
Kaisar masuk ke dalam ruangan dan langsung mendekati istrinya yang kini tengah berbaring membelakanginya. Kemudian ia menarik selimut dan menutupi tubuh istrinya sambil kemudian mencium ubun-ubun kepalanya.
“Selamat tidur istriku sayang! Maaf yaa, malam pertama kita harus dihabiskan di sini!” bisik Kaisar.
Syahla pun langsung berbalik dan kemudian menggenggam tangan suaminya dengan sangat erat.
“Gak papa Mas! Allah tetap memberikan kebaikan di malam ini bukan?” balas Syahla. “Kok lama banget ngobrolin apa sih?”
Kaisar pun duduk di tepi bed sambil mengusap kepala istrinya. “Maaf yaa, jadi bikin istri mas gak tidur gara-gara nungguin Mas ngobrol di luar!”
Syahla menyunggingkan senyumannya, “Gak papa, Mas. Lagi pula Syahla malah gak bisa tidur kalo di sini.”
“Apa mau pulang saja ke hotel biar kamu bisa istirahat nyaman?” tawar Kaisar yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Syahla.
“Gak usah, Mas. Mubadzir sudah bayar kamar semalem juga! Syahla Cuma penasaran sama yang diobrolkan Mas Kaisar di luar.”
Kaisar pun langsung menceritakan kepada Syahla mengenai obrolan mereka berdua tadi. Betapa terkejutnya Syahla saat mengetahui jika suaminya dan juga Gus Faris dulunya adalah sahabat dekat.
Namun, Syahla menutupi keterkejutannya dengan terus mendengarkan cerita suaminya sampai tanpa ia sadari, lama kelamaan Syahla memejamkan matanya.
Kaisar pun langsung mengecup kening istrinya yang sudah memejamkan matanya.
“Ternyata istriku sangat menyukai dongeng sebelum tidur yaa!” gumam Kaisar.
Ia pun kemudian menarik kursi dan duduk sambil menyadarkan kepalanya di bed Syahla sambil tetap menggenggam tangan istrinya.
🍄🍄🍄
Keesokan paginya, Syahla bangun lebih dahulu dari pada Kaisar. Ia pun perlahan turun dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi. Selepas itu Syahla membangunkan suaminya untuk sholat subuh.
“Mas, bangun dulu yuk! Udah subuh.”
Kaisar pun langsung menggeliatkan badannya dan perlahan membuka matanya.
“Oke sayang, Mas wudhu dulu yaa! Habis itu kita sholat subuh berjamaah!” ucap Kaisar yang masih sangat mengantuk.
Tapi ia terus berusaha untuk bangun dan beranjak menuju ke kamar mandi.
“Emmm, kali ini Syahla gak sholat dulu, Mas! Barusan waktu Syahla ke kamar mandi ternyata Syahla lagi masanya datang bulan!”
__ADS_1
Ucapan Syahla kali ini seketika menghilangkan rasa kantuk Kaisar yang masih menderanya.
“Apaaa??!! Datang bulan, sayang?” tanya Kaisar sambil membelalakkan matanya.
Syahla pun menganggukkan kepalanya. “Iya mas! Makanya Syahla agak sedikit pusing ini!”
Kaisar langsung paham apa yang kini tengah dialami oleh istrinya. Ia pun langsung memanggil perawat untuk segera datang ke ruangannya.
Tanpa menunggu lama, perawat jaga pun datang dan Kaisar langsung memintanya untuk mengecek keadaan istrinya.
“Istri saya tadi malam baru saja mendonorkan darahnya untuk korban kecelakaan tadi malam. Dan kini ia sedang datang bulan dan merasakan sedikit pusing. Tolong periksa keadaan istri saya dan berikan perawatan yang terbaik!” titah Kaisar.
“Baik, pak!” perawat tadi yang tentunya adalah rekan kerja Syahla pun langsung memeriksa Syahla.
Tekanan darah Syahla memang sangat rendah dan wajah Syahla tampak sedikit memucat. Akhirnya perawat tersebut langsung memasangkan infus untuk Syahla dan menyuntikkan obat ke dalamnya.
