
"Jadi kamu suka sama cincinnya doang waktu itu?"
"Ya nggak, kalo suka sama cincinnya doang masak bisa pacaran sampai sekarang. LDR pula sekarang."
"Kamu mau aku bikinin cincin lagi kayak waktu itu?"
"Gak usah deh Rend, kan kemarin aku udah dapet cincin beneran ini dari kamu!" kata meta sambil menunjukan cincin pertunangan mereka.
"Iya sih, aku juga gak mau dimarahin kalo metik bunga ini sembarangan....hehehehe!"
"Lagian sayang kan bunga cantik-cantik seperti ini dipetik. Biar mereka tumbuh memancarkan keindahan di taman ini."
"Aku foto lagi ya...kayaknya spot di sana bagus deh!!"
"Okey...."
Mereka berdua masih meneruskan foto-foto di hamparan bunga kesna.
"Kalo kamu lebih suka bunga kesna atau gemitirnya?"
"Emmm semuanya indah sih, tapi jujur aku lebih suka warna kuning agak keoranyean di bunga gemitir....warnanya ceria dan segar!"
"Hemmm aku tahu kamu memang suka warna kuning. Tapi kamu tahu apa bedanya kamu sama bunga-bunga ini?"
"Apa emangnya?"
"Kalo bunga-bunga ini tumbuh di taman tapi kalo kamu tumbuh di hati dan pikiranku."
Meta tertawa terbahak mendengar gombalan garing dari Rendi. Pasalnya dari pertama mereka jadian Rendi memang bukan tipe pria yang suka menggombal atau merayu atau pula melontarkan kata-kata lebay.
"Kok malah ketawa sih? Jelek banget gombalannya?" jawab Rendi sambil menggaruk tengkuknya.
"Semenjak kapan sih seorang Rendi pinter gombal!!" kata meta sambil mencubit lembut pipi rendi.
"Yah aku emang gak jago gombal apalagi ngrayu sih, aku memang kaku dan dingin!!"
Rendi memang menyadari kalo dia bukan tipe pria yang jago gombal, dia bahkan cenderung dingin. Tapi selama dia menjalani hubungan dengan meta dia selalu berusaha menjadi seseorang yang bisa memberikan kasih sayang seutuhnya untuk meta.
"Hem...gitu aja ngambek!! Maksud aku gak gitu, aku kan tahu banget kamu kayak gimana. Kamu gak perlu gombal buat ngrebut atau cari perhatian aku. Kamu tahu kan kalo di hatiku cuma ada kamu!"
Meta menatap Rendi dan menangkupkan kedua tangannya di pipi Rendi.
"Makasih ya selama ini kamu bisa menerima kekurangan aku. Makasih kamu udah bisa sabar dengan aku yang dingin, aku yang posesif, dan aku yang terkadang emosional. Tapi yang jelas perasaanku dari dulu kita jadian sampai sekarang perasaan ku gak pernah berubah, tetep sayang sama kamu!"
Rendi meraih tangan meta yang ada di pipinya lalu mencium tangan meta dengan lembut dan memeluknya.
"Aku juga sayang sama kamu, makasih juga kamu mau selalu mencintai aku dengan segala kekuranganku."
Rendi memeluk meta erat diantara hamparan bunga-bunga Kasna putih yang mengelilingi mereka. Bunga Kasna yang putih membuat siapa pun yang berada di situ seperti terhipnotis dengan keindahannya.
"Kayaknya ada yang kurang deh Rend?"
"Apa?"
"Kita belum foto bareng!"
__ADS_1
"O iya kita minta tolong sama salah satu warga di sini ya!"
Penduduk desa temukus memang terkenal dengan keramahannya dalam menerima para turis yang ada di situ.
Dengan bantuan bli (mas) yang ada di situ mereka berdua bisa melakukan foto berdua bahkan rasanya foto mereka lebih mirip dengan foto prewedding.
Rendi melihat beberapa foto yang ada di kameranya. Mereka berdua duduk di hamparan taman bunga yang ada di situ.
"Fotonya bagus-bagus Rend, kamu emang paling jago kalo foto!"
"Eits...apa kamu lupa aku juga jago basket dan renang."
"Iya deh, mulai deh narsisnya!"
"Becanda kali sayang."
"Habis ini kita mau jalan kemana lagi?"
"Ke Bedugul mau?"
