
“Mas, kita naik motor besar ini?” tanya Syahla sambil menunjuk ke arah motor Kaisar.
“Iya sayang. Gak papa kan?” balas Kaisar balik bertanya. “Toh Syahla juga pakai celana kok!”
Syahla menggosok hidungnya pelan, “Tapi Syahla belum pernah naik kayak beginian, Mas. Syahla takut jatuh!” ucap Syahla membuat Kaisar terkekeh pelan.
Ia pun mulai naik ke atas motor kesayangannya dan menyalakan mesin motornya. “Gak akan jatuh sayang! Mas janji pasti akan aman terkendali!”
“Yuk naik, terus kita pulang ke rumah!” ajak Kaisar. Dengan hati-hati pun Syahla naik ke atas motor Kaisar.
Laura yang melihat Syahla membonceng Kaisar hanya bisa menitikkan air matanya. Kali ini ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Terlebih jika nanti hasil tes miliknya positif mengkonsumsi narkoba.
“Kali ini kita apes banget!” gerutu Laura mendengus kesal.
“Ini juga karena kebodohan kamu, Lau!” balas Fera dengan geram. “Aku tahu persis kalo tadi kamu berharap buat diselamatkan sama Kaisar!”
“Itu harapan yang wajar, Fera! Kamu juga akan seperti itu jika kamu ada di posisi aku!” gertak Laura kesal.
Plak! Fera langsung mendaratkan tamparannya di pipi Laura. “Aku tidak akan berbuat bodoh sepertimu sampai menyebabkan salah satu sahabatku meninggal dunia. Kau benar-benar pembunuh, Laura!”
“Yaa! Kau memang pembunuh, Laura! Jika besok polisi meminta persaksian kepada kita, maka aku adalah orang kedua yang bersaksi jika kau sengaja membunuh Noval setelah Fera!” ucap Aldo sambil memandang tidak suka ke arah Laura.
“Kami pun sama!” ucap teman yang lainnya.
Satu per satu hasil tes urine mereka pun keluar dan semuanya dinyatakan positif menggunakan narkoba. Akhirnya mereka semua harus mendekam di dalam bui sambil menunggu kedatangan orang tua mereka.
Sedangkan Berita Acara Polisi tentang kecelakaan Noval akan mulai dipertanyakan dengan mereka besok pagi.
🍄🍄🍄
Sedangkan Kaisar dan Syahla kini mulai membelah jalanan kota senja ini. Kumandang suara adzan maghrib membuat Kaisar langsung membelokkan sepeda motornya ke arah masjid.
“Kita mampir sholat dulu terus lanjut cari makan ya sayang!” tutur Kaisar yang tentunya langsung disetujui oleh Syahla.
Keduanya pun turun dari motor dan bergegas masuk ke dalam masjid untuk menunaikan sholat maghrib. Selepas itu mereka berdua memilih untuk duduk – duduk di teras masjid.
__ADS_1
“Besok Mas Kaisar masih harus balik ke kantor polisi ya?” tanya Syahla.
“Ya, sebagai saksi laka lantas yang menyebabkan kematian Noval.”
Kaisar menghela nafasnya panjang. “Semuanya jauh dari rencana, sayang. Entah apa yang sudah Allah rencanakan, yang jelas itu pasti lebih baik! Emmm, Mas rasa sih karena ada hati yang tidak rela mas kembali terjun ke lintasan. Apa benar begitu Syahla?”
“Mas, tidak ada istri yang rela suaminya dalam bahaya! Kecuali istri yang sudah gila!” balas Syahla datar namun membuat hati Kaisar sangat berbunga-bunga.
“Masyaa Allaah, Syahlaa. Kenapa semua tutur katamu membuat Mas sangat bahagiaa?”
“Kita pulang aja yuk, makan malam di rumah. Mas gak sabar pingin manjain istri kesayangan mas!”
Kaisar langsung menggenggam tangan istrinya dan menariknya ke motor yang terparkir di depan Masjid. Sedangkan Syahla tidak bisa mengelak sama sekali dan terus mengikuti Langkah Kaisar.
Kini keduanya sudah sama-sama di atas motor sport Kaisar, namun Kaisar tidak kunjung menjalankan motornya.
“Mas!” panggil Syahla. “Kok belum dijalani motornya?”
“Pegangan dulu dong!” pinta Kaisar.
Syahla pun langsung memegang ujung jaket yang dikenakan oleh Kaisar. “Udah!” balas Syahla.
