
“Kan tadi saya gak minta dibuatkan minum!” tukas Faris saat Sarah meletakkan secangkir kopi di hadapan Gus Faris.
Mendengar abangnya protes dengan Sarah, Ning Fara pun langsung mencubit lengan Gus Faris.
“Mas, Namanya kalo udah dijamu itu pantang untuk ditolak. Udah deh diterima aja!” ucap Ning Fara.
Mau tidak mau Gus Faris pun menerima jamuan dari Sarah. Ia pun mengangkat cangkir kopinya dan siap untuk meminumnya.
“Masyaa Allah! Panas sekali Sarah!” pekik Gus Faris sambil mengecapkan bibirnya berkali kali karena kepanasan.
“Yah, Namanya juga kopi baru jadi Gus. Pasti masih panas dong!” timpal Sarah membuat Gus Faris kembali meletakkan cangkir kopi tersebut.
“Alamat lama deh!” gerutu Gus Faris sambil melihat ke arah jam tangannya yang kini menunjukkan pukul 9 malam.
“Bentar lagi juga udah hangat, tunggu aja sambil ngobrol!” tukas Sarah.
Kini Gus Faris menatap ke arah Sarah yang tengah duduk di samping adik perempuannya. Sarah memang cantik dan terkenal supel karena ia mudah bergaul dengan siapa saja.
Cerewet, usil, dan terkenal berani untuk tampil berbicara di depan khalayak ramai. Sifatnya yang seperti ini sangat cocok dengan Ning Fara yang memiliki sifat hampir sama dengan Sarah.
Tapi Sarah tampak masih sangat kecil untuk menjadi istrinya. Apalagi saat ini ia masih duduk di kelas 2 SMA.
“Gus Faris kalo mau ada yang ditanyain lagi sama Sarah, tanyain aja langsung sambil nunggu kopinya dingin. Gak usah pake bengong kayak gitu!” tukas Sarah membuat Gus Faris langsung memalingkan pandangannya.
“Huuuh!” Gus Faris menghela nafasnya panjang.
“Siapa yang bengong sih? Saya itu lagi mandangin kamu tau gak?” timpal Gus Faris sambil mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
“Tau kok saya, Gus! Orang sampe mulut Gus Faris terbuka kayak gituh. Namanya apa coba kalo bukan bengong?” balas Sarah membuat Gus Faris kembali mengatur nafasnya.
‘Sabar, Gus! Kamu harus sabar menghadapi calon istri kecilmu ini!’ gumam Gus Faris dalam hati.
“Oke, Sarah. Kamu kan masih duduk di kelas sebelas dan sebentar lagi akan naik ke kelas dua belas. Apa kamu gak malu sama teman-teman kamu kalo nantinya kamu jadi nikah muda sama saya?” tanya Gus Faris.
“Loh, buat apa malu? Toh ini bukan suatu kesalahan bukan?” balas Sarah meyakinkan dirinya sudah siap untuk menikah dengan Gus Faris.
“Nah, Namanya menikah kan tentunya didasari dengan rasa cinta. Apa kamu sudah bisa mencintai saya?” tanya Gus Faris lagi.
Ning Fara pun hanya diam sebagai pendengar setia dimana Gus Faris tengah mengintrogasi calon istrinya.
“Nah, kalo masalah ini. Harusnya bukan Gus Faris yang bertanya, melainkan Sarah!” timpal Sarah membuat Gus Faris sangat tercengang.
“Gus Faris siap gak jatuh cinta sama Sarah dan move on dari mencintai Kak Syahla?”
‘Duuh, aku harus jawab apa ya sama Sarah?’ gumam Gus Faris dalam hati. ‘Kalau aku bilang sudah mulai terpikat dengannya, nanti dia gede rasa! Malah jadi kepedean tuh bocah!’
‘Tapi kalau aku diam, dikira aku masih belum bisa move on dari Syahla!’ batin Gus Faris yang dipenuhi dengan rasa bimbang.
Saking bingungnya harus menjawab apa, Gus Faris pun memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Sarah kali ini dengan mengambil secangkir kopi buatan Sarah yang sudah mulai hangat dan menyesapnya pelan.
Kopi hitam buatan Sarah membuat Gus Faris kembali menikmati kopinya sambil menghirup aromanya dalam-dalam.
“Kamu pinter juga bikin kopinya!” puji Gus Faris sambil terus menikmati kopi buatan Sarah sampai habis tidak bersisa.
“Iya dong! Udah cocok belum jadi calon istri Gus Faris?” tanya Sarah membuat Gus Faris langsung tersedak.
Uhuk! Uhuk!
__ADS_1
Gus Faris terbatuk batuk sampai matanya sedikit memerah. Sarah pun langsung menyodorkan kotak tissue ke arah Gus Faris dan kemudian memberikan air mineral kemasan ke Ning Fara untuk membantu meminumkannya ke arah Gus Faris.
“Maaf, Gus! Sarah bener-bener minta maaf karena udah bikin Gus Faris tersedak sampai kayak gini!”
“Pertanyaan yang tadi gak usah dijawab juga gak papa. Sarah ngerti dan tahu diri kok kalo move on itu tidak semudah membalikkan telapak tangan!”
Gus Faris pun minum air mineral yang disodorkan oleh Ning Fara dan membuat batuknya mulai mereda.
“Pertanyaan kamu gak salah kok, Sarah! Kamu udah cocok kok jadi istri saya!” ucap Gus Faris.
Sarah langsung menelan ludahnya kasar sambil menganggap jika semua itu tidak mungkin. Meski dalam hatinya sangat berbunga-bunga, namun di sisi lain ia masih merasa tidak percaya.
“Oooh!” timpal Sarah singkat membuat Gus Faris mengerutkan dahinya.
‘Cuma oooh? Sarah nih sebenernya gimana sih perasaannya sama aku?’ gumam Gus Faris dalam hati.
‘Hemm, kayaknya aku harus manfaatin Fara deh buat cari tahu gimana perasaannya Sarah yang sebenernya sama aku!’
“Oke Sarah. Karena waktu semakin larut, kami berdua pamit dulu yaa. Salam buat orang tua kamu nanti!” ucap Gus Faris undur diri.
“Insya Allah nanti Sarah sampaikan!” balas Sarah.
“Oh iya!” Gus Faris menahan langkahnya.
“Mulai besok kamu belajar di rumah sama Fara buat mengejar ketinggalan pelajaran. Saya gak mau punya istri yang tinggal kelas!” lanjut Gus Faris.
“Iya, Gus! Santai aja!” balas Sarah.
__ADS_1