TERJEBAK CINTA META

TERJEBAK CINTA META
sebenarnya.... aku....


__ADS_3

Meta masih berusaha menghubungi sopirnya, sebentar lagi hpnya lowbatt dan dia masih saja menunggu kabar dari sopirnya atau juga mamanya. Hari sudah semakin sore, bahkan mendung di langit siap meneteskan rintik hujan. Berkali-kali meta mencoba menghubungi, kali ini dia mencoba menelpon mamanya.


"Halo ma....aku...."


Tut...Tut. Tut ..panggilan terputus dan benar saja hpnya sudah kehabisan baterai.


Rintik hujan sudah mulai turun, meta berjalan mencari angkutan umum. Karna kalau dia menunggu angkutan umum di depan sekolah bisa-bisa sampai malam dia gak bisa pulang karena sekolahnya jarang ada angkutan umum. Hujan semakin deras dan meta masih belum mendapat taxi ataupun ojek ataupun angkutan lain.


Meta sudah basah kuyub bahkan mungkin isi tasnya juga sudah basah. Dalam perjalanan pikiran meta terbayang tentang Rendi yang mengantarkan Anisa tadi, seolah menyesali kalo tadi dia membiarkan Rendi berduaan dengan adik kelasnya itu.


Meta berteduh di halte terdekat, dia sudah menggigil kedinginan karna seluruh badannya basah kuyub. Meta masih menunggu angkutan yang bisa dia naiki.


Tin...tin...tin....sesaat ada motor yang menepi di depan halte.


"Meta, kami ngapain hujan-hujanan di situ?"


Meta masih menyilangkan tangannya merasakan kedinginan. Meta memandang ke depan siapa yang memanggilnya.


"Eh kamu Van, iya aku nunggu angkutan ni, dari tadi aku kehujanan!"


Ternyata orang itu adalah Devan, Devan turun dari motor dan menghampiri meta.


"Aku anter kamu pulang ya, nanti kamu masuk angin kalo kehujanan kayak gini!emangnya sopir kamu gak jemput tadi?Ini pake jas hujan aku biar kamu gak kehujanan!"


Devan pun melepas jas hujan yang dia kenakan tadi, memberikannya pada meta.


"Gak usah Van, nanti ngrepotin kamu lagi!"


"Ya ampun met udah berapa kali aku bilang kamu tuh gak usah sungkan minta tolong sama aku!Sekarang kamu pakai jas hujan aku ya, terus aku anter pulang, nanti kamu keburu masuk angin!"


"Makasih ya Van....tapi kamu gimana nanti kamu kehujanan kalo jas hujannya aku pakai"


"Udahlah gak papa...yang penting kamu gak kedinginan dan kehujanan."


Meta pun memakai jas hujan Devan, dan kemudian membonceng Devan.


Sejenak meta berpikir kenapa harus Devan yang mengantarkanku pulang, sedangkan Rendi justru pergi dengan cewek lain. Tiba-tiba meta merasa kesal jika mengingat kejadian tadi kenapa dia mengijinkan Rendi buat nganterin Anisa.


"Met udah sampe."


Meta pun terbangun dari lamunannya, tersadar ternyata dia sudah sampai di depan rumah.


"Eh iya...ayo masuk dulu Van, kasihan bajumu basah kuyub kayak gitu!"


Meta mempersilahkan Devan masuk dan duduk di ruang tamu.


"Bentar ya Van aku mandi dan ganti baju dulu, nanti biar aku suruh bibi bikinin minum sama nyariin kaos buat ganti bajumu yang basah!'


"Oh iya, makasih ya met!"


"Sama-sama...ya udah aku masuk dulu ya."


Hujan sudah berhenti, meta pun sudah mandi dan segera menemui Devan di ruang tamu.

__ADS_1


"Eh Van gimana udah kamu ganti bajumu."


"Iya udah nih....makasih ya baju dan minumannya!"


"Iyah, santuy aja sih justru aku yang harusnya terimakasih kamu udah mau nganter aku, hujan-hujanan kayak gini lagi!"


"Buat kamu apa sih yang nggak!" kata Devan lirih.


"Hm....m...apa Van aku gak denger kamu ngomong apa?"


