TERJEBAK CINTA META

TERJEBAK CINTA META
Wanita Penggoda


__ADS_3

Stella menyilangkan kakinya tepat di depan Rendi, menarik dasi yang dia kenakan, kali ini dia benar-benar melakukan aksi gilanya untuk menarik perhatian dari Rendi.


"Saya suka sekali dengan pak Rendi semenjak pertama kali bertemu. Saya tahu saya cuma bawahan Anda. Tapi apa tidak boleh saya menaruh hati dengan anda?"


Dengan nada lemah lembut Stella berpura-pura untuk mengambil hati Rendi.


Menyadari wanita ini sudah sangat keterlaluan, Rendi menepis tangan Stella yang memegang dasinya dengan kasar.


"Cukup....kamu bener-bener udah bikin aku semakin merasa jijik tahu gak! Kamu pikir aku sama kayak cowok-cowok di luar sana yang bisa dengan mudah kamu rayu! Big NO!! Kamu salah besar!!"


"Pak Rendi....saya hanya mengungkapkan perasaan saya pada pak rendi, apa itu tidak boleh?"


Tiba-tiba Stella menarik tengkuk leher Rendi dan mencium bibir Rendi penuh hasrat.


Rendi mendorong Stella yang sudah melakukan hal konyol dengannya.


"Kamu bener-bener sudah membuatku emosi, keluar dari ruanganku sekarang!" teriak Rendi.


"Keluar....aku bilang....!!" hardik Rendi lagi.


Merasa jurus-jurusnya tidak mempan untuk merayu Rendi, stella melangkah keluar dari ruangan itu.


"Sial....!!!Sombong sekali dia menolak ciumanku! Baru kali ini aku ditolak dan dipermalukan seperti ini," batin Stella.


"Tunggu....!" teriak Rendi lagi.


Stella tersenyum, dan membalikan badannya, berharap Rendi akan berubah pikiran untuk menerimanya.


"Pak Rendi....apa pak Rendi berubah pikiran?" jawab Stella.


"Asal kamu tahu, sebentar lagi aku akan tunangan sama pacarku. Jadi kamu gak usah mencoba buat menggodaku. Dan satu lagi, tunggu saja surat pemecatan dari HRD untukmu!"


"Sekarang kamu boleh pergi, aku sudah muak melihat muka kamu!!!" teriak Rendi.


Stella bersungut-sungut kesal mendengar kata-kata Rendi.


"Sial...apa dia akan benar-benar memecatku gara-gara hal kayak gini! Awas kamu Rendi, aku akan membuat perhitungan denganmu karna sudah menolak dan mencampakkan aku kayak gini!" umpat Stella sambil berjalan meninggalkan ruangan Rendi.


Dret dret dret


Rendi melihat panggilan video call masuk ke hpnya, melihat ID pemanggilnya, sesaat dia tersenyum menatap hpnya.


"Hallo sayang, gimana kabarmu?"


"Hai, aku baik! Kamu lagi sibuk ya?"

__ADS_1


"Ah nggak kok, aku cuma lagi lihat beberapa berkas aja!"


Meta menatap intens wajah Rendi yang terlihat di layar hpnya.


"Rend, tolong dekatkan wajah kamu ke hp!"


"Hehehehe....kamu mau kasih kiss jarak jauh yah? Sampe suruh ngedeketin wajah aku ke hp!"


Tanpa Rendi sadari ciuman dengan Stella tadi meninggalkan bekas lipstik di bibirnya.


"Rend, bibir kamu kenapa ada bekas lipstik kayak gitu?"


Meta menatap bibir Rendi yang nampak seperti ada bekas lipstik di bibirnya.


"Apa bekas lipstik? Masak sih?"


Rendi panik dan beranjak dari tempat duduknya, berlari ke cermin besar yang ada di kamar mandi.


"Rend, kamu mau kemana?Rend...??"


Tak ada sahutan dari Rendi, meta hanya berpikir, kenapa tiba-tiba ada lipstik di bibir Rendi.


"Apa maksud dari semua ini?" batin meta.


"Sial.... gara-gara wanita sialan itu meta pasti salah paham melihat lipstik ini. Aku harus cepat-cepat membasuhnya," umpat Rendi.


Rendi membersihkan bekas lipstik itu di depan cermin. Sambil mengeluarkan umpatan-umpatan kekesalannya pada dirinya sendiri.


"Ya ampun susah sekali hilangnya, sial!!!! Oh iya meta, aku udah meninggalkan video panggilan meta tadi," kata Rendi menepuk jidatnya.


Dengan terburu-buru Rendi ke mejanya dan mengambil hpnya. Ternyata video panggilan meta sudah dimatikan.


"Pasti meta udah salah paham, aku harus cepat-cepat telpon balik dia!!"


Rendi berusaha menelpon meta lagi. Akhirnya dengan beberapa kali mencoba meta mau mengangkat panggilan video callnya.


"Hallo sayang, kenapa di tutup telponnya tadi?" kata Rendi sedatar mungkin supaya meta tidak merasa curiga dengannya.


