
"Kalian di sini juga!"
Rendi melotot mendengar orang yang tiba-tiba datang yang tak lain adalah Dinda.
"Kamu ngapain di sini din?" tanya meta menyelidik pada Dinda.
"Oh gue liburan ke sini! Kalian apa kabar lama gak pernah ketemu!"
"Kita baik-baik aja! Kamu sendiri gimana kuliah di mana sekarang?" tanya Rendi.
"Sebenarnya gue kuliah di Singapura di jurusan bisnis ini sekarang gue baru liburan semester makanya gue pengen refresh liburan ke sini! Eh gak taunya ketemu kalian di sini! Kalian awet banget ya bisa barengan terus, apa gak bosen barengN terus?"
"Maksud kamu apa dengan kata-kata bosen itu? Aku pikir setelah lulus SMA kamu bakal berubah jadi dewasa. Tapi ternyata kamu masih sama kayak dulu!"
"Meta, meta, kamu juga masih sama. Masih suka emosional sama gue! Asal lo tahu aja ya Lo gak usah sok-sokan deh mentang-mentang Lo salah satu lulusan terbaik di SMA dulu. Gue juga bisa kayak Lo kuliah di luar negeri!"
"Hah... sok-sokan Lo bilang?"
"Eh udah-udah....harusnya Lo gak usah mancing emosi meta kayak gitu!"
"Ow...ow...kamu tuh juga masih sama ya Rend...masih juga bucin sama dia! Sampai-sampai kemanapun meta pergi kamu ngintilin dia terus!! Apa kamu gak tahu seperti apa meta di belakangmu?"
"Maksud Lo apa ngomong kayak gitu?" kata meta ketus.
Pertengkaran mereka sedikit membuat beberapa pasang mata memperhatikan keributan mereka.
"Udah sayang apa pun yang dia katakan gak bakal aku dengerin kok!" jawab rendi meyakinkan meta.
Dinda mendekati Rendi dengan gayanya menyilangkan tangan.
"Yakin Lo gak mau tahu ada apa meta dan Devan di belakangmu?" bisik meta.
"Eh...maksud Lo apa sih Din? Lo mau cari ribut sama gue! Lo mau fitnah gue di depan Rendi?" teriak meta mulai emosi.
"Hahahaha....kenapa? Lo takut setelah Rendi tahu tentang Lo sama devan Rendi bakal ninggalin kamu?"
"Tunggu...maksud Lo apa sih ngomong kayak gitu!" tanya Rendi pada Dinda.
__ADS_1
"Apa selama ini Lo gak tahu, kalo mereka berdua sebenarnya sengaja janjian kuliah bareng ke Jerman. Itulah makanya Devan bisa satu kampus sama meta. Bahkan bisa satu apartemen dengan meta. Masak kamu gak curiga sih Rend dengan mereka berdua?"
Kali ini meta benar-benar emosi melihat kelakuan dari Dinda. Semua yang diomongin Dinda itu hanya semata-mata memanas-manasi Rendi supaya Rendi marah dengannya.
"Cukup ya Din, lo udah keterlaluan. Sok tahu banget sih lo kehidupan gue. Lo gak usah ngada-ngada, gue tahu Lo itu sellau iri sama gue makanya Lo selalu berusaha jatuhin gue."
"Rendi, kamu percaya sama aku kan kalo yang di bilang Dinda itu gak bener?"
"Terserah sih mau percaya sama aku atau nggak? Yang penting gue tuh ngomong sesuai kenyataan. Ya udahlah, anggap aja ini sebagai tanda rasa care gue ke elo Rend. Karna gue cuma kasihan kalo Lo terus-menerus dibohongi sama pacar Lo sendiri!"
"Cukup din, Lo gak perlu nerusin kata-kata Lo lagi! Mending Lo pergi dari sini!" bentak Rendi geram.
"Okey, tanpa Lo nyuruh gue juga bakal pergi ko! O iya satu lagi, sampai ketemu di reuni sekolah!" kata Dinda sambil berlalu.
"Rend, kamu percaya sama aku kan kalo yang diomongin. Dinda itu gak bener! Semua itu cuma karna dia pengen kita ribut. Aku gak mungkin sengaja janjian dengan Devan biar satu kampus sama dia. Aku juga baru tahu kalo Rendi kuliah dan satu apartemen sama aku setelah aku udah sampai di Jerman. Aku harap kamu bisa percaya sama aku Rend!"
