TERBUKA NYA MATA BATIN

TERBUKA NYA MATA BATIN
12. Memulai jurik


__ADS_3

Di universitas ini bukan hanya mahasiswa lajang saja yang bersekolah di sini, namun masih banyak yang sudah menikah bahkan yang telah mempunyai anak sekalipun yang menuntut ilmu di universitas ini,


sehingga para senior tidak memaksa untuk mahasiswa baru mengikuti jurik malam, yang akan mereka lakukan.


namun bagi siapa saja yang mengikuti jurik malam tetap akan di berikan nilai plus tersendiri dari para senior dan mendapatkan pengalaman baru bahkan teman-teman baru pula.


Karena mahasiswa baru angkatan ini lumayan banyak, para senior pun memberikan kelompok untuk melakukan jurik malam secara bergantian.


Dan malam ini adalah saat nya giliran Rara dan teman-teman sekelas nya yang akan mengikuti jurik malam itu.


"Rara, Lo yakin mau ikut jurik malam ini ?" tanya sahabatnya,


Rara baru pulang dari rumah sakit kemarin sore, sebab ia tak ingin di bawa ke psikiater oleh orang tua nya sehingga Rara nekat kabur dari rumah sakit tanpa sepengetahuan pihak rumah sakit dan keluarga nya.


"iya, gue mau ikut, gue ingin menambah wawasan dan pengalaman gue, gue bosan terbaring di kasur terus." jawab Rara yakin dengan menggenggam lampu senter yang ia bawa sebagai alat utama berlangsung nya jurik yang akan di adakan.


"tapi Lo masih sakit, kalau terjadi apa-apa bagaimana?" tanya Asti khawatir.


"sudah, gue nggak apa-apa..." ujar Rara meyakinkan.


Mereka pun berbaris di lapangan saat ini, terlihat para senior mulai memberi instruksi.


"Apa kalian sudah membawa perbekalan untuk malam ini ?" tanya seorang pria yang bernama Dicky, dengan suara yang bergema keras.


"ada senior..." jawab mahasiswa baru.


"hmm bagus, sekarang kalian akan di bagi setiap kelas harus menjadi dua kelompok, malam ini hanya ada empat kelas yang akan ikut jurik dan tentunya akan ada delapan kelompok yang akan berpetualang, sekarang kalian berbaris dengan kelompok masing-masing setelah di bagikan.


Rara, Asti, Aliando, Adrian dan beberapa orang lain nya satu kelompok, sedang kan Robi, Sovia, Fika dan beberapa orang lain nya di bagi satu kelompok pula.


"kalian hanya di beri waktu 30 menit untuk memulai misi pertama saat ini, maka pergunakan waktu itu sebaik mungkin..." terang Dicky di depan para mahasiswa yang sudah berbaris menurut kelompok masing-masing.


"baik kak..." teriak mahasiswa baru.


"tugas pertama kalian adalah mencari bendera pusaka, setelah kalian menemukan nya kalian harus mencari kertas petunjuk yang sudah tersebar di sekitar kampus ini dan petunjuk itu yang akan menentukan apakah kalian berhak mengikuti lomba berikut nya atau tidak. " ujar Dicky lagi.


"apa kalian mengerti !" teriak nya lagi.


"mengerti kak..." jawab semua mahasiswa.


"hmm okey, sekarang kalian bisa mulai."

__ADS_1


Terlihat di sebuah lorong Rara,Asti, Aliando, Adrian dan beberapa orang teman nya sedang bejalan melewati lorong yang gelap hanya berbekal lampu senter.


"gue takut ra..." ujar Asti mengandeng tangan Rara, ia sangat ketakutan dan gemetaran.


"gue juga..." jawab Rara sambil perlahan melangkah kan kaki bersama teman-teman nya.


"Kok lampu nya di matiin semua sih, jadi ngeri..." ujar teman sekelompok Rara yang lain.


"iya, gue jadi nyesal ikut jurik kalau tau seperti ini" sambung yang lain lagi.


"udah, kalian jangan lemah seperti itu, kita harus mengalah kan kelompok lain supaya nilai kita lebih tinggi dari mereka..." sambung Adrian tegas.


hingga mereka di kaget kan dengan suara sesuatu.


BRAK


"HAAAAAAAAAAAAA AAAAA"


Suara pintu kelas yang tiba-tiba terbuka tutup membuat mereka semua berteriak kencang dan saling berpelukan dengan wajah yang pucat pasih, apa lagi suara keras Asti yang tambah membuat horor teman-teman nya.


MEONG...MEONG...