"Em tapi Rend nanti kalo kita sampai di sana kesorean gak sih? Nanti kalo ke sana kesorean kabutnya udah turun lagi."
"Bener juga sih, terus mau kemana?"
"Kita ke kawasan Denpasar aja deh, kan sejalan buat menuju ke hotel."
"Ya udah kita langsung berangkat aja, takut kemaleman pulangnya."
Mereka berdua pun menuju mobil untuk langsung menuju ke kawasan kota Denpasar. Sepanjang jalan meta sibuk memposting foto-foto mereka berdua ke sosial media. Sesekali dia membaca kolom komentar teman-temannya yang mengomentari fotonya.
Matanya tiba-tiba tertuju pada sebuah undangan reuni SMA dalam rangka lustrum sekolah mereka.
"Oh ya, nanti coba aku cek."
"Katanya mau ada reuni sekolah!"
"Seru tuh, kita dateng ya!"
"Boleh, aku cek tanggalnya kayaknya aku masih sempet Dateng sebelum balik ke Jerman."
"Eh Rend, lihat deh masak si Anisa komen foto kamu!"
"Komen apa?"
"Nanyain kabar kamu gitu! Ish ngapain sih tuh bocah masih gangguin kamu aja!"
"Ceilah cemburu ni ye!!"
"Gak lah, ngapain juga cemburu! Kayaknya ada yang kurang deh...!"
"Apa?"
"Kita kan belum pernah posting acara tunangan kita waktu itu! Aku mau posting sekarang ah....biar dia tahu sekalian kalo kita udah tunangan!!"
"Hehehehe....kamu tuh kalo udah cemburu apa aja dilakuin!"
__ADS_1
"Kayak kamu gak gitu aja!!"
"Mana hp kamu?"
"Buat apa sih sayang?"
"Aku mau posting foto tunangan kita di sosial media kamu!"
"Hem...iya iya deh ini!"
Meta mengambil hp Rendi dan mulai memposting foto-foto tunangan mereka. Meta memang sengaja mempostingkan foto-foto itu di media sosial Rendi supaya Anisa tahu kalo mereka sudah tunangan.
"Nih udah aku balikin hp kamu!"
"Sayang, kamu tuh gak perlu manas-manasin Anisa."
"Kenapa emangnya?"
"Ya percuma aja!"
"Kok percuma?"
"Ya karena meski Anisa cemburu dan komen apa pun juga gak akan merubah perasaanku ke dia. Yah bagiku dia itu hanya adik kelas yang kebetulan dulu jadi tetanggaku. Itu aja, gak lebih!! Jadi kamu gak perlu cemburu sama dia.'
"Aku tahu Rend, aku cuma pengen mereka tahu aja kalo kita sekarang udah tunangan. Biar mereka gak gangguin atau menggoda kamu lagi!"
"Iya deh yang lagi bucin!!"
"Siapa juga yang bucin? Bukannya kamu yang suka bucin sama aku, sampai-sampai kamu cemburu sama sahabatku!"
"Eh iya, ngomong-ngomong dimana dia sekarang?"
"Siapa?"
"Yah siapa lagi kalo bukan si kunyuk Devan yang katanya sahabat kamu itu."
Deg
Rendi tiba-tiba menanyakan soal Devan pada meta, meta jadi teringat dengan pertemuannya dengan Devan semalam.
"Oh Devan? Mungkin dia baik."
"Mungkin?"
"Kan aku gak tahu karna aku gak pernah berkomunikasi dengan dia kan selama aku di sini!'
"Aku penasaran gimana ekspresinya saat dia tahu kalo kita udah tunangan."
"Mungkin biasa aja," jawab meta.
"Masak sih? Aku gak yakin deh, pasti dia frustasi kalo tahu kita tunangan."
"Kenapa mesti frustasi?"
"Jelas-jelas dia itu suka sama kamu! Aku tahu dia selalu berusaha deketin kamu. Tapi aku juga yakin kalo kali ini dia pasti gak terima dengan pertunangan kita."
__ADS_1
"Udah ah gak usah bahas dia, mending bahas yang lain aja!" kata meta mencoba mengalihkan pembicaraan.
Padahal meta tahu kalo semalam memang Devan secara langsung menanyakan pertunangan itu padanya. Dan sebenarnya dari ekspresi wajah Devan mungkin dia memang terkejut melihat cincin tunangan yang sengaja dia tunjukan semalam.