Terjebak Cinta Anak Ustadz

Terjebak Cinta Anak Ustadz
Panggilan yang Sama


__ADS_3


Untuk menghilangkan rasa kalutnya, Syahla pun membuka ponsel miliknya dan mengalihkan perhatiannya untuk men scroll ponselnya. Tiba-tiba, ia melihat ada notifikasi email masuk ke dalam ponsel miliknya.


Betapa terkejutnya Syahla saat email masuk tersebut adalah surat tugas dari Manajer Rumah Sakit untuk mempublikasikan Pelayanan Terbaru dari Rumah Sakit Ibnu Sina ke Rumah Sakit Swasta yang ada di Bali selama satu bulan penuh.


Artinya, Syahla akan ikut serta dengan Kaisar dalam hubungan kerja sama yang besar kali ini. Terlebih Rumah Sakit yang akan join dengan mereka adalah Rumah Sakit terbesar dan terpercaya Nomor 2 di Bali.


‘Masyaa Allaaah!’ pekik Syahla dalam hati. ‘Ini Serius? Berarti aku ditugaskan untuk mendampingi Mas Kaisar selama satu bulan penuh?’ batin Syahla bermonolog.


‘Tenang Syahla! Jangan kepedean dulu! Coba kamu baca baik-baik dulu!’


Syahla pun menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya perlahan. Kemudian ia membaca ulang surat penugasan tersebut berkali-kali sampai ia yakin jika surat itu benar ditujukan kepadanya untuk berangkat ke Bali.


‘Alhamdulillaah Yaa Rabb! Ini bener surat tugas ke Bali. Pasti papa udah merencanakan ini semua buat kami. Bertugas dan berbulan madu ke Bali!’ gumam Syahla dalam hati.


‘Emmm, enaknya kasih tau ke Mas Kaisar atau enggak yaa?’

__ADS_1


Syahla memandang ke arah Kaisar yang tampak sedang memijat kepalanya.


“Mas Kaisar pusing yaa?” tanya Syahla sambil membantu memijat kepala suaminya.


“Iya nih sayang! Tiba-tiba Mas pusing baca surat kerja sama dari Rumah Sakit yang ada di Bali. Mau ditolak, tapi udah ditandatangani pula sama papah. Yaa meskipun pakai tanda tangan digital.”


“Udah gitu, barusan manager rumah sakit juga ngirim surat tugas ke mamas untuk pergi ke Bali dan nantinya akan menetap selama satu bulan penuh di sana!” jelas Kaisar yang kemudian menyandarkan kepalanya di pangkuan Syahla.


“Sayaaaaang!” panggil Kaisar dengan nada merengek.


“Hemm!”


“Kalau kita jauh-jauhan, kapan Mas bisa punya dedek bayi di sini?” gumam Kaisar sambil mencium perutnya berkali-kali.


“Geli atuh maaas!” tukas Syahla sedikit mengg3linj4ng.


“Baru kali ini Mas merasakan masalah yang sangat berat, sayang!” gumam Kaisar yang benar-benar kehilangan semangatnya.

__ADS_1


Syahla sendiri sangat tidak tega melihat suaminya yang tampak gagah merengek seperti itu. Akhirnya ia pun bertekad untuk memberitahukan kepada suaminya jika ia juga mendapat surat tugas yang sama.


“Peluang besar, jangan disia-siakan, Mas!” tukas Syahla.


“Insya Allah kalo Mas ikhlas jalaninnya, nanti pasti akan ada kepuasan dalam diri Mas!” lanjut Syahla lagi.


“Lagi pula, Syahla juga bakal nemenin Mas kok!”


“Mas kan gak mau ditemenin dengan gambar, video, atau suara. Mas maunya yang ori ini, yang bisa mas peluk, mas cium, bisa manjaain mas juga kalo lagi kerja!” timpal Kaisar yang langsung mendapat cubitan protes dari Syahla.


“Iiiiih, Mas ini ya. Gak boleh kayak gituh kalo lagi kerja mas. Itu Namanya korupsi waktu!” tegur Syahla dan Kaisar hanya bisa membuang nafasnya kasar.


“Iyaa sayaang, mas ngerti kok!” balas Kaisar dengan nada yang masih lemas.


“Sini deh mas! Bangun dulu! Ada yang mau Syahla kasih tau.” Syahla meminta suaminya untuk bangun dari pangkuannya dan duduk di sampingnya.


Kaisar pun mengikuti saran istrinya meskipun masih dengan wajah yang sangat kuyu.

__ADS_1


“See!” Syahla membuka layar ponselnya. “Syahla juga dapat surat tugas untuk pergi ke Bali selama satu bulan.”


__ADS_2