
Hari-hari berlalu, meta semakin sibuk dengan kegiatannya di kampus. Sedangkan Rendi yang akhirnya memutuskan untuk kuliah bisnis di salah satu perguruan tinggi terbaik di Singapura. Mereka masih menjalani kehidupan kuliah mereka masing-masing, meski seperti itu tak lupa mereka saling berkomunikasi satu sama lain.
Hari ini hari pertama Rendi berangkat ke kantor mamanya, Rendi memutuskan untuk membantu mamanya di perusahaan di sela-sela waktu kuliahnya. Rencananya hari ini Rendi akan diperkenalkan sebagai pewaris perusahaan milik mamanya.
Sebelum berangkat seperti sudah menjadi rutinitasnya setiap hari sebelum berkegiatan Rendi terlebih dahulu menelpon meta.
"Hai sayang, gutten Morgen!" sapa Rendi sambil tersenyum melalui video call.
"Hello, Wah kayaknya kamu udah bisa bahasa Jerman nih! Tapi di sini masih tengah malam Rend!"
"Hehehehe, maaf aku mengangguk tidurmu karna menelponmu malam-malam. Aku lupa kalo di sana masih malam!"
"Iya gak papa, kelihatannya udah rapi banget hari ini?"
Rendi memang sudah bersiap mengenakan setelan jasnya tak ketinggalan dasi yang sudah terpakai rapi.
"Hari ini hari pertamaku kerja di kantor mama, gimana aku udah keren belum?"
Rendi yang memang sudah tampan dari lahir lebih terlihat berwibawa mengenakan setelan jasnya, meski dia masih tergolong sangat muda namun kali ini dengan pakaiannya itu justru memancarkan kewibawaan dan kegagahannya.
"Iya, kamu udah keren kok! Sayang ya aku gak bisa ngelihat kamu langsung! Pasti cewek-cewek di kantor mama kamu terpesona melihat kegantengan kamu, tapi awas ya kalo kamu nglirik cewek lain" gerutu meta.
"Gak lah, cuma kamu yang selalu ada di hatiku!"
"Gombal! Aku gak punya uang receh nih buat bayar gombalan kamu!"
"Bayar aja pake hatimu, hehehehe!"
"Heleh, gombalannya gak mempan!"
"Hehehehe, aku emang gak jago gombal sih gak kayak pemuja rahasiamu dulu!"
"Tuh kan mulai lagi!"
"Iya deh maaf! Seandainya aku bisa terbang ke sana sekarang aku pengen menemui kamu, karena aku udah kangen banget sama kamu, kangen melihat senyummu dari dekat! Maaf aku belum bisa ke sana!"
"Gak papa kok Rend, aku tahu kamu pasti sibuk, apalagi kamu juga harus ke kantor juga kan di sela-sela kegiatan kuliahmu! Sama aku juga kangen banget sama kamu!"
"O iya maaf sayang, aku harus segera berangkat, nanti aku telpon lagi setelah pulang kantor!"
"Ow okey, aku juga mau melanjutkan tidurku lagi, besok pagi-pagi harus berangkat awal karena ada kelas pagi! Kamu harus selalu semangat terus ya!"
"Iya sayang, aku akan semangat untuk menempuh kuliah dan juga kerja di kantor mama. Suatu saat kalo aku sudah mapan aku pasti akan melamar kamu! Dan aku akan menunggumu sampai kamu siap untuk aku lamar!"
"Makasih kamu sudah mencintai aku, dan terimakasih kamu sudah mau menungguku!"
"Aku akan menunggumu sampai kapanpun, kalo gitu aku berangkat dulu ya sayang! Kamu hati-hati di sana!"
"Iya kamu juga hati-hati, jangan lupa jaga kesehatanmu! Bye....!"
Meta hampir menutup teleponnya tapi Rendi memanggilnya kembali.
"Meta....!"
__ADS_1
"Iya?"
"Aku lupa mengucapkan sesuatu sama kamu!"
"Apa?"
"Ich Liebe Dich meta!"
Tut Tut Tut sambungan telepon terputus sebelum meta membalas perkataan Rendi.
Perkataan Rendi yang selalu membuat dia semakin rindu dengannya.
"Aku juga sangat mencintai kamu rend, maaf kalo aku membuatmu menungguku."
Setelah menelpon meta, dengan hati berbunga setelah menelpon meta tadi, Rendi bergegas menuju kantor mamanya menggunakan mobilnya. Rendi memang sedikit gugup kala memasuki area kantor, selama ini Rendi memang tidak pernah pergi ke kantor mamanya. Apalagi saat ini Rendi juga belum memiliki pengalaman mengenai pengelolaan perusahaan.
Rendi memasuk lift untuk menuju ruangan mamanya. Beberapa detik kemudian lift berhenti di lantai paling atas gedung itu. Rendi memasuki ruangan mamanya, Rendi melihat mamanya masih berkutat dengan beberapa dokumen di mejanya.
"Ma!" sapa Rendi pada mamanya.
"Kamu sudah datang sayang!"
Mama Rendi yang mengetahui kehadiran Rendi langsung menghampirinya dan mengajaknya untuk ke sebuah aula tempat berkumpulnya para karyawan.
"Ayo sayang kita langsung ke aula, mama akan memperkenalkan kamu kepada karyawan mama!"
