TERJEBAK CINTA META

TERJEBAK CINTA META
Berangkat Ke Jerman


__ADS_3

Beberapa Minggu ini meta melakukan persiapan untuk keberangkatannya ke Jerman. Hari ini setelah semuanya siap, meta diantar oleh mamanya dan juga Rendi ke bandara. Memang berat bagi meta untuk meninggalkan orang-orang yang dia sayangi. Apalagi kali ini dia harus berpisah dengan mamanya untuk waktu yang cukup lama. Meta pun sebenarnya juga susah untuk berpisah dengan Rendi.


Waktu keberangkatan pesawat hampir tiba. Meta memeluk mamanya erat diiringi Isak tangisnya yang tak dapat dibendung.


"Hati-hati ya sayang, jaga diri baik-baik di sana! Maaf mama gak bisa nganter kamu ke Jerman" kata mama meta sambil memeluknya erat.


"Iya gak papa kok, mama juga baik-baik ya di sini, jangan capek-capek dan selalu jaga kesehatan. Meta pamit ya ma!"


Meta menangis terisak sambil memeluk mamanya.


Meta kemudian menghampiri Rendi dan memeluknya. Meta tahu betul dari ekspresi Rendi, sebenarnya Rendi juga memendam kesedihannya. Meta tahu Rendi mencoba menahan kesedihannya itu di depannya.


"Aku berangkat ya Rend!" kata meta sambil memeluk Rendi.


Rendi mencium kening meta dan mengusap lembut punggung meta.


"Kamu hati-hati ya, maaf aku gak bisa nganter kamu ke Jerman walaupun sebenarnya aku khawatir banget sama kamu!"


Rendi merasa berat melepas meta untuk pergi, tapi kali ini dia mencoba tegar di depan meta supaya meta tidak cemas dengan keadaannya.


"Jangan lupa jaga kesehatan kamu! Dan jangan nglirik cewek lain!" ancam meta pada Rendi.


"Iya, aku janji gak bakal macem-macem! Kalo nanti urusanku di Singapura udah selesai nanti aku akan berkunjung ke Jerman."


"Beneran? Aku tunggu kedatanganmu!"


Meta memeluk Rendi erat seakan tak ingin berpisah, namun semakin dia memeluknya rasa sedih itu kembali muncul dan membuatnya berat untuk pergi.


"Aku pamit ya!" kata meta melepaskan pelukannya.


"Aku pasti bakalan kangen banget sama kamu!"


"Sama aku juga pasti akan kangen banget sama kamu!"


"I love you meta! Aku sayang banget sama kamu!"


"I love you too Rendi!"


Meta melangkah meninggalkan mereka, melambaikan tangan pada kedua orang yang dia sayangi.


"Aku harus bisa!' pekik meta dalam hati saat dia mulai meninggalkan mereka.


Meta kembali menitikkan air matanya, seakan tak sanggup berpisah dengan mereka. Begitu pula dengan Rendi baginya mungkin ini adalah perjalanan yang berat. Berpisah dengan orang yang paling dia sayang. Bahkan kali ini dia tak bisa menemaninya sampai ke Jerman karena Rendi harus mengurus kuliahnya di Singapura dalam waktu dekat.


Meta masuk ke dalam pesawat, mencari nomor tempat duduknya. Setelah bertemu tempat duduk yang sesuai yang tertera di tiket, dia menaruh barang bawaannya ke dalam bagasi. Meta melihat orang yang duduk di samping tempat duduknya. Orang itu menggunakan kaca mata dan juga topi jadi saat itu meta tak bisa melihat jelas wajahnya. Tapi meta tak ambil pusing dan duduk di kursinya sendiri.


Sesaat meta masih melamun dan membayangkan saat-saat kebersamaan dengan mamanya dan juga Rendi. Tak terasa air matanya menetes lagi kala mengingat kejadian-kejadian saat mereka bersama.

__ADS_1


"Mbaknya jadi jelek kalo nangis!" kata seseorang di samping meta.


Meta menoleh ke arah orang itu dengan tatapan tajam.


"Maaf anda bicara sama saya?" tanya meta pada orang itu.


"Ya iyalah sama anda, yang di sebelah saya kan cuma anda! Aduh mbaknya ini terlalu baper banget sih pake nangis segala!"kata orang itu tanpa menoleh.


