TERJEBAK CINTA META

TERJEBAK CINTA META
Kritis


__ADS_3

Beberapa jam menunggu di depan ruang ICU meta masih tetap menangis. Karoline pun sudah sampai di rumah sakit beberapa saat setelah diberitahu mengenai kondisi Rendi. Semua menunggu dengan kecemasan, bahkan tak satupun orang yang bisa memejamkan mata meski malam sudah larut dan lelah badan juga tak terhindarkan.


Dina yang berada baru keluar dari ruang ICU yang tepat berada di sebelah ruang ICU Rendi. Dina berjalan mendekati meta yang masih kalut.


"Meta....Tante boleh bicara sebentar?"


Meta yang dari tadi melamun mencoba mengalihkan pandangannya ke Dina.


"Ada apa Tante?" jawab meta lirih.


"Tante boleh minta tolong ke kamu? Sekarang kondisi Ardian sedang kritis, tante boleh minta tolong kamu untuk menemui Ardian sebentar saja...dan mungkin ini yang terakhir kalinya....!!"


Meta menatap Devan dan Tante Karoline yang ada di situ. Meta mengangguk pelan dan mengikuti Dina melihat Ardian.


Meta memasuki ruangan itu, nampak Ardian memang dalam kondisi tak berdaya dengan berbagai alat kesehatan yang terpasang di badannya. Meta mendekati Ardian dan duduk di sebelahnya.


"Ardian....ini aku....meta!! Aku gak tahu apa dengan kehadiranku ini bisa membuat lebih baik atau gak, yang jelas aku selalu berdoa untuk yang terbaik bagi kamu! Karna yang aku tahu kamu adalah orang yang selalu semangat!"


Air mata meta tiba-tiba mengalir, entah kenapa dia justru teringat saat dulu mereka masih SMA.


"Aku minta maaf yah sama kamu, maaf


kalo dulu sering nyuekin kamu. Maaf kalo ada kata-kataku dulu yang secara gak sengaja sering menyakiti kamu!"


Dalam beberapa hari ini Ardian tak sadarkan diri, bahkan dokter menyatakan Ardian dalam kondisi koma. Tapi meta mencoba untuk sedikit memberikan semangat untuk Ardian meski sebenarnya saat ini dia juga sedang butuh semangat untuk dirinya sendiri.


Meta menghela nafas memejamkan matanya, semua pikiran kenangan masa SMA dulu justru terngiang-ngiang di kepalanya yang semakin membuat air matanya terus mengalir.


"Ardian....kamu tetep semangat yah! Aku yakin kamu pasti bisa melewati semua ini!" kata Meta yang dari tadi menundukkan kepalanya sambil mengusap air matanya.


"M...e..**...aa!" kata Ardian terbata.

__ADS_1


Dina yang melihat Ardian tersadar langsung mendekati Ardian.


"Ardian...kamu sadar nak!" kata Dina sambil mengelus puncak kepala Ardian.


Dina memencet tombol emergency untuk memanggil dokter supaya bisa langsung memeriksa kondisi Ardian.


"Ardian...kamu udah sadar?" pekik meta sambil mengusap air matanya.


"Mama, kok bisa ada meta di sini?"


"Iya, aku nemenin Rendi sekalian aku jengukin kamu di sini!" jawab meta.


Ardian belum sepenuhnya bisa berbicara dengan lancar, karena alat bantu pernapasan yang masih terpasang.


"Kamu harus tetap semangat, aku tahu kamu pasti sembuh!" jawab meta sambil berusaha tersenyum di depan Ardian untuk menyemangatinya.


"Saat ini Rendi ada di sebelah ruangan kamu, dia juga sedang kritis dan di rawat di ICU, saat ini hanya keajaibanlah yang bisa aku tunggu. Rendi sudah dalam kondisi stadium 4, aku tahu mungkin jika ada orang yang bisa menyumbangkan sum-sum tulang yang cocok ada kemungkinan dia bisa sembuh. Tapi itu hampir mustahil menemukan orang yang bisa dan mau menyumbangkan sum-sum tulang, kalaupun ada itu pun juga belum tentu bisa cocok. Sekarang aku hanya bisa berdoa untuk dia!" kata meta menjelaskan panjang lebar.


Sesaat kemudian dokter dan Dina pun datang, meta pun permisi keluar dari ruangan itu supaya dokter bisa lebih leluasa memeriksa ardian. Meta langsung menemui Devan dan Karoline lagi, berharap ada kabar baik dari dokter dari ruangan Rendi.


