
Pagi ini rencananya Rendi akan pergi ke kampus untuk mengurus pendaftarannya sebagai mahasiswa baru. Walaupun sebenarnya dia sudah tak berminat untuk itu. Rendi melangkah menuju meja makan untuk sarapan pagi sebelum dia pergi. Terlihat mamanya sudah duduk di meja makan untuk menikmati sarapannya.
"Pagi ma!" sapa Rendi.
"Eh anak mama udah pulang ke sini lagi! Kamu jam berapa kemarin datang?"
"Jam 7 aku udah sampai sini! Kemarin pas aku pulang mama gak ada jadi aku langsung tidur!"
"Maaf kemarin mama pulangnya agak malem karena ada makan malam bersama rekan bisnis mama. Rend, hari ini kamu ke kampus kan?"
"Iya sih," kata Rendi malas.
Sebenarnya pagi ini meski Rendi sudah mandi bahkan sudah rapi tapi entah kenapa wajahnya nampak kusut seperti tak ada semangat seperti biasanya.
"Kayaknya kamu gak bersemangat, ada apa sih? Karena meta?" tanya mamanya lembut.
"Gitu deh ma, meta udah berangkat ke Jerman. Rendi juga pengen kuliah di sana ma!"
"Rend, mama tahu ini berat buat kamu, tapi harusnya kamu juga paham dong. Kamu kan harus beberapa kali check up di sini supaya kamu benar-benar clear dari sakit kamu. Semua dokter yang biasa menangani kamu ada di sini. Mama harap kamu bisa sabar ya, lagipula kamu juga harus kuliah di sini, kamu tahu kan suatu saat perusahaan yang mama rintis di sini harus kamu tangani."
"Jadi mama gak setuju kalo aku kuliah di Jerman?"
"Bukannya gitu, mama cuma khawatir aja sama kesehatan kamu kalo kamu kuliah jauh ke Jerman. Lagi pula mama juga membutuhkan kamu di sini. Nanti sambil kuliah rencananya mama akan mengajak kamu untuk sedikit demi sedikit ikut mengurus perusahaan kita. Jadi kalo kamu lulus kuliah nanti kamu sudah bisa menguasai perusahaan."
"Tapi ma, aku gak bisa jauh dari meta!"
"Mama tahu ini pasti berat, tapi Rend inginkan juga demi masa depan kamu juga kan? Meta juga pasti bangga kalo kamu menjadi orang yang sukses, lagi pula kamu juga harus memberi kesempatan pada meta untuk mengejar impiannya."
Benar apa yang dikatakan oleh mamanya, harusnya dia gak harus kekanak-kanakan seperti ini. Harusnya dia memberi kesempatan pada meta untuk mengejar mimpinya.
"Aku takut kehilangan meta ma, aku cuma mau dia di sampingku!"
Mamanya tersenyum dan menghampiri Rendi, membelai rambut Rendi dengan penuh kasih sayang.
"Rendi, mama yakin meta itu anak yang baik, bahkan dia itu wanita yang cerdas dan gigih, dia pasti akan setia sama kamu. Percayalah kalo kamu berjodoh dengannya meski jarak memisahkan kalian, meski harus menunggu untuk waktu yang lama, pasti dia akan kembali sama kamu!"
"Mama bener, harusnya aku juga semangat menempuh semua ini seperti meta."
"Mama hanya bisa memberi semangat kamu, selebihnya kamu sendiri yang akan memutuskan untuk masa depanmu. Jadi hari ini kamu jadi ke kampus?"
"Jadi ma, nanti aku ke kampus untuk mengurus semuanya."
"Ya udah jangan sedih lagi dong, nanti kamu bisa mengunjungi meta kalo kamu sedang libur."
__ADS_1
"Iya ma."
"Kalo gitu mama berangkat kerja dulu ya!" kata mama Rendi sambil berlalu meninggalkan Rendi yang masih sarapan.
Setelah sarapan Rendi mengambil mobilnya bersiap menuju kampus untuk mengurus pendaftaran.
**********
Di tempat lain
Hari ini hari pertama meta berangkat ke kampus. Setelah jam kuliah selesai meta memutuskan untuk jalan-jalan ke sekitar kampus. Meta memang masih belajar menyesuaikan diri dengan lingkungannya saat ini. Dia berusaha mengenali sudut-sudut di kampusnya serta berusaha beradaptasi dengan teman-teman barunya di sini.
