Terjebak Cinta Anak Ustadz

Terjebak Cinta Anak Ustadz
Lunch


__ADS_3


Tepat jam 12 siang waktu jam istirahat kerja, pesan singkat dari Kaisar masuk ke dalam ponsel Syahla dimana Kaisar sudah memesan makan siang untuk mereka berdua dan tinggal menunggu kedatangan Syahla.


Tanpa membuang waktu, Syahla pun memenuhi panggilan suaminya. Ia pun menutup semua buku laporan pasien yang tengah ia pegang dan bergegas menuju ke ruangan Kaisar.


“Assalamu’alaikum!” ucap Syahla sambil mengetuk pintu ruangan suaminya.


“Wa’alaikumussalam cintaa!” balas Kaisar sambil membukakan pintu untuk Syahla.


Syahla pun langsung masuk ke dalam dan seperti biasanya, Kaisar langsung mengunci pintu ruangannya dan mempersilahkan istrinya duduk di sofa.


Di atas meja tampak dua porsi makan siang yang sudah dipesankan Kaisar di kantin rumah sakit untuk mereka berdua. Nasi, sayur sop, ayam goreng, dan sambal sudah begitu menggugah selera makan Syahla.


Menu sederhana namun sangat luar biasa bagi Syahla dan juga Kaisar karena mereka berdua memang tidak suka mubadzir makanan.


“Mau Syahla suapi, Mas?” tawar Syahla membuat Kaisar cepat-cepat menganggukkan kepalanya.


“Mau banget dong sayang!” Kaisar langsung duduk di samping istrinya dan membuka mulutnya.


“Aaaak!” pinta Kaisar membuat senyum Syahla terlukis sambil menyuapi Kaisar.


“Gimana meetingnya tadi?” tanya Syahla sambil menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri.


“Alhamdulillah lancar, sayang! Makasih banyak yaa supportnya. Mas jadi makin percaya diri buat melangkah ke depan. Dari lima perwakilan rumah sakit yang hadir, tiga diantaranya siap bekerja sama dengan rumah sakit Ibnu Sina.”


“Sedangkan dua rumah sakit yang lainnya belum tertarik untuk ikut kerja sama!” jelas Kaisar.


“Alhamdulillaah, suamiku keren banget hari ini!” puji Syahla sambil kembali menyuapi suaminya. “Baru pertama kali meeting aja hasilnya udah luar biasa loh itu, Mas!”


“Kaisar langsung tersipu mendengar pujian istrinya. Ia pun langsung menggenggam tangan Syahla dengan erat. “Ini juga berkat istriku tercinta. Makasih banyak ya sayang!”


Kaisar langsung mengecup punggung tangan istrinya dengan sangat mesra.


“Sama-sama, mas! Yang jelas semuanya hanya karena pertolongan Allaah!” timpal Syahla.


“Bener banget! Mas benar-benar sangat bersyukur, sayang! Kehidupan Mas sekarang benar-benar lebih baik dan bermanfaat dari yang dulu!”


“Mas sendiri gak pernah nyangka sebelumnya kalau akan dipertemukan dengan bidadari secantik Syahla.”

__ADS_1


“Mulai gombal deh Mas Kaisar nih. Masih siang loh padahal!” timpal Syahla. “Oh iya mas, Syahla gak bisa lama-lama ya di sini. Soalnya tadi Syahla ada janji sama pasien.”


Kaisar langsung mengernyitkan dahinya, “Cowok apa cewek?” tanya Kaisar dengan mode cemburu.


“Cewek lah mas! Masa’ iya sih Syahla janjian sama cowok lain di saat udah punya suami setampan Mas Kaisar!” timpal Syahla yang mulai ketularan suaminya yang biasa menggombal.


“Masyaa Allaah, istri mas jadi pinter ngegombal juga nih ya!” Kaisar langsung melingkarkan tangannya di pinggang Syahla.


“Kalo lagi gak kerja, udah mas angkat bawa masuk ke kamar nih! Gemesin banget sih kamu ini!”


Syahla langsung terkekeh pelan. “Emang mau dibawa ke kamar mana? Ruangan Mas Kaisar kan gak ada kamarnya!” balas Syahla dengan nada sedikit menantang.


“Kamar VIP Pasien dong!” balas Kaisar sambil tertawa. “Tapi bukan untuk diperiksa, melainkan untuk praktek bikin baby!” bisik Kaisar membuat Syahla seketika meremang.


“Ehmm! Masih siang ini malah ngomongin ngaco begitu sih!”


Syahla langsung membereskan bekas makan mereka berdua sambil mencuci tangannya di wastafel. “Mana boleh praktek bikin baby di kamar VIP Pasien!” lanjut Syahla.


Kaisar langsung beranjak dari tempat duduknya dan mendekati istrinya yang sedang mencuci tangannya. Kemudian Kaisar pun langsung memeluk Syahla dari belakang.


