TERJEBAK CINTA META

TERJEBAK CINTA META
Desa Temukus


__ADS_3

"Siapa sayang?" tanya Rendi yang heran melihat meta dari tadi gelisah melihat hpnya.


"Eh gak kok! Kita makan di cafe itu aja yuk!" jawab meta sambil menunjuk salah satu cafe yang ada di situ.


"Okey, kita ke sana!"


Mereka berdua memutuskan untuk makan malam di cafe dekat pantai. Dalam hati meta masih penasaran dengan peran yang dikirim oleh Devan tadi.


"Masak iya Devan ada di sekitar sini, gak mungkin! Tapi kalo dia bohong masak dia tahu kalo aku sekarang lagi dan di pantai?" pikir meta dengan segala hal-hal yang menjadi pertanyaan di benaknya.


"Rend, aku mau ke kamar mandi dulu ya!"


"Ya udah, mau di anterin?" tanya Rendi.


"Eh...gak usah, aku sendiri aja!"


"Okey!"


Meta pun bergegas menuju kamar mandi dengan membawa hpnya.


Rendi bertanya-tanya kenapa meta tiba-tiba bertingkah aneh seperti itu. Bahkan dia melihat meta membawa hpnya ke kamar mandi.


Meta langsung menelpon Devan setelah sampai di kamar mandi.


"Halo Van, ada perlu apa tadi telpon aku?"


"Eh, akhirnya kamu telpon aku! Aku cuma pengen tahu kabar kamu aja kok!"


"Van, sekarang aku lagi sama Rendi. Jadi aku gak bisa bales pesan kamu tadi."


"Aku tahu kok kamu lagi di Bali kan?"


"Kok kamu bisa tahu sih?"


"Karna aku juga lagi di sini."


"Hah maksud kamu?" tanya meta heran.


Meta merasa bingung dengan apa yang Devan katakan.


"Hei aku di belakangmu!"


Spontan meta menghadap ke belakang, dan dia sudah melihat Devan berdiri di belakangnya.


"Devan?? Kamu ngapain di sini?" tanya meta heran.


"Seperti yang kamu lihat, aku liburan di sini!"


"Van, kamu ngikutin aku? Masak iya kita bisa samaan kayak gini liburannya. Kamu pasti boong, kamu pasti ngikutin aku kan!"


"Udah aku bilang aku ke sini juga pengen liburan!"


"Ya udah kalo gak mau ngaku! Aku gak akan maksa! Tapi sekarang aku lagi sama Rendi, jadi please banget jangan sampai dia tahu kalo kamu ada di sini."

__ADS_1


"Kenapa? Kamu takut dia cemburu sama aku?'


"Kayaknya gak perlu aku jawab deh pertanyaanmu itu, kamu pasti udah tahu kan jawabannya apa? Ya udah deh, aku mau ke sana lagi, takut Rendi nyariin."


Meta hendak beranjak dari situ, namun tangannya ditarik oleh Devan.


"Met...."


"Apalagi sih Van? Aku gak enak ninggalin Rendi kelamaan!"


"Jawab pertanyaanku dulu!"


"Pertanyaan apa lagi sih Van?"


"Apa bener kamu udah tunangan sama Rendi?"


Meta menunjukan cincin tunangan yang dia kenakan pada Devan.


"Aku memang udah tunangan sama Rendi."


Devan tertegun dan berangsur melepaskan tangannya dari tangan meta.


"Udah ah, udah aku jawab kan. Sekarang aku mau ke sana lagi. Dan buat kamu selamat menikmati liburan kamu di Bali ya...bye...!'


Meta meninggalkan Devan yang masih mematung di situ.


"Kamu udah tunangan sama Rendi?"


Tiba-tiba Devan menendang salah satu pot cafe yang ada di dekatnya.


Rasa cemburu bercampur frustasi menyelimuti pikiran dan hati Rendi saat ini.


Meta kembali ke mejanya, dia melihat sudah ada beberapa hidangan yang tersaji di mejanya.


"Dari mana? Kok lama banget sih?" tanya Rendi.


"Nggak tadi agak sakit perut aja, makanya agak lama. Maaf ya kelamaan nunggu!" jawab meta bohong.


"Iya gak papa kok. Kita makan yuk, aku udah lapar nih!"


" Aku juga udah laper banget nih!"


Mereka berdua menikmati makan malam sambil sesekali saling menyuapi satu sama lain.


Desa Temukus


Pagi ini meta dan Rendi berangkat menuju salah satu desa yang menjadi tempat bersejarah bagi mereka. Dulu waktu mereka terakhir ke tempat itu masih duduk di kelas 2 SMP saat study wisata sekolah.


"Kenapa harus nyetir sendiri sih Rend? Kan tempatnya lumayan jauh dari hotel. Nanti kalo kamu capek gimana?"


