Terjebak Cinta Anak Ustadz

Terjebak Cinta Anak Ustadz
Akibat Bercanda


__ADS_3


“Kok Kak Syahla bisa manggil kamu dek sih?” tanya Ning Fara yang sudah berada di dalam ruangan Sarah.


“Emang tadi Kak Syahla bilang apaan?” Bukannya menjawab pertanyaan sahabatnya, Sarah justru balik bertanya.


“Kak Syahla itu bilang gini nih, -Dek Sarah juga lagi sendirian tuh di dalam-!”


“Haaah?! Serius Kak Syahla bilang begitu?” tanya Sarah berbunga-bunga.


“Iya serius, kok bisa sih?” tanya Ning Fara semakin penasaran.


“Hari ini aku udah resmi jadi adiknya Kak Syahla!” jawab Sarah dengan mata yang berbinar.


“Kok bisaaa? Gimana ceritanya?” tanya Ning Fara.


“Ada deeeh. Aku aja gak nyangka banget dapet tawaran kayak gituh dari Kak Syahla tadi!” balas Sarah.


“Jadi Kak Syahla yang nawarin buat jadi kakak kamu?” tanya Ning Fara lagi.


“Syahla itu menawarkan diri karena Sarah duluan pasti yang bilang kalo jadi adiknya kak Syahla itu pasti enak. Makanya Syahla terpaksa tuh nawarin dirinya sendiri! Iya kan?” timpal Gus Faris membuat mata Sarah terbelalak sempurna.


“Waaah, kok Gus Faris tebakannya jitu bener! Pasti tadi telinganya udah duluan sampe di sini yaa!” ucap Sarah yang membenarkan ucapannya Gus Faris.


“Haish, kalo Cuma begitu mah udah kebaca kali. Mana mungkin Syahla tiba-tiba menawarkan diri!” lanjut Gus Faris yang kini duduk di sofa.


“Ning Fara, kayaknya Gus Faris masih hafal banget ya sama kebiasaan kak Syahla.” Sarah menepuk lengan sahabatnya dan Ning Fara langsung menganggukkan kepalanya.


“Emang beneran belum bisa move on ya Gus?” tanya Sarah.


“Ngawur aja kamu kalo ngomong nih! Saya lagi on the way move on ini!” balas Gus Faris yang terdengar tidak terima dengan penilaian Sarah.


“Lama amat on the way nya, mau Sarah bantuin gak Gus biar cepat move on?”


Pertanyaan Sarah kali ini bertepatan dengan Pak Kyai Badrun yang baru datang menjenguknya. Sarah langsung cepat-cepat menutup mulutnya saat melihat Kyainya berdiri di pintu ruangannya.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum!” ucap Kyai yang langsung dijawab oleh semua yang ada di ruangan.


“Waah, kedengarannya bagus juga nih kalo Sarah mau  bantuin putra Kyai biar cepat move on!” timpal Pak Kyai.


“Masya Allah Pak Kyai, Sarah Cuma bercanda aja tadi!” timpal Sarah yang langsung turun dari bed dan menyambut kedatangan Kyai Badrun sambil mencium tangannya.


“Gak usah turun gak papa! Nanti saya yang kesana. Kamu kan masih sakit, Sarah!” ucap Kyai Badrun sambil mengusap kepala Sarah.


“Alhamdulillah sudah sembuh Kyai. Infusnya juga sudah dilepas tadi!” balas Sarah.


“Alhamdulillah. Maaf ya Sarah, saya baru bisa jenguk di saat Sarah sudah mau pulang dari rumah sakit.”


“Tidak masalah Kyai, yang penting doanya Kyai terus mengalir untuk kesembuhan Sarah.”


Sarah pun kemudian menyalami tangan Bu Nyai. “Kami itu sangat berhutang nyawa loh dengan Sarah karena sudah menolong Faris yang kemarin lagi patah hati!” ucap Bu Nyai saat Sarah menyalami tangannya.


“Masya Allah, jangan dibilang hutang nyawa bu Nyai. Sarah juga kemarin refleks aja karena Gus Faris gak dengar waktu Sarah teriak!” balas Sarah.


Tak lama kemudian ayah dan ibu Sarah yang baru mengurus administrasi pun masuk ke dalam. Ustadz Bakri langsung menyalami Kyai Badrun dan Gus Faris, sedangkan istrinya pun menyalami Bu Nyai.


“Alhamdulillah sudah beres semuanya, Kyai. Sekarang Sarah sudah bisa dibawa pulang!” jawab Ustadz Bakri.


“Alhamdulillaah! Oh iya ustadz, Tadi saya sempat dengar Sarah siap untuk bantu Faris move on dari Syahla. Bagaimana kiranya kalau kita jodohkan saja mereka berdua?” tanya Kyai Badrun.


Deg! Ucapan Kyai Badrun membuat ruangan Sarah hening seketika.


