
Hari semakin sore, hujan pun semakin deras namun meta tak bergeming tertunduk di samping makam Rendi. Devan yang sedari tadi menunggu meta juga nampak basah kuyub saat ini.
Devan tahu betul bagaimana keadaan meta saat ini, tapi tak seharusnya meta berbuat seperti ini. Harusnya meta bisa berpikir jernih karena meski meta menangisi Rendi seperti ini tak akan merubah apa pun.
Devan menjongkokkan badannya di samping meta, berusaha membujuk meta untuk pulang karena Devan melihat wajah meta yang sudah kuyu.
"Hidup kamu gak berhenti hanya sampai di sini! Masih banyak impian dan harapan yang bisa kamu kejar!!"
Meta melihat Devan dengan pandangan sinis seolah ingin mengusir Devan dari situ dan meta ingin sendiri di samping Rendi.
"Berbicara memang mudah!!" jawab meta ketus.
"Apa dengan kamu menyiksa diri kamu kayak gini terus Rendi bakalan hidup lagi? Apa dengan cara seperti ini Rendi pasti bakalan seneng!!?" kata Devan setengah berteriak.
Air mata yang tiada henti diiringi hujan yang seakan mengisyaratkan kesedihan yang sama dengan perasaan meta saat ini bercampur menjadi satu.
"Cukup Van! Aku gak mau denger, kamu gak pernah tahu perasaan ku! Kamu gak pernah tahu gimana sedihnya aku?" kata meta di tengah Isak tangisnya.
"Emang kamu doang yang kehilangan Rendi? Semua orang juga kehilangan, apalagi Tante Karoline, tapi dia masih bisa berpikir jernih karena ini adalah takdir yang harus dia jalani! Lalu dengan kayak gini apa kamu bisa mengubah takdir yang sudah digariskan Tuhan sama Rendi!! Kalo kamu kayak gini apa Rendi juga bakal seneng lihat kamu seperti ini. Mau sampai kapan kamu nangis kayak gini? Mau sampai kapan kamu meratapi kepergian Rendi??"
Plakkkk
Satu tamparan meta mendarat di pipi Devan, hal itu yang membuat seketika suasana menjadi hening diantara mereka berdua. Devan tak menyangka meta melakukan hal itu padanya, karena dari dulu meski bercandanya keterlaluan tak pernah meta menamparnya seperti ini.
"Okey, makasih meta tamparannya, sebagai sahabat aku cuma mengingatkan kamu! Aku tahu harusnya aku gak memaksakan kehendak kamu, dan mungkin memang dari dulu aku sadar posisi aku, jadi gak sepantasnya aku selalu mengganggu kamu!" jawab Devan sambil memegang pipi bekas tamparan meta.
Devan melangkahkan kaki meninggalkan meta yang berdiri terpaku di situ. Devan merasa kecewa dengan sikap meta, namun mungkin tamparan itulah yang harus dia dapat dari dulu karena dari tamparan itu mungkin bisa menyadarkan kalau dia seharusnya melupakan perasaannya dengan meta.
__ADS_1
Meta masih diam, tangisnya pecah seketika, merasa menyesal sudah menampar Devan seperti itu. Mungkin dia keterlaluan karena sudah menampar Devan seperti itu.
"Devan ...aku minta maaf....aku gak sengaja melakukan itu!!" teriak meta di sisa tenaganya.
Devan yang sudah jauh dari tempat itu tak dapat mendengar teriakan meta.
Devan masuk ke dalam mobilnya, melepas pakaiannya yang basah dan menenggelamkan wajahnya diantara kedua tangannya yang terlipat di setir mobil.
Rasanya dia begitu emosional saat ini, yang sejujurnya dia tak ingin peduli dengan keadaan meta saat ini namun hati kecilnya bertolak belakang dengan perbuatannya. Karena dia tak sanggup meninggalkan meta begitu saja dalam keadaan seperti itu.
Di dalam hatinya sebenarnya dia khawatir jika terjadi sesuatu dengan meta karena Devan tahu sedari kemarin meta tak bernafsu makan apalagi dari kemarin meta hanya menangis tersedu tanpa memperhatikan kondisi dirinya sendiri.
"Arghh.....stop devan...berhenti memikirkan meta....!!!" umpat Devan sambil memukul setir mobil.
