
Gus Faris benar-benar menyusul Sarah di perpustakaan. Namun sesampainya di sana, ia tidak langsung mendekati Sarah.
Gus Faris sengaja duduk sedikit lebih jauh dan melanjutkan mengoreksi hasil kerja siswa sambil memperhatikan Sarah.
Sarah tampak sangat fokus pada tugasnya dan tidak menyadari jika ada sepasang mata yang saat ini tengah memperhatikannya. Gayanya simple seperti santri pada umumnya.
Wajahnya juga hanya dipoles bedak tipis yang tentunya tidak menor untuk anak sekolah sepertinya. Bibirnya juga cukup diberi lip balm agar terlihat lembab dan tidak kering.
‘Dia memang berbeda, gayanya yang simple membuatnya terlihat menawan untuk gadis di usianya!’ gumam Gus Faris dalam hati yang diam-diam memperhatikan Sarah dari kejauhan.
‘Aku mungkin sudah mulai ada perasaan khusus untuknya. Entahlah kenapa dia benar-benar bisa membuatku tertarik dengannya dan perlahan melupakan Syahla.’
‘Tapi bagaimana dengannya? Apa dia juga mencintaiku? Sikapnya juga tampak sangat biasa saat berdekatan denganku!’ batin Gus Faris.
Sarah yang sudah selesai menyalin satu mata pelajaran dari buku Ning Fara kini mulai mengulet meregangkan ototnya. Tanpa sengaja matanya bertatapan dengan Gus Faris yang sedari memperhatikannya.
Senyumnya langsung merekah sempurna membuat Gus Faris tersadar tengah terciduk memperhatikannya. Gus Faris pun cepat-cepat memalingkan pandangannya ke kertas tugas muridnya yang tengah ia koreksi.
Sedangkan Sarah kini menutup bukunya dan kemudian berjalan mendekat ke arah Gus Faris. Kemudian ia menarik kursi tepat di samping Gus Faris dan mengamatinya lekat-lekat.
“Gus, udah mulai ada rasa ya sama Sarah?” tanya Sarah.
“Gak usah Ge-Er deh kamu! Udah sana lanjutin aja belajarnya!” usir Gus Faris sambil mengabaikan Sarah.
“Sarah mau nyalin di sini aja deh biar deket sama calon suami!” ucap Sarah membuat petugas penjaga perpustakaan sangat terkejut mendengarnya.
“Haaaah? Sarah mau nikah sama Gus Faris?” tanya Ustadzah Nila sambil mendekat ke arah mereka.
“Nggak!!” “Iyaa!!”
Gus Faris dan Sarah menjawab dengan jawaban berbeda membuat Ustadzah Nila bingung harus percaya yang mana. Sedangkan Sarah sendiri langsung mengerutkan dahinya sambil menatap ke arah Gus Faris.
“Kenapa bohong sih Gus?” tanya Sarah dengan tatapan tidak suka.
“Emmm, maaf saya ada kelas!” ucap Gus Faris yang kemudian membereskan tumpukan kertas yang ada di hadapannya dan membawanya pergi.
Sedangkan Sarah dan Ustadzah Nila hanya bisa memandangi punggung Gus Faris yang berjalan menjauh keluar dari perpustakaan. Kini tinggal mereka berdua yang ada di sana dan saling melemparkan pandang.
“Saya tahu kamu itu putri ustadz Bakri yang sudah menyelamatkan nyawa Gus Faris dari kecelakaan maut. Tapi bukan berarti Gus Faris harus menikahi kamu karena hutang nyawa kan Sarah?” celetuk Ustadzah Nila membuat Sarah menghela nafasnya panjang.
“Iya ustadzah!”
__ADS_1
“Lagi pula kamu itu masih belia, masa depan kamu juga masih panjang. Menikah terlalu dini bukanlah suatu cara untuk meraih kebahagiaan seseorang. Kecuali kalo kamu hamil di luar nikah!” lanjut Ustadzah Nila membuat Sarah terkejut sampai membeliakkan matanya.
“Astaghfirullah ustadzah! Parah banget ngomongnya! Sarah gak serendah itu!” timpal Sarah.
“Tapi kamu juga udah merendahkan diri kamu sendiri Sarah dengan mengakui Gus Faris sebagai calon suami kamu! Apa kamu gak kasihan membuat Gus Faris semakin merasa tertekan karena sikap agresif kamu ini?”
“Gus Faris baru saja merasakan patah hati karena ditinggal Syahla menikah dengan laki-laki lain, sekarang kamu justru datang dengan membuat hati Gus Faris semakin tertekan!”
“Ini Namanya sama aja dengan menikam sebilah pisau tajam ke ulu hati Gus Faris dan membunuhnya secara perlahan!”
Ucapan Ustadzah Nila kali ini membuat Sarah mengepalkan tangannya di bawah meja. Justru saat ini ia merasa jika Ustadzah Nila telah menikam hatinya dengan pisau tersebut. Sakit dan perih sampai membuat dadanya terasa begitu sesak.
Namun Sarah sekuat hati tidak memperlihatkan kemarahannya terhadap ustadzah Nila demi menghormati guru. Perlahan Sarah menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya.
