
"waktu nya sudah habis... semuanya berkumpul di depan aula..." panggil senior lewat mic.
"Iyah, padahal sedikit lagi..." ujar Aliando.
"udah ah, ayo kita kembali..." ajak Adrian.
"iya.."
Mereka pun sudah berkumpul terlihat kelompok Robi dan kelompok lain nya juga sudah ada di sana, wajah mereka pucat pasih, karena syok dan ketakutan hebat.
Adrian pun berjalan mengantarkan beberapa barang yang telah mereka temui tadi dan memberikan nya kepada senior mereka.
"hebat..." lirih Dicky sambil bertepuk tangan.
"kelompok yang lain, mana petunjuk yang kalian temui ?" tanya Dicky, terlihat semua mahasiswa baru hanya terdiam, mereka tidak mencari apapun setelah di teror oleh senior mereka tadi, hanya kelompok Rara yang masih bertahan karena di teror.
"a-ada setan kak ?" ujar seorang wanita mahasiswa baru kelompok yang lain.
"iya, kak... pakai baju putih, seram..." sambung yang lain hingga Dicky dan teman-teman nya tertawa terbahak-bahak.
"haha, itu kan memang pekerjaan kami, untuk menakuti kalian...haha..."
Dicky pun melirik kearah Rafi yang terdiam sedari tadi bersamaan dengan kelompok Robi yang hanya menunduk.
__ADS_1
"Lo kenapa Rafi, tumben diam ?" tanya Dicky merasa aneh.
"eeeh gu-gue, gue nggak apa-apa kok..." jawab Rafi gemetar.
"terus kalian Kenapa ?" tanya Dicky ke arah kelompok Robi yang masih syok berat.
"ki-kita lihat hantu anak kecil kak, ka-kak Rafi juga lihat..." jelas Robi hingga Dicky melirik kearah Rafi yang terdiam tak bergeming.
"apa itu benar Rafi ?" tanya Dicky seketika, sehingga Rafi hanya mengangguk mengiyakan ucapan Robi.
Dicky pun memandang kearah senior yang lain, mereka seperti nya juga ikut ketakutan mendengar panutan Rafi, sebab mereka memang tidak menyamar menjadi hantu anak kecil.
"hmm, mungkin hanya imajinasi kalian saja, lebih baik kita fokus dengan tantangan terakhir, setelah itu kita bisa pulang ke rumah masing-masing..." tutur Dicky lagi.
"sudah, hantu itu tidak ada, kalian hanya salah lihat.." ujar Dicky menenangkan.
"Baiklah tantangan berikutnya adalah, kalian harus memilih seorang di antara kelompok kalian, tapi harus perempuan yah,. untuk berjalan ke sungai belakang kampus secara seorangan tanpa ada yang menemaninya, dan jika tidak ada yang berani, maka tidak akan ada kata pulang untuk kalian semua.." jelas Dicky hingga membuat mereka semua saling melirik teman-teman yang lain.
"gu-gue takut guys..." lirih Asti, ia sangat ketakutan jika diri nya di tunjuk oleh teman-temannya nanti.
"gue juga..." sambung Fika bergidik ngeri, sedang kan Sovia hanya diam tanpa bergeming, pikiran nya masih terbayang tentang hantu anak kecil yang ia temui itu.
"siapa yang berani mewakili kelompok masing-masing ?" tanya Dicky lagi, namun semua orang hanya diam tak ada yang menjawab.
__ADS_1
"baik lah, jika semua orang hanya bisa diam dan tak menjawab, maka saya yang akan menunjukkan orang-orang yang akan kesana..." ujar Dicky lagi, hingga membuat Adrian geram atas ucapan lelaki itu.
"kenapa harus cewek, kenapa cowok nggak di perbolehkan ?" tanya Adrian lantang, ia tak terima jika teman cewek nya harus ikut-ikutan permainan konyol senior nya itu.
"karena itu adalah peraturan nya..." singkat Dicky tersenyum simpul.
"baik lah saya akan memilih, yang pertama kali kesana adalah kamu..." tunjuk Dicky kearah Rara yang duduk bersama teman-teman nya, seketika Rara terbelalak,apa lagi teman-teman nya yang ikut menyaksikan Rara yang akan mewakili kelompok mereka ke sungai belakang.
"Dicky, Lo nggak salah kan ? Rara adalah mahasiswa yang hampir celaka di sungai tersebut..." ucap Juwita komentar, ia mulai merasa tak suka atas ide konyol dari teman nya itu.
"haha, memang itu keinginan gue, biar semakin seru kalau ada yang kesurupan lagi.haha" tawa lelaki itu bergema
"dasar gila..." teriak Adrian dengan tatapan tajam nya.
"kenapa ? Lo nggak suka ? kalau kalian nggak rela cewek ini ke sana, ya sudah, kita bakal nginap di sekolah ini dan tidak akan ada yang boleh pulang sebelum gue yang mengizinkan." tutur Dicky lagi.
Rara terlihat melirik teman-teman nya, ia pun mengangguk hingga teman-teman nya tak percaya ternyata Rara mengambil keputusan bodoh itu hanya untuk membuat teman-teman nya pulang lebih cepat.
"Lo nggak apa-apa ra ?" tanya Robi, ia punya firasat buruk kalau Rara melakukan itu.
"insyaallah, gue nggak apa-apa, gue mohon doa kalian yah, untuk keselamatan gue..." senyum Rara mengembang ia senang bisa berkorban untuk teman-teman nya
"tapi..." sela Robi tak terima, namun Rara hanya mengangguk kearah Robi hingga Robi terpaksa membiarkan Rara berkorban.
__ADS_1