hanya perasaan ku saja, tapi setelah mendengar kalian juga mengalami hal yang sama, seperti nya kita memang di teror..." tutur Rafi.


__ADS_2