Kaisar pun kemudian menjalankan motornya pelan, namun baru keluar dari gerbang masjid, ia kembali menepikan motornya dan berhenti lagi.
“Mas boleh gak minta dipeluk sama istri sendiri?”
Deg! Pertanyaan Kaisar kali ini membuat jantung Syahla seketika bertalu-talu.
“Malu dong Mas. Kalo meluk suami kan di kamar, bukan di jalan besar kayak gini!” balas Syahla.
“Okey, nanti sampai kamar Mas langsung tagih janji Syahla ya!”
Kaisar langsung menarik gas dan menjalankan motornya cukup kencang. Hal ini tentunya membuat Syahla sangat ketakutan sampai tangannya refleks memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat.
Pelukan Syahla membuat Kaisar menyunggingkan senyumannya sambil memandang istrinya dari kaca spion motornya.
“Jangan ngebut maaas! Syahlaa takuut!” teriak Syahla.
“Mas akan pelanin lajunya tapi dengan syarat, Syahla gak boleh lepasin pelukannya. Gimana?” balas Kaisar.
__ADS_1
“Iya Mas, Syahla gak akan lepasin!” balas Syahla.
Kaisar pun mulai memelankan laju motornya dan sesuai janjinya, Syahla benar-benar tidak melepaskan pelukannya sedikit pun. Bahkan Syahla justru menyandarkan kepalanya dengan nyaman di punggung Kaisar membuat Kaisar tersenyum penuh kemenangan.
“Kamu tahu gak, sayang? Ini pertama kalinya Mas naik motor dengan jantung yang berdebar-debar tidak karuan.”
“Gak usah komentar deh!” balas Syahla.
Tanpa mereka berdua sadari, saat melintas di depan pesantren An-Naja ada sepasang mata yang melihat kemesraan mereka berdua. Siapa lagi jika bukan Gus Faris yang baru saja selesai menjalankan ibadah sholat maghrib di masjid.
“Astaghfirullaah! Kenapa Syahla jadi berubah lebay seperti ini? Mempertontonkan kemesraan mereka di depan umum.”
“Ck, keterlaluan! Aku harus memberitahukan hal ini dengan ustadz Rizqi agar ia turun tangan untuk menasehati Syahla dengan Afkara!” gerutu Gus Faris sambil menahan rasa kesalnya.
Plak!
Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk punggungnya dari belakang.
“Wajar jika mereka berdua terlihat mesra seperti itu, Faris! Syahla memeluk Afkara agar tidak jatuh dari motornya. Lagi pula yang mereka lakukan adalah hal yang halal, tidak dilarang oleh agama!”
“Kecuali jika Syahla seperti itu saat membonceng motor denganmu, Itu baru dilarang keras dalam agama!” jelas Kyai Badrun menasehati putranya.
Gus Faris hanya bisa mengusap wajahnya kasar. “Tapi itu sangat menyakitkan!”
“Kalau cemburu, kamu bisa kok menyusul Syahla untuk menikah. Bukankah santri putri di sini juga banyak yang tidak kalah cantik dengan Syahla?” timpal Kyai Badrun membuat Gus Faris hanya menghela nafasnya panjang.
“Faris masih menginginkan Syahla!” balas Gus Faris pelan sambil melangkahkan kakinya pulang.
Dirinya masih dalam kebimbangan, di sisi lain ia ingin mengikhlaskan Syahla untuk Afkara. Namun di sisi lain hatinya juga masih sangat ingin memiliki Syahla.
“Andai saja dalam agama memperbolehkan perempuan memiliki dua suami!” gumam Gus Faris berandai-andai.
“Astaghfirullaah! Jangan gila kamu Faris!” gertak Kyai Badrun sambil memukul putranya yang seketika membuat Gus Faris tersadar dari lamunannya.
“Astaghfirullaah, iya yah, Maaf-maaf!” tutur Gus Faris.
“Kamu ini lama-lama harus diruqyah biar gak makin gila!”
“Jangan dong yah!” balas Gus Faris. “Kayak orang lagi kesurupan aja!”
__ADS_1
“Lah, kamu kan emang lagi kesurupan jin edyan!” balas Kyai Badrun. “Kalau kamu memang gak bisa berubah dan berusaha melupakan Syahla, mau tidak mau ayah harus mandikan kamu pake kembang tujuh rupa!”
“Jangan dong yah! Faris janji akan berubah kok!” balas Gus Faris.