"haaah ngagetin aja...kirain tadi ada..." ucap asti mengelus dada nya yang berdebar kencang karena kaget.


"udah nggak apa-apa, hanya kucing saja..." jelas Adrian.


" ngagetin aja..." sela Rara yang tak kalah kaget nya.


"hah, gue takut banget, kita kembali aja yah...gue ngeri, ini kan malam Jum'at..." sambung Asti merangkul erat tangan Rara dengan tubuh yang gemetar ketakutan.


"udah, nggak apa-apa...ayo kita lanjut..."


mereka pun melanjutkan langkah mereka hingga mereka sampai di sebuah ruangan perpustakaan di sekolah itu.


"sekarang kita berpencar aja yah, supaya lebih cepat menemukan petunjuk nya..." ujar Adrian kepada teman-teman nya.


"Asti dan kalian ikut gue, kita mencari di bagian kanan perpustakaan..." tunjuk Adrian kearah satu persatu teman nya.


"dan selebihnya ikut Aliando...dan Lo Rara ! Lo juga bareng Al yah ?kalian bagian kiri..." ujar Adrian hingga teman-teman nya pun mengangguk,tak kecuali Asti yang enggan melepas pelukannya di tangan Rara.


"ki-kita bareng aja yah... nggak usah berpisah kayak gini... gue takut..." ucap asti dengan tubuh bergetar.

__ADS_1


"sudah nggak apa-apa,benar kata Adrian..supaya lebih cepat buat kita menemukan petunjuk nya." terang Rara lagi.


"tapi gue takut, sumpah..." jawab Asti lagi.


"kan ada gue dan teman-teman yang lain.." jelas Adrian hingga membuat Rara mengangguk kearah Asti untuk meyakinkan nya.


"iya sudah ayo kita cepat, jangan membuang waktu lagi." Mereka pun berpencar sesuai instruksi Adrian.


Di kelompok mereka hanya ada dua lampu senter dan otomatis saat ini setelah mereka berpencar mereka hanya mengandalkan satu senter saja.


Hanya ada lampu senter di tangan Rara yang hidup melirik kearah kiri,namun sekarang lampu itu sudah berada di tangan Aliando yang akan menuntun teman-teman nya yang mencari di bagian kiri.


Saat lampu itu mengarah ke suatu tempat di perpustakaan, tiba-tiba lampu senter itu mendadak mati seketika hingga membuat teman-teman yang mengikuti nya berteriak kencang, karena tiba-tiba menjadi gelap.


HAAAAAAAAAAAAA...


Suara nyaring mereka sontak membuat Adrian di kelompok kanan berlari kearah teman-teman nya yang sedang berada di kegelapan.


"ada apa, ada apa?" tanya Adrian sambil berlari dengan di susul oleh teman-teman nya yang lain.


"la-lampu nya mati..." jelas Aliando, dia juga kaget hingga tangan nya bergetar hebat saat memberikan senter ke tangan Adrian.


"sitttt" Adrian berdetak kesal, bisa-bisa nya senter itu rusak saat hal seperti ini.


"terus bagaimana ?" tanya Asti di sela kepanikan teman-teman nya.


"hmm, karena senter nya hanya satu, kita terpaksa harus mencari nya secara bersamaan..." tutur Adrian, hingga ia meluruskan cahaya senter Nye ke sebuah arah yang sempat terekspos oleh Aliando tadi, hingga tanpa sadar Adrian berteriak keras hingga membuat teman-teman nya ikut berteriak.


HAAAAAAAAAAAAA AAAAA


Bayangan seseorang yang mengenakan baju berwarna merah dengan rambut panjang nya, sedang berjalan di sela rak buku di perpustakaan tersebut.


"A-ada apa, Adrian... kenapa ?" tanya Aliando dengan jantung berdebar kencang.


"di, di situ a-ada cewek yang mengenakan baju merah, di di situ..." tunjuk Adrian kearah lorong rak buku di perpustakaan, seketika Rara yang mendengar bahwa Adrian melihat perempuan berpakaian merah, seketika langsung memeluk tubuh Asti dengan mata di tutup lekat, ia tak ingin bertemu wanita itu lagi.


"mana, dimana ? jangan nakut-nakutin deh... orang nggak ada apa-apa ?" tanya Aliando tak percaya, sebab hanya Adrian yang melihat bayangan perempuan itu.


"sudah, sudah, sebaiknya kita cari di tempat lain saja, yah..." ujar Asti, sebenarnya ia sangat ketakutan sama hal nya dengan teman-teman yang lain.


"iya ayo..."

__ADS_1


__ADS_2