TERJEBAK CINTA META

TERJEBAK CINTA META
Menyusun Rencana


__ADS_3

Rendi duduk seorang diri di cafe menunggu seseorang, sesekali dia melihat ke arah luar memastikan apakah ada tanda-tanda kedatangan orang yang ditunggunya.


Dret dret dret handphone Rendi bergetar tanda panggilan masuk. Rendi langsung mengangkat panggilan itu.


"Hallo sayang!" sapa Rendi dengan senyum tersungging di bibirnya.


Rasanya baru kemarin dia berpisah dengan meta namun rasa rindu yang menggebu tak bisa dia tampik.


"Hai Rend, kamu lagi dimana kok kayaknya ada suara musik-musik gitu?"


"Aku di cafe, tadi habis meeting langsung ke sini. Kamu lagi ngapain sekarang?"


"Aku baru aja nyampe terus beres-beres apartemen, kamu sama siapa terus juga ngapain di cafe?"


"Kamu jangan curiga dulu, aku janjian mau ketemuan sama Devan, tapi gak tahu nih dia gak dateng-dateng!"


"Janjian sama Devan? Kamu ngapain janjian sama Devan, kamu gak lagi mau ribut sama Devan kan Rend?" tanya meta khawatir kalau-kalau mereka berdua bisa ribut lagi.


"Iya aku ada urusan sama dia, kamu tenang aja aku gak bakal berantem sama dia kok! Oh iya aku pengen cerita sesuatu sama kamu!"


"Cerita apa ?" tanya meta penasaran.


"Ternyata rekanan bisnis mama yang mau kerja sama dengan perusahaanku itu adalah mamanya Ardian."


"Hah, mamanya Ardian? Kok bisa sih, terus gimana hasil meetingnya tadi?"


"Asal kamu tahu tadi mamanya Ardian mohon-mohon sama aku, dia nyuruh aku nglepasin kamu dan sebagai gantinya dia akan memberikan apa pun yang aku mau!"


"Apa? Mamanya Ardian ngomong gitu? Apa dia pikir aku sebuah barang yang bisa diperjual belikan?"


"Makanya aku langsung nolak, sampai kapan pun aku gak mau ninggalin kamu! Apa pun itu gak akan pernah bisa menggantikan kamu di sisi aku, meski akan ditukar dengan apa pun itu! Bahkan dia berlutut memohon supaya kamu bisa memberi semangat Ardian untuk kesembuhannya, tapi aku bilang sama dia kalo aku akan membantu dia, tapi bukan dengan memberikan kamu ke Ardian tapi aku punya rencana lain untuk dia!"


"Aku gak habis pikir, kenapa seolah-olah aku dianggapnya seperti barang yang bisa ditukar," kata meta benar-benar kecewa.


"Aku tahu sayang, aku juga gak terima. Tapi melihat mama Ardian yang sampai berlutut di kakiku memohonku untuk membantunya, aku merasa kasihan. Makanya aku masih mau menolongnya demi kesembuhan Ardian. Semoga devan bisa memberiku solusi bagaimana cara memberi semangat Ardian untuk mau berobat," kata Rendi mencoba menjelaskan.


"Woi, ngapain sebut-sebut nama gue!" sapa Devan dari belakang.


Devan mendudukkan dirinya di kursi kosong depan Rendi.


"Lah ini dia yang ditunggu Dateng, kalo gitu nanti aku telpon lagi ya sayang. Tenang aja pokoknya aku gak bakal siapa pun ngrebut kamu dariku."


"Ya udah, tapi jangan lupa kabarin aku tentang kelanjutan rencana kamu itu dan satu lagi, kalian jangan ribut apalagi berantem yah!"

__ADS_1


"Oke sayang, tenang aja, Love you! Bye!"


Tut Tut Tut panggilan pun terputus, dan kini Rendi melihat Devan yang sudah duduk menyilangkan tangannya sambil memandanginya.


"Mau apa Lo nyuruh gue ke sini?"


"Sorry gue ganggu waktu Lo, tapi gue butuh bantuan lo!"


"Bantuan? Maksud Lo?"


"Gue minta tolong sama Lo buat bantu gue ke tempat Ardian sama teman-teman yang lain juga!"


"Untuk apa kita ke sana?"


"Buat nyemangatin dia supaya dia mau menjalani pengobatan buat kesembuhannya!"


"Terus apa untungnya buat gue, lagian gue mau balik kuliah ke Jerman jadi gue ev ada waktu buat ngurusin si Ardian itu. Lagian gue gak mau berurusan dengan dia lagi!"


"Kalo Lo tahu alasan gue nolongin dia pasti Lo gak bakal ngomong kayak gini!"


"Maksud Lo?"


"Mamanya Ardian mohon-mohon sama gue buat nglepasin meta, bahkan dia mau memberikan apa pun kalo gue nglepasin meta"


Rendi pun menjelaskan panjang lebar tentang semuanya pada Devan. Rendi hanya ingin membantu mamanya Ardian yang berusaha memperjuangkan kesembuhan anaknya. Bahkan Rendi seolah-olah bisa merasakan kesedihan dari mamanya Ardian.