Meta duduk di tempat teduh di bawah pohon, memandang sungai yang terlihat indah sambil menikmati sarapan nasi goreng yang tadi dia bikin sendiri sebelum berangkat kuliah. Meta melihat hiruk pikuk keramaian kampus yang tertata rapi. Sesekali ada perasaan rindu terselip di hati meta. Rindu dengan mamanya dan juga Rendi.
"Hei cewek, sendirian aja nih!" sapa seseorang.
Meta menengok ke arah sumber suara orang itu, sepintas terpikir mana mungkin ada orang Jerman berbahasa indonesia. Meta sudah bisa menebak kalo orang itu adalah Devan, entah kenapa akhir-akhir ini Devan seperti jin yang mengikutinya kemana-mana.
"Aduh 4 L buat lo!"
"Hah 4 L? Apa tuh?"
"Lo lagi Lo lagi!"
"Lagian ngapain sih ngikutin gue?"
"Mentang-mentang di Jerman sekarang bilangnya Lo gue!"
"Apaan sih gak ada hubungannya tau gak?"
"Jelas adalah, hubungannya kamu pengen terlihat gaul di sini!"
"Idih ni anak makin gak nyambung, sebenarnya ngapain sih kamu ngikutin aku?"
"Nah gitu dong, kan enak dengernya kalo bilang aku kamu."
"Gak usah ngalihin pembicaraan deh Van! Jawab pertanyaanku, ngapain kamu ngikutin aku terus? Kayak orang gak punya kerjaan tahu gak!"
"Kan kemarin aku udah bilang, aku kuliah di sini. Lagi pula aku juga udah bilang mau jadi bodyguard kamu!"
"Sumpah Van, gak lucu bercandanya. Udah dong Van, gak capek apa dari kemarin boong terus sama aku?"
"Sapa juga yang becanda, orang aku se kok. Aku beneran kuliah di sini."
__ADS_1
"Jurusan apa?"
"Sains. Kamu tahu kan aku suka hal-hal tentang sains."
"Kok bisa?"
"Meta, apa sih yang gak mungkin di dunia ini. Kamu gak inget, selain aku jago basket, aku jago mengenai dunia sains."
Meta teringat Devan juga salah satu lulusan terbaik di sekolahnya yang unggul secara akademis, jadi bukan hal yang mustahil dia bisa kuliah di bidang sains di kampusnya.
"Malah bengong lagi!"
"Siapa yang bengong, aku cuma lagi mikir aja, kenapa tiba-tiba kamu bisa satu kampus sama aku? Masak iya kebetulan? Terus kamu juga booking kamar apartemen sebelah kamarku!"
"Mungkin udah jodoh kali!"
"Apa kamu bilang tadi?"
"Eh gak, cuma becanda kok, gak usah serius-serius sih jadi orang!"
Meta mendengus kesal dengan keanehan Devan yang terus menerus masih menyembunyikan maksud dan tujuannya.
"Kamu bawa nasi goreng? Boleh minta gak, laper nih belum sarapan. Biasanya kalo di Indonesia udah dimasakin sarapan sama si bibi nih kalo jam-jam segini."
"Ups sorry udah habis! Makanya belajar masak sendiri dong!"
"Heleh kayak udah bisa masak aja! Paling cuma bisa masak nasi goreng sama mie instan doang!"
"Enak aja, bisa masak macem-macem kali!"
"Masa sih? Gak percaya gue!"
"Terserah!"
"Heleh gitu aja ngambek! Kenapa sih sekarang jadi tukang ngambek?"
"Gak tahu nih, mungkin karena akhir-akhir gue sering ketemu orang nyebelin yang selalu ngikutin gue!"
Meta bangkit dari tempat duduknya, berjalan meninggalkan Devan di situ.
"Eh met mau kemana sih, ya elah gitu aja ngambek!" kata Devan sambil berlari mengejar meta yang semakin jauh.
Meta justru mempercepat langkahnya semakin menjauhi Devan. Karena pada dasarnya meta juga kesal dengan Devan yang terus menerus mengikutinya tanpa dia tahu apa maksud dan tujuan Devan yang sesungguhnya.
__ADS_1