"Baik ma!"
Rendi pun mengikuti mamanya menuju aula itu, semua karyawan memberikan hormat kepada Rendi dan juga mamanya kala memasuki aula itu.
Rendi pun maju ke depan, memposisikan diri di samping ibunya.
"Selamat pagi semuanya, perkenalkan nama saya Rendi Syahputra Pratama. Mohon bimbingannya kepada semuanya."
Rendi membungkukkan badannya diiringi tepuk tangan semua karyawan yang hadir di situ.
"Wah gak nyangka ya calon bos kita seganteng itu, masih muda lagi!" bisik salah seorang karyawan wanita.
Setelah acara celebrasi pengenalan, Mama Rendi memperkenalkan beberapa staf penting di perusahaan Rendi, dan memperkenalkan beberapa divisi penting di perusahaan.
"Mari pak Rendi saya antarkan untuk berkeliling di sini," kata pak Alex, sekertaris mama Rendi.
"Baik, mari pak!"
Pada dasarnya orang yang paling dia kenal di sini adalah pak Alex karena dia sudah lama menjabat menjadi sekertaris mamanya. Bahkan sesekali pak Alex juga sering datang ke rumah entah itu karna acara keluarga ataupun sesekali mengambil dokumen di rumah.
Pak Alex mengajak Rendi berkeliling kantor sembari memperkenalkan beberapa karyawan di situ.
Rendi yang tampan benar-benar sudah menyihir para karyawati perusahaan itu. Para karyawan memberi hormat pada Rendi yang melewati meja kerjanya.
"OMG! So handsome!" teriak salah satu karyawati yang ada di situ.
Rendi memang masih tergolong muda, bahkan dia masih harus banyak belajar cara mengelola perusahaan. Tapi dibenaknya kini Rendi ingin membuktikan kepada meta kalo dia akan menjadi pendamping yang sudah mapan dan bertanggung jawab dengan pekerjaannya.
__ADS_1
"Pak Rendi, setelah ini saya akan menunjukan beberapa berkas penting yang perlu nda pelajari."
"Pak Alex, tolong panggil saya seperti biasanya saja. Memangnya aku sudah setua itu apa mesti dipanggil pak!"
"Tapi kan pak Rendi sekarang adalah pemimpin di perusahaan ini!"
"Panggil aku Rendi saja!"
"Tapi kalo dimarahin Bu Karoline gimana?Baiklah saya panggil mas Rendi saja."
"Itu lebih baik dari pada kamu panggil aku pak!"
"Baik mas, kalo gitu saya antar ke ruangan anda sekarang untuk mempelajari berkas-berkas perusahaan."
Dengan sedikit membungkukkan badannya pak Alex mempersilahkan Rendi untuk berjalan lebih dahulu menuju ruangannya.
Rendi memasuki ruangan mewah dan luas yang khusus disediakan mamanya untuknya.
"Ini ruangan untuk pak rendi, eh maaf mas Rendi!" kata pak Alex membukakan pintu ruangan itu.
Rendi memandang sekeliling ruangan itu, nampaknya ada sesuatu yang kurang.
"Pak Alex tadi saya membawa figura foto di tas saya, boleh minta tolong ambilkan."
"Baik pak saya akan segera ambilkan."
Pak Alex mengambil figura dari tas Rendi yang sedari tadi dia tenteng.
"Ini mas Rendi."
Pak Alex memberikan figura itu pada Rendi, kemudian Rendi meletakkan figura itu di meja kerjanya.
"Itu foto pacarnya mas rendi!?" tanya pak Alex memberanikan diri menanyakan hal itu.
"Iya pak, dia pacar saya, sekarang sedang kuliah kedokteran di Jerman!"
"Wah cantik sekali wanita itu, pasti dia wanita yang cantik dan juga cerdas. Eh mohon maaf mas Rendi kalo saya lancang?"
"Tidak apa-apa pak Alex, anda benar dia memang wanita cantik dan pintar. Aku ingin membuktikan pada dia kalo aku mampu menjadi pria mapan dan bertanggung jawab! Meski sebenarnya dia tidak menuntut itu dariku!"
"Pasti dia begitu istimewa, sampai membuat mas Rendi benar-benar jatuh cinta seperti ini!"
"Tentu saja, dia sangat istimewa dan berarti buatku! Oh iya mana berkas yang akan saya pelajari pak?"
"Oh maaf mas Rendi saya sampai lupa memberikan berkas itu, semua sudah di siapkan di meja mas Rendi. Nanti silahkan mas Rendi pelajari, dan kalo mas Rendi kesulitan nanti silahkan panggil saya."
Pak Alex menunjukan berkas-berkas yang akan dipelajari Rendi.
"Kalo begitu saya permisi dulu mas Rendi, nanti kalo perlu apa-apa silahkan panggil saya!"
"Iya, makasih pak!"
Pak Alex meninggalkan Rendi di ruangan itu sendiri. Di tengah kesibukannya mempelajari berkas Rendi melihat figura yang tadi dia pasang di meja kerjanya.
__ADS_1
Rendi membelai foto meta yang terpampang di figura itu. Pikirannya tiba-tiba teringat akan kenangan kebersamaannya dengan meta dulu.
"Aku benar-benar merindukanmu meta!" gumam Rendi sambil memandangi foto meta.