
10 menit sebelum bel masuk meta sudah sampai di sekolah. Meta melihat di mejanya ada sebuah amplop yang sudah tergeletak di situ. Tapi kali ini bukan berwarna pink seperti surat yang kemarin-kemarin dikirim kepadanya. Waktu itu kelas belum terlalu ramai Rika sahabatnya pun belum menunjukkan tanda-tanda kehadiran. Meta membuka amplop itu, ada yang berbeda dengan surat itu. Wangi surat yang itu pun berbeda dengan yang biasa dia terima. Meta mulai membaca surat itu.
Teruntuk seseorang yang selalu dinanti,
Mungkin cinta itu semu.....kenapa?Karena cahayanya hanya redup dikala melihat sinar mata kebahagiaannya bukan untukku....
Cinta memang tak seindah kenyataan karena pada dasarnya mencintai adalah merelakan orang yang kita cintai bahagia....
Memang.... cinta hanyalah kepalsuan.... berpura-pura tersenyum walau hati menangis.... berpura-pura bahagia meski itu sakit.... berpura-pura mengalah meski itu menyakitkan.....
Dimana indahnya cinta.....?
Sesunggumahnya aku hanya mengagumi kesucian cinta....
Menikmati cinta dari setiap kebahagianmu....
Menikmati senyumanmu ketika bersamanya.....
Cinta bagiku adalah melihatmu bahagia...meski harus merelakan mu dengannya.....
Meta....aku berharap kamu selalu bahagia dalam hidupmu....
Dariku,
Orang yang mencintaimu dari jauh
Meta melihat surat itu dengan seksama, merasa ada yang aneh, dia merasa kalo surat ini bukan dari Ardian. Surat dari Ardian selalu berwarna pink dengan wewangian yang berbeda, dan juga biasanya dengan terang-terangan Ardian memberi namanya di surat. Surat ini membuatnya bertanya-tanya siapa yang mengirimkan surat itu. Apa Rendi? tapi tidak mungkin, semenjak kapan Rendi bisa menulis surat puitis semacam ini.
Dari arah luar meta melihat Rika memasuki kelas sambil berlari menghampirinya. Cepat-cepat meta memasukan surat itu ke dalam tas, meta tak ingin siapa pun tahu mengenai surat itu.
"Met ....gawat.... gawat....!"kata Rika.
"Apanya yang gawat Rik? tarik nafas dulu dong biar jelas ngomongnya."
"Itu....si...Rendi ..sama....Devan....huft....."kata Rika terengah-engahmencoba mengatur nafas.
"Iya kenapa dengan Rendi dan Devan?"
"Mereka lagi berantem di parkiran sekolah....!!"
"Apa berantem?Beneran?"
"Aku gak boong....mereka tiba-tiba berantem...gak tahu masalahnya apa?"
"Anter aku ke sana rik!'
Tanpa berpikir panjang meta berlari ke parkiran dengan rika. Benar saja meta melihat kerumunan anak-anak lain yang mencoba melerai mereka berdua. Meta susah payah mencoba merangsek dalam kerumunan itu.
"Udah cukup....berhenti!!!!aku bilang berhenti gak!" teriak meta yang melihat mereka saling memukul.
Rendi dan Devan pun kaget melihat meta yang ada di situ.
Meta melihat mereka berdua sudah lebam di bagian wajah mereka, entah apa yang mereka pikirkan sampai-sampai membuat mereka berkelahi di sekolah.
__ADS_1
Meta menarik tangan Rendi yang hampir memukul Devan.
"Udah cukup rend!!!"
"Tapi met, dia duluan yang mulai!" kata Rendi membela diri.
"Apa? gue?bukannya elo yang nyamperin gue dan tiba-tiba nonjok gue, mau Lo apa sih?"
"Stop....udah cukup....!!kalian tahu gak sih ini sekolahan bukan ring tinju!lagian ngapain sih berantem-berantem kayak gini kayak anak kecil tau gak!"
"Tapi met....!"kata Rendi mencoba menjelaskan.
"Gue gak mau dengerin apa pun dari kamu!"
"Tunggu met....aku mau jelasin...!"
Meta pun pergi meninggalkan tempat itu. Saat ini dia tak ingin mendengar apa pun dari rendi. Rendi pun mengejar meta yang berlari menjauh, tapi tiba-tiba saat Rendi mengejar meta, Anisa datang menghampiri Rendi, Anisa dengan sengaja menghalangi Rendi yang hendak mengejar meta.
"Kak rendi....kok pipinya kayak gitu?kenapa?ayo aku obatin!" kata Anisa sambil memegang pipi Rendi.