"Nggak, gak papa kok! biasanya kamu dijemput tumben tadi nungguin angkutan umum!"


"Gak tahu tuh sopirku kemana, pas aku mau telpon mama eh malah hpku lowbatt. Alhasil aku hujan-hujanan gitu di halte. Kayaknya aku harus belajar naik motor kali ya, biar aku bisa berangkat sekolah sendiri pake motor, jadi gak usah nungguin jemputan!"


"Kamu mau aku ajarin motor!"


"Hehehe...takut....!"


"Nanti aku jagain...!"


"Kapan-kapan aja deh Van kalo udah punya keberanian!"


"Ya udah deh... kapan-kapan kalo kamu mau diajarin motor kamu bilang aja ke aku!"


"Siap!!"


"Eh met, kayaknya hujannya udah reda deh lagian udah mau malem juga, aku pamit pulang ya!"


Meta mengantarkan Devan sampai di depan rumah.


"Met...."


Devan tiba-tiba berhenti berjalan, membalikan badan ke arah meta.


"Iya....kenapa Van?"


"Mmmm itu."


"Hah....ada apa sihVan?"


"Eh gak jadi ding!"


Devan kembali berjalan ke arah motor lagi.


"Aku pulang dulu ya met!" kata Devan yang sebenarnya ingin mengutarakan sesuatu.


"Okey hati-hati ya!"


Meta membalikan badan hendak berjalan masuk rumah.


"Eh met....!"


"iya van?ada yang ketinggalan!"

__ADS_1


Meta menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Devan.


"Nggak sih, cuma ngomong sesuatu aja!"


"Ngomong apa?ngomong aja Van...kayak sama siapa aja pake sungkan-sungkan segala"


Devan pun melompat dari motor, menghampiri meta lagi.


"Met...aku mau ngomong sebenarnya!"


"Iya sebenarnya apa?"


"Met....sebenarnya...aku...aku..."


Tin...tin...tin....belum sempat Devan ngomong sebuah mobil tiba di depan rumah meta. Mobil yang dia hafal betulitu mobil mamanya, meta melihat mamanya keluar dari mobil dan menghampiri mereka berdua.


"Eh met...kok temennya gak diajak masuk!" kata mama meta yang baru dateng.


"Ini juga habis dari dalem ko Tante...ini udah mau pulang...tadi cuma nganter meta aja soalnya kehujanan di jalan" kata Devan sopan.


"Oh iya ma, kenalin ini Devan temen sekelas aku, tadi dia yang nganterin aku pulang karna tadi gak ada angkutan umum, untung tadi ada Devan yang nganter pulang, kalo gak bisa-bisa malem baru sampe rumah, mana hpku lowbatt lagi!"


"Oh gitu, makasih ya nak Devan udah nganter meta pulang, maaf tadi gak sempet ngabarin kalo pak sopir mau nganter mama untuk melihat proyek. Maaf ya met!"


"Iya gak papa kok ma!"


"Kalo gitu Tante masuk dulu ya Devan, meta mama masuk dulu ya!"


"Iya silahkan Tante, ini saya juga mau pamit pulang!"


"Oh langsung mau pulang, gak mau makan malem disini dulu!"


"Makasih Tante, takut kemaleman pulangnya!" kata devan sungkan.


"Ow ya udah kalo gitu, hati-hati aja di jalan kalo mau pulang!"


"Iya Tante makasih!"


Meta melihat mamanya memasuki rumah, dia berniat menanyakan omongan Devan yang terpotong tadi.


"Eh Van, kamu tadi mau ngomong apa?sorry tadi kepotong!"


"Eh itu ngomong apa ya aku jadi lupa!"


"Huft kamu tuh belum tua udah pelupa!"


"Ya udah lain kali aja aku ngomongnya, aku pulang dulu ya met!"


"Okey, hati-hati ya!"


Devan pun menghidupkan motornya dan melajukan motornya. Dalam hati Devan menggerutu dengan dirinya sendiri.


"Devan....Devan.....kenapa tadi gak langsung ngomong aja sih!" umpat Devan dengan dirinya sendiri yang kemudian melesatkan motornya.

__ADS_1


__ADS_2