Terjebak Cinta Anak Ustadz

Terjebak Cinta Anak Ustadz
Kebahagian Tak Terduga


__ADS_3


Saat makan malam tiba, Kaisar pun menceritakan tentang pinangan Gus Faris terhadap Sarah. Cerita Kaisar kali ini membuat semua yang mendengarnya sangat bersyukur. Setidaknya pengganggu hubungan Syahla dan Kaisar sudah berkurang.


“Alhamdulillaah, papa senang sekali mendengarnya. Semoga niat baik mereka diberi kelancaran sampai hari H!” tutur Pak Andika.


“Aamiin!” ucap semuanya yang kini ada di ruang makan.


“Oh iya, Kaisar. Tadi papa barusan dapat telpon dari pihak rumah sakit swasta yang ada di Bali. Mereka menginginkan join dengan rumah sakit kita untuk pelayanan yang baru kamu buat.”


“Masyaa Allaah, keren sekali itu pa kalau beritanya sampai di rumah sakit Bali!” timpal Syahla.


“Alhamdulillaah! Ini serius paaa?” tanya Kaisar dengan mata yang berbinar.


“Serius laah. Masa iya papa berbohong. Hampir satu bulan ini program kamu langsung diminati berbagai rumah sakit loh Kaisar. Papa sangat bangga dengan pencapaianmu ini!” puji Pak Andika.


“Insya Allah kalau kamu makin giat, bulan depan gaji pertama plus komisi kamu bisa buat beli rumah. Kebetulan tetangga depan rumah kita lagi mau jual rumahnya. Yaaah, siapa tahu kamu berminat, nanti papa akan bantu kekurangannya!” timpal Pak Andika membuat Kaisar tampak sangat tidak percaya.


“Alhamdulillaah ya Rabb!” Kaisar langsung bakit dari kursi makan dan tersungkur menghadap kiblat untuk sujud syukur atas berita baik yang ia dengar mala mini.


Kemudian terdengar isakan Kaisar yang masih bersujud dan doa yang ia panjatkan.


“Yaa Rabb! Ini semua adalah kasih sayang-Mu yang sangat luar biasa. Betapa janji-janji Allah yang tertuang dalam AlQuran untuk siapapun yang berhijrah karena Allah benar-benar nyata adanya.”


“Ampuni dosa hamba Mu yang berlumur dosa ini Ya Rabb, yang sedari dulu lalai akan segala perintahMu!”


“Semoga ini semua adalah pintu gerbang agar hamba bisa lebih dekat lagi denganMu dan terus berada dalam jalan lurus yang Engkau ridhoi!”


Semua yang mendengar doa Kaisar pun turut terharu, begitu juga dengan Syahla yang tak mampu menahan air matanya yang mulai mengantong di pelupuk mata.

__ADS_1


Setelah bangun dari sujudnya, Kaisar pun langsung memeluk papanya dengan sangat erat. “Terima kasih banyak informasinya pa! Kaisar sangat Bahagia mendengarnya. Insya Allah Kaisar akan terus semangat untuk memajukan rumah sakit yang papa bangun dengan segala jerih upaya papa!”


“Sama-sama nak! Papa juga sangat bersyukur melihat hasil kerja kamu yang sangat luar biasa. Padahal baru bergabung hampir satu bulan di sana!”


“Mirza juga sangat bangga dengan jerih payah Mas Kaisar. Sebenarnya perencanaan pelayanan rumah sakit yang brilliant ini kan udah dirancang Mas sekitar beberapa bulan yang lalu!” timpal Mirza. “Iya kan, Mas?”


“Mirza tahu loh karena diam-diam Mirza ngintipin Mas Kaisar waktu mainan laptop!”


“Oh yaaa?” tanya Pak Andika yang tampak sangat kagum. “Pantas aja langsung matang dan hasilnya sangat memuaskan!”


“Waaah, suami aku ini memang keren banget deh. Syahla jadi bangga banget punya suami kayak Mas Kaisar!” timpal Syahla.


Kini Kaisar mengendurkan pelukannya dan beralih kepada istrinya.


“Satu hal yang paling Mas syukuri adalah bertemu dengan bidadari surga yang sengaja Allah kirimkan di saat ajal hampir merenggut nyawa Mas. Terima kasih sayang!” ucap Kaisar sambil mengusap pipi Syahla.