"Iya aku percaya sama kamu kok. Aku tahu kalo Devan itu memang mengejar kamu. Dan aku juga tahu Dinda sengaja ngomong kayak gitu biar kita ribut!"
"Makasih Rend, kamu udah percaya sama aku!" kata meta memeluk Rendi.
Rendi pun membalas pelukan meta dan mengusap lembut rambut meta.
Sebenarnya dia masih bertanya-tanya kenapa meta tak terus terang padanya waktu itu mengenai keberadaan Devan. Tapi sekarang dia sudah bertunangan dengan meta. Rendi berharap ikatan pertunangan itu sebagai bentuk keseriusan meta padanya.
"Sayang, kita pulang yuk!"
"Loh kenapa Rend?" tanya meta heran dengan perubahan sikap Rendi.
"Gak papa, aku udah capek nih. Lagian besok kita masih mau jalan-jalan lagi kan besok pagi."
"Ya udah deh kalo gitu, kita ke hotel sekarang."
Mereka berdua meninggalkan cafe itu dan berjalan ke arah hotel. Sepanjang jalan Rendi memang menggenggam tangan meta tapi entah kenapa tak ada sepatah kata pun darinya.
"My prince?" kata meta sambil menatap Rendi yang dari tadi terdiam.
"Hem...."
__ADS_1
Hanya kata itu yang terucap bahkan Rendi tak menoleh ke arah meta.
"Kamu marah sama aku?"
"Nggak."
"Buktinya dari tadi kamu diem aja! Kenapa sih? Pasti gara-gara omongan Dinda tadi kan? Kamu percaya sama omongan dia?"
"Bukannya gitu, aku cuma agak capek aja kok," jawab Rendi berbohong padahal dalam hatinya dia masih penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada meta dan Devan.
"Nggak, kami bohong! Kamu sebenernya marah kan sama aku! Kamu gak biasanya kayak gini!"
Rendi masih terdiam dengan hal-hal yang ada di pikirannya. Dia hanya terus berjalan ke arah hotel.
"Rend, kamu gak percaya sama aku? Sampai kamu diemin aku kayak gini!?"
"Kan aku tadi udah bilang aku gak marah sama kamu!"
"Terus kamu kenapa bersikap dingin kayak gini?"
"Kan tadi aku udah bilang aku lagi capek!"
"Bohong! Bilang aja kalo kamu marah sama aku. Kalo kamu marah sama aku berarti kamu lebih percaya omongan Dinda ketimbang aku. Please rend, kamu tuh harusnya bisa bedain mana omongan yang bener dan yang nggak!"
"Harusnya kamu tahu kalo aku tuh pengen kita itu lebih dewasa dalam menjalin hubungan apalagi sekarang kita udah tunangan. Sekarang kamu baru dengerin omongan Dinda kayak gitu aja kamu gak percaya sama aku! Aku kecewa sama kamu Rend!"
Meta merasakan genggaman tangan Rendi dan berlari meninggalkan Rendi di situ.
"Bukannya gitu met, maksud aku gak gitu!" teriak Rendi.
Rendi mengejar meta yang berlari ke arah kamarnya. Sedang meta semakin mempercepat langkahnya menuju lobi hotel dan berlari memasuki lift secepat mungkin.
"Met, tunggu met!" teriak Rendi mengejar meta yang sudah memasuki lift.
Meta tak menghiraukan panggilan Rendi, dia sengaja menutup pintu lift supaya dia bisa cepat sampai di kamarnya.
Meta buru-buru keluar dari lift dan memasuki kamarnya. Hati meta terasa sakit karna sikap Rendi yang tak percaya padanya.
__ADS_1
Rendi yang kehilangan jejak meta langsung menuju kamar meta. Namun langkahnya tertahan ketika dia mau mengetuk pintu kamar meta. Rendi takut kalo mengganggu istirahat Tante Risma dan Rendi juga tak ingin Tante Risma tahu mereka sedang marahan.
Akhirnya Rendi memutuskan untuk kembali ke kamarnya sambil mencoba menelpon meta. Namun sayang tak satupun panggilannya diangkat oleh meta.