
Meta melangkahkan kakinya di sebuah rumah berpagar putih. Rumah dengan pilar-pilar besar yang menjadikan rumah itu nampak megah dan mewah. Terlihat status sosial yang jelas bukan kalangan orang biasa.
Ditemani Rendi meta memasuki rumah megah itu dengan maksud mencari keberadaan Ardian. Orang tua Ardian adalah pengusaha sukses yang bukan hanya terkenal di dalam negeri, bahkan perusahaan orang tua Ardian juga mempunya anak cabang di beberapa perusahaan yang bergerak di bidang retail.
Orang tua Ardian bahkan menjadi donatur tetap di sekolah mereka dulu. Dengan wajah yang rupawan dan status sosial yang tinggi membuat Ardian menjadi salah satu idola sekolah, bahkan dulu Rika selalu mendukung ketika Ardian terang-terangan mendekati meta.
Meta dan Rendi menemui salah seorang asisten rumah tangga yang ada di situ untuk menanyakan keberadaan Ardian. Dan mereka berdua diantar ke salah satu kamar yang ada di lantai 2 rumah itu.
Tok tok tok
Asisten itu mengetuk salah satu pintu kamar sebelum masuk.
"Masuk. Gak dikunci," jawab seseorang yang berada dalam kamar itu.
Mereka pun memasuki ruangan kamar yang cukup luas dan mewah.
"Den, ini ada tamu mau menemui den Ardian," kata asisten itu.
"Oh iya makasih bi," kata Ardian sambil mengamati meta dan Rendi.
"Kalian silahkan duduk," kata Ardian mempersilahkan mereka berdua.
Tubuhnya yang sekarang lemah mengharuskannya tidur di ranjangnya dengan infus yang terpasang.
"Ardian, aku bener-bener turut prihatin. Aku sudah membaca surat dari kamu waktu itu," kata meta sambil mendekat di samping tempat tidur Ardian.
"Maaf meta, aku benar-benar minta maaf atas kejadian itu," kata ardian.
"Aku sudah memaafkan mu, aku berharap kamu gak usah terlalu merasa bersalah lagi! Aku juga berharap kamu bisa cepat sembuh!"
"Makasih kamu sudah mau memaafkanku, aku sudah lega sekarang. Maaf kalo dulu aku selalu mengganggumu dengan surat-surat yang sering aku beri itu! Jujur aku memang gak bisa menutupi kekagumanku sama kamu!"
"Udahlah, yang lalu biarlah berlalu. Sekarang yang terpenting kamu fokus dengan kesembuhan kamu!"
"Aku gak akan bisa sembuh met!" kata Ardian dengan tatapan kosong.
"Kamu gak boleh ngomong kayak gitu, kamu harus semangat dengan kesembuhanmu!"
"Dokter bilang umurku gak akan lama lagi, jadi aku pikir dari pada aku dirawat di rumah sakit yang membosankan lebih baik aku di rawat di rumah, toh lagi pula obat pun. juga belum tentu bikin aku sembuh!"
__ADS_1
"Kamu jangan ngomong gitu dong Ardian! Kamu masih punya masa depan yang panjang, kita tidak boleh mendahului takdir dari Tuhan."
Meta melihat sorot mata Ardian yang kosong, seolah dia benar-benar sudah kehilangan semangat hidupnya.
"Aku sudah pasrah jika memang ini adalah takdirku. Mungkin memang sudah jalannya seperti ini."
"Kamu harus semangat Ardian, aku tahu mungkin selama ini kita memang tidak begitu dekat. Tapi aku benar-benar turut prihatin dengan sakitmu ini, aku berharap kamu punya semangat untuk melawan penyakitmu ini!" kata Rendi yang mencoba ikut memberikan semangat.
"Makasih Rend kamu udah kasih semangat buat aku. Dan maaf mungkin selama ini aku sering menganggu meta, dan mungkin itu sering membuatmu cemburu. Tapi kalo aku boleh meminta satu hal sama kamu."
"Apa itu?"
"Jaga meta baik-baik, kamu sangat beruntung bisa memiliki hatinya. Aku berharap kamu gak akan nyakitin dia!"
"Pasti aku akan jaga dia sampai kapan pun. Karena aku begitu menyayanginya. Maaf juga karna aku sering cemburu denganmu. Itu karna aku memang takut kehilangan meta!"
Meta merasa lega dengan keakraban mereka saat ini, setidaknya sudah tidak ada rasa saling bermusuhan lagi diantara mereka.
