
POV RARA
"aku ada dimana ?" aku melirik ke semua arah, terlihat aku sedang berada di sebuah hutan belantara saat ini.
"kenapa aku ada disini ? kemana teman-teman ku, kenapa aku bisa di sini seorang diri ?" tanya ku sambil melirik kesana-kemari mencari jalan yang bisa ku tempuh untuk keluar dari tempat ini.
"Bima ?"ujar ku tersenyum senang, entah dari mana datangnya Bima , seketika ia sudah berdiri di depan ku, aku sangat bahagia ternyata aku tidak seorang diri di sini, aku memiliki Bima yang selalu ada di sisi ku.
"Bima..." dia sedang tersenyum manis kearah ku dengan tangan yang terbuka lebar siap menunggu kedatangan ku, aku pun berlari mendekati nya dan melayangkan tubuh ku kedalam pelukannya, aku sangat merindukan nya, aku sangat bahagia bisa di pertemukan kembali dengan nya.
"Bim, aku kangen..."ujar ku sambil membenamkan kepalaku di dalam dekapan nya.
"aku juga..."ujar nya lirih sambil mencium rambut ku.
"kita ada dimana Bim ?"tanya ku, meski aku sangat senang telah di pertemukan dengan nya, aku juga sangat ketakutan jika kami harus tersesat di hutan belantara seperti ini.
"kamu tenang saja, sebentar lagi kita juga sampai di kampung kita, setelah itu aku akan membawa mu ke kota seperti janji ku kala itu..."ujar nya tersenyum simpul dan aku hanya mengangguk bahagia, ternyata Bima masih mengingat janji nya.
"Bim, kamu kemana saja, aku rindu dengan mu, kamu jangan tinggalin aku lagi yah Bim..."ucap ku kembali memeluk nya.
"iya, aku tidak akan meninggalkan mu lagi Rara, aku sangat mencintai mu, aku akan selalu ada di sisi mu, terima kasih Rara, kamu sudah rela mempersatukan aku..."ujar nya, meski aku sedikit bingung dengan ucapan nya, tapi aku hanya mengangguk saja, aku melihat dia sangat bahagia dengan memeluk erat tubuh ku.
"Rara, jangan pernah kecewa kan aku yah, apa lagi kamu sampai menyukai lelaki lain selain aku, aku bisa marah kepada mu Ra, jika itu sampai terjadi..." ujar Bima, dengan tangan yang mencengkram erat kedua tangan ku, sedikit sakit tapi aku hanya mengangguk dan tersenyum manis kearah nya, aku senang jika ia sangat takut kehilangan ku, sama seperti hal nya aku yang takut kehilangan nya.
__ADS_1
"Bim, ayo kita pulang..."ujar ku dan Bima pun mengangguk hingga kami memotong rerumputan ilalang yang begitu panjang, tanpa terluka dan tergores sedikit pun, dan dalam sekejap mata kami telah sampai di sebuah perdesaan, dan aku sangat mengingat dan begitu familiar, ini adalah tanah kelahiran ku dan Bima, desa tempat tinggal kami.
"Rara,aku sudah meminta izin kepada ibu mu, beliau mengizinkan aku membawa mu menginap di kediaman ku..."ujar nya lirih sambil menatap kearah ku dan aku pun mengangguk, seperti terkena hipnotis saja, aku bahkan lupa jika orang tua sangat melarang keras hubungan kami, mana mungkin orang tua ku mengizinkan aku tinggal di kediaman nya.
aku telah sampai di rumah Bima, rumah nya sangat sederhana dengan dua kamar, satu dapur dan satu kamar mandi yang menyatu.
terlihat orang tua Bima sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, Bima langsung membawa ku ke kamar nya, aku melirik sekilas ke semua arah kamar Bima,
masih sama, seperti nuansa yang dulu, tidak ada yang berubah sama sekali, sebab aku sering kali bermain ke rumah Bima kala kami pulang sekolah atau bahkan bolos sekolah bersama.