“Mbak Syahla, diistirahatkan saja dulu. Nanti saya langsung meminta tim dapur untuk mengirim sarapan lebih dulu untuk mbak!” ucap Kirana, perawat jaga yang usianya sebaya dengan Syahla.
“Makasih banyak ya, suster Kirana!” jawab Syahla.
Selepas perawat tersebut keluar dari ruangan Syahla, Kaisar pun baru menuju ke kamar mandi untuk berwudhu dan kemudian mengerjakan sholat subuh.
“Maaf!”
Satu kata yang terlontar dari mulut Syahla membuyarkan lamunan Kaisar.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan sayang. Bagiku kau begitu istimewa. Jangan merasa bersalah karena apa yang saat ini terjadi adalah sebuah pengorbanan besar yang tak ternilai harganya!” tutur Kaisar.
“Menyelamatkan nyawa orang juga berarti jihad besar! Dan Mas bangga memiliki istri yang berhati mulia sepertimu!”
Syahla tersenyum mendengarkan pujian suaminya.
“Aku pikir Mas kecewa karena denger Syahla datang bulan!” celetuk Syahla.
Kaisar terdiam sambil memandangi istrinya. Ia tidak ingin membohongi perasaannya sendiri, rasa kecewa itu memang ada. Namun ia tidak mau terlalu larut di dalamnya.
Mungkin inilah yang terbaik untuk mereka berdua. Karena Kaisar sendiri tidak tahu apa yang sudah dipersiapkan oleh Allah untuknya.
Kaisar menghela nafasnya panjang dan menjawab ucapan Syahla.
“Rasa itu hal yang wajar untuk pengantin baru seperti aku bukan?” balas Kaisar. “Atau jangan-jangan istri Mas ini yang lagi kecewa berat karena harus menunda untuk melayani Mas!” goda Kaisar sambil mencolek pipi Syahla.
__ADS_1
“Diih, mana ada begitu!” sanggah Syahla sambil memalingkan wajahnya yang mulai berubah warna.
“Bohong itu dosa loh sayang!”
Kaisar mulai mendekatkan tubuhnya dengan Syahla.
“Tapi kalau malu sama suami sendiri, mas bisa paham kok!”
Cup!
Kaisar langsung mendaratkan kecupannya tepat di bibir Syahla.
“Mulai sekarang, Mas akan melakukan absen pagi di sini!” ucap Kaisar sambil mengusap bibir istrinya.
“Boleh kan?”
Pertanyaan Kaisar kali ini membuat Syahla menarik selimutnya ke atas untuk menutupi wajahnya.
“Mas Kaisar gak usah tanya kayak gituh dong!” gerutu Syahla.
“Kamu ini jadi istri bikin Mas gemes banget sih sayang kalo lagi malu-malu gini! Jadi pingin absen di tempat lain deh. Contohnya kayak di sini ini!”
Tangan Kaisar mulai nakal mengusap leher istrinya dan tentunya membuat Syahla seketika meremang.
“Mas Kaisar nakal banget sih!” keluh Syahla yang langsung berbalik membelakangi Kaisar.
“Yaa Allaah Syahlaaa, baru pegang daerah atas saja sudah dibilang nakal sih. Apalagi kalau pegang daerah tengah ke bawah coba!”
“Maaaas! Udaah dong jangan diterusin lagi!”
“Iya deh iya! Mas nerusinnya nanti kalo Syahla sudah agak mendingan aja ya!”
Tak lama kemudian, sarapan untuk Syahla pun datang. Dengan sigap Kaisar langsung membantu istrinya untuk dan menyuapinya.
Kabar Syahla di rumah sakit pun langsung sampai di telinga keluarga besar mereka. Pak Andika dan istrinya pun langsung memutuskan untuk menjenguk Syahla. Begitu juga dengan Ustadz Rizki dan juga Bu Aminah.
Kedatangan mereka semua benar-benar membuat Syahla sangat senang mendapatkan perhatian yang luar biasa. Tekanan darah Syahla pun mulai membaik dan ia juga sudah tidak mengeluhkan rasa pusing atau pun lemas lagi.
Sayangnya, Kaisar masih belum memperbolehkan istrinya pulang sampai keadaannya benar-benar pulih.
__ADS_1