TERJEBAK CINTA META

TERJEBAK CINTA META
Gara-gara kamu


__ADS_3

Rendi melempar barang-barang yang ada di dekatnya, saat ini dia benar-benar merasa cemburu. Kamarnya yang semula tersusun rapi kini sudah berhamburan karena ulahnya.


"Meta! Kenapa sih kamu bohongin aku! Kenapa Devan bisa ada di kamarmu! Shitt!!" umpat Rendi.


Saat ini Rendi merasa kacau, sekacau barang-barang di kamarnya yang dia lempar ke sembarang arah sebagai pelampiasan kekesalannya.


"Rendi...ya ampun kamu kenapa sayang? Kenapa kamarmu berantakan kayak gini?" tanya mamanya yang tiba-tiba memasuki kamarnya.


Rendi yang masih dipengaruhi emosi hanya duduk terdiam di pinggir ranjangnya. Mamanya kemudian mendekatinya, memastikan apa yang sebenarnya terjadi pada Rendi.


"Sayang, kamu kenapa? Cerita dong sama mama!"


Rendi spontan memeluk mamanya, meluapkan semua tangisnya di pelukan mamanya.


"Rend, kamu nangis?Kamu kenapa?"


Karoline kaget melihat Rendi menangis, tak biasanya Rendi sampe menangis seperti ini. Bahkan rasa sakit saat kemarin Rendi sakit pun tak membuat rendi menangis, tapi kali ini Karoline melihat Rendi menangis, mungkin bagi Rendi ini terasa lebih menyakitkan baginya.


"Meta ma..!"


"Meta? Kenapa dengan meta? Kenapa anak laki-laki mama jadi cengeng kayak gini sih!"


"Ma...besok pagi aku mau berangkat ke Jerman. Aku mau ambil penerbangan yang paling awal."


"Kamu pengen nyusul meta?"


"Iya ma, aku pengen denger penjelasan meta secara langsung kenapa Devan bisa ada di sana!"


"Devan? siapa dia?"


"Temen SMA aku, dari dulu dia suka sama meta, tapi meta cuma nganggep dia sahabat. Tapi yang bikin aku emosi kenapa tiba-tiba Devan bisa ada di Jerman sama meta! Aku butuh penjelasan meta secara langsung."


"Apa meta gak jelasin semua sama kamu?"


"Tadi dia berusaha mau jelasin tapi aku tutup telponnya karena aku terlanjur emosi."


"Sayang, harusnya kamu dengerin penjelasan meta dulu! Mama tahu kamu pasti cemburu, tapi beri kesempatan buat meta menjelaskan semuanya. Mama tahu meta anak yang baik dan tulus sayang sama kamu, jadi gak mungkin dia selingkuh di belakang kamu!"


"Makanya aku mau denger penjelasannya secara langsung, besok aku mau berangkat ke Jerman, boleh kan ma?"

__ADS_1


"Ya udah, kalo itu bikin kamu lega. Tapi kamu hati-hati. Nanti biar mama minta alamat meta ke Tante Risma."


"Makasih ya ma, mama udah ngijinin aku pergi ke Jerman!"


"Iya mama tahu kamu pasti juga udah kangen kan sama meta? Ya udah sekarang kamu istirahat dulu gih, besok pagi-pagi kamu harus udah siap kan!"


"Iya ma, bentar lagi aku tidur. Rendi mau pesan tiket pesawat dulu!"


"Ya udah mama tinggal ya, kamu jangan sedih lagi ya! Mama gak suka lihat kamu sedih kayak gini!"


"Cuma meta kebahagiaanku ma! Aku pengen banget nikah sama dia. Seandainya bisa aku pengen membawa dia ke sini supaya kita bisa selalu sama-sama. Tapi aku juga gak mau jadi pacar yang egois, aku juga gak bisa mengekang cita-cita meta."


"Mama tahu sayang ini semua berat, mama hanya bisa berdoa yang terbaik untuk kalian berdua! Ya udah mama ke kamar dulu ya, selamat malam sayang!"


"Malam ma!"


Rendi memesan tiket pesawat secara online, mengecek jadwal penerbangan yang ada. Rendi memilih jadwal penerbangan yang paling awal untuk besok. Rasanya kalo bisa malam ini Rendi terbang ke Jerman untuk menyusul meta tapi sayang tiket untuk malam ini sudah habis terjual.


"Aku gak bakal biarin kamu berduaan sama Devan di sana! Aku bakal nyusul kamu!" umpat Devan penuh tatapan emosi.


