
"Sudah met jangan menangis!" sapa seseorang itu sambil mengusap rambutnya.
Meta pun terkaget, spontan dia mendongakan kepalanya yang dari tadi tertunduk sambil menangis.
"Rendi?kenapa kamu di sini?"
"Aku tahu kamu pasti sakit! Sama aku juga sakit, aku gak pernah tahu kalo papaku dekat dengan mamamu. Jujur aku emang kaget banget tadi!"
"Rend....papa kamu..."
"Aku tahu kamu pasti bingung dengan papa aku. Kamu juga pasti bertanya-tanya tentang hubungan papa dan mamaku. Kamu tahu papaku udah pisah dengan mamaku. Semenjak waktu aku sakit waktu itu, ketika aku dirawat di Singapura, aku tahu betul bagaimana mamaku harus berjuang sendiri tanpa papaku demi supaya aku bisa bertahan hidup waktu itu dan hanya mamaku yang selalu ada buat aku!"
"Maaf Rend aku bener-bener gak tahu kalo orang tuamu sudah berpisah."
"Sebenarnya aku juga gak pengen orang lain tahu masalah keluargaku. Aku tahu mama dan papaku udah gak bisa bersatu. Aku cuma bisa pasrah dengan semua itu. Tapi met untuk kali ini aku ingin egois. Maaf kalo aku tidak menyetujui kedekatan papaku dengan mamamu. Karna kamu pasti tahu konsekuensi mereka jika bersama!"
"Aku tahu Rend....kalo mereka bersama berarti kita yang akan berpisah....karna pasti kalo mereka menikah secara otomatis kita akan jadi saudara!"
Rendi menatap sendu meta yang mulai meneteskan air mata. Rendi mengusap air mata meta yang sudah berjatuhan di pipinya, kemudian memeluk meta dengan erat.
"Aku gak bisa met....aku gak bisa jauh dari kamu....aku sayang sama kamu!"
"Tapi harusnya kita gak boleh egois dengan orang tua kita Rend!"
"Maksud kamu?Kamu menyetujui hubungan mereka?"
"Entahlah Rend, tapi yang jelas aku melihat kebahagiaan mamaku saat dia mengenal papamu. Kamu tahu mamaku sudah lama sendiri setelah bercerai dengan ayahku. Sebenarnya aku gak pengen egois!"
"Jadi, maksud kamu kita yang harus ngalah?Nggak met aku gak mau!!!"
"Aku tahu ini berat Rend, tapi melihat kebahagiaan mama aku. Aku jadi gak bisa kalo melihat dia sedih, mungkin ini saatnya aku bisa membuat bahagia mamaku!"
"Berarti kamu pengen kita pisah???Itu mau kamu. Aku gak ngerti lagi deh sama jalan pikiran kamu, berarti kamu gak mau berjuang demi hubungan kita?"
"Bukannya gitu Rend....tapi....!"
"Tapi apa?Atau kamu sebenarnya memang ada hubungan dengan cowok lain sampe-sampe sekarang kamu udah nyerah sama hubungan kita!!"
"Gak gitu Rend....aku kan udah bilang kan...aku sama Devan cuma sahabat...gak lebih!!aku mohon kamu percaya itu!!"
"Buktikan omonganmu itu....!!"
Rendi melangkah pergi meninggalkan meta.
"Rendi tunggu....!!"
Meta tahu kalo Rendi memang cemburu dengan Devan. Seperti halnya dia cemburu pada Anisa dan juga Dinda.
Meta kembali tertunduk lesu di halte seorang diri. Entah kenapa saat ini dia enggan untuk pulang ke rumah.
__ADS_1
Tin...tin...tin...
Sebuah mobil berhenti di depan halte.
"Ayo pulang...udah malem...!" kata Rendi sambil membuka kaca mobilnya.
"Rendi?"
Rendi pun membuka pintu mobil dan melangkah menghampiri meta.
"Ayo aku anter pulang! Aku gak mungkin ngebiarin kamu di sini sendiri, ini udah malem sebaiknya kamu pulang!"
"Tapi aku gak mau pulang...aku....aku...!"
"Apa kita harus kawin lari dan pergi jauh supaya aku bisa sama-sama kamu terus?"