"Eh ada tamu rupanya," sapa seseorang.
Wanita paruh baya itu adalah mama dari Ardian. Dia nampak terlihat masih cantik dengan umurnya yang sudah tak lagi muda.
"Sebentar, sepertinya aku pernah bertemu dengan kamu!" kata Dina sambil mengingat wajah meta yang seperti tidak asing.
"Ini meta ma!" jawab Ardian.
"Oh iya, meta. Tante benar-benar minta maaf yah dengan sikap Ardian yang tidak sopan waktu itu dan Tante juga berterima kasih karena kamu tidak memperpanjang masalah ini!"
"Meta harap sebaiknya kita melupakan saja kejadian itu tante. Meta juga sudah melupakan Ardian kok!" jawab meta.
Pasalnya memang terakhir kali meta bertemu dengan Dina adalah saat sidang di ruang BP sekolah mereka karena permasalahan perilaku Ardian yang tidak sopan pada meta. Namun kala itu meta memang lebih memilih memaafkan Ardian.
"Kamu ini bukan hanya wajahnya yang cantik namun hati kamu juga sangat cantik. Pantesan dari dulu Ardian sangat menyukai kamu!"
Meta hanya tersenyum, dan sepintas melihat Rendi yang nampak kurang nyaman dengan itu.
"Emmm Tante, kita gak bisa lama-lama di sini karena kebetulan hari ini saya harus berangkat ke Jerman lagi!"
"Ke Jerman?"
__ADS_1
"Meta ambil kuliah kedokteran di sana ma!" jawab Ardian.
"Wah, ternyata selain cantik kamu juga sangat pintar, bahkan katanya kamu ke Jerman dengan beasiswa prestasi kamu! Tante salut sama kamu!"
"Makasih Tante." jawab meta kikuk karena terus menerus dipuji oleh mamanya Ardian .
"Oh iya ini siapa?"
"Saya Rendi Tante, tunangannya meta. Dulu saya juga satu sekolah sama Ardian," kata Rendi memperkenalkan diri.
"Oh, kalian sudah tunangan. Kalo nak Rendi kuliah dimana?"
"Saya kuliah jurusan bisnis di Singapura Tante," jawab Rendi penuh percaya diri seolah dia memang ingin menunjukkan kehebatannya di depan mata Ardian.
"Wah jurusan bisnis yah, kok tertarik jurusan itu? Apa orang tua kamu juga punya bisnis?"
"Iya Tante, mama saya punya salah satu perusahaan property di Singapura. Makanya saya kuliah sambil bantu kerja di perusahaan mama saya."
Tatapan mata Dina yang menyelidik tentang Rendi membuat Rendi merasa tidak nyaman, seolah dia ingin benar-benar tahu seluk beluk dari Rendi.
"Wah bagus itu, perusahaan properti. Ada berapa cabang? Ada yang diluar negeri? Kalo papanya Ardian sih punya juga perusahaan yang ada di Singapura bahkan gak cuma di sana tapi ada juga di beberapa negara lain !'
Nampak jelas Dina hanya ingin membandingkan keluarganya dengan keluarga Rendi yang mungkin bagi Dina Rendi tidak sepadan dengan meta.
"Em Tante mohon maaf kita harus permisi dahulu, takut ketinggalan pesawat nanti."
"Sayang yah kamu gak bisa lama di sini. Padahal Tante berharap kamu bisa nemenin Ardian yang lagi sakit, karena entah kenapa Ardian seperti sudah kehilangan semangat untuk sembuh?"
"Mohon maaf Tante, karna saya memang besok sudah harus kuliah lagi. Dan untuk Ardian, kamu jangan patah semangat yah, pasti ada harapan untuk kamu bisa sembuh!" kata meta menyemangati.
"Iya makasih met, makasih buat semangatnya, makasih juga kamu udah maafin aku!"
"Kita permisi dulu Tante!" kata Rendi berpamitan.
"Tante kita permisi dulu yah," kata meta yang juga berpamitan.
"Tante berharap kamu bisa bujuk Ardian supaya bisa sembuh. Tante pasti akan sangat berterimakasih kalo kamu mau memberi Ardian semangat!" kata Dina sambil memeluk meta.
" Sebagai teman pasti saya akan selalu memberikan semangat untuk Ardian Tante!"
__ADS_1
Meta dan Rendi pun berpamitan dan pergi menuju bandara.