TERJEBAK CINTA META

TERJEBAK CINTA META
Semangat Untuk Ardian


__ADS_3

"Lo serius rend? Meta tahu tentang penyakit Lo ini?" tanya Devan penasaran.


"Selama ini cuma meta dan mamanya yang tahu tentang penyakit gue. Kamu inget gak Van waktu aku kekeh pengen tanding basket sama kamu waktu dulu awal aku masuk sekolah dan akhirnya kamu kalah!"


"Ya elah kenapa mesti diulang lagi sih kejadian itu, bikin gue bete aja!"


"Sorry Van bukan maksud gue ngungkit lagi, tapi waktu itu gue emang beneran menang kan, dan cewek-cewek yang katanya fans Lo itu langsung berteriak histeris saat gue terlihat jauh lebih keren dibanding Lo!"


"Kok malah jadi ngomongin itu lagi sih ni bocah! Bikin gue naik darah aja Lo, jadi intinya apa nih!" gerutu Devan.


"Hehehehe, ya maap kan cuma mau flashback aja. Jadi waktu itu setelah gue menang tanding basket, gue jelasin ke meta tentang semuanya, dan gue bersyukur banget meta masih bisa nerima gue apa adanya!"


"Gue salut sama Lo, gue gak nyangka ternyata Lo bisa berjuang melawan penyakit lo, bahkan sekarang Lo bisa bersemangat menjalani hidup Lo! Lo beruntung bisa memiliki meta yang bisa menyemangati dan menerima Lo apa adanya!" kata Ardian sambil menepuk pundak Rendi.


"Iya, karna meta itu salah satu sumber semangatku, orang yang selalu dukung gue sampai saat ini. Jadi gue harap Lo juga bisa bersemangat untuk orang-orang yang Lo sayangi, gue harap lo bisa melawan penyakit Lo, yah gue tahu itu gak mudah tapi yang perlu Lo tahu semua orang di sini berharap Lo bisa sembuh, mama Lo, keluarga Lo, dan juga temen-temen di sini. Kita semua mendukung Lo, jadi gue harap Lo harus sembuh dan bis semangat menjalani hari-hari Lo!" kata Rendi panjang lebar.


"Kasihan mama Lo kalo Lo patah semangat kayak gini!" kata Devan.


Ardian menundukkan wajahnya, sekilas dia menatap wajah mamanya dari kejauhan. Wajah yang selalu penuh harap mengharapkan kesembuhannya. Selama ini mamanya selalu membujuknya untuk menjalani pengobatan dan dia selalu menolak.


"Kalian bener, gue memang selama ini udah ngerasa putus asa bahkan sampai gak punya semangat hidup. Dan ternyata gue udah ngelakuin kesalahan besar, gue pikir kalo pun gue menjalani pengobatan toh nantinya gue juga bakal mati!"


Selama ini Ardian merasa kehilangan arah dalam hidupnya, seolah hidupnya sudah terasa hancur, namun mendengar perjuangan Rendi yang ternyata dia juga penyakit mematikan membuatnya melihat sisi lain dari seorang Rendi. Bahwasanya Rendi yang baginya terlihat sehat dan baik-baik saja justru pernah menyidap penyakit berbahaya bisa memotivasi dirinya untuk melakukan perjuangan yang sama.


"Loh gak boleh ngomong kayak gitu, Lo sekarang udah tahu kan kali gue juga punya penyakit yang sama beratnya dibanding Lo, dan memang kita harus berjuang demi orang-orang yang kita cintai!"


"Lo bener Rend, makasih ya kalian udah ngajarin gue banyak hal! Gue gak nyangka, dulu bahkan kita bermusuhan tapi sekarang justru kalianlah yang membuka mata gue supaya bisa berjuang dalam hidup!"


"Besok gue mau berangkat ke Singapura, tadi gue udah bilang sama Tante Dina tentang rekomendasi rumah sakit dan dokter terbaik di sana. Tapi semua keputusan ada di tangan Lo!"


"Oke, besok gue berangkat sama Lo! Gue pengen sembuh, gue juga masih pengen ngejar cita-cita gue yang belum terlaksana!"


"Gitu dong, dari kemarin kek kayak gini! Eh btw kalo boleh tahu apa cita-cita Lo!" celetuk Devan.


"Pengen tahu banget? Tapi sayang itu rahasia, cukup gue dan Tuhan aja yang tahu cita-cita gue!"


"Ya elah pake main rahasia-rahasian segala!" celetuk Devan.


Dret dret dret


Tanda panggilan video call masuk di handphone rendi, Rendi langsung mengangkat panggilan itu.


"Hai sayang!" sapa Rendi.

__ADS_1


Spontan Devan dan Ardian memandang Rendi yang mengucapkan kata sayang pada seseorang yang bisa ditebak itu siapa.


