TERJEBAK CINTA META

TERJEBAK CINTA META
Sungai Neckar


__ADS_3

Meta mematikan panggilannya, seolah tak percaya dengan perkataan wanita tadi.


"Bisa-bisanya wanita itu bilang antingnya terjatuh saat mereka berciuman. Apa ciuman itu mereka lakukan dengan sengaja? Apa Rendi berbohong sama aku?"


Pertanyaan-pertanyaan itu kini muncul di benak meta. Tadi mendengar penjelasan Rendi sebenarnya dia ingin mempercayai kalo karyawan itu merayu Rendi tapi mendengar wanita tadi dengan lantangnya berkata "berciuman" membuat hatinya perih.


"Apa aku harus mempercayaimu rend setelah perkataan wanita itu tadi?"


"Aku tahu betul kamu bukan tipe laki-laki yang gampang tertarik dengan wanita lain. Tapi melihat wanita tadi terlihat seksi dan menarik, apa dia bisa menggoyahkan hatimu?"


Meta duduk di atas rumput hijau dan menenggelamkan wajahnya diantara kedua kakinya. Saat ini dia merasa sakit hati dan juga bingung.


Rendi masih mencoba menghubunginya namun meta lebih memilih untuk mengabaikan panggilan itu.


Tatapan matanya kosong menatap ke sungai dekat kampusnya. Tempat favoritnya setelah pulang kuliah. Pasalnya tadi sepulang kuliah dia hanya ingin tahu kabar Rendi sebelum dia kembali ke apartemen. Tapi alasan yang lainnya meta sebenarnya ingin menunjukan spot favoritnya pada Rendi karena kemarin Rendi belum sempat dia ajak ke sini.


Meta tidak menyangka kalo panggilan telponnya justru mengungkap suatu fakta yang membuatnya perih.


Sesekali dia menatap sungai Neckar yang cantik di depannya, sambil sesekali menghela nafas mengeluarkan sesak di dadanya.


Tanpa terasa air matanya jatuh membasahi pipinya.


"Hayo lagi ngapain!!!"


Devan yang baru datang menyapa meta dengan menggoyangkan pundaknya.


"Devannnn!!! Lo tuh kayak hantu tau gak, datang tak diundang pulang tak diantar!! Dimana-mana ada!!"


"Itu bukan setan tapi jalangkung keles!!!" kata Devan sambil mendudukkan dirinya di samping meta.


"Terserah yang penting Lo kenapa sih harus selalu gangguin gue!!"


Devan menatap meta yang tanpa sengaja menghadapkan wajahnya ke Devan.


"Met, kamu nangis?? Kenapa kamu nangis? Masak gara-gara dikagetin gitu aja jadi nangis!!"


Menyadari masih ada air mata di pipinya meta langsung buru-buru menghapusnya.


"Gak siapa yang nangis, itu tadi cuma kelilipan debu kok!" jawab meta bohong.


"Heleh....boong!! Dari tadi aku lihatin dari jauh kamu udah nangis dari tadi kan?"


"Gak, aku cuma kangen sama mama aja, makanya tadi nangis."


"Met met, kenapa sih mesti boong sama aku! Ada masalah apa sih sampai kamu nangis kayak gitu?"


Meta hanya terdiam, dia malah mengalihkan pandangannya ke arah hamparan sungai di depannya.

__ADS_1


"Aku tahu pasti ini soal Rendi kan? Ada apa lagi sama dia?"


"Aku gak tahu mesti percaya dia atau gak?"


"Kenapa?"


"Aku tadi video call sama dia dan gak sengaja aku lihat di bibir Rendi ada bekas lipstik gitu. Dia udah ngejelasin kalo ada salah satu karyawan yang merayunya dan tiba-tiba menciumnya. Tapi setelah beberapa saat kemudian wanita yang dibilang Rendi itu datang ke ruangan Rendi, katanya mau ngambil anting yang terjatuh saat mereka berciuman tadi."


Tak terasa air mata meta mengalir lagi tanpa aba-aba mengingat kejadian tadi.


Meta menyandarkan kepalanya di bahu Rendi, saat ini dia benar-benar butuh tempat bersandar untuk menumpahkan segala kekesalan dan rasa sakit di hatinya.


"Kalo kamu nangis, nangis aja, gak usah ditahan."


Benar saja meta menangis sesenggukan di bahu Devan, mengeluarkan keluh kesahnya. Entah kenapa bahu Devan terasa begitu nyaman untuknya bersandar. Mungkin karena Devan adalah orang yang sudah lama dikenalnya.


"Van apa aku harus percaya sama Rendi? Tapi aku yakin Rendi bukan tipe laki-laki yang gampang dibujuk rayu oleh wanita lain."


"Kalo menurutku sih met, sebaiknya kamu mendengar penjelasan Rendi. Tapi kamu juga harus tahu met, laki-laki sejati itu adalah laki-laki yang bisa dipegang omongannya. Dan mungkin harusnya kamu tahu apakah Rendi bisa dipegang omongannya atau nggak dan itu cuma kamu sendiri yang tahu jawabannya."