“Oooh, terima kasih banyak nasihatnya Ustadzah!” ucap Sarah sambil merekahkan senyumannya dengan terpaksa. “Jangan-jangan ustadzah juga menaruh perasaan khusus dengan Gus Faris juga ya?” tembak Sarah.
“Yaaah, kamu lihat sendiri aja lah Sarah! Antara kamu dengan saya, sudah terlihat jelas jika saya ini lebih matang. Ustadzah kepercayaan Bu Nyai yang lebih pantas bersanding dengan putranya.”
“Tapi Sarah lihat wajah ustadzah justru terlihat terlalu tua untuk bersanding dengan Gus Faris!” timpal Sarah membuat Ustadzah Nila tidak suka mendengarnya.
Sarah seketika tersadar jika ucapannya sudah menyinggung perasaan ustadzahnya. Ia pun cepat-cepat berkilah agar ustadzah killer yang satu ini tidak naik pitam terhadapnya.
“Tapi jika ustadzah sedikit memakai blush on, wajah ustadzah langsung terlihat muda dan merona seperti khumairah!” lanjut Sarah.
“Serius kamu?” tanya Ustadzah Nila yang langsung dijawab Sarah dengan anggukan kepalanya.
“Setius banget lah, Ustadzah! Coba aja kalo gak percaya. Tapi hati-hati yaa!” balas Sarah sambil menggantung kalimatnya.
“Kenapa?”
“Hati-hati kalau nanti kecantikan Ustadzah justru menarik banyak pria, apalagi ustadz-ustadz yang sudah beristri!” timpal Sarah sambil beranjak dari tempat duduknya dan kembali ke posisinya yang awal.
Mendengar ucapan Sarah kali ini membuat Ustadzah Nila senyam senyum sendiri.
Sedangkan di sisi lain Sarah justru termenung sambil kembali membuka buku catatannya.
'Ternyata Gus Faris masih belum bisa move on dari Kak Syahla. Bahkan tadi dia sampai tidak mau mengakui jika sebentar lagi kita akan menikah di depan Ustadzah Nila!' gumam Sarah dalam hati.
'Haish, biarkan sajalah. Bukannya cinta akan mengalir dengan sendirinya!' batin Sarah.
'Kalo pun Gus Faris nantinya emang belum bisa move on, relakan saja kalo memang harus berpisah. Yang penting aku sudah berusaha!'
Sarah menarik nafasnya dalam-dalam.
__ADS_1
'Gak boleh baper Sarah! Jalani dengan santai! Live must be go on!'
Sarah kembali fokus dengan mempelajari pelajarannya yang sudah tertinggal.
Sedangkan Ustadzah Nila langsung memakai blush on di pipi dan matanya kemudian menambahkan sedikit lipstik di bibirnya.
Kemudian ia berjalan mendekati Sarah yang sudah kembali fokus dengan catatannya.
"Sarah!" panggil Ustadzah Nila.
"Hemm!" jawab Sarah tanpa memalingkan sedikit pun buku catatannya.
"Coba kasih penilaian sedikit deh buat Ustadzah!" pinta Ustadzah Nila.
Sarah menghela nafasnya panjang dan mengalihkan pandangannya ke Ustadzah Nila yang sudah duduk di hadapannya.
"Astaghfirullahal'adziim!" pekik Sarah tang tampak sangat terkejut dengan penampilan Ustadzah nya itu.
Pipinya bukan lagi kemerah-merahan, melainkan merah menyala karena Ustadzah Nila mengusap kan blush on cukup tebal.
Bibirnya juga merah menyala seperti orang yang baru minum darah segar. Kelopak matanya justru tampak seperti orang yang baru saja terkena bogem mentah.
"Kali ini Sarah gak boleh bohong dan harus bilang jujur sama Ustadzah!" ucap Sarah membuat Ustadzah Nila tampak tak sabar mendengarnya.
"Harus jujur dong! Kan kalo bohong jadinya malah dosa!" timpal Ustadzah Nila.
Dandanan Ustadzah Nila mirip banget sama ondel-ondel atau badut pesta. Gak bagus banget!" ucap Sarah membuat Ustadzah Nila membelikan matanya tidak percaya.
"Masa sih, perasaan udah menawan dan mempesona gini!" kilahnya tidak terima.
Sarah pun mengambil kaca di saku seragamnya.
"Coba Ustadzah ngaca bener-bener deh!" pinta Sarah yang langsung dituruti dengan Ustadzah Nila.
"Bagus kok Sarah, emang mananya yang kayak ondel-ondel?" balasnya.
"Ya udah deh kalo menurut Ustadzah bagus lanjutkan aja! Cuma jangan marah kalo pas Ustadzah keluar dari perpustakaan trus jadi bahan tertawan anak-anak satu sekolah!"
Ustadzah Nila pun langsung menggelengkan kepala. "Gak mau deh kalo gituh. Ya udah, menurut kamu kira-kira gimana deh make up yang cakep?"
"Huuuuh! Ini mah nambahin kerjaan Sarah jadinya!" gerutu Sarah. Ya udah, yuk ke kamar mandi. Biar Sarah ajarin!"
Keduanya pun kini berjalan menuju ke kamar mandi untuk trial make up yang tidak seperti ondel-ondel.
__ADS_1