"Iya ini aku lagi di tempat Ardian, kamu udah makan? Jangan sampai lupa makan yah, nanti kamu sakit lagi, kalo kamu sakit nanti siapa yang jagain, aku kan gak lagi di situ!"


"Lebay banget sih ni anak!" celetuk Devan.


Rendi memang sengaja bersikap lebay di depan Devan supaya dia cemburu.


"Sayang ini ada yang cemburu nih kita video call!"


"Siapa?"


"Tuh yang katanya sahabat kamu!" ledek Rendi sambil sengaja melirik devan.


"Nih bocah emang ngeselin dari tadi!" gerutu Devan.


"Udahlah Rend, kamu jangan gitu dong, ntar kalian berantem lagi! Rend, aku boleh ngomong sama Ardian sebentar?" tanya meta ragu takut kalau Rendi cemburu.


"Iya boleh!"


Rendi menyerahkan handphonenya pada Ardian.


"Hai Ardian, apa kabar?" sapa meta dengan senyuman manisnya.


"Hai met, apa kabar? Senang bisa ngobrol lagi sama kamu!'


"Selamat ulang tahun ya, maaf aku gak bisa ke situ! Semoga kamu cepet sembuh ya, dan jangan pernah patah semangat! Masih ada banyak orang di sekitarmu yang selalu menyayangimu yang pengen lihat kamu kembali sehat. Jadi kamu harus terus semangat ya!"


"Makasih meta, iya mulai saat ini aku harus semangat untuk orang-orang yang aku sayangi! Dan terimakasih atas semua dukungannya!"


"Sama-sama, sebagai teman kita kan harus saling mendukung!"


Ardian menatap senyuman itu lagi dari wajah meta, senyuman yang bisa membuatnya bersemangat untuk menjalani hidupnya. Namun sayang dia harus menerima kenyataan kalo dia tak bisa memiliki meta. Tapi melihat senyumannya kali ini sudah lebih dari cukup memberi kebahagian untuknya meski hanya sesaat.


"Kamu juga harus semangat menjalani hari-hari kamu, kalo gitu aku balikin ke Rendi lagi yah handphonenya!" kata Ardian pada meta,


Ardian memberikan handphone itu pada Rendi, meski sebenarnya dia masih ingin melihat wajah meta lebih lama.


"Eh Rend, Lo gak nawarin gue buat ngobrol sama meta?" tanya Devan.


"Buat apa?"


"Gue mau ngomong bentar!"

__ADS_1


"Ya udah nih, tapi bentar aja, awas aja kalo lama!" ancam rendi.


"Ya elah bentar doang, khawatir banget sih pacarnya gue rebut!"


"Nih anak minta dijitak beneran kayaknya, ya udah nih buruan!!"


"Gitu dong! Dari tadi kek!"


"Kalian itu yah, dimana-mana ribut terus!" gerutu meta.


"Gue sih sebenarnya gak pengen ribut, tapi cowok Lo tuh yang resek!"


"Halah kalian tuh sama aja, terus mau ngomong apa nih?"


"Oh iya, sampai lupa kan. Itu met tolong nanti jagain apartemen gue yah selama gue belum balik, syukur-syukur Lo bisa bantuin bersihin!"


"What? kamu cuma mau ngomong kayak gitu doang, lagian berani bayar berapa kamu' nyuruh-nyuruh aku bersihin kamarmu!"


"Iya nanti aku bayar, bayar pake cinta!" goda Devan.


Pletakkkk.....Satu Kitakan mendarat di kepala devan.


"Lo bilang apa tadi sama meta! Cari masalah terus kayaknya ni anak sama gue!" kata Rendi sambil merebut hpnya dari tangan Devan.


"Ya elah becanda kali, Lo sensi banget sih kayak anak perawan lagi dapet aja, dikit-dikit emosi!"


"Apa Lo bilang? Mau gue kotak lagi!"


"Peace...!! Gue kan cuma becanda, kenapa Lo jadi marah beneran sih!"


"Gak lucu tahu gak becandaan Lo!"


"Woi iii....kok malah dan ributsendiri sih? Gak lihat ada orang sakit di sini!" protes Ardian.


"Eh maap maap kelepasan, ni Rendi yang duluan!"


"Apa Lo bilang?"


"Udah...udah...kalian tuh masih sama aja kayak Tom nda Jerry, gak pernah akur!!" kata Ardian melerai.


Memang tak dapat dipungkiri walaupun Devan dan Rendi sudah terlihat lebih akrab selama ini tapi sebenarnya mereka berdua masih suka memancing keributan satu sama lain. Tapi tingkah laku mereka berdua secara gak sengaja justru memancing gelak tawa Ardian dan mencairkan suasana yang tadinya serius.


^^^Tetuma kasih para pembaca yang udah setia membaca novelku...makasih juga yang udah kasih like dan vote^^

__ADS_1


__ADS_2