"Gimana, kamu mau bantu gak?"


Sejenak Devan berpikir apakah dia mau atau tidak membantu Rendi untuk menjalankan rencananya.


"Ok, gue bakal bantu Lo, yah meski sebenarnya gue males sih berurusan sama Ardian lagi! Tapi gue pikir-pikir gue juga kasihan kalo lihat kondisi Ardian sekarang. Biar gue share di grup alumni temen-temen SMA kita biar mereka juga bisa bantu!"


"Kalo gitu thanks banget Lo udah mau bantuin gue, by the way kapan lo balik ke Jetman?"


"Sebenarnya sih gue secepatnya mau balik ke Jerman, tapi karna Lo minta tolong kayak gini terpaksa gue undur."


"Gue titip meta ya!"


"Tumben Lo ngomong kayak gitu!"


"Yah, aku ngerasa gak bisa jagain meta setiap saat apalagi saat dia jauh. Van, gue boleh gak minta tolong satu lagi sama Lo!"


"Apa? Kenapa jadi berubah serius gitu muka Lo?"

__ADS_1


"Gue titip meta yah, gue sadar gue gak bisa selalu bisa jagain dia! Dan gue berharap Lo bisa jagain dia, Lo adalah orang yang selalu ada di dekat meta entah sengaja atau tidak saat meta butuh Lo, justru Lo yang lebih sering ada di sampingnya!"


"Maksud Lo apa sih rend ngomong kayak gini? Kayak orang mau pergi ke mana aja! Tadi Lo bilang mau nyemangatin Ardian biar bisa sembuh tapi Lo malah pesimis sendiri!"


"Kita gak pernah tahu umur dari seseorang, bisa jadi tiba-tiba orang itu bisa terkena suatu penyakit dan umurnya gak akan lama lagi. Yah kayak Ardian gitu! Kita gak nyangka kan kalo dia ternyata menyidap penyakit berbahaya!"


Sepintas Devan melihat gelagat Rendi yang tiba-tiba menjadi aneh, namun kala itu Devan hanya menganggap Rendi hanya terbawa suasana dengan masalah Ardian.


"Gue gak ngerti deh kenapa Lo tiba-tiba ngomongnya nglantur gitu sih, biasanya Lo tuh gak pernah ngomong galau-galau kayak gitu!"


"Ya udahlah gak usah diperpanjang, yang jelas gue minta tolong sama Lo, jagain meta selagi gue gak ada di sampingnya!"


"Iya pasti gue bakal jagain meta!" jawab Devan sambil meminum coffe late yang terhidang di mejanya.


Sesaat Devan mengecek beberapa postingan di grup chat teman-temannya yang tadi dia ajak untuk membantunya.


"Eh Rend, ini teman-teman banyak yang mau bantu dia. Jadi semakin ramai yang nyemangatin Ardian semoga dia bisa semakin semangat!"


"Bagus deh kalo gitu, berarti besok kita siapin semuanya untuk Ardian. Biar nanti gue telpon mamanya Ardian biar bisa bantu kita!"


"Okey, nanti gue juga bakal bilang ke temen-temen lain waktu dan tempatnya! Kalo gitu gue cabut dulu yah, gue masih ada urusan lain!"


"Okey, gue juga masih ada meeting lagi!"


"Sok sibuk Lo, pake mau meeting segala lagi!" celetuk devan.


"Lah gue kan emang eksmud alias eksekutif muda, jadi wajar dong kalo gue sibuk meeting, sirik aja Lo!"


"Ya elah terserah mau es kelapa muda, mau es campur atau mau apa tuh tadi eksmud?Yah terserah Lo deh yang jelas gue juga mau ngurusin kerjaan gue!"


"Kayak Lo punya kerjaan aja!"


"Eitss jangan salah, gini-gini walaupun gue masih kuliah gue bakal rilis single baru gue!" jawab Devan yang tak mau kalah narsis.


"Wuahahaha....apa? Gak salah denger gue...single?Udah kayak penyanyi aja rilis single! Woi...sadar woi...siang bolong masih aja ngimpi!"


"Ngremehin nih anak, gini-gini suara gue suara emas, jadi wajar aja kalo ada produser yang mau nglirik gue jadi penyanyi! Udahlah, gak ada waktu gue ngladenin Lo, schedule gue padat nih!" kata Devan cuek sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Heleh sok sibuk!" gerutu Rendi.


Devan pun tak menggubris omongan Rendi, dia hanya berlalu begitu saja meninggalkan Rendi di situ. Dari dulu mereka berdua memang tidak pernah akur, namun dibalik semua itu sebenarnya mereka masih bisa berbesar hati satu sama lain.


^^Hai....jangan lupa untuk terus vote dan like ya....!!!^^^

__ADS_1


__ADS_2