Sebelum memasuki kelas Meta melihat adegan itu, adegan yang semakin membuatnya marah dengan Rendi.
"Aku gak papa kok...gue ke kelas dulu ya...!" kata Rendi yang berniat menyusul meta.
"Eh kak, ayo diobatin dulu, ayo aku anter ke UKS..nanti biar memarnya ilang!"
Anisa pun memaksa Rendi mengantar ke UKS.
Meta benar-benar merasa terbakar cemburu saat ini, melihat Rendi yang tak mengejarnya dan bahkan melihatnya bersama anisa.
"Met kamu gak papa?"
Devan mengagetkan lamunan meta, cepat-cepat dia menghapus air matanya agar tidak terlihat oleh Devan.
"Eh...Van...eng...nggak....aku...gak papa kok!mukamu lebam gitu....mau aku obatin?"
"Udah gak papa cuma luka kecil kayak gini aja kok!"
"Sebenarnya ada apa sih Van kamu berantem sama Rendi?"
"Aku gak tahu met, pas aku dateng tadi tiba-tiba dia langsung nonjok aku!"
"Kenapa Rendi bisa gitu?kenapa tiba-tiba dia langsung nonjok kamu?"
"Dia bilang aku harus jauhi kamu, cuma itu yang tadi dia ucapin ke aku!"
"Rendi bilang gitu?"
"Iya..."
Wali kelas 3 IPA 1 memasuki kelas, padahal setahu mereka bukan jam mata pelajarannya.
"Devan, kamu ikut ibu ke kantor!" kata Bu diah.
__ADS_1
"Ada apa Bu?"
"Ikut aja, gak usah banyak tanya!"
Devan pun menuju ke kantor mengikuti wali kelasnya itu.
"Loh...Devan mau kemana tuh met sama Bu Diah?"
"Aku mau ikut ke kantor dulu ya Rik, aku gak mau Devan di hukum gara-gara aku!"
"Hah... maksudnya?"
"Iya kata Devan....." tiba-tiba meta teringat kalo dia belum menceritakan kalo dia dan Rendi sudah berpacaran, dan sekarang Devan dipukul Rendi gara-gara cemburu.
"Kata Devan apa?" tanya Rika.
"Nanti aku jelasin....aku nyusul Devan dulu ya....!"
Meta hendak berlari menuju kantor, tetapi di depan kelas sudah ada guru yang mau masuk di jam pelajaran pertama. Alhasil meta pun tak diijinkan keluar kelas dan terpaksa harus mengikuti pelajaran sampai selesai. Padahal saat ini dia ingin tahu bagaimana nasib Rendi dan juga Devan.
Akhirnya wali kelas dan guru BP menghukum mereka dengan berjemur di lapangan. Saat itu mereka pun harus menjalani hukuman itu sampai waktu istirahat.
Selesai jam pelajaran meta bermaksud menghampiri mereka berdua yang menurut informasi dari teman sekelasnya mereka di hukum di lapangan. Meta bermaksud memberikan air mineral pada Rendi dan juga Devan.
Sesampainya di lapangan meta melihat Anisa memberikan minuman bahkan membawakan makanan untuk Rendi. Meta berusaha cuek meski sakit melihat itu, dia mencoba mendekati mereka berdua.
"Ini Van aku bawakan air mineral buat kamu....pasti kamu haus kan dari tadi kepanasan!" kata meta seolah tak menggubris ada Rendi di situ.
Rendi pun menatap tajam meta dengan menahan kekesalannya karena meta lebih peduli dengan Devan.
"Oh iya makasih met!"kata Devan.
"Wah kak meta so sweet banget sih, sampai bawain kak Devan minuman gitu!" kata Anisa sok ramah.
"Gak usah ikut campur...ini bukan urusan kamu....lagian dari kemarin ngapain sih kamu nempel sama Rendi terus!'
Kali ini meta benar-benar emosi dengan kelakuan Anisa.
"Lah emangnya kenapa kak?gak boleh?"
"Kamu tuh bener-bener yah!"
"Udah met gak usah di tanggapin" kata devan mencoba meredam amarah meta.
"Ayo Van kita pergi dari sini....gerah gue di sini!"
"Met...tunggu....!aku mau ngomong sama kamu" Rendi menarik tangan meta.
"Ngomong apa lagi, aku gak mau ngomong sama kamu!"
"Udahlah kak...ngapain sih...kak metanya aja gak mau ngomong sama kak Rendi," kata Anisa ikut campur.
"Diem! Kamu gak usah ikut campur urusan aku!" kata Rendi membentak Anisa.
__ADS_1
Rendi pun membawa meta pergi dari situ.