
Tok...tok... tok..
Terdengar suara ketukan pintu kamar meta.
"Iya masuk."
"Mama boleh masuk?"
"Eh mama iya, masuk ma!"
Mamanya kemudian duduk disamping meta.
"Kamu lagi apa sayang?"
"Ini ma cuma lagi baca-baca buku pelajaran aja!"
"Meta kenapa?Kok lesu gitu?" kata mama ya sambil mengusap lembut rambut panjang meta.
"Nggak kok ma, gak papa!"
"Hemmm ya udah deh kalo meta belum mau cerita, mama gak akan maksa.Tapi met, mama boleh ngomong sesuatu gak?"
"Apa ma?"
"Mmm kamu ada waktu gak untuk ketemu temen mama. Yah kita makan malam bersama gitu..Tapi kalo kamu mau sih, kalo nggak mau mama gak akan maksa."
"Makan malam ma?sama temen mama?tumben mama ngajak aku ?"
"Iya...karna makan malam ini spesial...karna mama akan ngenalin kamu ke temen mama!"
"Temen spesial?mama punya temen spesial?siapa ma?" tanya meta penasaran.
"Eh...meta kamu jangan marah dulu sama mama yah. Aku tahu kamu pasti belum siap kalo tahu mama punya teman deket lagi!"
"Jadi bener mama punya temen Deket?siapa ma?"
"Meta...mama tahu kamu pasti bakalan marah kalo tahu mama punya temen spesial tapu kalo kamu mengenalnya pasti kamu bakalan setuju, karena dia baik dan dia!"
"Dia apa ma....?"
"Mmm mama takut kamu marah soal ini. Yang jelas mama sudah mengenal dia semenjak lama tapi memang baru akhir-akhir ini kita baru dekat. Meta...kamu gak marah kan sama mama?Tolong jangan marah sama mama ya?"
"Mama....aku gak marah kok...aku malah seneng mama punya temen deket. Aku tahu mama pasti kesepian dan membutuhkan orang yang bisa membuat mama bahagia"
Meta tahu kalo mamanya selama ini kesepian, meski mamanya tak pernah menunjukannya. Tapi meta tahu dari mata mamanya kalo mamanya pasti kesepian karna perceraian dari meta kecil yang membuat mamanya menyingkirkan rasa egonya untuk bekerja keras menghidupi dirinya seorang diri. Meta tak ingin egois, karna dia ingin mamanya bahagia. Meta juga ingin punya keluarga yang utuh seperti teman-temannya yang lain.
"Makasih met kamu udah ngertiin mama" kata mamanya sambil memeluk meta.
"Iya ma....asalkan orang itu baik dan bisa ngebahagiain mama pasti meta setuju!"
__ADS_1
"Makasih ya sayang kamu mau ngertiin mama. Kalo gitu berarti kamu setuju makan malam sama dia malam ini?Mama pengen kamu mengenal dia!"
"Malam ini ma?"
"Iya....ya udah kamu siap-siap yah...mama tunggu....mama juga mau siap-siap!"
"Ya udah aku siap-siap dulu ma!"
Meta pun bergegas bersiap. Tak lama kemudian meta menghampiri mamanya yang sudah menunggu.
"Kamu cantik banget sayang." kata mama meta.
"Makasih ma...ayok kita berangkat!"
Meta dan mamanya berangkat menuju restoran tempat mereka janjian untuk bertemu.
Sesampainya di restoran itu, mamanya menghampiri sebuah meja yang di situ sudah ada seorang pria yang menunggu kedatangan mereka. Pria berumur kurang lebih 45 tahunan dengan wajah tegapnya tersenyum pada meta dan mamanya.
"Maaf mas....udah nunggu lama ya" kata mama meta dengan pria itu.
"Aku baru aja Dateng kok! Ini meta?anak kamu yang sering kamu ceritain itu?"
"Oh iya kenalin ini meta... meta kenalin ini om Hans!"
"Meta om...." kata meta sambil menjabat tangan om Hans.