"Harusnya tamparan ini menyadarkan kamu kalau dia memang tak pernah peduli dengan kamu!! Harusnya kamu sadar Devan kalau perasaan meta hanya untuk Rendi, dan harusnya kamu sadar dari dulu!!!" teriak Devan sendiri.
Devan merasa kacau, dia menghidupkan mesin mobilnya dan menjalankan mobilnya untuk pergi dari makam itu.
"Shitttt!!! Kenapa aku terus khawatir sama meta!!"
Devan memutuskan untuk kembali ke makam itu lagi setelah berdebat dengan pikirannya sendiri. Devan menuju makam lagi, dia ingin melihat meta baik-baik saja.
Devan mengambil payung yang ada di mobilnya dan memilih Hoodie untuk dia pakai yang kebetulan selalu dia letakkan di bagasi mobilnya untuk
Dengan membawa payung Devan berjalan memasuki makam lagi, kali ini dia hanya ingin memerhatikan meta dari jauh untuk memastikan kondisi meta.
Devan melihat meta sudah tergeletak di samping makam Rendi, meta pingsan di sebelah makam Rendi saat Devan pergi tadi.
__ADS_1
Devan langsung berlari menghampiri meta dan buru-buru menggendongnya ke mobil.
Devan langsung mendudukan meta di jok mobilnya, terlihat wajah meta yang sudah pucat membuat Devan semakin panik.
Tanpa pikir panjang Devan melepas baju meta yang sudah basah itu dan kemudian memakaikan hoodinya untuk meta.
"Sebenarnya aku bisa saja melakukan hal apa pun sama kamu saat ini supaya aku bisa memiliki kamu seutuhnya dan kamu bisa melupakan Rendi!" batin Devan yang selalu terpesona melihat kecantikan meta.
Namun buru-buru Devan menepis pikiran-pikiran kotor yang berlari-lari di pikirannya saat ini. Devan pun langsung duduk di jok kursinya dan langsung menuju ke rumah sakit supaya meta mendapat perawatan.
******
Semalaman devan menunggui meta di rumah sakit, karena meta harus mendapat perawatan setelah semua tenaganya terkuras bersamaan dengan tangisnya yang dari kemarin tidak henti mengalir, bahkan sampai membuat meta tak bernafsu makan.
Meta bahkan harus diinfus supaya tenaganya bisa pulih kembali. Dokter menyarankan kalau meta harus istirahat beberapa hari di rumah sakit supaya dia bisa pulih kembali.
Devan menghubungi Karoline dan Risma mengenai kondisi meta saat ini. Tapi Devan melarang keduanya untuk pergi ke rumah sakit malam ini, karena devan merasa kasihan dengan tante Karoline dan juga Risma yang pasti masih kelelahan.
Sampai akhirnya Devan harus menunggu meta sendiri malam ini. Semalaman meta mengiggau menyebut nama Rendi, badannya pun menggigil karna demamnya yang begitu tinggi. Beruntung dokter langsung memberikan perawatan terbaik untuk meta.
Semalaman devan berada di samping meta, Devan menggenggam tangan meta erat. Perbuatan dan pikirannya selalu bertolak belakang, di satu sisi dia ingin bersikap acuh pada meta, di satu sisi hati kecilnya justru selalu ingin merasa dekat dengan meta.
Bahkan karena perasaannya yang begitu besar pada Meta itulah yang menyebabkan dia selalu ingin dekat dengan meta walaupun terkadang Devan harus merasa sakit hati dengan meta.
Wajah meta terlihat pucat, mungkin sudah hampir satu Minggu semenjak Rendi di rawat di rumah sakit kemarin meta sudah tidak mempedulikan dirinya sendiri.
Deva mencium kening meta lembut, seolah dia begitu khawatir dengan kondisi meta saat ini. Baru kali ini dia memberanikan mencium meta seperti ini, bahkan baru kali ini dia bisa menggenggam dan mencium tangan meta begitu lama.
__ADS_1
Mungkin bagi Devan saat ini kebersamaan ini yang sedikit membuatnya bahagia, meski mungkin ketika meta tersadar nanti pasti dia akan kembali memikirkan Rendi.
Devan mengelus rambut meta dengan lembut, sambil menggenggam tangan meta sesekali Devan mencium punggung tangan meta. Devan memang tak bisa membohongi dirinya sendiri kalau dia memang begitu mencintai meta.