
Hari ini meta berangkat pagi-pagi menuju ke sekolah, tidak biasanya meta menggunakan taxi karena biasanya dia diantar oleh mamanya, tapi karena pagi ini mamanya harus keluar kota meta memutuskan untuk berangkat sendiri ke sekolah, apalagi jam pertama adalah jam pelajaran pak Andi, salah satu guru killer yang tidak akan mentolerir siswa yang telat.
Sebentar lagi bel sekolah berbunyi, Meta melangkah menuju kelas dengan tergesa-gesa takut kalo dia terlambat di jam pertama.
"Kak meta tunggu."
Panggilan seseorang itupun menghentikan langkah meta, dia menoleh ke belakang mencari sumber suara itu.
"Hai kak, pagi!"sapa Nissa.
"Eh kamu nis, ada apa?"
"Emmvgak papa kok, cuma mau titip sesuatu!"
Anisa menyerahkan kotak bekal makanan berwarna biru yang entah berisi apa.
"Apa ini?" tanya meta.
"Emm kak meta sekelas sama kak Rendi kan?mmm minta tolong berikan ke kak Rendi ya, sebagai ucapan terimakasih udah nganterin aku kemarin!"
"Kenapa gak dikasih sendiri aja?"
"Aku malu mau ke kelas kakak!"
"Oh ya udah nanti aku kasih, aku duluan ya takut telat!"jawab meta datar meski ini berbanding terbalik dengan hatinya yang kacau karena ada orang yang terang-terangan memberikan sesuatu kepada pacarnya apalagi di depan matanya sendiri.
"Makasih ya kak!!"
"iya" jawab meta sambil berlalu.
Brukkkk....suara kotak makanan itu dia taruh secara kasar di atas meja Rendi. Rendi pun mengernyitkan dahi meta memberikannya dengan muka cemberut.
"Tuh...ada titipan dari sahabat kecilmu!" kata meta ketus.
"Maksudnya siapa?"
"Pakai tanya lagi....katanya ucapan terimakasih karena kak Rendi udah nganterin aku kemarin!" kata meta dengan nada penekanan menirukan omongan Anisa tadi.
Sebenarnya meta ingin sekali marah saat itu juga, tapi dia tidak mau marah di depan teman-temannya yang lain. Meta lebih memilih duduk di mejanya.
"Ini dari Anisa?" tanya Rendi menghampiri meta.
"Pake tanya lagi!!"
"Kamu marah sama aku?"
__ADS_1
"Nggak!!udahlah duduk aja di mejamu tuh pak Andi udah masuk tuh!"
Rendi pun akhirnya duduk di tempatnya, dia ingin menjelaskan semua pada meta tapi sudah ada guru di kelasnya.
Selama pelajaran pun meta berpura-pura memperhatikan pelajaran, sesekali dia mengobrol dengan Rika. Bahkan dia tak menghiraukan Rendi yang dari tadi memperhatikannya. Meta enggan menoleh ke arah tempat duduk Rendi, kekesalannya kemarin belum sembuh ditambah lagi kekesalan pada Anisa yang terang-terangan memberikan makanan pada Rendi.
Di waktu istirahat pun meta lebih memilih ke kantin bersama Rika dan dengan sengaja dia juga mengajak Devan. Meta memang ingin menghindari Rendi.
Setelah mereka bertiga dari kantin tanpa sengaja Meta melihat Rendi bermain basket di lapangan dan yang membuat meta gerah ada Anisa dan teman-temannya yang mencari perhatian. dengan Rendi.
"Yeay....kak Rendi.... semangat kak Rendi!" teriak Anisa dan teman-temannya itu.
"Lihat deh anak kelas 1 itu, pada norak deh!" kata meta kesal melihat Anisa cari perhatian dengan Rendi.
"Met....elo kenapa sih?semenjak kapan lo ngurusin anak-anak alay model kayak gitu!"
"Eh nggak...cuma kesel aja lihatnya."
'Haduh bodo banget sih gue....keceplosan marah kayak gini' kata meta dalam hati.
"Tapi emang norak tuh, permainan kayak gitu gue juga bisa, lagian si anak baru itu show off banget di depan cewek-cewek" kata Devan menimpali.
Pada dasarnya Devan juga sentimen dengan Rendi karna cewek-cewek yang dulu ngejar-ngejar dia seolah sudah tak menghiraukannya lagi semenjak kedatangan Rendi.
"Halah udahlah, gak usah bahas mereka mending ke kelas yuk!" ajak meta.