“Kalo gitu kita praktek di sini aja sayang! Gimana? Kan ada sofa empuk tuh!”tawar Kaisar sambil mengecup pipi istrinya.


“Coba ulangi lagi, sayang!” pinta Kaisar yang sangat senang saat mendengar Syahla memanggilnya ‘sayang’.


 “Emm, yang mana?” tanya Syahla pura-pura lupa.


“Panggil mas dengan sebutan sayang lagi!” pinta Kaisar.


“I love you, sayang!” jawab Syahla sambil mencipratkan tangannya yang masih basah ke wajah Kaisar.


Kaisar pun langsung menyapu wajahnya yang basah karena ulah Syahla dan kesempatan ini digunakan Syahla untuk keluar dari ruangan suaminya.


“Makasih ya sayang makan siangnya! Syahla balik kerja dulu!” ucap Syahla sambil melambaikan tangannya ke arah Kaisar.


Kaisar pun hanya bisa menghela nafasnya panjang melihat istrinya pergi.


“Syahla … Syahla …! Huuuh! Kenapa makin hari semakin menggemaskan saja sih?” Kaisar menyugar rambutnya sambil melangkahkan kakinya ke luar ruangan.


“Sepertinya aku harus meminta waktu cuti dengan papa untuk berbulan madu. Aku benar-benar butuh waktu untuk memanjakan istriku dalam waktu yang lama. Yah, mungkin seminggu cukup lah untuk waktu dekat ini!” gumam Kaisar menuju ke ruangan Pak Andika.

__ADS_1


☘️☘️☘️


“Minta waktu cuti satu minggu?” tanya Pak Andika yang tampak terkejut dengan permintaan putranya.


“Kemarin kamu udah cuti tiga hari loh Kaisar, waktu acara pernikahan kamu! Bukannya papa gak ngebolehin, tapi perencanaan yang kamu usulkan baru saja berjalan dan itu belum ada satu bulan. Apa jadinya jika terus menerus ditinggal cuti?”


“Meskipun kamu anak papa, prosedur dan peraturan di rumah sakit tetap harus kamu jalankan dengan baik dan sesuai!”


“Maaf pa! Kaisar harusnya tidak bersikap egois seperti ini!” ucap Kaisar yang langsung sadar diri jika saat ini ia tengah bekerja di ranah pelayanan masyarakat.


“Kaisar akan atur kembali waktu Kaisar untuk berduaan dengan Syahla. Kalau gitu Kaisar pamit balik ke ruang kerja lagi ya pa!”


Kaisar pun langsung undur diri dari hadapan Pak Andika, namun Pak Andika mencegah Kaisar untuk tidak langsung pergi.


“Tunggu Kaisar! Duduklah dulu!” pinta Pak Andika.


Kaisar pun menurut dan langsung duduk seperti semula.


“Papa juga pernah muda, sama sepertimu, Nak! Mendambakan bulan madu, libur panjang dengan keluarga, bahkan sampai sekarang papa juga masih berharap untuk bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan kalian di rumah!”


“Namun, di sini banyak orang sakit yang lebih membutuhkan kita. Banyak nyawa yang harus diselamatkan yang tentunya bisa melayang kapan pun tanpa mengenal waktu.”


“Dari situ papa berfikir, lebih baik kita meninggalkan keluarga sebentar saja asal mereka sehat dan baik-baik saja. Dari pada papa harus melihat banyak pasien yang meninggal dunia hanya karena kurang tanggapnya kita dalam memberikan pertolongan!”


“Iya pa. Terima kasih sudah mengingatkan Kaisar dengan cara yang baik. Alhamdulillah Kaisar paham dan bisa menerima semua ini. Insya Allah, Kaisar siap berjuang mendampingi papa di sini!” ucap Kaisar membuat Pak Andika terharu.


Pak Andika pun langsung berdiri dan memeluk putranya dengan sangat erat.


“Alhamdulillaah Yaa Rabb, Terima kasih banyak telah memberikan putra yang sholih seperti ini!” ucap Pak Andika.


“Maafkan papa, Kaisar!”


“Papa tidak salah sedikit pun! Terima kasih karena sudah mengingatkan Kaisar dan memberikan contoh yang baik untuk Kaisar.” Kaisar pun mengendurkan pelukannya.


“Kalo gitu, Kaisar balik ke ruangan dulu ya pa!” pamit Kaisar.


“Oke, selamat bekerja kembali Kaisar!” balas Pak Andika.


Kaisar pun langsung melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan papanya. Tidak ada rasa kecewa sedikit pun dalam hati, yang ada hanya rasa kagum terhadap dedikasi papanya sebagai pemimpin rumah sakit, sekaligus dokter spesialis anak.    

__ADS_1


__ADS_2