"Wah kamu cantik sekali!Ayo silahkan duduk!" kata om Hans mempersilahkan mereka.
"Meta sekarang kelas berapa?" tanya om Hans mulai membuka pembicaraan.
"Kelas 3 om!"
"Ow berarti sama dengan anak saya. Anak saya kelas 3 juga, tadi dia katanya mau ke sini. Mungkin terjebak macet jadi belum sampai."
"Ow...di sekolah mana om?"
"Itu di SMA...."
Belum sempat om Hans menyelesaikan kata-katanya, datang seseorang menghampiri mereka.
"Malam semuanya, maaf saya terlambat!"
Spontan meta menoleh ke arah suara yang baru saja datang.
"Rendi?" pekik meta kaget.
"Kamu... ngapain kamu ke sini met?" tanya Rendi yang juga kaget.
"Jadi kalian sudah saling kenal?" tanya om Hans bingung.
__ADS_1
"Iya...kita satu sekolah om!" kata meta gugup.
Terus terang meta gak nyangka kalo ternyata om Hans adalah papanya Rendi.
"Pah....jadi papa ngundang aku ke sini buat ngenalin meta dan mama ya ke aku!"
"Iya Rend....tadi papa kan udah jelasin ke kamu lewat telepon"
"Pah....papa boleh punya temen Deket siapa aja. Tapi jangan dengan mamanya meta!"
"Rendi kamu udah gak sopan!"
"Pah....asal papah tahu...meta ini pacar rendi pah....!"
"Apa?"
"Aku gak bisa pah! Aku gak mau papah sama mamanya meta! Aku sayang sama meta pah!"
Rendi pun kemudian pergi meninggalkan itu, Rendi benar-benar gak habis pikir dengan semua ini. Papanya ternyata selama ini dekat dengan mamanya meta.
"Rendi tunggu!" teriak om Hans
"Sudah mas, jangan dikejar!Biar Rendi menenangkan diri dulu, mungkin dia butuh waktu!" kata mama meta mencoba menenangkan om Hans.
"Meta...kamu benar pacaran sama Rendi?"
Meta tertunduk mencoba menata hatinya menerima kenyataan pahit ini.
"Iya om...aku satu sekolah sama Rendi semenjak SMP. Kita udah berpacaran semenjak SMP"
Om Hans memijit dahinya, seolah dia juga tak percaya tentang hal itu.
"Om bener-bener gak nyangka, maaf meta om bener-bener gak tahu kalau kalian berpacaran!"
"Iya om...aku tahu om pasti kaget..sama saya juga kaget om...mungkin kita butuh waktu untuk menerima semua ini! Maaf ma, meta pulang duluan yah. Mama lanjutin aja makan malamnya"
Meta beranjak pergi meninggalkan tempat duduknya.
"Met tunggu...pulang sama mama aja yah?."
"Meta pengen sendiri ma, maaf ma...meta pulang dulu ya!"
Meta benar-benar butuh waktu untuk menata hatinya. Dia benar-benar tak menyangka kalo akan seperti ini jadinya. Tapi di sisi lain dia juga tak bisa egois. Baru saja dia melihat kebahagiaan mamanya yang terpancar ketika dia bercerita tentang teman dekatnya itu.
Meta benar-benar bingung saat ini. Kesalah pahaman dengan Rendi kemarin saja belum selesai apalagi ditambah permasalahan ini.
Tak terasa air mata menetes di pipinya. Meta duduk di halte dekat restoran itu, menundukkan wajahnya yang terasa lesu.
Menatap hampa keadaan sekitar yang membuat dirinya semakin sendu.
__ADS_1
Meta mencoba ingin menerima om Hans sebagai pengganti ayahnya. Meta tahu kalo mamanya sudah kesepian begitu lama. Tapi meta juga menyayangi Rendi, entah apakah dia sanggup pisah dengan Rendi atau nggak. Meta menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menangis sejadinya menumpahkan segala yang ada di dalam hatinya yang tertahan. Dia benar-benar tak sanggup menahan rasa sedihnya kali ini.