Di Tempat lain


Tok tok tok


Terdengar ketukan pintu kamarnya, dengan malas meta membuka pintu kamarnya.


"Met, aku benar-benar minta maaf soal kejadian tadi!" kata Devan dari balik pintu.


"Aku gak tahu mesti gimana sekarang, Rendi udah benar-benar marah sama aku. Bahkan dia gak mau ngangkat teleponku! Aku harus gimana sekarang?" kata meta frustasi.


"Aku benar-benar minta maaf, aku harus gimana supaya bisa nebus kesalahanku?"


"Semua ini salah kamu!" kata meta sambil menangis.


Meta menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menangis sejadi-jadinya di depan Devan. Dia merasa bingung saat ini, bingung bagaimana menjelaskan dengan Rendi.


"Aku tahu aku salah, kalo gitu biar aku yang telpon Rendi buat jelasin semuanya."


"Gak perlu, kalo kamu telpon Rendi, dia bakal semakin marah sama aku."

__ADS_1


"Terus aku mesti gimana supaya bisa menebus kesalahanku?"


"Harusnya kamu tuh gak usah ada di sini, harusnya kamu gak usah tinggal di dekat kamarku, harusnya kita gak usah satu kampus dan satu lagi, harusnya kita gak usah sering ketemu! Aku gak mau Rendi salah paham dengan semua ini!"


"Met, tadi aku kan udah minta maaf aku benar-benar gak sengaja masuk ke kamar kamu. Terus aku mesti gimana?"


"Mulai sekarang kita gak usah saling ketemu!"


Meta memasuki kamarnya namun di tahan oleh Devan.


"Tapi met...!"


"Apalagi sih Van? Gak puas kamu selalu ganggu hidup aku? Bahkan aku juga gak tahu apa alasan sebenarnya kamu ngikutin aku sampe ke sini! Udahlah Van aku capek, aku mau istirahat!"


Blukkk meta menutup pintu mengacuhkan Devan.


"Tapi met.....! Aku mohon maafin aku! Aku bener-bener gak sengaja!" teriak Devan dari balik pintu.


Devan hanya bisa pasrah menerima perlakuan meta yang benar-benar marah padanya.


"Devan, bodoh banget sih, apa sih yang udah kamu lakuin! Semuanya jadi kacau kaya gini!" umpat Devan sendiri.


Meta tak mempedulikan teriakan Devan dari balik pintu, saat ini dia hanya ingin sendiri. Meta masih mencoba menghubungi Rendi lagi namun entah kenapa handphone Rendi malah tidak aktif.


"Aku benar-benar minta maaf Rend, harusnya kamu denger dulu penjelasan aku!"


Devan yang tak mendapat jawaban meta hanya bisa pasrah, dia melangkah gontai menuju kamarnya. Merebahkan tubuhnya di ranjang, mengambil bantalnya dan memukulinya untuk meluapkan emosinya.


"Maafin aku met, aku tahu aku salah, tapi gak seharusnya kamu marah kayak gini sama aku bahkan sampai-sampai gak mau ketemu sama aku lagi!'


"Kenapa sih met kamu selalu lebih mementingkan perasaan Rendi, kenapa kamu gak pernah menyadari bahwa aku yang selama ini disampingmu, orang yang selalu ada buat kamu! Tapi kenapa aku gak pernah berarti buat kamu?"


"Harusnya kamu menyadarinya met, aku yang nganter kamu saat kehujanan, aku juga yang udah nyelamatin kamu dari Ardian. Bahkan aku sampai bela-belain menempuh segala cara buat bisa satu kampus sama kamu, bisa satu apartemen sama kamu. Bahkan kamu gak pernah perduliin perasaan aku!"


Devan hanya bisa meluapkan semua kekesalannya seorang diri. Mengutuk kebodohannya sendiri.


"Harusnya memang aku sadar, sekeras apa pun usahaku buat ngrebut hati kamu, tapi kamu tetap memilih Rendi. Bahkan saat jauh dengan Rendi sekalipun yang ada di pikiranmu cuma Rendi dan Rendi!"


"Meta kenapa sih kamu gak bisa buka hati kamu buatku sedikit aja! Rasanya sakit banget meta kamu cuma menganggapku seorang sahabat! Aku hanya pengen ada di hati mu, bukan Rendi atau siapa pun!!"

__ADS_1


Devan merasa benar-benar sakit kenapa meta selalu mengabaikan perasaannya.


__ADS_2