“Masyaa Allaah, ngelihat kalian berdua ini bikin mama senyam senyum sendiri kayak nonton drama romantis. Kaisar, Syahla, kalian ke kamar gih buat istirahat.”


“Biar Syahla aja mala mini yang cuci piring, Maa!” ucap Syahla yang merasa kasihan terhadap adik iparnya itu.


“Gak usah Kak Syahla. Biar Mirza aja yang cuci piring, gak papa kok! Asal nanti Mas Kaisar jangan lupa tip untuk cuci piring Mirza yaa!” timpal Mirza sambil mengumpulkan piring kotor di atas meja makan.


“Boleh! Kalau Mirza mau, nanti motor kesayangan Mas itu buat Mirza aja gak papa!” balas Kaisar.


“Haaah?! Serius Mas! Motor keren itu boleh buat Mirza?!” pekik Mirza kegirangan.


“Serius lah! Nanti habis cuci piring, ambil aja kuncinya. Nanti akan mas gantung di paku depan kamar.”


Mirza langsung mengikuti gaya Kaisar tadi. Tersungkur menghadap kiblat untuk sujud syukur.

__ADS_1


“Alhamdulillaah Yaa Rabb! Mirza seneng sekali dapat rezeki dari Allah lewat Mas Kaisar. Semoga Engkau melihat kebaikan Mas Kaisar malam ini!”


“Jagalah dia bersama istrinya dalam penjagaanMu Ya Allah. Buatlah mereka terus merasa Bahagia seperti tengah berada dalam surgaMu, dan semoga Kak Syahla juga cepat mendapatkan Amanah berupa janin yang nantinya tumbuh dengan sehat. Agar Mirza kelak memiliki keponakan yang lucu!”


“Aamiin Yaa Allaah!” ucap Kaisar, Syahla, Pak Andika, dan juga Bu Ina secara serentak.


“Aamiin yaa Rabbal ’Alamiin!” Mirza pun bangun dari sujudnya sambil mengusap kedua tangannya di muka.


“Semangat cuci piring!” ucap Mirza sambil menarik tangannya yang mengepal ke atas.


Semuanya hanya terkekeh melihat kelucuan Mirza. Mansion keluarga Pak Andika kini benar-benar terasa sangat hangat. Kaisar pun langsung merangkul istrinya dan mengajaknya ke kamar.


Begitu juga dengan Pak Andika yang langsung menggandeng tangan istrinya menuju ke kamar mereka. Sedangkan Mirza sendiri masih bersenandung sambil mencuci piring, ditemani oleh bibik yang masih menghangatkan sisa sayur dan lauk mala mini.


“Nanti biar bibik aja yang cuci piring , udah sana kamu balik ke kamar!” ucap bibik.


“Gak perlu bik! Ini udah jadi tugas Mirza. Kan syusyaah ntar kalo motor sport keren itu nanti dikasihkan ke bibik. Yang ada nanti bibik malah capek dorong-dorong motor. Bibik kan gak bisa naik motor Mas Kaisar!” timpal Mirza yang sedang diselimuti rasa Bahagia.


“Motornya mah buat Mirza aja gak papa, bibik uang bensinnya!” timpalnya sambil bercanda.


“Alhamdulillah yaaa, keluarga ini makin hangat dan harmonis. Bibik makin betah deh kerja di sini!”


“Bener banget bik! Mirza aja jadi makin betah dan gak rela kalo Mas Kaisar sama Kak Syahla pindah rumah. Nanti malah sepi.”


Di saat Mirza tengah mengobrol dengan Mirza, Kaisar kini tengah didampingi oleh Syahla untuk mengecek email permintaan kerja sama dari rumah sakit swasta yang ada di Bali.


“Haah?! Mereka ingin mempelajari pelayanan ini selama satu bulan penuh?” gumam Kaisar yang sangat terkejut dengan email permintaan tersebut.


Biaya yang ditawarkan memang begitu besar, namun satu bulan berada di Bali bukanlah waktu yang sebentar. Syahla sendiri langsung duduk terpaku saat melihat surat kerja sama tersebut.

__ADS_1


Galau? Tentu saja Syahla sangat galau. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya jika ia terpisah jauh dari Kaisar.


__ADS_2