Meta menunggu jemputan di depan pintu gerbang.
"Met aku anter yuk!" kata Rendi menghampiri meta.
"Gak usah aku dijemput kok!" jawab meta bohong karna dia tahu sopirnya tidak akan menjemputnya. Tapi saat ini meta benar-benar sedang marah dengan Rendi.
"Ya udah aku tungguin di sini sampai kamu dijemput!"
"Mending kamu nganterin sahabat kecilmu itu!"
"Kamu marah sama aku?dari tadi kamu ngindarin aku terus!aku gak ada apa-apa sama Anisa, kamu cemburu sama dia?"
Meta terdiam seolah tak ingin mendengar perkataan Rendi.
"Kak Rendi, kak tolong itu si Anisa pingsan!" kata seseorang yang nampaknya teman sekelas Anisa berlari terengah-engah menghampiri Rendi.
"Apa?pingsan? dimana?"tanya Rendi.
"Di Deket lapangan kak! ayo aku anter!"
__ADS_1
"Aku tolongin Anisa dulu ya met....kasihan dia!"
Meta pun hanya memandang ke depan menyilangkan tangannya sama sekali tak menghiraukan perkataan Rendi.
Meta pun hanya melihat punggung Rendi yang sudah menjauh mengikuti anak itu.
Dalam hati meta benar-benar kesal dengan sikap Rendi yang sok peduli dengan Anisa itu, sebenarnya siapa sih dia sampai-sampai Rendi care banget sama dia. Huft menyebalkan!! pekik meta dalam hati.
Sebenarnya meta ingin cepat pulang sekarang, tapi dia penasaran dengan Rendi yang memutuskan untuk menolong Anisa tadi. Diam-diam meta masuk ke dalam sekolah lagi mencari keberadaan Rendi.
Meta menanyakan dimana Anisa dan Rendi, sampai akhirnya dari informasi teman-teman sekelas Anisa, tadi mereka berdua menuju UKS.
Dengan terburu-buru meta melangkah menuju UKS. Benar saja Rendi mengantarkan anisa ke UKS. Meta hanya melihat dari luar, dia tak ingin Rendi mengetahui kalo dia mengikutinya ke UKS. Pelan-pelan meta berjalan di dekat pintu berusaha mendekat tanpa mengeluarkan suara agar mereka berdua tidak mengetahui keberadaanya.
Terlihat Rendi memberikan bau-bauan minyak kayu putih ke hidung Anisa, sesaat kemudian Anisa terbangun. Spontan anisa bangun dan memeluk Rendi.
"Kak Rendi, aku takut!" kata Anisa sambil memeluk Rendi.
"Eh nis..jangan kayak gini dong, gak enak kalo ada anak lain yang lihat!"
Rendi mencoba melepaskan pelukan Anisa yang begitu erat dengan susah payah.
"Aku pengen sama kak Rendi terus, aku gak mau kehilangan kak Rendi. Anisa sayang sama kak Rendi dari dulu!"
Meta terbelalak melihat adegan itu apalagi tak kuasa menahan api cemburunya. Meta membalikan tubuhnya hendak ingin berlari, sialnya dia menubruk pintu itu sampai Anisa dan Rendi yang sedang di dalam kaget mendengar suara dari luar. Rendi menuju keluar memastikan ada siapa dari luar. Betapa kagetnya Rendi ketika dia melihat meta berlari menjauh.
"Ah...sial pasti tadi meta udah mendengar omongan Nisa!" pekik Rendi dalam hati.
Tanpa pikir panjang Rendi langsung mengejar meta, bahkan dia meninggalkan Anisa yang masih di UKS.
"Met tunggu, aku bisa jelasin ke kamu!" Rendi mengejar meta.
Meta tak menggubris teriakan rendi dan justru berlari semakin cepat.
Rendi pun berusaha mengejar meta dan meraih tangan meta.
"Met aku bisa jelasin ke kamu!"
"Apa?apalagi....mau ngomong apa lagi....!Mending kamu urusin tuh Nisa...yang katanya sahabat kecil kamu!!!"
Tanpa sadar meta meneteskan air mata.
"Kamu udah salah paham, aku bisa jelasin!"
"Gak aku gak mau denger, lepasin tangan aku!" teriak meta sambil mencoba melepaskan tangannya dari Rendi.
__ADS_1
"Gak...aku gak akan lepasin sebelum kamu denger penjelasan aku....please met...dengerin dulu...!"