TERJEBAK CINTA META

TERJEBAK CINTA META
Masih sebatas sahabat


__ADS_3

"Aku bilang lepasin tangan aku!"kata meta sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Rendi.


Dari arah belakang Devan tiba-tiba datang dan melemparkan tangan Rendi yang sedang memegangi tangan meta.


"Lepasin gak, kalo meta bilang lepasin ya lepasin!" kata Devan menarik tangan Rendi.


"Apa sih lo dateng-dateng ikut campur, gue gak ada urusan sama lo!" teriak Rendi.


"Ngeyel banget sih lo jadi orang!"


"Apa Lo gue gak takut sama lo sini kalo berani!"kata Rendi mulai emosi.


"Lo nantangin gue.!"


"Udah cukup, gak usah berantem di depan gue dan kamu Rendi gak usah urusin gue urusin aja tuh Nisa!" kata meta mencoba melerai mereka berdua.


"Tapi met....dengerin gue dulu!"


"Ayo Van kita pulang...tolong anterin gue pulang ya...!" kata meta tanpa menggubris omongan Rendi.


"Okey...ayok!"


Meta menarik tangan Devan dan meninggalkan Rendi yang masih di situ.


Rendi berteriak kesal karena meta tak mau mendengarkan penjelasannya apalagi sekarang Devan mengantarkannya pulang.


*****


Devan mengantarkan meta sampai rumah. Meta masih kesal dengan kejadian tadi, sampai-sampai dia tidak sadar sudah ada di depan rumahnya karena terlalu memikirkan kejadian tadi.


"Met...kamu gak mau turun udah nyampe nih!"


"Eh...iya dah sampai ya...sorry .. sorry...!" meta tersadar dan turun dari motor Devan.


"Kebanyakan nglamun sih."


"Iya nih, lagi banyak pikiran banget."


"Mikirin Rendi?"


"Ya udahlah gak usah dibahas, males bahas dia!"


"Met aku boleh tanya gak?"


"Apa?"


"Kami punya hubungan apa sih sama rendi?"

__ADS_1


"Kenapa memangnya?"


"Sorry kalo gue ikut campur urusan pribadi kamu, tapi aku cuma heran aja apa yang terjadi sama kalian sampe-sampe dia narik tanganmu kayak gitu!"


"Mmm Van sorry banget kalo masalah itu aku belum bisa jelasin ke kamu, tapi aku makasih kamu udah nolongin aku tadi!"


"Ya udah kalo kamu belum mau cerita ke aku, mungkin kamu butuh waktu untuk itu! Oh ya aku punya sesuatu buat kamu!"


"Apa ini?"


"Permen karet!"


"Hah? buat apa? aku gak biasa ngunyah permen karet!" tanya meta heran, karena seumur-umur baru kali ini dia mengunyah permen karet.


"Coba dulu deh...sini aku bukain!"


Devan pun membukakan permen itu dan memberikan ke meta.


"Di kunyah nih...?"


"Iya...setidaknya permen itu bisa bikin pikiran kamu lebih rileks, biasanya kalo aku lagi suntuk aku ngunyah permen karet."


"Biar ilang suntuknya?"


"Iya...anggep aja pelampiasan kekesalan!"


Meta pun mulai mengunyah permen karet itu, lama kelamaan yang tadinya meta gak biasa menikmati jadi keterusan.


"Gimana udah lebih rileks?" tanya Devan lagi.


"Yah lumayanlan, makasih ya Van, kamu selalu ada buat aku, kamu memang bener-bener sahabat baik aku!"


Glek.... kata-kata meta membuat Devan drop, ternyata selama ini meta hanya menganggapnya sebagai sahabat tidak lebih.


Padahal selama ini Devan selalu ingin menunjukkan perhatiannya bukan sebagai sahabat tapi sebagai cowok yang benar-benar suka dengan meta. Tapi sepertinya berbeda dengan pemikiran meta yang hanya memposisikan dirinya sebagai sahabat.


"Eh met udah sore nih....gue pulang dulu yah..."


"oke...makasih ya udah anterin aku pulang!"


"Bye" kata Devan sambil berlalu melajukan motornya.