"Gak papa sayang, kamu kayak gak tahu aku aja, dari dulu aku kan lebih suka nyetir sendiri. Lagi pula aku gak mau ada orang ketiga yang mengganggu kita!"


"Orang ketiga?" tanya meta.

__ADS_1


Sesaat kata-kata Rendi mengingatkan pada kejadian semalam. Terang-terangan dia bertemu Devan di cafe, meta cuma gak mau Rendi tahu kalo Devan juga ada di sini.


"Iya orang ketiga, kan kalo kita ngajak supir dia kan jadi orang ketiga diantara kita!"


"Oh....!"


"Emang kamu pikir siapa?"


"Nggak...gak mikir siapa-siapa kok! Sebenarnya aku cuma khawatir aja kamu kecapekan. Apalagi kita kan gak tahu daerah sini, takut kalo nyasar."


"Ya ampun sayang, kan pakai GPS jadi gak mungkin nyasar. Pokoknya kamu tenang aja, kamu tinggal duduk manis, nikmati pemandangan dan tetap tersenyum cantik."


"Hah.... tersenyum cantik?"


"Iya...kalo kamu tersenyum kan aku tambah semangat nyetirnya."


"Iya deh aku ngikut aja! Asal kamu bahagia!"


"Ceilah.... kata-katanya asal kamu bahagia!" kata Rendi menggoda meta sambil mencubit dagunya.


"Rendi ah...udah fokus nyetirnya!"


Rendi tersenyum melihat tingkah laku meta yang selalu cemberut kalo dia sudah mulai menggodanya.


Perjalanan ke desa temukus mereka tempuh dalam beberapa jam. Sepanjang jalan mereka menikmati pemandangan perbukitan di kiri kanan jalan.


Setibanya di desa temukus mereka disajikan pemandangan luar biasa. Hawa dingin di desa temukus menambah suasana romantis perjalanan mereka.


Hamparan bunga Kasna yang berwarna putih seperti suasana winter di negara 4 musim. Tidak hanya itu mereka berdua juga disuguhi pemandangan bunga gemitir.


Taman gemitir yang indah dengan nuansa oranye dan kekuningan semakin menambah indahnya pemandangan alam.


Tak henti-hentinya meta mengagumi keindahan alam yang terhampar di depannya. Sesekali meta dan Rendi mengambil foto dengan berbagai pose.


Mereka berjalan-jalan menikmati hamparan bunga yang indah sambil tak berhenti mengaguminya. Sampai akhirnya mereka berdua berhenti di suatu spot bersejarah bagi mereka.


"Kamu masih ingat kan sayang tempat ini?" tanya rendi.


"Pasti masih ingatlah. Dulu waktu itu kamu tiba-tiba narik aku ke sini dan kamu nyatain perasaan kamu di sini!"


"Hehehehe dulu aku masih kekanak-kanakan banget yah."


Rendi mengenal meta semenjak dia satu kelas dengan meta waktu kelas 2 SMP. Bahkan Rendi sudah menyukai meta semenjak pertama kali dia bertemu. Dan semenjak meta satu kelas dengannya, Rendi pun tak pernah berhenti menunjukan perasaannya pada meta.


Hampir setiap hari Rendi berusaha menarik perhatian meta. Hingga pada waktu kenaikan kelas, seperti rutinitas sekolah setiap tahun sekolah mengadakan studi tour ke Bali.


Di saat di tempat inilah Rendi yang dulu masih kekanak-kanakan mengajak meta diantara hamparan bunga itu dan mengutarakan perasaannya pada meta.


Rendi memang bukan tipe laki-laki yang suka bergombal-gombal ria atau berpuitis ria untuk menarik perhatian meta. Tapi justru itulah yang membuat meta saat itu bisa menerima Rendi sebagai pacarnya. Karena meta juga tidak suka laki-laki yang suka lebay mengirim kata-kata gombalan untuk para wanita.


"Kamu dulu tuh gak ada romantis-romantisnya. Masak dulu nembak aku cuma bilang aku suka sama kamu dari semenjak pertama kali bertemu dan aku pengen kamu jadi pacar aku! Kaku banget tahu gak!!"


"Kan aku dulu grogi banget! Butuh waktu dan keberanian buat ngomong kayak gitu ke kamu! Tapi akhirnya kamu nerima aku kan!"

__ADS_1


"Iya sih, itu karena aku suka sama cincin yang kamu buat dari bunga!"


Meta kembali mengingat momen di saat Rendi memetik salah satu bunga di situ dan kemudian dia jadikan cincin untuk dipakaikan ke jarinya. Dan pada saat meta menggunakan cincin itulah yang menandakan dia menerima cinta Rendi.


__ADS_2