Terjebak Cinta Anak Ustadz

Terjebak Cinta Anak Ustadz
Haruskah Tertunda?


__ADS_3


“Mas Kaisar!” panggil Syahla saat mereka sudah sama-sama berada di dalam mobil dan hendak kembali ke hotel.


Berkali-kali ia menguap menutupi mulutnya dan sengaja memperlihatkan kepada Kaisar untuk memberitahukannya jika rasa kantuk sudah begitu menyerangnya.


“Kenapa sayang?” balas Kaisar sambil mengusap kepala Syahla. “Kamu udah ngantuk ya?”


Pertanyaan Kaisar kali ini langsung dijawab Syahla dengan anggukan kepalanya. Sedangkan Kaisar hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang memiliki banyak alasan untuk menghindarinya malam ini.


“Ya udah, sandarin dulu kepalanya sambil merem!” lanjut Kaisar membuat hati Syahla langsung bersorak gembira.


‘Yes! Berhasil!’ sorak Syahla dalam hati. Ia pun tidak mau membuang-buang waktu. Secepat kilat Syahla langsung menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya.


“Perjalanan dua puluh menit Kembali ke hotel sepertinya cukup untukmu beristirahat, sayang! Karena aku pastikan rasa kantukmu akan hilang sesampainya aku membawamu ke karma hotel nanti!” tukas Kaisar sambil tetap fokus mengemudikan mobilnya.


‘What?! Apa maksud Mas Kaisar bilang seperti ini!’ teriak Syahla dalam hati. Tapi ia membenarkan ucapan Kaisar barusan.


Meskipun matanya masih terpejam, namun rasa kantuknya benar-benar sudah hilang. Padahal sebelumnya ia benar benar sudah tidak kuat menahan kantuk.


“Emangnya Mas Kaisar gak ngantuk?” tanya Syahla tanpa membuka matanya. “Ini udah jam sepuluh malem loh mas!”


“Mana mungkin mas bisa langsung tidur dengan nganggurin perempuan secantik bidadari di samping Mas!” balas Kaisar membuat wajah Syahla langsung terasa begitu panas.


Syahla pun langsung memalingkan wajahnya ke kiri agar Kaisar tidak melihat wajahnya yang tengah merona. Sedangkan Kaisar sudah mulai memahami gerak gerik Syahla saat tersipu malu karenanya.


Tapi Kaisar tidak mau terlalu menggoda istrinya yang tengah tersipu, karena baginya memandangi istrinya secara diam-diam adalah suatu kegembiraan tersendiri dalam hatinya.


Tak berapa lama kemudian, ponsel Kaisar menerima notifikasi penting dimana rumah sakit miliknya tengah mengalami kendala dalam pelayanan. Padahal saat ini ia tengah merencanakan pelayanan rumah sakit Ibnu Sina agar setara dengan kelas internasional.


Kaisar pun langsung menepikan mobilnya dan menghubungi pihak rumah sakit.


“Kendala apa yang sedang terjadi di rumah sakit?” tanya Kaisar setelah menepikan mobilnya.

__ADS_1


Syahla yang mendengar hal itu pun langsung memperbaiki posisi duduknya.


“Rumah sakit kehabisan stok golongan darah O Whole Blood untuk korban kecelakaan yang membutuhkan 4 kantong darah. Di rumah sakit hanya tersedia 2 kantong darah, sedangkan di PMI hanya tersedia satu kantong dan masih dalam perjalanan kemari, Pak!” jelas manager rumah sakit.


“Sekarang pasien sudah hampir menghabiskan kantong yang kedua!” lanjutnya lagi membuat Kaisar langsung mengusap wajahnya kasar.


“Lakukan yang terbaik, aku akan mencari bantuan!” ucap Kaisar.


“Baik, pak! Saya kan terus memberi perkembangan kepada anda secara berkala. Mohon maaf jika kabar ini mengganggu waktu anda!”


Panggilan pun terputus dan Syahla langsung bertanya apa yang sudah terjadi kepada Kaisar. “Ada apa mas?”


“Rumah sakit kekurangan pasokan darah Golongan O Whole Blood, sayang! Persediaan di Rumah Sakit sangat menipis sedangkan di PMI juga hanya ada satu. Kemungkinan banyak pihak lain yang membutuhkan!” jawab Kaisar yang berupaya untuk tenang.


“Kalau begitu tunggu apa lagi, Mas? Kita bisa langsung ke rumah sakit sekarang!” balas Syahla membuat Kaisar mengerutkan dahinya.