‘Masyaa Allaah! Apa arti semua ini? Kenapa terdengar sangat mendadak sekali?’ gumam Sarah dalam hati.


Ia memandang ke sekelilingnya yang kini tengah terkejut juga sama sepertinya. Kemudian Sarah memandang ke arah Gus Faris yang kini tengah memandang ke arahnya.


‘Aduh, tatapan Gus Faris nih maksudnya apa ya? Marah? Gak terima? Atau bagaimana sih? Astaghfirullaah. Tenang Sarah! Kamu harus tenang!’


Sarah menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


‘Maaf Kak Syahla, Sarah beneran gak bermaksud buat agresif atau ngejar-ngejar Gus Faris! Ini barusan Cuma bercanda, kenapa Pak Kyai pake denger segala sih? Sarah kan Cuma pingin ledekin Gus Faris aja. Astaghfirullaah!’

__ADS_1


Sedangkan Gus Faris sendiri justru tampak begitu tenang memandang ke arah Sarah.


‘Gadis itu memang lebih muda dari Syahla, bahkan sebaya dengan adikku, Fara! Tapi parasnya kalo diperhatikan cantik juga!’ gumam Gus Faris dalam hati.


‘Bawaannya selalu gembira. Dia memang tidak selembut Syahla. Tapi dalam dirinya mengalir juga darah Syahla. Satu hal yang semalam ayah bilang padaku, dia sudah berkorban nyawa demi menyelamatkan aku yang tengah patah hati!’


‘Mungkin jika tidak ada Sarah, aku akan mati sia-sia dan langsung masuk neraka karena kegalauanku yang bikin aku lupa diri!’


‘Tidak ada salahnya bukan, jika aku kali ini menuruti apa kata ayah. Insya Allaah, semua ini yang terbaik menurut rencana Allah juga!’ batin Gus Faris.


“Sarah memang masih kelas sebelas dan sebentar lagi akan naik kelas dua belas. Tapi ibu lihat usianya sudah tujuh belas tahun lebih. Jadi cukuplah untuk melakukan pernikahan dengan Faris. Untuk urusan masa depan Sarah jangan dikhawatirkan. Kami semua tidak akan mengekang Sarah untuk melanjutkan pendidikannya sampai tingkat perguruan tinggi!” timpal Bu Nyai sambil memegang lengan ibunya Sarah yang juga masih sangat shock dengan ucapan Kyai Badrun.


Ustadz Bakri kini mencoba mengatur nafasnya. “Saya pribadi sangat tersanjung dengan Pak Kyai dan juga Bu Nyai mengenai rencana ini. Namun, di sini saya tidak bisa mengambil keputusan. Karena pernikahan itu melibatkan Gus Faris dan juga Sarah, lebih baik kita semua dengarkan keinginan dari mereka berdua!” tutur Uztadz Bakri.


“Hemmm!” Gus Faris berdehem dan memalingkan pandangannya dari Sarah.


“Saya sendiri menyadari telah jatuh ke lembah jurang paling dasar karena kesalahan yang saya perbuat. Tapi kini, saya bertekad penuh untuk berubah menjadi pribadi yang baik lagi.”


“Sarah Maulida, apa kau bersedia untuk membantu saya move on dari masa lalu, seperti yang tadi kamu tawarkan?” tanya Gus Faris membuat Sarah menelan ludahnya kasar.


Kini semua mata tertuju ke arahnya. Candaannya kini berubah jadi kenyataan dalam hitungan waktu yang sangat singkat. Memang semua ini adalah keinginannya, tapi ini terlalu cepat untuk Sarah.


Tiba-tiba tangan Ning Fara melingkar di bahu Sarah dan merangkulnya dengan hangat.


“Ayooh, gimana jawabannya? Siap gak ubah status dari sahabat jadi kakak ipar aku?” tanya Ning Fara.


“Bismillahir Rahmaanir Rahiim, Sarah siap bantu Gus Faris untuk move on dan gak linglung lagi!” jawab Sarah dengan mantap membuat semuanya yang ada di dalam ruangan langsung tertawa kecuali Gus Faris yang tampak memutar bola matanya malas mendengar candaan Sarah yang ke sekian kalinya.


“Okey, berarti kamu harus siap ya dipanggil Nyonya Linglung juga!” timpal Gus Faris dengan wajah kesalnya.


“Sarah mah tetap jadi pahlawan dong, mana ada pahlawan linglung?” balas Sarah.


Pak Kyai Badrun dan istrinya memang tidak kaget dengan sifat Sarah yang sangat lucu ini karena Sarah memang sering menghabiskan waktunya dengan Ning Fara. Jadi mereka mengenal betul sifat dan pribadi Sarah sehari-hari.


Akhirnya mereka pun pulang bersama-sama karena kedatangan Gus Faris dan keluarganya memang sengaja untuk menjemput Sarah dari rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2