TERJEBAK CINTA META

TERJEBAK CINTA META
Mempermalukan Meta


__ADS_3

Sepertinya Dinda memang sudah menunggu lama saat-saat seperti ini. Dari dulu dia adalah orang paling tidak suka melihat kebersamaan meta dengan Rendi. Apalagi saat dia mendengar meta dan Rendi bertunangan kemarin.


Sedang Meta dan Devan sudah berapi-api ingin menumpahkan segala kemarahannya pada Dinda yang sudah lancang mengambil gambarnya.


"Din....Lo gak berhak ambil foto seenak jidat Lo kayak gini. Lo sengaja mau mempermalukan gue di depan umum kayak gini!" ucap meta emosi.


Rendi yang melihat meta seperti itu langsung menyusul meta ke panggung.


"Rend Lo lihat kan kelakuan pacar Lo ini, ternyata di belakang Lo mereka berdua sedekat itu. Pasti Lo juga kaget kan lihat foto-foto itu?" kata Dinda sambil mendekati Rendi yang baru saja naik ke panggung.


Meta benar-benar muak dengan Dinda yang selalu menarik perhatian Rendi. Rasanya dia ingin mengacak-acak muka Dinda saat ini, tapi meta masih menahannya karna dia tak ingin bertindak gegabah yang justru bisa mempermalukan dirinya sendiri.


"Dari mana Lo dapet foto-foto itu?" tanya Rendi pada Dinda.


"Lo gak perlu tahu gue dapet foto ini dari mana? Yang jelas sekarang kita semua tahu kan kalo ternyata Devan sama meta ada hubungan di belakangmu!"


"Lo tuh bener-bener yah Din, gak sepantasnya lo majang foto gue sama Devan kayak gitu. Gue tahu Lo nglakuin ini cuma pengen bikin gue sama Rendi ribut kan?" tanya meta emosi.


"Lo tuh bener-bener kurang kerjaan banget yah, ngurusin urusan orang!" teriak Devan.


"Ngurusin urusan orang katamu?? Terserah Lo mau ngomong apa? Tapi yang jelas gue cuma mau ngebuktiin kalo Devan itu memang benar-benar ada hubungan sama meta!"


"Apa sih maksud Lo dengan semua ini?" tanya rendi.


"Gue mau Lo percaya sama gue Rend, kalo bukti foto itu gak bikin kamu percaya coba kamu lihat di baju seragamnya meta. Di situ ada tulisan tanda tangan Devan yang menunjukan perasaannya," kata Dinda menunjuk seragam meta.


Sepertinya Dinda memang sudah merencanakan semua ini untuk mempermalukan meta. Bahkan Dinda mengatur dress code acara reuni sekolah dengan seragam yang dulu sebagai corat-coret tanda tangan perpisahan.


Rendi mendekati meta dan melihat bagian belakang seragam meta. Mencari tulisan tanda tangan yang dimaksud Dinda.


Sebenarnya meta tidak menyadari maksud tulisan tanda tangan dari Devan karena dia tak memperhatikan tulisan itu. Sewaktu selesai kelulusan meta tak pernah mengecek semua tulisan tanda tangan yang ada di seragamnya. Bahkan ketika hari ini dia pakai, dia memang tak menyadari ada tulisan tangan Devan yang tertulis di seragam sekolahnya itu.


Rendi melihat di belakang seragam meta di situ ada beberapa tanda tangan dari teman-temannya. Pandangannya dia alihkan ke sebelah kiri bahu meta. Di situ ada tanda tangan Devan yang di bawahnya tertulis "Love you meta"


Rendi terbelalak melihat tulisan itu ada di situ.

__ADS_1


"Memang ada tulisan apa Rend?" tanya meta.


"Love you meta!" kata Rendi yang berat mengucapkan kata-kata itu.


Meta kaget kalo diseragamnya ada tulisan itu, karena dia benar-benar tidak menyadarinya selama ini.


"Ini bener tulisan Lo Van?" tanya Rendi menyelidik.


Devan pun tak tahu harus berbohong atau jujur mengatakan semuanya ke Rendi.


"Itu beneran tulisanmu Van?" tanya meta.


"Iiiiya....itu tulisan aku!" jawab Devan dengan penuh keraguan.


Devan benar-benar tidak menyangka semuanya akan menjadi seperti ini.


"Akhirnya Lo ngaku kan Van, kalo selama ini Lo memang benar-benar suka bahkan cinta sama meta! Sampai-sampai Lo ngikutin meta sampai ke Jerman!"