Meta pun memasuki kamarnya dengan lesu, masih dengan mengunyah permen karet meta mendudukan dirinya di atas ranjangnya. Terdengar suara dering telepon yang berbunyi dari tadi. Meta pun mengambil hpnya di dalam tas, sudah bisa ditebak kalau panggilan itu dari Rendi.


Bahkan ada beberapa pesan dari Rendi melalui whatsap. Meta enggan untuk membacanya, kali ini dia benar-benar tak ingin diganggu. Meta beranjak dari duduknya melepas fotonya bersama Rendi yang selama ini terpajang di depan meja belajarnya.


Sesaat meta teringat akan perkataan Rendi waktu itu, saat itu Rendi bilang kalo alasannya ke Jakarta lagi hanya karena ingin bersamanya sampai-sampai Rendi memilih satu sekolah dengannya.

__ADS_1


"Huft....palsu....kesel....kesel....kesel!" teriak meta sambil memukuli bantal.


Rasanya semakin sakit apalagi teringat kejadian Anisa memeluk Rendi tadi, bahkan dengan terang-terangan Anisa bilang sayang ke Rendi.


Meta menangis sambil memandangi fotonya bersama Rendi, bahkan meta ingin menyobek foto itu saat ini. Tapi terasa seperti tertahan tangannya tak mampu melakukan itu. Hanya air mata yang tak sengaja menetes yang mampu melukiskan perasaannya saat ini.


Meta masih mengunyah permen karet, bahkan meta mengganti dengan permen karet yang baru sisa pemberian Devan tadi. Sejenak meta berpikir tentang Devan, akhir-akhir ini meta merasa lebih dekat dengan Devan, bahkan Devan selalu ada saat dia membutuhkan.


"Devan memang baik tapi aku sudah anggap dia seperti sahabatku sendiri, ah kenapa aku tiba-tiba mikirin devan" kata meta lirih.


Lamunan meta buyar oleh bunyi hpnya. Meta melihat siapa yang memanggilnya, ternyata dari Devan.


"Halo iya Van ada apa?"


"Gak papa cuma pengen mastiin aja kok!"


"Mastiin apa?"


"Mastiin kalo kamu baik-baik aja!"


"Kamu khawatir sama aku? tenang aja Van aku gak papa kok!"


"Eh...eng....bukannya gitu sebagai sahabat kamu aku cuma pengen kamu g ak sedih lagi itu aja kok!" kata Devan yang sebenarnya enggan di bilang sahabat oleh meta.


"Iya...iya..tenang aja...aku gak sedih kok!"


"Yah kalo masih sedih sih kasihan aja!"


"Kasihan kenapa?"


"Yah kasihan kalo kamu sedih entar cicak-cicak di kamarmu juga ikut sedih lagi!" kata Devan asal.


"Hahahaha cicak?kamu tuh ada-ada aja Van!!"


Spontan meta tertawa mendengar perkataan Devan, tidak dapat dipungkiri itu sedikit membuat meta lupa dengan masalahnya.


"Syukur deh kamu udah bisa ketawa lagi!"


"Habis kamu tuh, apa hubungannya coba sama cicak!"


"Yah kan kamu gak nyadar kalo cicak di kamarmu itu yang selalu setia nemenin kamu, kamu aja yang gak pernah merhatiin!kami terlalu sibuk sih!!"


"Eh kok jadi ngomongin cicak sih, tapi btw makasih ya Van udah bikin aku ketawa!"


"Iya, apa pun buat kamu"kata Devan lirih.


"Hah, apa Van kamu ngomong apa tadi?"tanya meta kaget.

__ADS_1


"Eh nggak, maksud aku sebagai sahabat aku pengen berusaha supaya kamu gak sedih!" jawab rendi.


Alhasil entah kenapa obrolan itu terus berlanjut, bahkan mereka sampai lupa waktu saking keasyikan ngobrol. Meta pun juga tak menghiraukan panggilan dan pesan dari Rendi yang sedari tadi mengganggunya. Pada dasarnya Devan orang yang humoris, itulah yang selalu bisa membuat meta tersenyum dan tanpa sadar meta memang merasa nyaman di dekat Devan. Meski sekarang ini meta hanya ingin menganggap devan sebagai sahabatnya.


__ADS_2