Devan memberikan saran untuk meta senetral mungkin, dia mencoba benar-benar memposisikan dirinya sebagai sahabat meta.


Walaupun sebenarnya dia bisa saja mengambil kesempatan ini untuk lebih dekat dan bisa mengambil hati meta. Tapi dia tak melakukan cara-cara licik semacam itu.


Meta berpikir sejenak, mencoba mencerna saran dari Devan tadi.


"Aku tahu Van, makasih ya Van kamu selalu ada saat aku butuh. Walaupun kamu lebih sering ngeselin!!"


"Apa kamu bilang tadi??"


"Becanda kali Van, gitu aja baper udah kayak anak perawan aja baperan!!"


"Wah bener-bener yah nih orang malah ngatain aku anak perawan lagi Kayaknya mesti dikasih pelajaran nih!"


Devan langsung menggelitiki meta tanpa ampun.


"Udah Van, udah cukup, rambut gue jadi acak-acakan nih!" kata meta sambil membenahi rambutnya.


"Syukurin, salah siapa manggil aku anak perawan yang baperan!! Nih aku acak-acak lagi nih!" kata Devan kembali mengacak-acak rambut meta lagi.


"Devannnn!"


Meta pun membalas balik Devan dengan mengacak-acak rambutnya.


Spontan meta tertawa terbahak-bahak melihat Devan bersungut-sungut dengan rambutnya yang acak-acakan. Pasalnya dari dulu Devan paling benci ada orang yang mengacak-acak rambutnya.


"Untung aja kamu yang ngacak-acak rambut spike ku yang keren ini. Kalo orang lain udah aku...."

__ADS_1


"Udah apa??"


"Udah aku acak-acak balik rambutnyalah!!"


"Terus emang kenapa kalo yang ngacak-acak aku? Kalo aku yang ngacak-acak kamu gak akan marah gitu?"


"Ya pastilah....pasti bakal marah juga dan pastinya bakal ngacak-acak rambutmu juga sebagai pembalasan!!"


"Heleh rambut spike kayak gitu aja!"


"Eh jangan salah, rambut spike ku yang keren ini yang bikin cewek-cewek di sekolah heboh apalagi saat dulu waktu maen basket. Pasti mereka langsung teriak histeris. Devan...aw....Devan...kamu keren banget!!!" kata Devan sambil mempraktekan gaya anak-anak cewek di sekolahnya dulu.


Meta terbahak melihat kelakuan Devan yang hampir mirip dengan anak-anak cewek di sekolahnya dulu. Meta tahu betul bagaimana Devan si kapten tim basket sekolah yang selalu diteriaki histeris sama fans-fans ceweknya.


"PD banget sih, kayak fansnya banyak aja! Tapi semua cewek-cewek itu jadi gak ngefans sama kamu lagi setelah Rendi ternyata lebih jago dan lebih keren maen basketnya dibandingkan kamu! Iya kan?"


Baru dia sadari kalo omongannya itu justru membuat teringat sama Rendi lagi.


"Heleh.... cewek-cewek aja yang matanya rabun. Jelas-jelas gue lebih jago dan lebih ganteng dari dia!!"


"Oh ya??"


"Ya iyalah masak ya iya dong!"


"Eh Van ngomong-ngomong senja di sungai Neckar cantik yah!"


"He em."


"Aku ngarasa beruntung banget bisa kuliah di sini! Yah meskipun gak tahu gimana ceritanya udah pergi jauh-jauh ke Jerman masih aja ketemunya kamu lagi kamu lagi!"


"Ya elah gini gini aku juga nyenengin kan, buktinya tadi kamu nangis kayak gitu sekarang udah ceria seperti sedia kala!"


"Iya sih, makasih ya Van, entah kenapa meski kamu nyebelin tapi kamu selalu ada buat aku!"


"Gitu dong, kamu memang harus mengakui ketampananku!"


"Eh tadi aku gak bilang kamu tampan yah, aku bilang kamu nyebelin tapi selalu ada buat kamu."


"Eleh itu kan ucapan kamu, tapi sebenarnya dalam hati kamu bilang, ya ampun Devan kamu udah ganteng, nyenengin lagi bisa buat aku tersenyum," kata Devan menggoda meta dengan gayanya.


"Ya ampun ini anak yah bener-bener minta di acak-acak rambutnya!"


Meta mengacak-acak rambut Devan lagi, meluapkan kekesalannya karena kenarsisan Devan. dan setelah mengacak-acak rambut Devan meta sengaja berlari meninggalkan Devan yang kesal karena rambutnya yang sudah acak-acakan.


"Woi....udah ngacak-acak rambutku malah ditinggalin lagi!"


"Wekkk!! Kejar aku kalo bisa!" jawab meta meledek.

__ADS_1


"Awas kamu ya!!" kata Devan sambil berlari mengejar meta yang udah mulai menjauh.


__ADS_2