"kita istirahat yuk..."ujar nya sambil menepuk kasur empuk yang ia tempati ini, aku pun mendekat dan membaringkan tubuhku di samping nya.
"Bim, kapan kamu akan nikahi aku ?"tanya ku seketika, aku tak ingin lama-lama terjerat cinta terlarang dengan Bima.
"maaf kan aku, aku melupakan hari bahagia kita..."ujar ku merasa bersalah, etah apa yang terjadi terhadap ku, aku seketika merasa memang pernah bersanding di pelaminan bersama Bima, sama seperti yang berada di foto tersebut, potongan kenangan perlahan berputar di kepala ku, aku yakin begitu saja apa yang di katakan oleh Bima.
"iya sudah kamu istirahat saja yah, besok kan kita bakal ke ladang lagi untuk memanen buah-buahan yang sudah kita tanam..."ujar nya sambil memeluk erat tubuhku, aku pun terlelap di dalam pangkuan nya, aku sangat senang bisa menjadi istri nya Bima.
"Rara...Rara... pulang nak...Ra...Rara....ibu sama bapak menunggu mu nak... pulang nak..."
"suara ibu dan bapak ? dari mana asal suara mereka ? " aku mengerjap kesemua arah, aku hanya sendirian di atas kasur empuk di rumah bima.
"Bim..Bima...kamu ada dimana...?" panggil ku, aku mencari keberadaan Bima dengan berjalan tertatih-tatih dengan berpegangan pada dinding kamar, entah sejak kapan kamar ini menjadi gelap tanpa ada pencahayaan sedikit pun.
__ADS_1
"Bim...kamu dimana...aku ketakutan Bim..." panggil ku lagi, tidak ada sahutan dan jawaban dari Bima, dimana dia.
"Rara... pulang nak, ibu sama bapak merindukan mu nak...". suara ibu menggema lagi di telinga ku, aku mencari asal suara itu seketika rindu ku memburu terhadap ibu dan bapak ku, entah apa yang terjadi terhadap ku.
"ibu...ibu ada dimana ? Rara ketakutan di sini buk...bantu Rara, disini gelap buk..." teriak ku sambil mencari keberadaan ibu ku.
"Rara, keluar nak, ibu menunggu mu di luar..."
setelah mendengar suara ibu ku, aku mencoba tertatih tatih menuju keluar rumah dengan dinding yang menjadi penunjuk jalan ku, bahkan aku seketika menjadi ketakutan, apa lagi disini hanya aku sendiri di rumah gelap ini.
"ibu dimana ?"panggil ku lagi.
"ibu ada di luar nak, ibu tak bisa masuk, ayo kesini nak, bapak dan teman-teman mu menunggu mu pulang...". ujar ibu ku lagi, aku seketika melihat bayangan bapak ku beserta satu persatu wajah sahabat ku, aku sangat bahagia sebentar lagi akan bertemu dengan sahabat ku.
"ibu...." ucap ku sambil melihat ibu ku yang berdiri dengan tubuh yang bercahaya melambai tersenyum kearah ku.
"ayo pulang nak...". tutur ibu ku, aku pun mengangguk dan berlari menemui ibu ku,
"buk...Rara kangen..."ujar ku, ibu ku hanya tersenyum hingga menggenggam tangan ku berjalan pergi dari rumah itu, samar-samar ku dengar suara seseorang berteriak memanggil ku dan aku sangat mengenali suara itu, itu adalah suara Bima, dia sedang mencari ku.
"ibu, Bima suami ku mencari ku, aku kembali saja yah buk, nanti kapan-kapan aku pulang ke rumah ibuk..."ujar ku, namun ibu ku menggeleng kepala kearah ku dengan wajah yang seketika murung, aku jadi takut jika ibu harus bersedih seperti itu.
"iya sudah ibu, Rara pulang sama ibu saja, nanti kalau Bima marah, Rara akan mencari alasan untuk meyakinkan nya, sehingga dia tidak marah lagi sama Rara..."
__ADS_1
ibu ku tersenyum manis dan membawa ku kembali ke rumah nya.