“Maksudnya?” tanya Kaisar yang belum paham dengan arah pembicaraan Syahla.


“Gak bisa Syahla, Mas akan menghubungi pihak Bank Darah yang lainnya dulu selain PMI!” balas Kaisar yang tidak tega membawa istrinya untuk transfusi darah malam ini.


Terlebih ia paham betul jika kondisi Syahla sangat Lelah. Meskipun niat Syahla menolong orang lain itu dibenarkan, tapi Kaisar tidak mau istrinya kenapa-napa.


“Mas, ini berkaitan dengan nyawa seseorang. Jangan sampai terlambat untuk membuat keputusan. Lagi pula sebelum dilakukan transfusi, dokter akan mengecek terlebih dulu kondisi tubuh Syahla!”


Penjelasan Syahla kali ini membuat Kaisar menyerah. Ia pun langsung mengendarai kembali mobilnya menuju ke rumah sakit. Tangan kiri Kaisar pun langsung menggenggam tangan Syahla dengan erat.


“Kamu yakin dengan keputusan yang kamu buah Syahla?” tanya Kaisar yang terdengar begitu khawatir.


“Insya Allah yakin mas. Toh ini juga bukan untuk yang pertama kalinya!” balas Syahla.


“Ucapanmu barusah membuat Mas merasa sangat malu, Syahla. Bahkan mas belum pernah sama sekali mendonorkan darah mas!” balas Kaisar yang semakin mengeratkan tangannya.


“Mas akan mencoba untuk donor darah yang pertama kalinya selepas ini. Semoga mas juga bisa bermanfaat untuk orang lain sepertimu ya!”

__ADS_1


“Aamiin!” balas Syahla dan Kaisar langsung menarik tangan istrinya dan mengecupnya berkali-kali.


Sesampainya di rumah sakit, Syahla langsung menuju ke ruang Bank Darah Rumah Sakit yang biasa digunakan untuk transfusi darah. Kaisar sengaja terus mengikuti istrinya dan menolak saat diminta untuk menunggu di luar.


“Maaf Pak, apa anda bisa menunggu di luar?” tanya dokter Gitta.


“Tidak bisa! Saya pemilik rumah sakit ini dan saya berhak untuk berada di dalam juga. Lagi pula di situ istri saya!” balas Kaisar membuat Dokter Gitta memutar bola matanya malas.


Dokter Gitta adalah sepupu Kaisar yang sudah lama bekerja di rumah sakit. Ia tahu betul bagaimana tingkah laku Kaisar sebelum menikah dengan Syahla.


“Ternyata sepupuku bisa juga bersikap hangat dengan istrinya yaa!” ledek dokter Gitta yang akhirnya mengizinkan Kaisar untuk ikut masuk ke dalam.


“Awalnya aku kasihan loh sama Syahla waktu denger mau dilamar sama sepupuku sendiri! Sayang-sayang kan Wanita se perfect ini dapet suami kayak kamu!” ucap Dokter Gitta sambil mulai memeriksa tekanan darah Syahla.


“Emangnya aku kenapa? Jangan asal ngomong deh! Udah lah gak usah banyak bicara! Yang penting kamu fokus aja periksa istri aku!”


Kali ini Dokter Gitta memilih diam dari pada menimpali celetukan Kaisar.


“Kondisi kamu baik seperti biasanya Syahla dan siap untuk melakukan transfusi darah!” jelas Dokter Gitta yang langsung menuai protes dari Kaisar.


“Kamu tuh ngeceknya bener gak sih, Gitt? Jangan sembarangan bilang baik dan siap transfusi darah! Orang dari tadi kamu ngeceknya sambil ngobrol!” balas Kaisar.


“Percaya deh Mas, sama Dokter Gitta. Dia udah biasa kok bantu aku buat transfusi darah.”


Ucapan Syahla kali ini membuat Kaisar akhirnya pasrah dan mengalah untuk mengizinkan istrinya melakukan donor darah. Syahla pun kemudian diantar menuju brankar dan kemudian langsung merebahkan dirinya.


Sedangkan Kaisar langsung mengambil tempat duduk dan duduk di samping istrinya sambil terus memegangi tangan kanan Syahla karena pembuluh darah vena milik Syahla terlihat jelas dan besar di sebelah kiri.


☘️☘️☘️


Sambil menunggu cerita selanjutnya, mampir yuk ke Novel bestie aku


__ADS_1


__ADS_2