"Kamu kan yang tadi tiba-tiba ngilang! Lagian kenapa langsung lari saat aku ngasih tahu kamu ada bekas lipstik di bibir kamu?"


"Met, aku bisa jelasin semuanya, kamu jangan salah paham dulu yah!"


"Ya udah aku tunggu penjelasan kamu rend! Aku gak mau ada kebohongan diantara kita!"


"Tadi itu...ada karyawan aku yang mencoba menganggu aku, yah semacam kayak ngrayu aku gitu, dia itu ngungkapin perasaannya sama aku. Dan dia berusaha untuk nyium aku....tapi..tapi dia langsung aku tolak mentah-mentah bahkan aku udah memecatnya tadi!'

__ADS_1


Rendi menjelaskan panjang lebar tentang permasalahannya tadi. Berharap meta percaya dan tidak salah paham padanya.


"Sayang...kamu masih di situ? Aku tahu kamu pasti akan marah sama aku! Tapi aku udah berusaha jujur sama kamu. Aku gak mau kamu salah paham!!"


"Aku gak tahu Rend, mesti percaya sama kamu atau nggak! Yang jelas kalo kamu tanya sekarang aku cemburu atau nggak, jawabanku iya aku cemburu. Tapi aku ingin berusaha percaya sama kamu."


"Ako mohon kamu jangan marah sama aku, karna aku bener-bener gak tahu kok dia bisa-bisanya langsung nyium aku kayak gitu."


"Siapa pun cewek yang tahu ada bekas lipstik apalagi di bibir pacarnya, pasti dia akan marah dan gak terima. Mungkin kalo sebaliknya posisi itu ada di aku, aku yang kamu tuduh selingkuh? Kira-kira kamu bakal marah gak sama aku?"


Deg Rendi hanya terdiam lesu tak dapat menjawab pertanyaan dari meta. Karena dia menyadari selama ini dia juga sangat cemburu dengan kedekatan meta dan Devan padahal berkali-kali meta sudah bilang kalo mereka hanya sebatas sahabat. Namun Rendi juga masih bersifat emosional dan cemburu pada mereka, hal itu membuatnya semakin merasa bersalah karena tak mempercayai meta.


"Aku bener-bener minta maaf sama kamu, semua ini diluar kendali aku. Aku juga gak tahu kenapa wanita itu tiba-tiba ngrayu aku dan nyium aku. Aku tahu kamu pasti marah banget sama aku. Dan aku memang pantes nerima kemarahan kamu!"


Meta juga sebenarnya ingin meluapkan amarahnya pada Rendi. Dalam hatinya dia tidak terima ada bekas lipstik di bibir Rendi. Hatinya merasa perih, meski dia mencoba berpikir positif atas semua yang terjadi.


"Kalo seandainya aku tadi tidak telpon kami mungkin belum tentu kamu bakal jujur kayak gini sama aku. Aku mencoba buat percaya sama kamu Rend, aku berusaha untuk menahan kecemburuanku, meski sebenarnya aku sakit melihat bekas lipstik di bibir kamu!" tanya meta.


"Met, aku gak tahu mesti gimana lagi ngejelasin sama kamu. Yang jelas aku berani bersumpah aku gak pernah selingkuh di belakang kamu! Aku berharap kamu bisa percaya sama aku!"


"Aku juga selalu berharap kamu juga bisa selalu percaya sama aku Rend. Aku juga berharap kamu mengatakan kejujuran bukan kebohongan. Karna aku gak bisa setiap hari melihat kamu, gak bisa setiap menit jagain kamu dari wanita-wanita lain, gak bisa tiap detik bisa memperhatikan kamu dengan siapa, mau kemana, dan ngapain aja! Aku cuma berharap kamu bisa menjaga kepercayaan aku!"


"Sayang, aku pasti akan jaga kepercayaan kamu itu"


Di tengah panggilannya tiba-tiba Stella masuk ke ruangan Rendi lagi.


"Maaf pak Rendi, saya kembali ke sini lagi. Saya hanya ingin mengambil anting saya yang sepertinya terjatuh di dekat meja bapak tadi!"


Meta mendengar suara perempuan itu, bertanya-tanya siapa yang sedang berbicara dengan Rendi.


"Cepat ambil anting kamu dan segera pergi dari ruanganku."


Stella mencari antingnya di samping meja kerja Rendi.


"Siapa Rend?" tanya meta melihat wanita yang sekarang ada di samping Rendi.


"Oh dia..."


"Sudah ketemu pak antingnya, tadi terjatuh saat kita berciuman tadi! Kalo gitu saya permisi dulu pak, mohon maaf sudah mengganggu."


Stella memang sengaja mengucapkan kalimat itu di depan Rendi, karna dia tahu kalo saat ini Rendi sedang melakukan video call dengan pacarnya.


"Sial....wanita ini benar-benar membuatku emosi, bisa-bisanya dia bilang berciuman saat aku sedang telpon dengan meta," batin Rendi.


Dengan jelas meta mendengar perkataan wanita itu, dia benar-benar tak habis pikir bisa-bisanya anting itu tertinggal di dekat meja Rendi dan mengatakan mereka tadi sedang berciuman.

__ADS_1


__ADS_2