
“Mas, Syahla pamit duluan yaa!” Syahla mengulurkan tangannya hendak menyalami Kaisar yang masih memarkirkan mobilnya.
“Nanti dulu, sayang. Kita masuk ke dalam sama-sama!” balas Kaisar.
“Gak enak dong Mas! Nanti Syahla malah jadi bahan perhatian!” timpal Syahla sambil melihat keluar dimana beberapa teman kerjanya tengah menunggu ia keluar dari mobil Kaisar.
“Kalo gitu, nanti sekalian mas kasih morning kiss di depan mereka. Biar mereka beneran puas merhatiin kita. Gimana?” balas Kaisar sambil menatap istrinya dengan intens.
Mobil Kaisar sudah terparkir sempurna, hanya saja ia sengaja tidak membuka kunci pintu mobilnya agar Syahla tidak keluar lebih dulu.
“Ck, Mas Kaisar nih ngaco deh!” gerutu Syahla sambil memanyunkan wajahnya.
“Ya udah, turunnya bareng aja. Mas gak akan bikin Syahla malu kok. Tenang aja!” balas Kaisar sambil membuka kunci pintu mobilnya.
Syahla pun keluar dari mobil bersamaan dengan Kaisar, kemudian Kaisar langsung menggandeng tangan istrinya dan keduanya melangkah masuk Bersama.
Mereka berdua memang jadi perhatian hampir semua orang yang ada di lobby. Bahkan pasien rawat jalan yang sedang menunggu panggilan pun turut memperhatikan dua sejoli ini yang tampak begitu serasi dan romantis.
Kali ini Kaisar sengaja mengantar istrinya sampai di depan ruangan. Selepas itu Syahla baru menyalami tangan suaminya dan mencium punggung tangan Kaisar.
“Syahla kerja dulu ya Mas!” pamit Syahla.
Cup! Kaisar langsung mengecup kening Syahla sekilas.
“Selamat bekerja istriku sayang! Nanti siang makan di ruangan Mas ya!” ucap Kaisar yang langsung diangguki oleh Syahla.
Syahla pun langsung masuk ke dalam ruangannya, sedangkan Kaisar langsung melangkahkan kakinya menuju ke ruang kerjanya.
“Masyaa Allaah, Mba Syahla bikin kita baper aja sih!” tukas suster Riska. “Romantis banget sama Pak Kaisar!”
“Bener banget Ris, kira-kira stok yang kayak Pak Kaisar masih ada gak sih? Boleh dong satu buat aku!” timpal Suster Dini.
“Kalo gak ada, setidaknya yang hampir mirip juga gak papa!” sahut Suster Kurnia.
“Udah, udah! Jangan pada komentar gitu deh. Aku kan jadi gak enak!” timpal Syahla sambil menahan rasa malunya.
Baru juga ia masuk ke ruang kerja, semua langsung membicarakan keromantisannya dengan Kaisar.
“Hari ini kita bikin jadwal baru yaa!” lanjut Syahla sambil menyalakan komputer yang ada di mejanya.
“Pasti Pak Kaisar gak bolehin Mbak Syahla masuk shift malam ya?” tanya Suster Kurnia.
“Iya nih!” balas Syahla.
“Uuuuuuuh so sweeeeet!” timpal Riska, Dini, dan juga Kurnia bersamaan.
Syahla tidak menggubris celotehan mereka dan fokus pada pekerjaannya. Setelah selesai membuat jadwal terbaru, ia pun langsung menghubungi Manajer Rumah Sakit untuk membawa jadwal baru tersebut kepada Wakil Direktur Rumah Sakit.
__ADS_1
“Suster Syahla, harusnya jadwal ini tidak perlu meminta persetujuan dari saya lagi. Anda bisa langsung membawanya kepada Pak Kaisar!” ucap Manajer Rumah Sakit.
“Tapi pak! Prosedurnya tetap harus melewati bapak. Nanti bapak yang mengajukan kepada Pak Direktur!” balas Syahla.
“Prosedurnya yang ini tidak sama. Pak Kaisar meminta anda langsung yang menyerahkan ke ruangannya!”
“Baik pak. Kalau begitu saya permisi!”
Syahla pun keluar dari ruangan Manajer Rumah Sakit dan langsung menuju ke ruangan suaminya.
“Assalamu’alaikum!” ucap Syahla sambil mengetuk pintu ruangan Kaisar.
“Wa’alaikumussalam!” jawab Kaisar yang langsung membukakan pintu untuk istrinya.
“Hai! Mas udah nungguin Syahla datang lo!” Kaisar langsung menarik Syahla masuk ke dalam dan mengunci pintu ruangannya.
“Emmm, Pak Kaisar sengaja banget ya suruh Manajer Rumah Sakit untuk minta saya datang ke sini?!” tanya Syahla.
“Sssttt! Bicaranya gak perlu formal gituh dong sayang! Mas kan kangen sama Syahla!” timpal Kaisar yang langsung mengajak Syahla untuk duduk di sofa.
“Tapi pak, ini kan masih jam kerja!” timpal Syahla yang masih tetap kekeh dengan pendiriannya untuk tetap berbicara formal.
Kaisar diam sambil terus memandangi Syahla yang entah kenapa semakin terlihat cantik di matanya. Syahla yang terus saja ditatap suaminya itu hanya bisa menelan ludahnya kasar sambil berfikir bagaimana caranya untuk menghindar.
“Maaf, Pak Kaisar! Saya datang untuk …”
“Bentar lagi Mas mau meeting dengan pihak rumah sakit lain. Kasih Mas semangat dong, sayang! Mas grogi banget nih!” pinta Kaisar yang memang baru pertama kalinya akan presentasi di depan pimpinan rumah sakit yang lainnya.