Mungkin bagi Rendi ini bukan sesuatu yang mengagetkan buatnya, karena kecemburuannya selama ini memang beralasan. Rendi tahu kalo dari dulu Devan memang sudah menyukai meta, bahkan mungkin sebelum kepindahannya ke sekolah itu Devan sudah menyukai meta.


"Sekarang Lo percaya kan Rend sama semua omongan gue!'


Rendi tak merespon omongan Dinda itu, dan justru pergi meninggalkan mereka.


"Tunggu Rend, kamu belum denger penjelasanku!" teriak meta.


Meta pun hendak menyusul Rendi, namun tangannya ditarik oleh Dinda.


"Rasain Lo, habis ini pasti Lo bakal putus sama Rendi!" kata Dinda dengan penuh percaya diri seolah-olah dia sudah memenangkan semuanya.


"Puas Lo sekarang udah ngrusak hubungan gue sama Rendi! Puas Lo udah mempermalukan gue kayak gini! Gue gak habis pikir yah, ada yah cewek ular kayak Lo!"


"Apa Lo bilang gue ular? Kalo gue ular berarti Lo apa? Serigala berbulu domba? Pura-pura baik di depan orang, sok berprestasi, sok baik, dan blabla....!"


"Kenapa? Lo iri sama gue kan? Iya hidup gue terlalu sempurna, dan Lo memang gak bisa sesempurna kayak gue!" kata meta penuh emosi.

__ADS_1


"Yang jelas sekarang gue puas banget, karna setelah ini pasti Rendi bakal ninggalin Lo selama-lamanya!"


"Bener-bener Lo ya!"


"Kenapa? Lo gak terima? Tampar aja kalo Lo mau, ni pipi gue nih!" kata Dinda sambil menunjuk pipinya sendiri.


"Gue sih bisa aja nampar Lo sekarang, tapi gue gak mau ngotorin tangan gue buat nampar orang gak penting kayak Lo!"


Meta meninggalkan Dinda dan menyusul rendi. Dinda sebenarnya tersungut-sungut dengan jawaban meta.


"Lo tuh bener-bener ya! Apa sih salah meta sama Lo, sampai-sampai Lo ngrusak hubungan meta sama Rendi kayak gini!" tanya Devan yang masih di situ seolah dia pun juga ingin membuat perhitungan pada Dinda.


"Hahahaha, Lo gak usah tanya meta salah apa sama gue! Harusnya Lo tanya aja sama diri Lo sendiri kenapa masih bucin sama orang yang jelas-jelas udah tunangan!"


"Itu bukan urusan Lo! Dan asal lo tahu yah, semua orang berhak suka bahkan cinta ke siapa aja, dan itu juga bukan hak Lo nglarang gue mau suka ke siapa aja!"


"Devan Devan, posisi kita itu sama, harusnya kita saling bekerja sama untuk mendapatkan apa yang kita mau!"


"Lo tuh udah bener-bener sakit tahu gak! Sakit jiwa karena terobsesi sama Rendi sampai-sampai Lo gak peduli ada orang yang sakit karna dipermalukan kayak gini!"


Devan juga beranjak meninggalkan Dinda di atas panggung sendiri.


"Lo juga sebenarnya sakit kan Van! Sakit karna gak bisa dapetin meta!" teriak dinda.


Devan menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Dinda.


"Gue emang sakit, tapi setidaknya gue berlapang dada supaya orang yang gue sayangi bahagia dengan pilihannya, bukan malah justru dengan menghalakan segala cara untuk memilikinya!" jawab devan dan kemudian berlalu meninggalkan Dinda.


"Busyiit Lo Van!" teriak Dinda pada Devan yang sudah mulai menjauh darinya.


Di satu sisi Dinda puas sudah membuktikan semuanya pada Rendi, tapi di sisi lain dia juga harus memikirkan cara selanjutnya untuk melancarkan aksinya lagi supaya Rendi bisa benar-benar jatuh ke pelukannya.


Orang-orang yang ada di situ berbisik-bisik dengan segala pemikiran yang muncul karena kejadian itu. Banyak yang menganggap kalo Dinda memang tak sepantasnya berbuat seperti itu. Namun Dinda tak menggubris semua itu, yang ada dibenaknya saat ini dia merasa puas sudah mempermalukan meta.


^^Jangan lupa terus vote dan like ya....biar authornya tambah semangat nulisnya....^^

__ADS_1


__ADS_2