
Pak Ahmadi dan buk Inah berusaha membujuk Rara agar mau menemui psikiater, namun Rara menolak keras permintaan orang tua nya hingga membuat orang tua nya menyerah untuk membawa Rara kesana.
"pak apa tidak apa-apa?" tanya buk Inah khawatir.
"kita lihat saja buk, kalau Rara masih berulah, kita terpaksa harus membawa nya dengan cara kekerasan..." jawab pak Ahmadi.
Ditempat lain terlihat beberapa orang senior sedang bermusyawarah mengenai acara ospek yang akan mereka gelar, mereka berencana akan melakukan jurik malam di kampus itu, untuk mengerjai mahasiswa baru yang akan mengikuti acara itu, sebab beberapa Minggu acara ospek tertunda atas insiden bunuh diri yang di lakukan oleh Rara.
"emang nggak apa-apa yah, kalau kita melakukan jurik malam ? gue takut dan ngeri, apa lagi beberapa tahun memang tidak pernah di adakan jurik malam untuk mengerjai mahasiswa baru..." timpa seorang senior wanita, yang bernama chelsy.
"udah tenang saja, gue yang akan bertanggung jawab nanti nya, gue bakal minta bokap gue buat menyelesaikan masalah kita, kalau-kalau kita di panggil pihak kampus nanti nya." ujar seorang pria yang bernama Dicky meyakinkan.
"tapi bukan hanya masalah itu, tapi apa kalian nggak takut, setelah melihat apa yang di alami mahasiswa baru tempo hari ?" ujar Senior chelsy lagi sambil melirik teman-teman nya.
"dan kata nya dia masih berada di rumah sakit hingga saat ini atas insiden itu..." sambung senior itu lagi.
"Juwita dan Lala juga tahu hal itu, bukan kah mereka tinggal satu kontrakan..." ucap chelsy sambil melirik Juwita dan Lala yang hanya terdiam tanpa bergeming.
"apa benar, mahasiswa baru yang bernama Rara masih di rumah sakit ?" tanya Dicky kepada Juwita dan Lala, mereka berdua pun mengangguk mengiyakan pertanyaan Dicky.
__ADS_1
"udah nggak usah di pikirkan, itu bahkan lebih seru menurut gue, biar ada sensasi horor nya saat malam-malam" ujar Dicky tersenyum kearah teman-teman nya.
"tapi, apa nggak apa-apa kita melakukan itu ?" tanya Senior lelaki lain yang duduk di samping Dicky
"aman, gue yang bertanggung jawab, entar gue juga akan pasang kan kamera pengawas untuk mengintai jalan nya jurik malam itu, sehingga kita bisa melihat dari laptop gue dan gue akan menyambung nya di sana..." ujar Dicky lagi.
"hmm,iya sudah kalau itu menurut Lo, kita ikut-ikutan saja, sebab memang Lo yang bertanggung jawab dalam masa orientasi kampus saat ini." ujar senior lain mengalah.
"hmm, yes...kalian percaya saja sama gue" ujar lelaki itu tersenyum bahagia.
"gue nggak sabar, ingin berpetualang malam ini, haha..." tawa lelaki itu lagi.
"aah, Cemeng Lo, Lo kan cowok jangan jadi banci seperti itu..." jawab Dicky, hingga lelaki itu mengalah setelah di hina oleh Dicky.
"iya sudah, ayo kita pasangkan kamera pengawas sekarang juga, supaya kita bisa menyetel nya terlebih dahulu..." timpa Dicky hingga teman-teman nya pun pergi mengikuti nya.
"Gue bakal pasang kamera pengawas sekitar sini..." ujar Dicky sambil memanjang sedikit kearah loteng atas sekolah di lorong sekitar lantai satu ruangan menajemen.
"kalian berdua pasangkan d sekitar perpustakaan..." pinta Dicky kepada chelsy dan lelaki yang bernama Rafi yang menjadi wakil nya.
__ADS_1
"baik..." Rafi dan chelsy pun berjalan menuju ruangan perpustakaan, hingga mereka di kejutkan dengan sesuatu yang membuat mereka bergidik ngeri.
"HAAAAAAAAAAAAA"
Suara teriakan menghentikan langkah mereka, mereka melirik kesemua arah hanya ada mereka berdua di lorong menuju perpustakaan, hingga membuat mereka seketika bergidik ngeri dengan wajah pucat pasih karena ketakutan.
"Lo dengar kan ?" tanya Rafi dan di jawab anggukan oleh chelsy yang berada di sebelah nya.
"hmm, ki-kita lanjut aja yah..." ujar chelsy sambil memegang tekuk leher nya yang seketika merinding dan terasa dingin.
"i-iya..." jawab Rafi sambil melanjutkan langkah nya bersama chelsy menuju perpustakaan.
Rafi pun memanjat tembok dan memasang kamera pengawas di lorong yang mengarah sekitar perpustakaan dan di dalam perpustakaan.
Setelah selesai chelsy dan rafi pun berkumpul dengan teman-teman mereka yang sudah selesai memasang kamera pengawas di semua sudut ruangan di sekitar kampus itu.
"yes... gue nggak sabar..." ujar Dicky lagi.
"hmm iya.."
__ADS_1