
"pak...bapak..." teriak chelsy, Rafi dan Dicky di depan tempat tinggal pak penjaga kampus yang berada di ujung kantin.
"nama bapak ini siapa yah ?" tanya Dicky bingung sebab mereka belum pernah tau nama penjaga kampus.
"pak Yanto kayak nya, gue pernah dengar anak-anak manggil beliau gitu..." ujar chelsy.
"pak Yanto...pak..." panggil mereka bertiga di depan rumah Lelaki itu.
"kak ? apa yang kakak-kakak lakukan di sini ?" seketika Dicky dan teman-teman nya pun sontak kaget mendapati Rara dan sahabat nya sudah berada di belakang mereka.
"kalian apa yang kalian lakukan di sini ?" bukan nya menjawab Dicky malah memberikan pertanyaan kepada mereka.
"kami ingin mencari pak penjaga kak ?" jelas Asti.
"kami ingin mencari pak Yanto, kalian bertiga ngapain ?" tanya Juwita lagi.
"kenapa kalian mencari pak Yanto..." sela Rafi lagi.
"iya suka-suka kami lah..." sewot Lala.
"hmm, seperti nya pak Yanto tidak ada di dalam kayak nya.." ujar chelsy menjawab.
"iya sudah ayo kita cari di tempat lain..."
"pak...pak Yanto...pak..."
Mereka semua pun berjalan mencari keberadaan pak penjaga, namun seorang lelaki mengendap-endap mengikuti mereka dari arah belakang, hingga Dicky menghentikan langkahnya dan sontak membuat semua orang pun terhenti.
"kenapa kak ?" tanya Robi bingung.
__ADS_1
"seperti nya ada yang ikuti kita !" ujar Dicky lirih.
"sebaiknya kita mencar saja..." tambah Dicky.
"iya, itu lebih mempermudah kita mencari pak Yanto.." sambung Rafi.
Mereka pun mulai berpencar, Dicky dan kedua sahabat nya mencari keberadaan pak Yanto dengan berjalan lurus, sedang kan Rara dan teman-teman nya mencari keberadaan pak Yanto lewat jalan lain.
"pak...pak Yanto..." teriak menggema mereka.
"pak..pak Yanto..." panggil mereka lagi.
"WOIIIIII..." ujar seseorang menghentikan langkah Dicky dan dua sahabat nya, hingga Dicky dan dua sahabat nya pun menatap kearah lelaki yang sudah berada di belakang mereka.
"saya tau apa yang kalian cari..." ucap lelaki itu, hingga membuat Dicky dan dua sahabat nya saling pandang satu sama lain.
"ayo ikut saya..." lelaki itu pun membawa mereka bertiga kesebuah kelas di kampus itu, sedang kan Rara dan teman-teman nya masih terus mencari pak Yanto di semua tempat.
"Dia sahabat, saya, bahkan sahabat akrab saya, kami berteman sejak kecil, hingga kami sudah sama-sama remaja." tambah lelaki itu lagi.
"dia meneror kalian pasti karena satu hal." tambah lelaki itu lagi.
...FLASH BACK...
Ningsih adalah wanita cantik, dia adalah primadona kampus, sehingga ada begitu banyak pria yang berlalu lalang menggoda dan ingin menginginkan dia menjadi kekasih nya, namun Ningsih menolak semua lelaki itu, sebab Ningsih menyukai seorang pria, bahkan aku pun tidak tahu siapa pria itu sebenarnya.
"Ningsih kamu kenapa ?" tanya ku kepada sahabat ku Ningsih, dia senyum-senyum sendiri sambil menggenggam sebuah kotak kecil di tangan nya.
"aku senang sekali, aku mendapat kan ini dari pacar ku.." lirih nya sambil memperlihatkan sebuah pita kecil berwarna putih.
__ADS_1
"dia memang lelaki yang lucu yah..." ujar Ningsih lagi.
Aku bingung sebenarnya siapa pacar nya Ningsih itu, tapi Ningsih enggan memberi tahu ku, kata nya jika dia memberi tahu kan nya kepada ku, maka aku akan melarang hubungan mereka, jadi aku pun mengurungkan niat untuk menanyainya.
Malam itu Ningsih menangis tersedu-sedu, aku pun menanyai perihal mengapa ia bisa sampai menangis seperti itu.
"Ningsih kenapa kamu menangis ?" tanya ku, sambil menghapus air mata di wajah cantik Sahabat ku.
"aku sudah beberapa bulan nggak datang haid Andi " ucap nya sambil mengeraskan tangisan nya, aku mengerutkan kening ku, kenapa Ningsih menangis seperti itu hanya masalah telat datang haid ?.
"iya sudah, kamu tenang yah, besok aku temani kamu ke apotik buat cari beberapa obat, supaya haid mu lancar..." ujar ku menenangkan nya dan dia pun mengangguk mengiyakan.
Sebulan pun berlalu dan aku tidak pernah bertemu lagi dengan Ningsih karena aku yang harus mengikuti suatu acara yang di adakan oleh pihak kampus, sebab aku mulai mencalonkan diri menjadi presiden kampus saat itu.
Pada suatu malam, Ningsih sudah berdiri di depan rumah ku dengan tubuh basah kuyup, sebab malam itu memang hujan lebat,
aku pun menanyakan perihal mengapa dia berada di depan rumah ku dalam keadaan basah kuyup seperti ini, namun bukan nya menjawab Ningsih berlari kearah ku dan memeluk erat tubuh ku.
"aku takut..." lirih nya saat tubuh kamu sama-sama basah karena derasnya air hujan malam itu.
"iya sudah, di sini ada aku, ayo kita masuk..." aku adalah lelaki bodoh yang tidak peka akan apa yang di alami oleh sahabat ku.
Aku membawa Ningsih masuk namun Ningsih meringis kesakitan, aku pun menanyai apa yang ia rasakan, tapi ia mengatakan tidak terjadi apapun.
Saat tengah malam samar-samar ku dengar suara orang berteriak minta tolong, aku pun berjalan kearah kamar tamu tempat Ningsih beristirahat tadi, namun aku terbelalak kaget, kamar itu sudah kosong dan tidak ada siapapun di sana.
ku lajukan mobil ku untuk mencari keberadaan Ningsih namun aku tidak menemukan Ningsih di mana pun.
hingga keesokan harinya aku menemukan sandal jepit yang di gunakan Ningsih berada di sungai belakang kampus dengan sebuah pita putih yang sedikit terbakar di sana, ku lirik ke semua arah, ada sebuah bongkahan abu di sana, hingga aku mengendus aroma abu itu, hingga aku menjadi mual seketika, sangat busuk berbau bangkai.
__ADS_1
Di sana lah aku pasti kan bahwa Ningsih mati di bunuh oleh seorang dengan cara di bakar."