"Sudah ada kabar dari dokter?" tanya meta.


Devan hanya menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana kondisi Ardian?"


"Dia baru saja sadar dari koma, dan sekarang sedang diperiksa oleh dokter!"


Beberapa saat kemudian dokter keluar dari ruang ICU, spontan mereka bertiga langsung menghampiri dokter itu untuk menanyakan kondisi Rendi.


"How about Rendi condition?" tanya meta seolah dia ingin mengetahui segera kondisi Rendi.

__ADS_1


Dokter menjelaskan panjang lebar mengenai kondisi Rendi saat ini. Dokter menyarankan untuk segera dilakukan pencangkokan sumsum tulang. Bahkan dengan segera meta menyodorkan dirinya untuk bisa melakukan pencangkokan untuk Rendi. Begitu pula dengan Devan, dia juga menawarkan diri untuk dilakukan pencangkokan sumsum tulang untuk Rendi.


Mereka bertiga akhirnya langsung melakukan pemeriksaan kecocokan sumsum tulang untuk Rendi. Namun menurut dokter Karoline tidak bisa melakukan donor karena akan banyak menimbulkan resiko bagi dirinya karena usianya yang sudah berumur lebih dari 40 tahun. Meski begitu Karoline tetap bersikeras mendonorkan sum-sum tulangnya.


Beberapa jam kemudian mereka baru bisa mengetahui sumsum tulang siapa yang cocok untuk Rendi. Dokter menyatakan dari hasil pemeriksaan mereka bertiga sayang sekali tidak ada yang cocok dan bisa dilakukan transplantasi sumsum tulang.


"Apa yang bisa aku lakuin buat kamu Rend?" pekik meta sendiri.


"Sabar met, nanti coba kita cari pendonor yang lain!'


Meta keluar dari ruangan dokter dan meminta ijin pada dokter untuk bisa masuk ke ruangan Rendi. Meta ingin melihat kondisi Rendi saat ini.


Meta berjalan menuju ruangan Rendi, rasanya sungguh berat menerima kenyataan ini. Entah apa yang bisa meta lakukan untuk kesembuhan Rendi saat ini.


Meta menggunakan pakaian khusus sebelum masuki ruangan Rendi. Perlahan dia mendekati Rendi, begitu sesak dada meta kala melihat Rendi yang terbaring tak berdaya dengan berbagai peralatan medis di tubuhnya.


Meta mendekati Rendi, meraih tangan Rendi dan menggenggam tangannya. Air mata meta langsung tumpah melihat kondisi Rendi.


"Sayang....kamu harus kuat! Maaf aku gak bisa nglakuin apa-apa saat ini, harusnya aku bisa menyumbangkan sum-sum tulang untuk kamu. Tapi ternyata aku gak bisa! Tapi aku janji aku akan berusaha mencari orang yang bisa menjadi pendonor buat kamu! Tapi kamu harus kuat, kamu harus bertahan!!"


Meta menciumi punggung tangan Rendi, seolah meta berharap ada keajaiban dari Tuhan untuk Rendi bisa segera pulih lagi.


"Aku kangen banget sama kamu, aku pengen kamu sembuh! Kamu harus bertahan, bukannya kamu ingin setelah kita lulus kuliah nanti kita bisa cepat menikah? Bukannya kamu sendiri yang membangun perusahaan kamu untuk keluarga kita nanti?" kata meta.


Meta menangis tersedu sampai dia tak menyadari air matanya sudah membasahi tangan Rendi yang dari tadi dia tempelkan di pipinya.


"Kamu masih ingat nggak waktu kamu ngajak aku tunangan, itu adalah moment paling romantis dan membahagiakan di hidupku! Rendi....aku cinta banget sama kamu, aku gak mau kehilangan kamu. Aku janji aku bakal segera nyelesain kuliah aku dan kita bisa segera menikah. Tapi aku mohon sama kamu, kamu harus bisa bertahan, kamu harus sembuh! Kamu harus ingat sama janji kamu dulu untuk bisa selalu di sampingku!"


Meta memegang pipi Rendi, sesaat dia memeluk Rendi dan menangis di sebelahnya. Meski saat ini Rendi sedang tidak sadar tapi meta yakin Rendi bisa mendengar semua perkataanya.


^^^^Hai para reader....gak bosen-bosen aku ngingetin kalian supaya jangan lupa like dan vote novel ini....^^^

__ADS_1


__ADS_2