TERBUKA NYA MATA BATIN

TERBUKA NYA MATA BATIN
45. Yang di lihat


__ADS_3

Rara meninggalkan kamar Asti, saat menapaki anak tangga, Rara kembali membayangkan apa yang terjadi di perpustakaan kala Bima menghunuskan pisau ke perut Rara.


...FLASH BACK...


Rara Tambah ketakutan kala mendengar suara wanita itu, Rara pun kembali menutup kepala nya dan enggan membuka nya.


"Rara..." panggil seseorang dan seperti nya bukan suara perempuan, tapi sudah berubah menjadi suara lelaki yang Rara kenal.


perlahan namun pasti, Rara pun melirik kearah asal suara yang memanggil nya, seketika ia terperanjat kaget kala melihat seorang pria dengan menggunakan seragam SMA tengah berdiri tersenyum kearah nya.


"bi-bima !" panggil Rara dan berdiri memeluk Bima.


Saat Sarah memeluk erat tubuh Bima, dengan penuh haru dan kelegaan, seketika Bima tersenyum sinis dan menancap sebuah pisau entah dari mana ia mendapat kan nya dan.


SLEB


pisau itu pun masuk menghunus perut Rara, hingga Rara terperanjat dan melepaskan pelukannya di tubuh Bima hingga terkapar di atas lantai perpustakaan.


"bi-bima a-apa yang k-kau la-kukan ?" lirih rara dengan tangan yang bersimbah darah mengengam erat pisau yang sudah di tancapkan oleh Bima.


Rara pun menutup kedua mata nya hingga ia sekilas mendengar seseorang berbicara di balik ruangan perpustakaan tersebut sebelum kesadaran Rara benar-benar menghilang.


"Bima, kamu telah melanggar kesepakatan kita ! kamu akan mendapatkan ganjaran akan hal itu ! bersiap-siap lah !" suara berat seorang lelaki bergema di ruangan itu hingga terdengar suara dobrakan keras pintu perpustakaan.


"haha, akhirnya aku tidak perlu bersusah payah mencari dan menghabisi mu bocah !" suara tersebut seperti suara pak Yanto dan setelah itu rara tidak tau lagi apa yang terjadi terhadap nya.


...FLASH BACK ON...


"kalian dari mana aja sih semalam ? masa hanya kita berempat aja yang tinggal di dalam rumah ?" ujar Sovia kesal menatap tajam teman-teman nya yang berdiri di ruang tamu, termasuk Juwita dan Lala juga ada di sana.


"maksud nya ?" ucap Lala menatap Sovia bingung.

__ADS_1


"kalian dari mana semalam, gue panggil-panggil kalian, kok nggak ada sahutan, bahkan gue juga gedor keras pintu kamar kalian, tetap tidak ada jawaban apapun ?" ujar Sovia lagi, terlihat semua teman-teman menatap bingung kearah Sovia, termaksud Rara, memang tadi malam ada kejadian aneh yang menimpa Fika dan Asti, dan tidak seperti biasanya teriakan bergema mereka tidak di dengar dan tidak ada yang datang menuju lantai atas untuk melihat keadaan Fika dan asti.


"gue tidur di kamar semalaman tadi !" jawab Juwita menatap Sovia.


"gue juga !" sambung Lala.


"gue dan Aliando juga, sebab semalam kita tidur bareng..." tutur Adrian.


Sovia pun merasa aneh, tak kecuali dengan Robi yang mengangguk kearah Sovia.


"maksud nya ?" tanya Sovia tak paham melirik Robi.


"nanti gue jelas kan !" ujar Robi dan terlihat Sovia bungkam seketika.


...FLASH BACK...


Sovia endila, wanita cantik,putih dan seksi itu, sedang membaca sebuah novel horor, karya 'SILTIA FITRIANI' Sovia sangat menghayati bacaan nya, hingga seketika dia terkejut karena di kaget kan dengan suara keras hempasan pintu.


BRAK


Sovia berusaha untuk tidak mempedulikan nya dan kembali fokus dengan sebuah novel di tangan nya, namun seketika Sovia terbelalak dengan sebuah cerita horor di buku tersebut.


"hah ! ini kan sama seperti kisah Rara yang membuka mata batin demi kekasih tercinta nya yang telah tiada ?" lirih Sovia sambil menutup mulutnya.


BRAK


Suara pintu kembali mengangetkan Sovia, hingga bulu roma nya seketika berdiri dengan sendirinya.


Sovia sangat ketakutan setelah mendengar suara itu, apa lagi tambah erotis dengan di padu padankan dengan cerita horor nya.


Sovia berlari kencang keluar kamar, ia enggan melihat maupun melirik kearah dapur dan kamar mandi, Sovia langsung saja menapaki kaki nya menuruni anak tangga dan langsung menuju kamar Robi, sebab hanya Robi yang mengetahui tentang hal mistis seperti ini.

__ADS_1


Sovia sampai di depan kamar Robi, dia pun memanggil Robi sambil mengetuk pintu kamar nya.


"Robi...Robi..." panggil Sovia, namun tidak ada sahutan dari arah dalam.


"Robi...Robi..." panggil Sovia lagi, namun tetap tidak ada jawaban.


"apa Robi tidak ada di rumah yah ?" Sovia pun berjalan mengedor-ngedor pintu kamar yang lain yang berada di lantai bawah itu.


"kok semua nggak ada yang menjawab ? mereka pergi kemana yah ? kok nggak ngajak gue sih?" ujar Sovia kesal, sambil kembali ke pintu kamar Robi.


"Robi...buka dong..." tutur Sovia lagi, dengan suara kesal nya.


Namun seketika Sovia merasa ada yang aneh dengan tekuk leher nya, seketika berdiri dan merinding, apa lagi Sovia merasakan ada sesuatu yang berada di belakang nya.


Sovia pun melirik kearah belakang dan ternyata apa yang ia rasakan benar adanya.


HAAAAAAAAAAAAA AAAAA AAAAA


Sovia berteriak kencang, saat mendapati seorang pria dengan seragam sekolah SMA dengan berlumuran darah berdiri di hadapan nya.


"Robi...Robi...Robi...kak Juwita...kak Lala...tolong.....tolong...." Sovia sangat ketakutan dia mengedor-ngedor keras pintu kamar Robi namun tidak ada jawaban apa pun dari dalam.


"pergi...pergi...Adrian... Aliando... Tolong.... tolong..." Sovia menutup mata nya dan berlari kencang kearah lantai atas dan kembali menutup rapat-rapat pintu kamar nya.


BRAK


Sovia menarik nafas panjang, ia sangat ketakutan, berada di sini seorang diri hingga ia di kaget kan lagi dengan suara di kamar sebelah nya.


HAAAAAAAAAAAAA AAAAA AAAAA


Suara teriakan Fika bergema, hingga Sovia memberanikan diri membuka pintu dan ia melihat Rara sedang berlari kearah kamar Fika hingga Sovia pun berlari kencang mengikuti Rara menuju kamar Fika, meskipun ia masih membayangkan apa yang ia lihat di lantai bawah tadi.

__ADS_1


...FLASH BACK ON...


__ADS_2