TERJEBAK CINTA META

TERJEBAK CINTA META
Siapa pemuja rahasia itu?


__ADS_3

Teruntuk seseorang yang selalu dinanti,


Jika ada kata yang bisa kuucapkan padamu saat ini....pasti yang akan terucap hanyalah kata cinta yang terletak jauh di lubuk hati terdalam.....


Rasa cinta yang terpendam lama yang makin lama terkubur oleh sakitnya hati....


Tapi aku tetap akan kuat....sebab melihat senyum adalah kekuatanku.....


Jika ada pemaknaan kata yang mendalam.....ingin ku tulis indahnya cinta dalam hati yang entah sampai kapan menanti....


Memang tak ada yang pasti di dunia ini....kecuali cinta ini yang pasti selalu menanti....


Sesungguhnya perasaan ini.....


Sesungguhnya cinta ini....


Sesungguhnya gejolak jiwa ini.....


sesungguhnya rasa getir ini....


dan sesungguhnya penantian ini....


Hanyalah untukmu seseorang yang selalu dinanti.....


Mungkin harusnya menyadari...cinta tak harus memiliki.....


Dan yang paling hakiki dari cinta adalah melihat orang yang kita cintai bahagia......meski kebahagian itu bukan bersama dengan kita....


Seandainya ada kesempatan.....


Seandainya ada ruang kosong di hatimu....


Seandainya sedikit saja hatimu terbuka...


Dan seandainya kamu melihatku....


Aku ingin.....ingin mendapatkan hatimu....


Dariku,


Orang yang mencintaimu dari jauh


Pagi-pagi meta sudah menerima surat lagi, surat dengan tipe yang sama seperti beberapa hari lalu. Entah siapa pengirimnya, meta berpikir ini bukan dari Ardian terlihat dari tulisan tangan yang berbeda. Tapi dari siapa?meta berpikir keras menerka siapa yang mengirim surat itu.


"Met!" sapa Devan mengagetkan lamunan meta.


"Heh, kamu bikin aku kaget aja!"

__ADS_1


"Makanya jangan nglamun, pagi-pagi udah nglamun!Mikir apa sih?"


"Eh...nggak ko!"


"Baca apa tuh!" tanya Devan.


"Nggak, bukan apa-apa kok, gak penting!" kata meta yang kemudian memasukkan surat itu ke dalam tas.


"Cie...cie...dapat surat cinta lagi ya?"


"Gak kok, apaan sih!"


Meta pikir kalo bukan dari ardian, mungkin bisa jadi Devan pengirimnya tapi melihat ekspresi Devan seolah datar-datar saja.


Tetapi meta penasaran dan ingin mencari tahu siapa pengirim surat itu.


Pagi berikutnya meta menjumpai surat yang sama, bahkan kali ini ada setangkai bunga mawar putih yang masih segar seperti baru saja dipetik dari pohonnya. Meta semakin dibuat penasaran dengan surat itu. Beberapa kali dia mencoba mencocokan catatan buku tulis beberapa teman cowok di kelasnya.


Alhasil dia belum menemukan yang mirip dengan tulisan tangan di suratnya. Bahkan meta berusaha berangkat lebih awal supaya bisa mengetahui siapa yang meletakkan surat-surat itu di atas mejanya. Tapi hasilnya nihil, selalu saja dia sudah mendapati surat itu ada di atas mejanya.


Hampir kehilangan akal meta ingin membuktikan siapa pengirim surat itu. Sampai suatu ketika pada waktu pelajaran bahasa Indonesia, semua murid di kelasnya diminta untuk membuat contoh surat bertema bebas, yang kemudian masing-masing surat saling ditukar dengan temannya yang lain dan siapa pun yang mendapat surat itu harus membalasnya.


Kebetulan waktu itu saat pertukaran surat Rika mendapat surat dari Devan, sedangkan meta mendapat surat dari Raka salah satu teman sekelasnya. Semula meta hendak membalas surat milik Raka, karna itu yang dia dapat. Tapi saat itu dia melihat Rika memegang surat dengan tulisan tangan yang seperti dia hafal betul tulisan tangannya itu.


"Rik, kamu dapet surat dari siapa tuh?boleh lihat?"


Meta terbelalak menatap tulisan tangan dari Devan. Tulisan tangan itu benar-benar mirip dengan surat itu.