“Ooooh, Mas mau meeting perdana dengan pihak luar yaa?” tanga Syahla sambil mengendurkan pelukannya dan balik memandangi wajah suaminya itu.
“Iya jam 10 pagi ini mereka akan tiba!” balas Kaisar.
“Syahla doain biar presentasi dan meetingnya lancar serta diberi kemudahan dalam setiap apa yang Mas sampaikan nanti!” ucap Syahla sambil memegang kedua Pundak Kaisar.
“Makasih banyak yaa sayang!”
Ucapan Kaisar kali ini langsung dibalas Syahla dengan kecupan singkat darinya di bibir Kaisar.
Cup! Kecupan singkat dari Syahla yang tiba-tiba ini membuat Kaisar langsung menekan tengkuk leher Syahla agar ia tidak buru-buru melepaskan kecupannya.
Tidak hanya itu, Kaisar justru melakukan yang lebih dari itu sampai membuat Syahla hampir kehabisan nafas.
“Makasih banyak ya semangatnya. Full charging dari istri itu memang bikin suami semangat luar biasa.”
Kaisar mengusap bibir istrinya dimana lipstiknya sedikit belepotan karena tingkahnya.
“Berkasnya nanti bisa diambil selepas makan siang ya suster kepala, Syahla Adiba!” ucap Kaisar membuat Syahla menganggukkan kepalanya.
“Saya kembali ke ruangan dulu, ya Pak!” Syahla pun langsung undur diri dari ruangan Kaisar dan segera melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
__ADS_1
Kemudian Syahla merapikan penampilannya secara keseluruhan di depan kaca. Kecupan singkat yang berujung ciuman maut tadi membuat jilbab Syahla jadi sedikit berantakan.
“Sepertinya mulai besok aku harus siap lipstik dan bedak di saku baju nih!” gumam Syahla yang kemudian melangkahkan kakinya keluar kamar mandi.
Syahla pun kembali ke ruangannya dan mengambil daftar pasien yang harus ia kunjungi jam ini untuk pemeriksaan berkala. Selanjutnya ia pun membawa alat Kesehatan yang biasa ia pakai dan mulai menuju ke ruang pasien.
Pasien pertama yang Syahla kunjungi adalah Sarah, putri dari ustadz Bakri. Syahla pun menggunakan kesempatan ini untuk menjenguk Sarah karena kemarin ia belum sempat melihat keadaan Sarah.
“Assalamu’alaikum Sarah!” sapa Syahla saat masuk ke dalam ruangan Sarah dan melihat Sarah tengah duduk seorang diri di atas bednya.
“Wa’alaikumussalam. Kak Syahlaa!” panggil Sarah dengan mata yang berbinar saat melihat Syahla datang hendak memeriksanya.
“Alhamdulillaaah, akhirnya Sarah bisa ketemu kak Syahla. Terima kasih banyak ya kak, udah mendonorkan darah kakak untuk Sarah. Masyaa Allaah, Sarah seneng banget waktu denger ayah bilang kalo ada darah Kak Syahla yang mengalir dalam diri Sarah.”
“Sama-sama Sarah. Kakak juga sangat senang bisa membantu Sarah yang saat itu sangat membutuhkan!” balas Syahla sambil duduk di samping Sarah.
“Kak Syahla apa kabaaar?” tanya Sarah kemudian.
“Alhamdulillah baik. Harusnya kakak loh yang tanya ini sama kamu! Sarah gimana keadaannya saat ini? Masih pusing atau ada keluhan yang Sarah rasakan?”
“Alhamdulillah semakin hari semakin baik kak!” balas Sarah.
“Alhamdulillaah, kakak turut seneng dengernya. Sekarang bias kakak periksa dulu yaa!”
Syahla pun langsung memeriksa tekanan darah Sarah saat ini. Hasilnya sudah normal. Setelah mencatat perkembangan Sarah kali ini, Syahla pun menyampaikan hasilnya kepada Sarah.
“Hasilnya sudah normal dan jika sampai nanti sore tidak ada keluhan, kemungkinan Sarah sudah bisa pulang ke rumah!”
“Alhamdulillaah. Terima kasih banyak Kak Syahla. Oh iya, kakak masih mau periksa pasien yang lainnya lagi ya?” tanya Sarah.
“Iya Sarah, pagi ini kamu jadi pasien pertama Kakak. Ya udah kakak tinggal dulu yaa. Selamat istirahat!” Syahla pun berdiri dan berbalik hendak meninggalkan Sarah.
Namun Sarah memanggilnya dan membuat Langkah Syahla terhenti.
“Kak Syahla! Next time boleh gak Sarah minta waktu kak Syahla untuk ngobrol berdua?”
Syahla pun berbalik dan menganggukkan kepalanya. “Boleh dong! Nanti habis makan siang kakak datang lagi yaa!” balas Syahla.
“Makasih kak, semangat kerjanyaa!” teriak Sarah yang terdengar sangat gembira.
“Yaa Allaaah, Kak Syahla itu udah cantik, pinter, baik, lemah lembut lagi. Pantas aja Gus Faris sampai nyaris bunuh diri karena ditinggal Kak Syahla menikah!” gumam Sarah.
“Kira-kira, Gus Faris bisa gak ya move on dari Kak Syahla? Ngelirik ke aku gituh misalnya!” gumam Sarah mulai membayangkan dirinya dengan Gus Faris.
“Astaghfirullaaah! Inget Sarah! Gak boleh berharap yang terlalu tinggi. Kalau jatuh rasanya sakit!” celoteh Sarah bermonolog.
💞💞💞
Yuuuk, mana nih jempolnya buat yang setuju kalo Sarah sama Gus Faris?
__ADS_1