"Maaf ada urusan apa ya kok anda bilang saya baper segala!" kata meta ketus.


Meta yang tadinya galau karna kesedihannya, berubah menjadi kesal karena bertemu dengan orang aneh yang ada di sebelahnya.


"Urusan? Tentunya saya ada banyak urusan dengan anda!"


Orang itu memandang ke arah meta dan membuka kaca mata dan topinya.


"Devannnn! Demi apa pun, sumpah ini beneran kamu? Ngapain kamu di sini?" teriak meta.


"Sst!! Berisik tahu! Nanti seisi pesawat ini tahu bisa berabe!" kata Devan menutup mulut meta yang berteriak.


"Hah emang kenapa kalo mereka tahu? Mereka kan gak kenal kamu!"


"Justru itu! Kalo mereka kenal, cewek-cewek yang ada di sini bakal ngejar-ngejar aku karna saking takjubnya melihat kegantenganku!"


"Hahahaha!Gak lucu tau!" kata meta dengan nada meledek sambil berkacak pinggang.


"Devan!! Beneran deh, kamu ngapain ada di sini? Jelaskan!"


"Aku? Yang jelas aku mau jalan-jalan ke suatu tempat!"


"Van aku serius! Jawab yang bener dong!!"


"Aku juga serius tahu, aku pengen jalan-jalan keliling Eropa!"


"Boong banget! Kamu pasti sengaja ngikutin aku kan!"


"Idih...PD banget si mbaknya ini!"


"Bener-bener yah ini anak! Bikin kesabaranku habis!!"


"Hahahaha, meta meta, kamu kenapa sih jadi orang serius banget!"


"Au ah gelap!"


"Ceileh gitu aja ngambek!! Ntar cepet tua Lo!"


"Bodo!!"

__ADS_1


"Beneran ngambek nih, ya udah deh mending aku tidur aja!"


"Ya udah sana tidur!"


"Tapi jangan nangis lagi yah!! Ntar tidurku keganggu kalo denger suara orang nangis!"


"Bener-bener yah ni anak!" gerutu meta.


Benar saja Devan mengacuhkan pertanyaan dan kata-kata meta, Devan justru memakai kaca matanya lagi dan pura-pura tidur.


Kali ini meta benar-benar marah dengan Devan karena tak menjawab pertanyaannya, meta pun juga memutuskan untuk tidak bicara dengannya lagi dan memilih menggunakan eraphonenya untuk mendengarkan lagu-lagu.Tanpa sadar meta terlelap tidur dalam perjalanan.


Devan pun melihat meta yang sudah tertidur, dan menyandarkan kepala meta di bahunya.


Beberapa jam perjalanan meta masih tertidur, bahkan meta belum terbangun saat pesawat sudah landing.


"Met, bangun udah sampai nih!"


"Ya ampun aku ketiduran! Kita sampai mana nih!"


"Habisnya kamu dari tadi tidur mulu gak bangun-bangun, sampai gak nyadar kalo pesawatnya udah landing! Sampe pegel tahu gak bahuku kamu sandarin!"


"Salah siapa mau aja bahunya jadi tempat bersandar!"


"Yah gimana ya, emang gak bisa dipungkiri sih bahu aku itu memang tempat ternyaman buat cewek-cewek bersandar!'


"Ya elah ni anak, PD banget sih!"


Meta beranjak dari tempat duduknya mengambil semua barang-barangnya, bersiap untuk menuju ke alamat yang akan dia tuju.


*********


Setelah mengantar meta, Rendi pun langsung terbang ke Singapura menuju rumah mamanya. Sampai di rumahnya dia tak melihat mamanya berada di rumah. Akhirnya Rendi hanya duduk di balkon kamarnya sambil sesekali menatap hpnya menunggu kabar dari meta. Saat ini Rendi hanya menatap hampa langit malam dengan kesendiriannya. Rendi merasa hampa tanpa kehadiran meta. Sambil sesekali dia bersenandung dengan gitarnya semata-mata untuk mengalihkan kesedihannya.


At night when the star light up my room


I sit by my self


Talking to the moon


Trying get to you


Ini hopes you're on the other


Talking to me too or am I a fool


Who sits alone, talking to the moon

__ADS_1


Tanpa sadar Rendi memainkan gitar dengan menatap langit malam yang menemani kesendiriannya.


__ADS_2