"Udahlah Rend, jangan memperkeruh keadaan!"
"Ya udah makanya ayo pulang!" Rendi pun menarik meta dan membukakan pintu mobil untuknya.
Rendi pun melajukan mobilnya menyusuri jalan kota.
"Aku laper!" kata Rendi tiba-tiba.
"Ya udah makan....!"
"Kita mampir makan dulu ya. Pasti kamu juga belum makan kan dari tadi, apalagi tenagamu udah kamu kuras buat ngeluarin air mata kan?"
Rendi berhenti di sebuah warung pinggir jalan.
"Makan di sini?" tanya meta.
"Kamu masih ingat tempat ini kan?"
"Tentu aja aku inget, gak mungkin bakalan lupa. Waktu itu kamu mau nraktir aku tapi ternyata kurang kan?"
"Alhasil kita di suruh cuci piring!"
"Hehehehe.....kamu sih... sok-sokan mau traktir segala!" kata meta tertawa.
Sejenak mereka bisa melupakan masalah mereka untuk sesaat.
"Iya maaf deh...tapi kali ini tenang aja aku bawa uang banyak kok...jadi kita gak perlu cuci piring lagi!"
"Aku juga gak mau kalo suruh cuci piring lagi....udah gak punya tenaga...tenagaku udah habis buat nangis tadi!"
"Akhirnya kamu bisa ketawa juga.. aku gak bisa lihat cewek yang aku sayangi nangis!"
"Makasih ya Rend, makasih karna kamu udah sayang sama aku!"
__ADS_1
Mereka pun duduk di warung lesehan itu. Bisa dibilang warung penuh kenangan waktu masa SMP mereka berdua.
"Pesen pecel ayam 2 sama lemon tes 2 ya pak... jangan lupa sambalnya yang pedes ya pak!" kata Rendi memesan menu.
"Kamu masih inget kesukaanku?" kata meta sambil tersenyum.
"Pasti ingetlah...!"
"Tempat ini gak berubah yah....masih sama kayak dulu....hari ini setelah sekian lama gak ketemu kamu lagi baru kali ini aku makan di sini lagi!"
"Oh ya...aku kira kamu udah lupa tempat ini!"
Sesaat kemudian pesanan. mereka datang.
"Kepedesan yah....aduh kasihan...minum nih...." kata Rendi sambil menyodorkan minuman ke meta.
"Iya nih sambelnya kebanyakan!Kayaknya ini lebih pedes dibanding sambel yang dulu pernah aku pesen!"
"Aduh kasihan...kepedesan yah!" kata Rendi malah menggoda meta yang sekarang wajahnya memerah karena kepedasan.
"Tapi makin lama enak sih pedesnya...bikin nagih...!"
"Huh...dasar...kayak cinta aku ke kamu yah...bikin nagih buat terus dan terus cinta!" kata Rendi
"Apaan sih kamu tuh!!"
"Tapi suka kan?"
"Hem...m..."
"Kok cuma hemm....apa tuh maksudnya?? Iya deh aku tahu. Aku tuh gak jago gombal kayak orang-orang yang suka gombalin kamu lewat surat!"
"Udah deh jangan mulai!"
"Tapi aku tahu....meski rayuan maut menghujani kamu setiap hari pun kamu hanya memilih Rendi seorang! " kata Rendi bergaya sok puitis.
"Rendi....udah deh...gak lucu tahu gak!"
"Tapi bener kan kamu milih aku dibanding Ardian dan Devan ato jangan-jangan?!"
"Tuh kan mulai lagi."
"Yah habis mereka terang-terangan deketin kamu sih!Tapi met. Omongan aku tadi serius!"
"Yang mana?"
"Yah omongan ku tadi di halte!Aku gak bakal ngalah sama papaku!! Apa pun resikonya! Aku gak mau kehilangan kamu, aku serius!"
"Aku benar-benar bingung Rend!"
__ADS_1
"Aku mohon met, kita harus berjuang sama-sama."
Meya pun hanya tersenyum simpul dan mengangguk menanggapi Rendi. Meta tahu harus ada salah satu yang mengalah diantara mereka. Tapi meta juga gak mungkin bisa membuat mamanya sedih.