"Rik, boleh gak tukeran? Kamu balas suratnya Raka dan aku bales suratnya Devan....please.....!" kata meta memohon.


Bukannya tanpa alasan meta meminta surat itu, dia ingin menyamakan dan menyelidiki tulisan tangan Devan.


"Memangnya kenapa pake tuker segala?"


"Yah gak papa, please ya nanti aku traktir bakso di kantin deh!"


"Oke deh kalo gitu, tapi beneran Lo traktir baksonya!"


"Iya beneran, makasih ya!"


Rika pun menyerahkan surat Devan itu pada meta. Diam-diam meta mencocokan tulisan surat yang dia terima dengan surat tugas bahasa Indonesia itu.


"Benar-benar mirip! Berarti yang selama ini mengirimkan surat itu adalah....Devan???" gumam meta dalam hati.


Meta membaca surat dari Devan dan kemudian meta membalas surat itu. Walaupun sebenarnya surat balasannya itu tidak sesuai dengan apa yang dituliskan Devan dalam surat itu. Karena di surat Devan di situ hanya berisi percakapan biasa.


Teruntuk Devan,

__ADS_1


Jika memang dalam surat mampu mengungkapkan perasaan seseorang yang tersembunyi aku yakin penulisnya mampu menahan semua rasa.....


Tapi kenapa?kenapa tak mengatakan terus terang saja tentang perasaan....


Berpura-pura membohongi diri sendiri....


Tapi tak apa biarlah sepucuk surat saja yang selalu berbicara kepadaku tentang kejujuran perasaan....


From "M"


Setelah semua membalas surat itu, akhirnya balasan itu diterima oleh pengirimnya kembali. Begitu terkejutnya Devan ketika melihat surat balasan itu. Devan membaca isi surat balasan itu.


"M....?apa maksud inisial itu meta?di kelas ini siapa lagi teman yang punya nama m selain meta?Jadi dia tadi yang baca surat tugasku ini meta!Bodohnya aku. Pasti dia sudah mencocokan tulisan surat ini dengan surat-surat yang dia kirim kemarin!Bodo banget sih kamu Van!!!" umpat Devan sendiri.


Dari jauh meta mengamati ekspresi Devan yang terlihat canggung setelah melihat isi dari surat itu.


Saat waktu pulang sekolah meta berniat ingin menanyakan itu pada Devan. Tapi sebelumnya meta pamit ke Rendi kalo dia akan dijemput dengan sopirnya jadi gak perlu untuk diantar pulang. Meta tak ingin Rendi sampai tahu mengenai surat itu, dia takut akan terjadi kesalahpahaman diantara mereka.


Apalagi ini menyangkut Devan musuh bebuyutannya. Meta menghampiri Devan yang sedang tanding basket di lapangan, karna seperti biasa Devan selalu latihan basket sepulang sekolah.


"Van aku mau ngomong sama kamu boleh?" teriak meta di pinggir lapangan.


Devan yang tadinya asyik bermain harus menghentikan permainannya dan menghampiri meta.


"Iya ada apa met?"


"Aku pengen ngomong sama kamu tapi gak di sini. Bisa?"


"Okey!"


Devan pun mengikuti meta.


"Van, tadi kamu udah baca surat balasan tadi, yang tugas bahasa Indonesia tadi Lo!"


"Udah, memangnya kenapa met?"


Sebenarnya Devan tahu arah pembicaraan meta, pasti dia akan membahas tentang surat itu.


Meta mengeluarkan surat-surat yang dia terima kemarin dan menunjukkan pada Devan.


"Van....aku mohon kamu jujur sama aku!"


"Ini surat-surat apa met kok banyak gitu?" tanya Devan pura-pura tidak tahu menahu.


"Aku mohon Van kamu jujur sama aku, kamu kan yang ngirim surat-surat ini?"


"Hah... surat mana mungkin, kok kamu bisa ngira aku yang ngirim!!Kan biasanya Ardian yang suka ngirimin kamu surat-surat katak gitu!" kata Devan mencoba menutupi.

__ADS_1


"Kenapa sih Van kamu gak jujur sama aku?Aku udah cocokin tulisan surat ini dengan surat tugas bahasa Indonesia tadi dan itu sama dengan tulisan kamu. Please aku mohon kamu jujur Van!"


__ADS_2